Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Mengheningkan Cipta, Mulai!


__ADS_3

"Kalau kamu apa?" tanya Firlan.


"Tapi janji jangan marah, ya?"


"Ya tergantung!" kata Firlan sambil memasukkan batagor ke dalam mulutnya.


"Kok gitu?" kata Vira.


"Ya iyalah, tergantung apa yang mau kamu omongin..." kata Firlan.


"Janji dulu nggak akan marah..." Vira merengek.


"Kan aku tadi udah bilang, tergantung ... aku nggak mau janji," kata Firlan masih kekeuh.


"Ish ... kamu nyebelin banget sih, Ay!" kata Vira.


"Tadi mau ngomong apaan? ini kedai mau tutup loh, kamu mau nyiksa mereka? karena harus nungguin kita makan dengan harga yang nggak seberapa ini?" desak Firlan. Vira melihat sekeliling sudah tidak ada pengunjung lain, yang tersisa hanya mereka berdua.


Vira menghela nafasnya, ia menatap Firlan dalam.


"Gimana kalau aku kerja lagi," ucap Vira.


"Ya bagus, dong! nanti aku bilang sama-"


"Nggak! aku bukan mau kerja di rumah sakit, bukan!" serobot Vira.


"Terus mau kerja dimana? di klinik?" tanya Firlan.


"Bukan..." Vira menggeleng.


"Bukan di klinik," lirih Vira.


"Ya terus?" Firlan mengernyit heran. Tak biasanya Vira ngomong muter-muter tidak jelas seperti ini.


"Aku kerja di..." ucap Vira menggantung.


"Dimana Vira? astagaaaa..." Firlan sudah gemas dengan pacarnya ini. Pria itu menyuapkan kembali es teller dengan sendok bebek yabg terbuat dari porselen.


"Kerja sama kak Ricko!" ucap Vira cepat. Firlan yang terkejut langsung tersedak.


"Uhukkk uhukkk! uhuukk!" Firlan terbatuk-batuk.


"Pada kenapa sih!" gumam Vira yang tak habis pikir dengan Firlan yang tersedak saat mendengar nama Ricko begitu pun sebaliknya. Vira menjulurkan tangannya menepuk-nepuk pundak Firlan.


"Tadi kamu bilang apa? kerja sama Ricko?" Firlan memastikan apa yang didengarmya dari mulut Vira.


"Iya," jawab Vira.


"Emang nggak ada tempat kerja yang lain gitu?" Firlan menatap Vira dengan tajam.


"Kenapa? ini cuma kerja, aku juga nggak ada hubungan apa-apa sama dia, lagian dia udah banyak bantuin aku dan keluargaku. Aku nggak enak kalau nolak tawaran kerja dari kak Ricko," Vira nyerocos tanpa titik koma.

__ADS_1


"Tapi kan..."


"Kita baru aja baikan, katanya kamu nggak akan cemburuan lagi? baru segitu aja kamu udah nggak percaya sama aku? emang aku ada bakat selingkuh? kan nggak..." kata Vira. Firlan menatap kedua bola mata Vira sambil berpikir, apa yang seharusnya ia lakukan. Disatu sisi, dia baru saja berdamai dengan Vira, dia takut Vira akan menjauh lagi. Tapi disisi lain, dia tidak rela jika Vira dekat dengan orang yang jelas-jelas menyukai wanita itu.


"Aargh!" Firlan mengerang frustasi.


"Maaf, Tuan ... Nona ... tapi kedai kami akan tutup," kata seorang wanita yang menghampiri meja mereka.


"Maaf, ini untuk makanan kami," kata Firlan yang mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah.


"Ini terlalu banyak, Tuan..." kata wanita itu.


"Tidak apa," ucap Firlan.


"Maaf ya, Tuan ... Nona..." seru wanita itu saat melihat pelanggannya beranjak dari tempat duduknya.


Firlan berjalan mendahului Vira. Ia juga tak membuka pintu untuk pacarnya seperti yang biasa ia lakukan. Vira membuka pintu sendiri, dia menatap Firlan heran.


"Ay..." ucap Vira saat sudah memasang sabuk pengaman.


"Ay..." Vira memanggil pria itu sekali lagi.


"Ya udah deh, aku pulang sendiri ajah..." Vira hendak membuka lagi sabuk pengaman yang membelit tubuhnya.


"Jangan! udah malam, biar aku anterin..." ucap Firlan mencegah tangan Vira.


