Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Benda Keramat


__ADS_3

"Makan sendiri aja, Mas. Malu ditempat umum,"


"Nggak apa-apa kan kamu istriku, Yank. Kalau ada yang protes biar aku tabok mulutnya pake sepatu," celetuk Satya.


Amartha tak menghiraukan ucapan Satya, dia malah fokus pada ayam goreng yang masih panas dengan sambal yang menggoda selera. Wanita itu mulai menyuwir ayamnya dan tak lupa untuk memberi sambal disetiap suapan nasi yang masuk ke mulut kecilnya.


"Kok cuma diliatin? Mas nggak mau makan?" tanya Amartha sambil melihat nasi dan ayam yang sama sekali belum disentuh.


"Nggak. Aku malah lagi pengen mie nyemek," jawab Satya.


"Pake telor dan potongan cabe, beuh nikmat banget kayaknya,"lanjut Satya yang sudah membayangkan betapa enaknya mie dengan potongan rawit yang bikin segala pusing bisa jadi ilang.


"Berarti Mas nggak mau, nih?" Amaryha menunjuk ayam goreng dengan dagunya.


"Nggak. Kamu aja, Yank..." Satya menggeleng, Amartha dengan cuek mengambil ayam goreng milik suaminya. Ah, benar saja rasanya pas jika dia makan dua potong ayam goreng bagian paha, dengan sesekali menyeruputt es jeruknya.


Amartha makan dengan sangat lahap, Satya yang melihatnya pun hampir ngeces. Udah kayak lagi liat live mukbang. Satya lalu menyodorkan es jeruk kembali saat melihat istrinya tak berhenti mengunyah.


"Minum jangan lupa, nanti keselek," ucap Satya.


Amartha hanya tersenyum lalu menyeruput es jeruknya yang tinggal setengah gelas, kemudian ia melanjutkan kembali makannya. Nasi dan ayam yang hangat cenderung panas yang membuatnya terasa sangat nikmat. Apalagi dimakan malam-malam begini. Kenikmatan yang haqiqi ini mah. Setelah selesai mereka berdua segera pulang.


Dan sekarang Amartha tengah terlelap di dalam mobil, Satya hanya tersenyum melihat istrinya yang sudah merem daritadi.


"Pulas sekali tidurnya?" lirih Satya melihat istrinya sudah terpejam. Satya terpaku pada perut istrinya dan membisikkan sesuatu disana.


"Hey, anak ayah udah tidur belum? ehm, kamu sekarang udah kenyang, ya? lihat ibu sudah tertidur pulas, sekarang waktunya kamu juga tidur, yah? anak hebat!" bisik Satya pada perut istrinya.


Setelah beberapa saat berkendara, pria itu menggendong istrinya dari basement sampai masuk ke dalam unitnya. Beberapa pasang mata melihat Satya yang tengah menggendong istrinya ala bridal style.


Satya hanya cengar-cengir saat bertubi-tubi pujian dilayangkan padanya, dan dicap sebagai suami siaga, suami sayang istri dan tak lupa pria itu panen doa dari orang-orang yang menaiki lift yang sama dengan dirinya.


Wanitanya sama sekali tidak terganggu bahkan semakin nyenyak saat digendong suaminya. Satya menekan password dengam susah payah, dan beruntung pintu segera terbuka.

__ADS_1


"Kebiasaan barumu, Sayang ... tidur setelah merasa kenyang," gumam Satya saat merebahkan Amartha diatas ranjang. Kalau masalah sandal, tuh barang udah di lepas pas keluar dari mobil.


Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar menampilkan nama Ivanka. Namun, Satya memilih tak mengangkatnya. Pria itu malah merebahkan dirinya di samping sang istri. Perlahan, dia memejamkan matanya. Rasa lelah setelah seharian bekerja membuatnya terlelap dengan mudah. Meskipun perutnya belum diisi.


Tengah malam Amartha terbangun, dia merasakan tenggorokannya sangat kering dan ingin merasakan air hangat.


"Hoammm, kok aku udah disini?" Amartha mengerjapkan matanya. Ia melihat ponsel suaminya diatas nakas, lalu ia melihat bahwa sekarang sudah pukul 02.00 dini hari.


