Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Belum Waktunya


__ADS_3

Seseorang memencet bell, Vira yang baru selesai mandi bergegas memakai baju, rencananya hari ini Satya akan pulang, jadi urusannya sudah selesai menemani bumil ketemu sama suaminya, tapi sepertinya beberapa hari ini Vira malah lebih banyak menghabiskan waktu dengan Firlan daripada dengan Amartha.


Vira membuka pintu, sementara handuk masih menyampir di pundaknya.


"Masuk, Ay..." ucapnya pada Firlan. Ia berbalik dan berjalan di sofa, Firlan menutup pintu dan segera menyusul Vira.


"Gimana? jadi pulang kan hari ini?" tanya Vira setelah pria itu duduk di sampingnya.


"Jadi," sahut Firlan singkat. Kekasihnya itu terlihat sangat suntuk.


"Mau aku buatin kopi?" Vira pun menawarkan secangkir kopi untuk Firlan.


"Boleh," jawab Firlan ia membuka jasnya dan menyampirkannya di lengan sofa.


Wanita dengan rambut sebahu itu menaruh handuk miliknya dan ia segera mengisi heater dengan air mineral. Bau harum menyeruak saat Vira menyeduh kopi dengan air panas dan creamer tanpa gula. Vira berjalan mendekat ke arah kekasihnya, ia meletakkan secangkir kopi di atas meja sebelum ia duduk di samping pria itu.


"Diminum dulu, Ay..." ucap Vira. Firlan hanya tersenyum tipis.


"Kenapa? kok ngomongnya irit? lagi ada masalah?" tanya Vira sembari menautkan jari jemarinya dengan Firlan.


"Iya," Firlan tersenyum. Vira hanya menghela nafasnya pelan, mungkin banyak masalah yang sedang dihadapi Firlan saat ini. Vira menyenderkan kepalanya di bahu Firlan.


"Kamu pulang ikut Damian aja, ya? bareng sama tuan Satya dan nyonya Amartha, aku nggak bisa nganter kamu, karena aku masih disini untuk beberapa hari lagi," jelas Firlan, pria itu mengelus kepala Vira sekilas.


"Iya, nggak apa-apa," jawab Vira, ia masih nyaman dengan posisinya.


"Vira, ada hal lain yang ingin aku tanyakan," ujar Firlan dengan nada serius.


"Tanyain aja," Vira menjawab dengan lembut sambil memainkan tautan jari jemarinya dengan Firlan.

__ADS_1


"Aku pengen ketemu sama orang tua kamu," ujar Firlan yang membuat Vira terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya, menatap heran sang kekasih.


"Apa?"


"Aku bilang, aku pengen ketemu sama orangtua kamu," Firlan mengulangi perkataannya lagi, menatap Vira yang memalingkan wajahnya.


"Belum waktunya," sahut Vira sekenanya.


"Kenapa? nggak boleh? atau kamu sebenernya janda beranak satu yang ngaku masih perawan? dan takut status kamubketauan sama aku?" Firlan mencecar Vira dengan pertanyaan, Vira melepaskan tangannya dari pria itu.


"Issh! sembarangan!" ucap Vira berdecak kesal, ia melayangkan satu tabokan di lengan kekasihnya.


"Lalu apa yang membuat aku harus menunggu sampai batas waktu yang belum ditentukan?" tanya Firlan lagi, ia penasaran kenapa Vira sangat terkejut dengan ucapannya tadi. Bukankah hal yang wajar jika ia ingin mengenal orangtua dari kekasihnya?


"Mereka sibuk," jawab Vira datar, baru juga ia membahas ini tempo hari dengan Amartha, sekarang dia harus mengulang pembahasan yang sama dengan Firlan.


"Bisa nggak sih nggak usah terburu-buru? kita jalani dulu apa adanya, seperti air mengalir," ucapan Vira lantas membuat Firlan kaget. Biasanya seorang wanita akan senang jika kekasihnya menunjukkan keseriusannya, tapi mengapa Vira berbeda? Wanita itu malah terlihat seperti menghindar dari percakapan yang menjurus ke arah pernikahan. Firlan memegang kedua bahu Vira, mau tak mau wanita itu menatap wajah kekasihnya.


