Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Bukti Kejahatan


__ADS_3

"Mampus!" gumam Firlan saat menyadari orang yang hampir menyalakan mesin mobil itu turun untuk mengecek keadaan mobil.


Saat hendak membuka penutup di belakang mobil, seekor kucing keluar dari kolong.


"Hisss kucing siapa sih main masuk kesini?" orang itu bicara sendiri.


"Nah kalau elu kucing garong!" lirih Firlan yang udah engep di dalem mobil bersamaan dengan tumpukan semen..


Orang itu menyingkirkan kucing dengan kakinya, sambil tangannya melambai pada seorang kuli bangunan. Ia menyuruh orang itu untuk membuang kucing itu keluar lahan proyek.


Karena kemunculan kucing yang secara tiba-tiba, orang itu melupakan niatnya untuk mengecek bagian belakang mobil. Firlan bernafas lega saat mobil perlahan berjalan keluar dari proyek.


"Saya ada di mobil pick up warna hitam, kalian bersiaplah, mobil ini akan segera keluar dari proyek," ucap Firlan di telepon dengan orang kepercayaannya untuk mengikuti sebuah mobil pick up berwarna hitam. Orang suruhan Firlan yang memang selalu mengawasi dari luar pabrik pun segera melajukan kendaraannya. Firlan membuka sedikit celah sehingga ia bisa menghirup udara luar.


"Bagus!" gumam Firlan saat melihat beberapa mobil yang ia kenal ada di belakangnya.


Tak berapa lama mobil melaju, dia tidak begitu hafal daerah yang orang ini akan singgahi. Mobil berhenti, pria itu turun dari mobilnya dan terdengar beberapa kali ia bersiul. Tak berapa lama seseorang datang. Firlan mengintip dari balik celah, ia melihat dua orang nampak sedang berbincang lebih tepatnya sedang bertransaksi.


"Harga seperti yang kemarin," ucap orang yang akan menjual barang di mobilnya. Firlan mengeluarkan alat bantu rekam suara untuk merekam percakapan kedua orang itu.


"Kurangilah sedikit," ucap pria itu mencoba nego harga. Pria itu membawa beberapa orang untuk membantunya mengangkut barang yang akan dibelinya.


"Ini bahan baku terbaik, jangan sembarangan menawar!"


"Halah, ini barang curian, dan aku tau kau mendapatkanya darimana," kata seorang pria yang diiringi tawa penuh kemenangan.


"Jaga bicaramu!"


Pria yang membawa barang curian pun akhirnya mengiyakan harga yang dipatok orang tersebut. Walaupun di dalam hatinya sangat dongkol, karena orang tersebut mengetahui asal muasal barang yang dibawanya.


"Aku lihat dulu kondisi barangnya, aku tak mau rugi!" ucap orang itu yang masih menahan uang dalam sakunya.


"Haisssh, semua dalam kondisi baik," kata seorang pria yang sudah sangat kesal.


"Cepat buka!"

__ADS_1


Ketika penutup terbuka Firlan segera melayangkan tinjunya pada kedua orang yang kini jatuh tersungkur karena terkejut mendapat serangan tiba-tiba.


Firlan segera melompat dari mobil, dia melayangkan tendangannya pada orang yang kini akan menyerangnya dan tak lama munculah orang-orang yang berpakaian serba hitam membawa senjata api. Kedua orang itu tak bisa berkutik, beberapa orang yang memang akan mengangkut barang itu pun juga menaruh tangan di kepala. Mereka tak ada yang berani kabur.


"Bangun!" seru Firlan pada pria yang sedari tadi ia ikuti.


"Jangan kira kami akan diam melihat tikus-tikus kecil seperti kalian menggerogoti ladang kami!" seru Firlan pada kedua orang yang mendapat luka di bagian wajahnya.


"Ampun, Tuan!" ucap salah satu dari mereka.


"Seret mereka ke kantor polisi!" seru Firlan yang melihat orang-orang itu nyalang.


