
Vira mendekat dengan linangan air mata.
"J-jadi papa..." ucap Vira.
Vira langsung memeluk tubuh ayahnya, ia mendekap erat tubuh pria itu yang akan menjalani transplantasi ginjal beberapa hari lagi.
"Paaaaa..." tangis Vira memilukan bagi siapapun yang mendengarnya. Dia tak sanggup berkata apa-apa, ternyata ayahnya mengalami kerusakan ginjal yang mengharuskan ia melakukan transplantasi ginjal, setelah sekian tahun akhirnya ia menemukan pendonor ginjal yang cocok untuknya.
"Vira," suara mama Vira terdengar samar ditelinga perempuan yang masih memeluk Raharjo.
"Kenapa? kenapa? kenapa, Paa?" tanya Vira.
"Maafkan papa, Vira ... maafkan papa, tidak pernah memberimu waktu," ucap Raharjo.
"Bukan itu, bukan itu," air mata Vira menetes membasahi baju yang ayahnya kenakan.
"Kenapa Papa dan Mama merahasiakan ini semua?" lanjutnya, ia bingung dengan apa yang terjadi sekarang.
"Sejak kapan? apa yang Papa rasakan sekarang? mana yang sakit, Paa..." ucap Vira lagi, ia masih menangis.
"Maafkan kami, Vira. Kami terlalu lama mengabaikan kamu, kami sibuk mencari uang karena penyakit papa mengharuskan kami untuk mencari uang dalam jumlah yang cukup banyak," jelas mama Vira.
"Maafkan Vira, Vira nggak berguna jadi anak, Vira..." Vira tak kuasa melanjutkan perkataannya.
"Papa pasti kuat, dan aku yakin transplantasi itu akan berhasil," Vira melepaskan pelukannya, Raharjo mengusap jejak air mata di pipi anaknya.
"Maafkan Papa ya Vira, kamu anak yang baik, kami bangga memiliki anak ceria seperti kamu, kami sangat menyayangimu, Vira. Dan jangan pernah ada keraguan di hatimu tentang itu," ucap Raharjo, Vira merasakan sakit mendengar ucapan itu, karena ia sempat meragukan kasih sayang orangtuanya.
"Cukup, Paa..." Vira menggeleng, ia masih menangis.
__ADS_1
"Maafkan papa jika kamu mengetahuinya dengan cara seperti ini." kata Raharjo penuh penyesalan.
Hari itu Vira menemukan sebuah jawaban atas peryanyaannya selama bertahun-tahun. Mereka saling menggenggam, memeluk dan memberi kekuatan. Tidak mudah, tapi bukan sesuatu yang mustahil jika tuhan sudah berkendak.
Tak ada waktu untuk menyesali hari-hari yang telah berlalu. Sekarang mereka hanya ingin menikmati waktu yang tersisa, Raharjo tahu jika sudah di meja operasi maka kemungkinan hidup dan mati masing-masing 50 persen. Setelah puas bercerita, Vira ijin keluar ruangan itu, memberi waktu Raharjo untuk istirahat. Wanita itu menutup pintu dari luar, ia mengulas senyum untuk menguatkan hatinya.
Hari semakin terik, Firlan yang tidak biasa bekerja di bawah sinar matahari pun merasa kelelahan. Pria itu mengibaskan kaos yang dikenakannya di bagian dada, ia melepas topi dan menyeka keringat dengan tangannya.
"Berapa pekerja yang sebenarnya? bagaimana proyek ini bisa cepat selesai sedangkan para pekerjanya saja tidak memadai," Firlan melepas topi proyek berwarna kuning, ia mengipaskan berusaha menghadirkan angin.
"Bahan bangunan yang datang perasaan tadi lumayan banyak, tapi kenapa jumlahnya sekarang tinggal segini? aku harus cari tau," ucapnya lagi saat melihat tumpukan bahan material yang berkurang cukup banyak.
Saat ini para pekerja sedang beristirahat, namun tidak dengan Firlan, ia lebih memilih berkeliling di sekitar proyek. Melihat kejanggalan-kejanggalan apalagi yang ia temukan. Matanya terpaku pada sebuah mobil pick up berwarna hitam yang beberapa kali hilir keluar masuk area proyek. Saat Firlan hendak mendekati mobil pick up tersebut sebuah suara barithon mengejutkannya.