"Apa kamu masih ragu tentang perasaanmu sama aku?" tanya Firlan, Vira menunduk.


"Lihat aku, Vira." Firlan menangkup wajah mungil Vira.


"Bukan kayak gitu, hanya saja..." Vira tak bisa melanjutkan ucapannya.


"Hanya apa?" tanya Firlan lagi.


"Bukan apa-apa, nanti aku ngomong dulu sama orangtuaku, tolong kasih aku waktu," ucap Vira, entahlah bagaimana ia akan bicara dengan kedua orangtuanya sedangkan Vira jarang sekali bertemu dengan mereka, bahkan mereka jarang menanyakan kabarnya. Mereka hanya akan membalas chat, tapi mereka akan buru-buru menghentikan percakapan ketika Vira bicara lewat telepon.


Firlan mendekatkan wajahnya pada Vira dan mencium bibir kekasihnya itu. Kopi yang tadi tersaji belum juga tersentuh, cangkir yang tadinya panas kini berubah menjadi dingin.

__ADS_1


Firlan menjarak wajah keduanya, nafas mereka masih memburu, Firlan harus menghentikannya sebelum Vira kehabisan nafas.


"Aku sayang sama kamu, dan aku serius. Aku nggak mau main-main," ucap Firlan, ia menyatukan keningnya dengan kening Vira.


"Aku takut tidak bisa menahan diri," ucapnya lagi


Belum sempat Vira berucap, pria itu sudah memeluknya erat. Meninggalkan kedua insan yang sedang kasmaran, di rumah Sakit Amartha gelisah menunggu Vira.


"Mana tuh orang? katanya mau ikut, tapi belum nongol juga," ucap Amartha yang beberapa kali melihat jam di tangannya.


"Sabar, mungkin lagi perjalanan ke sini," sahut Satya yang duduk di sofa, pria itu sudah terlihat segar.


Tak lama, yang ditunggu pun datang, Vira nyengir ketika mata Amartha memicing melihat wajah Vira.


"Liatinnya gitu banget, kenapa?" tanya Vira yang menatap Amartha heran.


"Aku baru liat orang pake lipstik nyoret sampe ke pipi," celetuk Amartha, Satya tertawa melihat wajah bodoh Vira. Satya melihat asistennya yang lagi ngitungin bintang di langit, dia memalingkan wajahnya menyembunyikan tawanya yang hampir lepas.


"Masa sih?" tanya Vira, tanpa permisi wanita itu langsung ngibrit ke toilet.Dan benar saja ada coretan lipstik di pipinya.


"Oh, ini pasti kerjaan tuh orang deh! makanya aku tuh curiga kenapa dia cengar-cengir mulu di mobil," ucap Vira sambil membasahi pipinya dengan air. Berusaha membersihkan wajahnya dengan tissue.


Vira mengingat kejadian yang membuat nafasnya megap-megap beberapa menit yang lalu. Firlan yang mencoba membangunkan Vira yang tertidur saat mobil mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit. Namun sang pacar tidak juga bangun hanya dengan tepukan, akhirnya Firlan membangunkan dengan cara yang lain, yang membuat pemerah bibir wanita itu blepotan kemana-mana.


Tak berapa lama, Vira muncul dengan wajah yang kesal apalagi saat melihat senyuman tak berdosa dari Firlan.


"Firlan, saya percayakan masalah ini sama kamu, kabari saya secepatnya jika kamu sudah tau siapa pelakunya," ucap Satya pada Firlan.


"Baik, Tuan ... tap setelah masalah ini selesai, saya mau minta cuti untuk beberapa hari," ucap Firlan yang melirik Vira, wanita itu tahu itu adalah kode supaya dia secepatnya bicara dengan orangtuanya mengenai hubungannya dengan Firlan.

__ADS_1


"Baiklah tidak masalah, kamu akan mendapatkannya," ucap Satya seraya berdiri, bersiap untuk meninggalkan rumah sakit.


Akhirnya Satya pulang bersama istrinya, Vira dan juga Damian, meninggalkan Firlan yang masih harus mencari tahu dalang dibalik mangkraknya pembangunan gedung yang direncanakan harus selesai akhir tahun ini.


__ADS_2