"Nggak usah, aku pulang naik taksi aja,"


Firlan terdiam, pria itu sesekali menyentuh bibirnya dengan jari tangannya. Dia juga beberapa kali menghela nafasnya, dia bingung harus bagaimana menghadapi Vira.


"Ay?" Vira memecah keheningan.


"Aku pikirin dulu, nggak harus aku jawab sekarang, kan?" ucap Firlan datar.


"Ya nggak harus jawab sekarang, sih. Tapi..."


"Nanti aku kasih tau kamu kalau aku udah nentuin jawabannya," kata Firlan, dan mengheningkan cipta, mulai!


Vira diam begitupun dengan Firlan. Vira menghembuskan nafasnya perlahan. Wanita itu kadang suka kesal dengan tingkah mereka berdua yang lebih banyak ributnya daripada romantisnya. Dia dan Firlan lebih mirip sahabat atau teman daripada dua orang yang saling mencintai.


Firlan sesekali mencuri pandang pada Vira, wanita itu melihat lurus ke depan. Selama perjalanan tak ada yang membuka suara sampai akhirnya mereka sampai di apartemen yang di huni Ricko, tempat Vira menginap saat ini. Firlan mengantar Vira sampai di depan unit milik Ricko.


"Aku masuk," ucap Vira tanpa melihat Firlan. Wanita itu menekan pasword, dan mulai membuka pintu.


Firlan tak menjawab, dia hanya melihat kekasihnya hilang dibalik pintu, lalu dia berjalan menuju lift.


Vira melepas alas kakinya dan menaruhnya di tempat lemari kecil khusus untuk meletakkan sepatu.


"Baru pulang, Vir?" ucap Ricko yang ternyata duduk di ruang tamu yang lampunya sudah dipadamkan.


Vira segera menekan tombol lampu, sehingga ia bisa melihat bahwa suara yang di dengarnya itu merupakan suara manusia, bukan makhluk ghoib.

__ADS_1


"Astagfirllah, aku kira syaithonirrojim!" Vira mengusap dadanya. Seketika kakinya lemas.


Wanita itu berjalan gontai dengan tas yang masih nyangkol di bahu kirinya, dia melangkah menuju sofa dan segera melempar tubuhnya pada benda empuk itu.


"Kamu kagetan sekarang, Vir!" ucap Ricko.


"Bukan kagetan, tapi Kakak yang emang sengaja ngagetin orang!" ucap Vira tak mau kalah.


"Kok Firlan nggak mampir dulu?" tanya Ricko.


"Kok Kakak tau aku keluar sama Firlan?" Vira mengernyit heran.


"Ada tulisannya di jidat kamu," kata Ricko ngasal.


"Ngarang!"


"Lagian Kakak kenapa belum tidur?" tanya Vira.


"Nungguin anaknya pak Jojo yang belum ngandang!" Ricko terkekeh sedangkan Vira manyun.


"Emangnya aku ayam?"


"Udah makan belum?" tanya Ricko.


"Belum," jawab Vira.


"Lah tadi keluar dari habis maghrib ngapain? makan angin?" tanya Ricko sambil geleng-geleng kepala.


"Cuma makan es teller sama batagor," ucap Vira.


"Masih ada kan makanan di belakang?" tanya Vira berharap amsih ada sisa lauk di meja makan.


"Yah, udah habis!" kata Ricko.


"Ya udah, aku masak sendiri aja," kata Vira yang beranjak dari duduknya. Ia sudah merasakan lapar yang teramat sangat.


"Jangan! nanti ... nanti aku buatin!" ucap Ricko. saat Vira berjalan melewatinya.


Vira menatap punggung Ricko yang semakin jauh, wanita itu mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di dapur, Ricko langsung membuka lemari pendingin dan mengeluarkan beberapa bahan makanan. Namun ponsel Ricko berdering, pria itu merogoh sakunya dan mengusap benda itu, menempelkannya di telinga kanannya.


"Assalamualaikum. Ya? ehm ... belum, aku belum tidur. Tumben jam segini udah bangun? bukannya disana masih tengah malam?" ucap Ricko lembut. Vira duduk di meja makan melihat Ricko berbicara entah dengan siapa.


"Ya sudah, aku mau masak dulu. Iya, mendadak laper lagi. Hahahaha, ya nggak lah! ya sudah, lanjut istirahat lagi, bye..." Ricko menyudahi percakapannya di telepon, ia mengantongi ponselnya kembali.


"Kamu mau makan apa?" tanya Ricko pada Vira.


"Hah? apa?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2