Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Mencari Vira


__ADS_3

Prisha cemberut, ia mau tak mau pulang dengan Damian, supir pribadi Amartha. Sementara Satya dan Amartha pergi ke rumah sakit, mencari Vira.


"Jangan khawatir," ucap Satya, satu tangannya menggenggam tangan Amartha, dan satu tangannya berada di kemudi.


"Nggak gitu, Mas..." jawab Amartha cemas, dia tidak sabar untuk segera sampai.


"Mungkin ada alasan lain kenapa dia nggak cerita," kata Satya, dia mencium punggung tangan istrinya sekilas


"Aku cuma ngerasa nggak berguna buat dia, Mas ... sahabat macam apa aku ini, Mas?".ujar Amartha dia menoleh Satya.


"Mungkin dia nggak cerita karena dia takut kamu kepikiran, sama pacarnya aja dia nggak cerita," sahut Satya, ia mengelus kepala istrinya. Wanita itu baru mengetahui kalau ayah dari sahabatnya, baru melakukan operasi transplantasi ginjal di rumah sakit miliknya.


"Vira ... Vira ... kenapa kamu nggak cerita, sih? kamu pasti berat ngadepin ini semua," gumam Amartha, dia sayang dengan Vira seperti saudara sendiri. Jika dia tahu kalau ayah Vira akan menjalani operasi di rumah sakit, pasti Amartha akan membayarkan biaya operasi itu. Dia akan berada di sisi sahabatnya, ketika dia butuhkan kehadiran seseorang.


"Kalau aku nggak sengaja denger Firlan ngobrol sama Vira tadi di telepon, pasti nggak akan ada yang ngasih tau aku, asisten Mas itu pasti diem-diem bae," ucap Amartha kesal, ia teringat saat tak sengaja mendengar Firlan bercakap-cakap dengan Vira di telepon, pria itu menanyakan kabar ayah dari wanita itu pasca operasi. Amartha yang keluar mau minta tolong Maura membelikannya es kelapa muda pun mendadak terkejut mendengar percakapan Firlan, kebetulan pria itu sedang berdiri tak jauh dari meja Maura.


"Lagian kamu mah tajem banget nggak hidung nggak kuping," celetuk Satya.


"Gimana nggak denger orang Kak Firlan ngomongnya kenceng kok, ya udah begitu dia tutup teleponnya, aku seret dia masuk ke ruangan kamu, Mas..." ungkap Amartha. Dia menarik paksa Firlan masuk ke dalam ruangan Satya, ia mencecar pria itu dengan berbagai pertanyaan.


"Kasian juga Firlan mukanya kalau pas lagi diinterogasi sama Nyonya Satya," kata Satya yang terkekeh mengingat ekspresi wajah asistennya saat berhadapan dengan istrinya


"Walaupun aku juga malu karena kejadian siang itu, tapi namanya udah penasaran, dan ini masalah sahabat aku, ya udah mau gimana lagi?" ucap Amartha.


"Kok nggak nyampe-nyampe sih, Mas?" tanya Amartha yang sudah gelisah.


"Sabar, yah? kita bentar lagi nyampe kok," kata Satya menenangkan istrinya itu.


"Jangan terlalu kepikiran, nggak baik buat calon anak kita, dia bisa merasakan apa yang kamu rasakan, khawatir boleh tapi jangan berlebihan," lanjutnya mengingatkan.


"Iya, Mas..." jawab Amartha singkat.


Sesampainya di rumah sakit, Amartha dan Satya langsung mencari keberadaan Vira.


"Yank ... jalannya pelanin dikit..." Satya meraih tangan istrinya yang berjalan dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Nanti aku panggil aja dia ke ruang meeting diatas," usul Satya saat Amartha memperlambat langkahnya.


"Kita jangan langsung ke bangsal, nanti malah nggak enak..." lanjut pria itu.


"Nggak bisa, Mas! aku nggak bisa nunggu! aku mau cari Vira,"


Amartha langsung menuju bangsal dimana Vira ditugaskan. Sekarang menunjukkan pukul 2 siang, ini saatnya operan shift.


"Saya mau ketemu Suster Vira..." ucap Amartha tanpa basa-basi padanseorang perawat jaga.


"Nyonya ... Tuan?" ucap perawat itu gugup berhadapan dengan pemilik rumah sakit.


"Se-sebentar saya panggilkan, karena Suster Vira sedang ikut operan," kata wanita tadi yang merupakan teman sejawat Vira.


