
"Maksudnya gimana, Vira? siapa yang nipu kamu?" tanya Amartha bertubi-tubi.
"Beberapa hari yang lalu, ada email masuk, aku nggak tau pokoknya ada email masuk, terus aku buka ternyta isinya iklan lowongan kerja di rumah sakit terkenal di kota J, aku baru masukin beberapa data aja, aku pikir, kalau aku kerja d luar kota, aku pengennya juga sama kamu," Vira menjelaskan dengan sesekali menyeka airmatanya.
"Terus?" Amartha masih penasaran.
"Ya terus, aku masukin data kamu, belum sampai upload data, ada email masuk lagi, kalau aku lolos masuk tahap selanjutnya," ucap Vira sambil memandang Amartha yang hanya bengong mendengar penjelasannya.
"Katanya, aku disuruh kirim sejumlah uang untuk biaya, seragam dan biaya training, seseorang telfon sesaat setelah kamu pergi tadi sore, Ta ... nggak tahu gimana caranya, kata si irene, aku minta tolong di anterin ke ATM, aku sadar setelah ditepuk oleh seseorang yang ada di belakangku, katanya aku bengong lama banget di depan mesin ATM, dan sialnya aku udah selesai transaksi..." tangis Vira kembali pecah saat mengingat-ingat kejadian tadi sore.
"Irene yang kamarnya dekat pintu depan?" tanya Amartha yang dibalas anggukan kecil oleh Vira.
Vira kembali mengingat saat dia menangis ketika ia tersadar bahwa dia sudah kena ilmu hipnotis oleh seseorang yang meneleponnya yang mengaku sebagai staf HRD rumah sakit pelita. Tangan Vira gemetar saat ada struk bukti transfer ada di tangannya. Irene yang mendengar Vira menangis di counter ATM pun segera berlari ke arah Vira, dan membawa Vira pulang.
Setelah sampai di kosan, Vira menghubungi nomor yang beberapa saat lalu menghubunginya namun tidak diangkat oleh sang pemilik nomor.
Kemudian Vira dibantu irene mencari website rumah sakit pelita dan segera menelepon nomor rumah sakit yang bersangkutan, dia menanyakan apakah benar ada open recruitmen untuk posisi perawat? jawaban dari sang operator malah membuat tubuh Vira lemas, serasa tak bertulang.
Dia bilang mereka sedang tidak membuka lowongan pekerjaan, dia jg mengatakan kalau sudah ada beberapa orang yang menanyakan hal yang sama dan melaporkan penipuan ini ke pihak rumah sakit.
"Makanya, tadi sore kan aku nanya ke kamu. Vira ... ya udah, yang sabar ya?" ucap Amartha mencoba menenangkan, namun Vira terus saja menangis, menangisi uang yang telah raib.
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Amartha. Dia melihat nama calon suaminya di layar ponselnya, lalu ia segera mengangkatnya. Sementara Vira mengambil beberapa tisu untuk menghapus airmatanya, dan menyumpal hidungnya yang kini jadi meler juga.
"Ya? halo?" sapa Amartha tanpa melepaskan pandangannya dari Vira.
"Eh, Mas? emmm, nantin aja telpon lagi, ya?" ucap Amartha pada Satya.
"Kenapa? itu suara siapa yang nangis?" Satya menanyakan suara yang terdengar sangat memilukan di telinganya.
__ADS_1
"Itu Vira ... udah nanti aja aku ceritain, nanti aku telfon balik," sahut Amartha, Satya bernafas lega. Syukurlah itu bukan suara kunti atau sejenisnya.
"Iya, Sayang ... aku cuma mau bilang, minggu depan kita ada janji ketemu EO," jelas Satya.
"Kalau udah free kamu telfon aku ya, yank? aku ga bs nafas nih karena nahan kangen sama kamu," ucap Satya yang membuat Amartha memutar bola matanya malas, bisa-bisanya dia menggombal disaat seperti ini.
"Iya iya, nanti aku telfon balik, bye!" kata Amartha lalu memutus sambungan telepon itu.
Amartha lalu membuatkan teh hangat untuk Vira menggunakan mesin heater. Amartha juga memesan makanan untuk sahabatnya itu, awalnya dia tidak mau makan, tapi setelah melancarkan seribu cara bujuk rayu, Vira pun akhirnya luluh. Gadis itu makan walaupun hanya sedikit. Amartha segera membereskan bekas makan dan minum mereka berdua.