"Hey? bukankah ini jam istirahat? kenapa kau tidak bergabung dengan yang lain?"
"Saya melihat ada ular tadi disana, bukankah sangat membahayakan jika ada ular yang berkeliaran di sekitar proyek? bisa saja itu ular berbisa dan menyerang para pekerja," Firlan mencari alasan mengapa ia terlihat mencari sesuatu.
Mandor itu meniupkan udara yang berbentuk asap putih lalu ia menjatuhkan benda yang membuatnya candu itu ke tanah, menginjaknya sampai benda itu mati dan tak mengeluarkan asap.
"Tidak mungkin, selama berbulan-bulan tidak ada satu ular pun yang bisa masuk ke dalam sini, semua pintu tertutup, tidak ada binatang yang bisa menyelinap ke dalam sini," si mandor menatap Firlan dari aras sampai bawah, Firlan memakai lagi topi proyeknya lagi.
"Mereka bisa saja masuk pada saat kendaraan yang membawa material keluar masuk area proyek," ucap Firlan.
"Pergilah, waktu istrirahat kurang 15 menit lagi, ambil makanan di sebelah sana!" kata si mandor yang berkacak pinggang dan telunjuknya mengarah pada satu tempat.
Firlan mau tak mau menuruti apa yang diperintahkan si mandor. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat dimana para pekerja melepas penat dan mengisi lambung mereka dengan air dan makanan.
"Makan, Sur!" ucap salah seorang pekerja basa-basi.
__ADS_1
"Silakan Bang," jawab Firlan. Ia melihat satu persatu wajah pekerja itu, dan tanpa disadari matanya mulai menghitung berapa kepala yang ada disana bersama dirinya.
Firlan menghela nafasnya, sudah dipastikan penyelidikannya ini bisa berlangsung selama berhari-hari. Sebenarnya para pekerja disana heran dengan kulit Firlan yang putih bersih, tidak seperti mereka yang gosong karena terlalu sering tersengat sinar matahari. Namun, Firlan mengatakan bahwa dulu ibunya suka sekali menonton film kungfu yang hits pada jamannya. Itulah mengapa kulit Firlan berwarna putih bersih.
"Pantas saja matamu agak sipit, ya? wah, jangan-jangan anak saya nanti mirip orang india, soalnya istri saya lagi hamil dan suka sekali menonton film india," ucap salah seorang pekerja dengan rambut sedikit ikal. Mereka tertawa mendengar ucapan pria itu.
Satya yang berada di rumah merasa cemas, pasalnya chat yang ia kirim sedari pagi belum di balas oleh Firlan.
"Kenapa, Mas?" tanya Amartha.
"Firlan belum balas chat dari pagi, aku cemas sesuatu hal terjadi sama dia, Firlan sedang menyusup ke proyek dan itu sangat berbahaya," jelas Satya.
"Kak Firlan pasti baik-baik saja, kamu harus percaya itu," Amartha mengelus lengan Satya.
"Istirahatlah, atau mau aku buatkan teh hangat? biar perasaan kamu lebih tenang," ucap Amartha.
"Nggak usah, kamu nanti capek bolak-balik naik ke atas, kasian juga si dedek..." Satya mengusap perut istrinya. Matanya membulat saat ia mendapatkan satu tendangan kecil dari dalam perut istrinya.
"Kamu dengerin ayah ngomong ya, dek? maafin ayah, ya? udah bikin ibu capek beberapa hari ini jagain ayah," ucap Satya pada perut Amartha.
"Iya ayah, ayah cepet sembuh dan jangan sakit lagi, ya?" ucap Amartha menirukan suara anak kecil.
Tak berapa lama sebuah panggilan masuk di ponsel Satya.
"Biar aku aja," ucap Satya saat melihat Amartha yang akan mengambilkan ponsel itu untuknya.
"Bagaimana keadaamu, Pak?" ucap seorang wanita saat panggilan itu terhubung.
...----------------...
__ADS_1