"Silakan duduk, Nyonya..." lanjutnya sambil mempersilakan Satya dan Amartha untuk duduk di tempat duduk yang disediakan di counter perawat sebelum wanita itu pergi mencari Vira


"Duduklah, kita tunggu Vira datang..." ucap Satya lembut, Amartha pun menurut.l


Sementara Amartha dan Satya menunggu kedatangan Vira, Prisha sudah sampai di kediaman Ganendra.


"Assalamualaikum," seru Prisha heboh seperti biasa, kayak tarsan kalau pas masuk hutan. Cuma bedanya Prisha nggak teriak 'auuuoooo'.


"Waalaikumsalam..." seru Sandra dari ruang makan. Wanita itu meninggalkan puding yang baru saja akan dipotongnya, ia melangkah menuju ruang tengah. Dan melihat putri bungsunya sedang berjalan mendekatinya


"Maaaamiiiiii...." seru Prisha yang berhambur memeluk Sandra.


"Eh, sayang!" Sandra membalas pelukan putrinya.


"Loh, kok kamu sendirian? mana Satya?" Sandra menjarak tubuh keduanya, sambil matanya mencari-cari sosok Satya yang tidak kelihatan batang hidungnya.


"Ke laut!" sahut Prisha kesal.


"Loh gimana, sih! disuruh jemput kamu kok dia malah ke laut?" omel Sandra, Prisha langsung menepuk jidatnya.


"Yaasalaaaammm," gumam Prisha.

__ADS_1


Di apartemen Ricko, Raharjo dan Dewi bersiap untuk kontrol pasca operasi.


"Pak Jojo, sudah siap?" tanya Ricko.


"Kalau masih terasa nyeri kita bisa tunda besok, Pak..." ucap Ricko lembut.


"Nda apa-apa, Nak Ricko ... bapak insya allah kuat," ucap Raharjo seraya melempar senyum teduhnya diangguki oleh Dewi.


"Hati-hati, Pak ... Bapak dan Ibu tunggu dulu disini, saya mau ambil kunci mobil di dalam," kata Ricko yang berjalan menuju kamarnya.


Tak lama pria itu muncul lagi, dan menuntun Raharjo untuk duduk di kursi Roda. Mereka bertiga keluar dari apartemen untuk menuju rumah sakit tempat Vira bekerja.


Ricko melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mungkin karena dia masih muda, Ricko merasa kondisinya sudah lebih baik. Tapi tidak dengan Raharjo, pria paruh baya itu membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai kesembuhan.


"Terima kasih, Nak Ricko..." ucap Dewi tiba-tiba.


"Terima kasih untuk apa, Bu?" tanya Ricko yang sedang menyetir.


"Untuk semua yang sudah Nak Ricko lakukan, semoga tuhan membalas kebaikan Nak Ricko dengan berkali-kali lipat," ucap Dewi yang diamini Raharjo.


"Aamin, Bu..." sahut Ricko sembari tersenyum.


"Bagaimana kondisi Nak Ricko sendiri? apa tidak sakit menyetir seperti itu?" tanya Raharjo yang duduk di kursi penumpang samping kemudi.


"Lebih baik, Pak ... tenang saja, saya sudah merasa jauh lebih baik," jelas Ricko mengusir ke khawatiran ayah Vira.


"Mungkin setibanya kita disana, Vira sudah berganti shift," ucap Ricko sambil melirik arloji yang melekat di tangannya.


"Hah, anak itu ... dia pasti sangat kelelahan," Raharjo menghela nafas panjang, ia mengingat bagaimana Vira merawatnya selama di apartemen Ricko.


"Anak Ibu dan Bapak memang sangat tangguh, dia begitu telaten merawat orangtuanya," puji Ricko, Raharjo dan Dewi terseny mendengar ucapan pria dewasa yang sepantasnya sudah menikah itu.


"Padahal kita sudah larang, tapi anak itu tetap keukeuh bolak-balik untuk merawat papanya yang sudah tua ini. Perasaan baru kemaren anak itu berada dalam timangan, dan sekarang dia sudah menjelma sebagai wanita muda. Waktu sangat cepat berlalu, tanpa terasa bapak sudah melewatkan banyak hal, tapi anak bapak itu sangat kuat ... dia tetap ceria, walaupun kami jarang sekali bersamanya," ungkap Raharjo dengan penuh penyesalan.


"Bapak pasti sangat bangga memiliki putri seperti Vira," ucap Ricko.

__ADS_1


"Sangat," jawab Raharjo, Dewi yang duduk di kurai belakang menghapus air mata yang menetes dari sudut netranya.


...----------------...


__ADS_2