"Udah, uang yang hilang ikhlasin aja, jadikan ini sebagai pengingat bahwa kita harus rajin sedekah, udah jangan nangis, uang bisa dicari lagi," kata Amartha sambil mendekati Vira yang masih duduk di tepi tempat tidurnya.
Vira hanya kedap-kedip mendengar ucapan Amartha, apakah karena Amartha yang beberapa hari ini rajin nonton Mamah Dedeh? sehingga keluarlah kata-kata yang sangat bijak itu dari mulut Amartha? Vira pun jadi terkekeh sendiri.
"Haiss ... sekarang malah senyam-senyum sendiri! sadar woy sadar! apa jangan-jangan kamu jadi konslet gara-gara duit ilang?" ucap Amartha sembari menepuk pundak Vira.
"Apaan, sih?" Vira menyebikkan bibirnya.
"Uangmu udah abis semua?" tanya Amartha dengan tatapan penuh iba.
"Masih, Ta ... kena tipu cuma 5 jutaan, sih! tapi kan tetep aja, nggak rela!" sahut Vira yang membuat Amartha membulatkan matanya tidak percaya.
"Hah?" Amartha masih tidak percaya dengan ucapan Vira, dia bilang 'cuma'?
"Masih ada dua puluh juta lagi sih di rekening," lanjut Vira nyengir, kemudian sibuk menghapus air matanya menggunakan tisu, entah sudah berapa banyak tisu yang sudah ia habiskan.
"Pake nyengir lagi! ya udah ... ikhlasin aja, jangan lupa sisihkan uangmu buat sedekah," kata Amartha kembali mengingatkan.
"Eh, tapi kok kamu bisa punya uang sebanyak itu?" tanya Amartha yang tak begitu didengar oleh Vira.
__ADS_1
"Ah sudahlah! nanti kita bahas lagi kalau kamu sudah lebih tenang ... sudah malam, lebih baik kamu tidur..." Amartha segera bangkit dari sisi Vira, dan melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya, ia pun menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut.
"Makasih ya, Ta...?" ucap Vira yangvjuga sudah merebahkan tubuhnya.
"Iya," ucap Amartha singkat.
Setelah Vira sudah tidur, baru lah Amartha menelepon Satya dan menceritakan kejadian yang menimpa Vira. Satya menyimak cerita dari pujaan hatinya itu, namun Satya juga nampak bingung, pasalnya dia sudah meminta Firlan untuk membuatkan panggilan kerja untuk Amartha dan Vira. Tidak biasanya, Firlan lupa atau tidak mengerjakan perintahnya.
Daripada Amartha bekerja dengan orang lain, lebih baik Amartha bekerja di rumah sakit milik Satya, rumah sakit yang sengaja dia bangun untuk Amartha. Walaupun sebenarnya Satya lebih suka ketika Amartha tidak bekerja dan fokus terhadap keluarga, namun Satya tak mau memaksakan kehendaknya.
Amartha lebih berhak atas hidupnya, dia akan selalu mendukung apapun yang Amartha lakukan selama dia tidak melalaikan kewajibannya, ketika nanti menyandang status sebagai seorang istri.
Setelah mengakhir sambungan teleponnya dengan Amartha, Satya segera menelepon Firlan.
"Halo, Lan?" ucap Satya saat panggilan sudah tersambung.
"Ya bos?" ucap Firlan, setengah sadar, karena baru saja ia terlelap, namun panggilan dari bos yang sangat tidak tahu waktu itu mengganggu tidurnya, mau tidak mau ia harus mengangkatnya.
"Panggilan kerja untuk Amartha dan Vira sudah kamu urus?" tanya Satya.
"Sudah, memangnya kenapa?" ucap Firlan semakin ngelantur.
"Coba, besok kamu cek dan laporkan hasilnya pada saya," perintah Satya.
"Oke," ucap Firlan seraya menutup panggilan dari bosnya dan tak butuh waktu lama sang asisten pun langsung melayang ke alam mimpi.
Satya mencak-mencak saat Firlan langsung menutup sambungan teleponnya secara sepihak.
Dasar asisten gendeng!
__ADS_1
...----------------...