Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Ivanka Barsha


__ADS_3

Ketika matahari sudah beranjak dari peraduannya, Satya sudah nampak gagah dengan setelan jasnya, merasa tak ada tangan yang memeluknya, Amartha kemudian terbangun mencari sosok pria yang kini sudah mendekat ke arahnya.


"Udah bangun?" Satya mengecup kening istrinya, mengusap rambutnya lembut. Amartha tersenyum melihat suaminya yang begitu tampan.


"Emh, Mas udah siap? mau kerja?" Amartha bertanya sambil membelai wajah suaminya.


"Iya, hari ini ada seseorang yang harus aku temui," ucap pria itu.


"Hari ini aku udah boleh pulang kan, Mas?"


"Iya, Sayang ... tapi tunggu aku ya? aku nggak akan lama kok, tenang aja." kata Satya yang diangguki Amartha.


"Iya, Mas ... emangnya Mas udah nggak mual lagi?" Amartha menangkup wajah suaminya yang masih sedikit pucat.


"Masih, tapi aku udah minum obat, nggak usah khawatir," Satya memegang tangan istrinya yang menyentuh pipinya.


"Ya udah, aku mau mandi dulu," Amartha menyibak selimut dengan tangan kanannya.


"Mau aku mandiin?" tanya Satya sambil menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih, Mas? aku bisa mandi sendiri..." ucap Amartha dengan wajah yang bersemu.


"Aku bantuin deh, Yank..." Satya setengah memaksa.


"Nggak ah, aku bisa sendiri," kata Amartha sambil beranjak dan mendorong tiang infusnya ke arah toilet.


Tak berapa lama, wanita itu keluar dengan tubuh yang terlihat lebih segar, Satya yang melihat itu langsung mendekati istrinya dan membantu istrinya untuk menikmati sarapan di meja makan.


Satya mengambil piring yang ditutup sebuah lit, kemudian menyuapi istrinya dengan penuh kelembutan, memperlakukannya dengan sangat istimewa.


"Aku berangkat, ya?" ucap Satya sembari mengecup seluruh bagian wajah istrinya dan tak lupa untuk memberi satu kecupan di oerut istrinya sambil berbisik pada calon bayinya.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan,"


"Iya, Sayang..." ucap pria itu yang kemudian berjalan ke luar, punggungnya semakin menjauh dan tak terlihat lagi bersamaan dengan pintu yang tertutup.


"Mam? tolong temani Amartha, bisa? Satya ada meeting penting, aku usahakan cepet balik lagi," Satya berbicara di telepon dengan Sandra.


Setelah selesai menghubungi maminya, Satya langsung pergi ke perusahaan. Dengan langkah yang panjang, pria itu masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai atas. Setelah sampai di lantai tujuan, pintu lift pun kembali terbuka. Pria itu langsung masuk ke dalam ruangannya.


Baru 15 menit dia duduk di kursi kebesarannya, Firlan membuka pintu setelah sebelumnya mengetuknya terlebih dahulu.


"Silakan, Nona..." ucap Firlan mempersilakan seorang wanita muda yang cantik dengan pinggang yang ramping dan tubuh yang berlekuk.


Wanita itu sangat menarik setelan blouse berwarna putih dipadu dengan blazer berwarna abu-abu tua dengan rok ketat yang semakin memperlihatkan bentuk tubuh yang sangat ideal. Wanita itu membawa seorang asisten bernama Alia yang setia dengan kacamata minusnya.


"Selamat datang, Nona Ivanka Barsha," ucap Satya yang segera menyambut kedatangan wanita itu, dan tak lupa mempersilakannya untuk duduk.


"Tidak perlu terlalu formal seperti itu dokter Satya," ucap Ivanka dengan tersenyum penuh arti, Satya nampak berpikir.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" ucap Satya setelah duduk dengan menumpangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya.


"Maaf, mungkin efek umur," ucap Satya yang memang tidak ingat pernah bertemu dengan Ivanka di masa lalu.


"Hahahahah, ternyata dokter lucu juga," Ivanka tertawa memperlihatkan gigi gingsulnya yang membuatnya semakin menarik.


