
"Nggak nyangka ketemu disini, udah sore kenapa masih belum pulang?" ucap seorang pria yang berdiri menghampirinya.
"Gusti?" ucap Vira tidak percaya dengan siapa yang kini duduk disampingnya.
"Aku nggak sengaja liat kamu dengan para benang-benang ini," ucap Gusti menunjuk kumpulan benang milik Vira.
"Kau sengaja datang kesini untuk membuat ini?" tanya Gusti sambil menunjuk dengan dagunya hasil sulaman Vira.
"Ya, begitulah..." sahut Vira sambil merapikan gulungan benang agar kembali rapi.
"Kamu sendiri?" Vira balik bertanya.
"Aku..."
"Papiiiiiiii!" seru seorang gadis kecil berlari menghampiri Gusti. Gadis kecil dengan rambut panjang yang tergerai, dia terlihat sangat cantik. Gadis itu langsung memeluk pria yang memakai setelan jas berwarna hitam itu.
"Apa kamu sudah bosan bermain?" tanya Gusti.
"Ya," ucap gadis itu manja.
"Nona sepertinya sudah kelelahan, Tuan..." ucap seorang wanita yang memakai seragam pengasuh.
"Baiklah, Nona kecil ... kita akan segera pulang," Gusti mengangkat gadis itu diatas pangkuannya.
"Oh, ya ... papi hampir lupa, kenalkan ... ini tante Vira temen papi," ucap Gusti pada si gadis kecil.
"Halo? nama kamu siapa?" tanya Vira lembut.
"Gia, Tante..." ucap anak itu manis.
"Apakah dia anakmu?" tanya Vira pada Gusti. Pria itu tersenyum.
"Ya, dia putriku..." ucap Gusti seraya mengecup puncak kepala Gia.
"Cantik, dia sangat cantik..." puji Vira seraya tersenyum pada Gia.
"Seperti ibunya," kata Gusti.
"Umur kamu berapa, Sayang?" tanya Vira pada Gia.
"5 tahun, Tante..." ucap Gia.
"Apa kamu kesini dengan istrimu juga?" tanya Vira.
"Mami Gia udah nggak ada, tepat setelah Gia lahir ke dunia..." ucap Gusti.
"Maaf, aku nggak tau," ucap Vira menyesal. Ternyata Gusti duda beranak satu.
__ADS_1
"Tante? itu gambar tante bikin sendiri?" tanya Gia menunjuk kain yang masih terpasang pembidang berbentuk cincin itu.
"Oh, iya ... ini buatan tante. Eh, kalau dilihat-lihat mirip sama Gia, ya?" ucap Vira melihat hasil sulamannya dengan anak Gusti.
"Waaaah, iya! Papi lihat ini, anak kecil itu mirip dengan Gia..." kata Gia menunjuk hasil karya Vira.
"Kalau kamu Gia mau, Gia bisa bawa pulang ini," ucap Vira seraya memberikan kain bergambar anak kecil berambut panjang. Gia menerima pemberian Vira dengan senyum mengembang.
"Sayangnya dia menghadap ke belakang, nanti tante buatin yang menghadap ke depan, ya? mau nggak?" ucap Vira spontan.
"Mau mau mau, mau banget Tanteeee..." kata Gia bersemangat
"Nggak ngerepotin kamu, Vira..." ucap Gusti menatap wanita yang juga tersenyum padanya.
"Nggak sama sekali," jawab Vira.
"Ya sudah, udah sore jadi ... Tante mau pulang dulu, ya?" ucap Vira. Wanita itu segera beranjak dari tempat duduknya, dan membawa barang-barang yang tadi dibawanya.
"Ikut kami aja, Tante ... boleh kan, Piii?" ucap Gia penuh harap pada Gusti. Ia mendongak menatap ayahnya.
"Boleh. Ikutlah dengan kami, Vira ... kami akan mengantarmu pulang," ajak Gusti.
"Nggak usah, aku bisa naik taksi. Makasih atas tawarannya," ucap Vira.
"Gia ... tante pulang duluan, ya?" ucap Vira yang berjongkok di depan gadis kecil yang sedang dipangku ayahnya.
"Mungkin lain kali, oke cantik?" kata Vira membelai wajah Gia. Lalu ia berdiri dan mengambil tas dan barang bawaannya.
"Hati-hati, Vira..." ucap Gusti, Vira mengangguk.
Vira tersenyum sebelum meninggalkan mereka yang masih duduk di kursi taman. Vira menghentikan sebuah taksi untuk mengantarnya kembali ke apartemen milik Ricko. Namun, ia merasakan perutnya kembali berulah.