"Jangan, Tuan! saya akan mengembalikan semua yang telah saya curi, tapi tolong jangan jebloskan kami ke penjara!" ucap pria yang bersekongkol dengan pak Mandor. Firlan hanya tertawa mendengar ucapan pria tadi.


"Apa? mengganti?" Firlan menaikkan satu sudut bibirnya. Dia menggelengkan kepalanya, bahkan mereka sudah mencurinya selama berbulan-bulan, dengan apa mereka akan menggantinya?


"Tolong Tuan, kasihanilah anak istri kami, bagaimana nasibnya jika kami harus mendekam di penjara!" timpal orang yang akan membeli barang curian tersebut.


"Alasan klise!" ucap Firlan.


Dengan diikuti beberapa orang dibelakangnya, Firlan berjalan ke arah ruang istirahat pak Mandor.


Brakk


Firlan membuka kasar pintu tempat pria tambun itu sedang berleha-leha.


"Heh, Surya! apa-apaan kau!" pria itu terperanjat kaget saat Firkan menerobos masuk begitu saja.


Firlan tak menjawab, dia bergerak menuju tempat ia meletakkan perekam suara.


"Heh! apa yang kamu lakukan!" seru pak Mandor saat Firlan yang ia kenal sebagai Surya itu mengambil sesuatu dari ruangannya.


"Kembalikan padaku! apa yang ada di tanganmu?" seru pak Mandor namun tak digubris Firlan, pria itu tersenyum mengejek.


"Hey! s-siapa k-kalian?" ucap pak Mandor tergagap saat melihat beberapa orang masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


Orang suruhan Firlan itu lantas meringkus pak Mandor. Pria itu tak bisa melawan karena kedua tangannya saat ini sedang terikat.


"Sialan! siapa kau sebenarnya?" tanya Pria bertubuh tambun itu, giginya gemertak menahan amarah.


"Lepas!" teriaknya sambil terus bergerak mencoba melepaskan ikatan di tangannya.


"Coba saja kalau bisa," Firlan duduk di kursi lalu menumpangkan kaki kanan di atas kaki kirinya. Dia duduk melipat tangannya di depan dada. Ia masih memakai seragam pekerja, namun tatapannya mengisyaratkan bahwa dia bukan orang sembarangan.


"Kita lihat apa saja yang kita bisa dengar dari benda ini," ucap Firlan seraya memperlihatkan sebuah benda berwarna hitam dengan senyum penuh arti.


"Apa yang kau lakukan dengan benda itu?" tanya pak Mandor.


"Kau tidak tau benda ini? benda ini yang akan menjadi bukti kecurangan yang telah kau perbuat, pak Mandor!" ucap Firlan.


Sementara pak Mandor memandang Firlan dengan wajah pias, dia tidak tau sejak kapan benda itu ada di ruangannya. Dan apa saja yang terekam dalam benda itu. Firlan sangat menikmati wajah cemas dan ketakutan pria yang sudah bercucuran keringat.


Sementara di sebuah ruangan.


Seorang wanita menatap sesosok pria yang main nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pria itu berjalan santai seolah ia memasuki ruangannya sendiri.


"Ngapain lo kesini?" ucap Sinta ketus saat melihat Fendy masuk ke dalam ruangannya.


"Jangan galak-galak sama calon suami," ucap Fendy yang duduk di sofa, lalu mengeluarkan ponselnya.


"Gue kira udah metong!" sarkas Sinta.


"Nggak lah malaikat yang jagain suamimu ini banyak, Sayang ... tenang aja, kenapa? kangen?" ucap Fendy santai, ia memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya.


Sinta beranjak dari kursi kerjanya, ia berjalan mendekat ke arah Fendy. Pria itu pun tersenyum pada wanita yang kini duduk disampingnya. Sinta menatap Fendy lekat-lekat, ia mencondongkan tubuhnya pada pria itu.


Sinta menarik dasi Fendy sehingga tubuh pria itu mau tak mau semakin dekat dengan Sinta.


"Gue nggak suka sama orang yang suka ingkar janji!" ucap Sinta penuh penekanan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2