"Baiklah, kita bisa mulai sekarang, karena beberapa jam lagi saya harus terbang ke swiss," ucap Ivanka.


Setelah melalui pembicaraan yang cukup serius akhirnya Ivanka setuju untuk menanamkan modal di perusahaan itu, jelas hal itu membuat Satya sangat senang. Karena Ivanka menginvestasikan uang yang kalau dikalkulasikan bisa menutupi sebagian investor yang mencabut modalnya secara tiba-tiba beberapa waktu yang lalu. Dan otomatis membuat Satya sangat lega karena masalah perusahaannya dapat teratasi.


Setelah membicarakan urusan bisnis, Ivanka meminta untuk bicara empat mata dengan Satya. Baik Alia maupun Firlan akhirnya keluar dari ruangan itu meninggalkan kedua bos mereka untuk berbincang.


"Jadi, dokter belum juga ingat siapa saya?" kata Ivanka yang menatap pria yang duduk di sofa single.

__ADS_1


"Jujur, belum..." sahut Satya, rasa mual dan pusing mulai menyerang kembali.


"Baiklah, kalau begitu, apakah anda pernah mengingat ada pasien kecelakaan tanpa identitas yang anda tangani? bahkan anda yang membayar semua biaya perawatannya? bukan luka yang parah, tapi cukup membuat aku harus merasakan perih dan memar di beberapa bagian," jelas Ivanka yang membuat Satya mengingat salah satu dari sekian banyak orang yang sudah ditanganinya.


"Oh, ya! dan kamu menghilang setelah itu," ucap Satya.


"Saya nekat keluar dari dalam mobil yang sedang melaju di jalan raya, beruntung saat tidak ada kendaraan yang melintas," Ivanka bercerita pada Satya yang sedang menahan gejolak dari dalam perutnya.


"Tindakanmu sungguh berbahaya, Nona..." ucap Satya menanggapi cerita Ivanka.


"Saya nekat, karena mau dijodohkan dengan seseorang, yang sama sekali tidak saya cintai, dan orangtua saya akhirnya membatalkan perjodohan itu setelah mendapati putrinya kembali dengan tubuh penuh luka," Ivanka tersenyum.


"Sekarang giliran saya membalas kebaikan dokter, anggap saja investasi ini sebagai balas budi saya terhadap dokter, saya akan memberikan itu secara cuma-cuma tanpa bagi hasil," kata Ivanka lagi.


"Tidak perlu seperti itu, karena saya menolong anda atas dasar kemanusiaan, saya akan sangat berterima kasih jika anda menaruh investasi ini pada perusahaan kami, tapi saya akan menolak jika anda memberikan uang ini secara cuma-cuma, maaf..." ucap Satya mencoba menolak sehalus mungkin agar wanita itu tidak tersinggung.


"Baiklah, deal!" Ivanka mengulurkan tangannya pada Satya, pria itu lalu menjabat tangan wanita yang kini tersenyum padanya.


"Dokter sakit?" Ivanka merasakan tangan Satya yang sangat dingin, wanita itu mendekat ke arah Satya, namun pria itu segera beranjak.


"Tidak, maaf!" Satya langsung ke arah toilet dan mengeluarkan isi perutnya, Ivanka segera menyusul Satya ke toilet yang ada di ruangan itu setelah mendengar pria itu sedang tidak baik-baik saja.


Sementara di rumah sakit, Amartha sudah sangat senang karena akan pulang hari ini.


Seorang pria dengan memakai snelli dan masker medis yang menutupi sebagian wajahnya masuk ke ruang perawatan Amartha sang pemilik rumah sakit.


"Selamat, siang Nyonya ... hari ini anda sudah diperbolehkan untuk pulang, dan saya akan melepaskan infus ditangan anda, silakan tarik nafas dalam, setelah hitungan ketiga," ucap dokter itu.


"Baik, Dok..." sahut Amartha, sementara Dokter mulai menghitung.


"Satu, dua, tiga..."

__ADS_1


Ketika Amartha sedang menarik nafasnya, dokter itu langsung membekap hidung Amartha dengan sebuah sapu tangan, dan membuat wanita itu tak sadarkan diri.


----------------


__ADS_2