Vira terpaksa mampir di sebuah cafe untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Hari sudah gelap, wanita itu duduk di meja dekat pintu masuk. Namun baru saja ia akan menyentuh makanannya, ia lagi- lagi melihat Firlan yang masuk dengan wanita yang sama. Wanita berkacamata.
Firlan menarik kursi untuk wanita itu, mempersilakan wanita itu untuk duduk. Tak sengaja matanya bertemu dengan wanita yang masih menjadi kekasihnya. Vira sudah hilang selera untuk mencicipi makanan yang ada di depannya. Wanita itu beranjak dan pergi dengan langkah gontai menuju ke kasir untuk membayar makanan yang sama sekali belum disentuhnya.
Mata Firlan terus saja memperhatikan Vira yang sedang berdiri di kasir sementara makanannya masih utuh.
"Tunggu disimi, aku akan segera kembali..." ucap Firlan pada wanita yang duduk di hadapannya.
Firlan menghampiri kekasihnya yang sudah menyelesaikan pembayarannya. Tak sengaja ia menabrak sosok yang berdiri di hadapannya.
"Aawh!" pekik Vira. Sontak ia bergerak mundur.
"Makanlah, aku yang akan pergi," ucap Firlan dingin.
"Tidak perlu, Tuan..." ucap Vira, ia berjalan melewati Firlan. Namun secepat kilat, ia mencekal tangan kekasihnya dan menariknya menuju mobil.
__ADS_1
"Masuk," ucap Firlan seraya memaksa Vira untuk duduk. Vira yang belum makan seharian ini tak bisa menahan rasa pusing yang membuat kepalanya hampir pecah.
Vira melepaskan satu tas dari bahan plastik yang isinya alat jahit menjahit. Vira memegangi kepalanya, sambil berusaha untuk keluar dari mobil Firlan.
"Buka," lirih Vira, ia mencoba membuka pintu namun gagal.
"Buka aja kalau bisa," kata Firlan dingin, ia bicara tanpa melihat Vira yang sudah memucat.
"Seseorang menunggumu di dalam, biar aku pergi..." kata Vira, matanya kini berkunang-kunang. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya agar tetap berada pada kesadarannya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Firlan.
"Cepat buka," kata Vira yang mendengar ucapan Firlan samar-samar.
"Aku tanya bagaimana rasanya?" tanya Firlan, ia menarik satu sudut bibirnya.
"Aku nggak bi-sa de-ngar, s-suaramu begitu kecil..." kata Vira terbata-bata.
"Bagaimana rasanya melihat orang yang kamu cintai bersama orang lain? tertawa dan terlihat lebih nyaman dengan orang selain dirimu? bagaimana? kamu sudah bisa merasakannya sekarang?" ucap Firlan.
"Kenapa? kenapa kamu diam saja? atau jangan-jangan kamu udah nggak peduli? iya?" lanjut pria itu.
"Hey, kenapa kamu diam seperti patung!" hardik Firlan seraya menoleh pada wanita yang duduk kursi penumpang samping kemudi.
Mata Vira terpejam, bibirnya kering dan pucat dan bulir keringat membasahi dahinya. Firlan terperanjat dengan keadaan kekasihnya itu.
"Vira? Vira, bangun!" Firlan berteriak, ia menepuk pipi wanitanya. Namun wanita itu hanya sesekali mendesis.
"Udah tau sakit malah keluyuran!" kata Firlan yang antara bingung dan cemas.
Sementara wanita yang menunggunya di dalam cafe terlihat gelisah. Karena pria yang tadi menyuruhnya untuk menunggu sebentar, malah tidak kunjung datang.
"Mau pesan apa, Nona?" ucap pelayan yang memberikam sebuah buku menu.
"Saya sedang menunggu seseorang,"
"Baik kalau begitu, jika Nona ingin memesan sesuatu bisa panggil saya atau rekan saya yang lainnya, terima kasih..." ucap pelayan wanita ramah.
Tak berapa lama, seseorang meneleponnya.
"Halo, Alia ... saya mendadak ada urusan lain, kamu pulang naik taksi tidak apa-apa, kan?" ucap pria.
"Ya, bagaimana kalau-" belum sempat Alia menyelesaikan ucapannya, pria yang menghubunginya sudah terlebih dulu memutus sambungan telepon.
"Astaga! dia yang mengajakku kesini, tapi malah ningalin gitu aja! dasar menyebalkan!" gerutu Alia.
...----------------...
__ADS_1