"Mas Satya pasti belum makan," ucap Amartha merasa bersalah karena.


Namun ketika ia akan beranjak, Satya terbangun dari tidurnya.


"Mau kemana, Yank?" tanya Satya dengan suara paraunya khas orang baru bangun tidur.


"Mau minum, Mas. Haus..." jawab Amartha, pria itu segera beranjak dari ranjang namun Satya segera mencekal tangan istrinya.


"Kamu disini aja, biar aku yang ambilin. Mau minum apa?" tanya Satya seraya bangkit, dia mengerjapkan matanya.


"Belum. Ya udah ... tunggu bentar aku ambilin," Satya mengelus perut istrinya dan segera turun dari ranjang empuknya.


"Tapi, aku laper lagi," ucap Amartha dengan wajah memelasnya. Dia merasa egois membiarkan suaminya kelaparan sedangkan ia tidur dengan perut kenyang.


"Anak ayah malem-malem bikin perut ibu keruyukan, ya?" bisik Satya pada perut Amartha, seakan-akan anaknya sudah bisa memahami apa yang dia katakan.


"Ya udah, mau aku bikinin sesuatu?" tanya Satya pada Amartha dengan lembut.


"Pengen mie nyemek, kasih potongan rawit, boleh?" kata Amartha ragu.


"Hemm, boleh aja tapi jangan banyak-banyak cabenya. Kamu tunggu aja disini," kata Satya yang akan beranjak pergi.


"Ikuuut..."Amartha sedang merajuk pada Satya.


"Baiklah, jika istriku ini memaksa," ucap Satya yang langsung menggendong Amartha.

__ADS_1


Satya melangkah ke arah dapur dan mendudukan Amartha di kursi yang ada meja makan.


Kemudian Satya berjalan ke arah kitchen set. Pria itu kemudian memulai aksi masaknya. Amartha sampai terpukau saat melihat semangkuk mie nyemek di hadapannya.


"Wah kayaknya enak banget! aku cobain ya, Mas?" kata Amartha melihat kepulan asap putih di mangkuk miliknya.


"Enak nggak? tanya Satya saat Amartha sudah mengarahkan satu suapan ke mulutnya.


"Enak banget, Mas!" puji Amartha di tengah menikmati mie buatan Satya.


Mereka makan di meja makan sampai kurang lebih jam 3 pagi. Mereka bercanda di tengah menikmati makanan yang tersaji di depannya.


Amartha menimbang-nimbang, apakah rencananya akan dilancarkan hari ini atau besok. Mengingat waktu yang sudah larut malam, ia menatap suaminya yang sedang menyuapkan mie ke dalam mulutnya. Merasa diperhatikan, Satya akhirnya menatap Amartha dan tersenyum pada istrinya.


Setelah selesai Satya dan Amartha kembali menuju kamar mereka. Satya langsung ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya. Dia ingin menggosok giginya dan membasuh wajahnya, sekalian ganti baju pikirnya.


"Jadi nggak, yah?" gumam Amartha dalam hatinya yang sedang gamang. Berulangkali wanita itu menghela nafasnya, sambil menunggu Satya keluar dari kamar mandi.


"Lama banget Mas Satya di dalem,lagi semedi apa gimana sih?" ucap Amartha menerka-nerka.


"Huuufffh, kok deg-degan, yah?" ucap Amartha.


"Astagaa, dia ngapain aja di dalem?" ucap Amartha bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Ya ampun nggak keluar-keluar mas Satya, ih! pingsan apa gimana, sih? kok nggak kelar-kelar?" Amartha masih berbicara sendiri sambil matanya tak lepas dari pintu kamar mandi.


Sementara di dalam kamar mandi, Satya membuka lemari penyimpanan handuk. Ia ingin mengambil handuk kecil untuk mengelap wajahnya, lalu ia melihat sesuatu yang terasa janggal di matanya.


"Itu apa, ya?" mata Satya memicing dengan sebuah bahan yang ada diantara selipan handuk putih. Satya lalu mengambil barang itu kemudian menjerengnya.


"Kok nih barang keramat ada disini?" gumam Satya sambil pikirannya berkelana entah kemana.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2