Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Merubah Sikap


__ADS_3

Prosei adat mulai berlangsung, dimulai dari sungkeman yang dilakukan Satya dan Amartha pada kedua orangtuanya.


Guyuran demi guyuran air bunga melati membasahi tubuh Amartha. Tak seperti siraman yang dilakukan saat menjelang pernikahan Satya, kali ini hanya beberapa orang saja yang mengguyur tubuh Amartha. Sandra khawatir jika terlalu lama, sang menantu akan kedinginan.


"Dingin?" tanya Satya.


"Lumayan," sahut Amartha. Satya memberikan kode agar acara segera dipercepat, dia tidak istrinya sakit karena terlalu lama basah-basahan.


Sesuai dengan keinginan Satya, acara segera dilakukan secara cepat. Satya membanting satu butir telur yang sebelumnya ditempelkan di dahi dan perut Amartha. Setelah itu Satya memotong lilitan janur yang diikatkan di perut istrinya. Satya melakukannya dengan cepat agar Amartha bisa cepat berganti baju.


"Kita akan buat acaranya super kilat, Sayang ... sabar, yah?" kata Satya pada Amartha.


"Iya, Mas..."


Dalam acara brojolan, Satya sebagai calon ayah akan mengambil dua cengkir atau kelapa muda yang sebelumnya sudah dilukis, yang satu melambangkan simbol anak perempuan dan satunya lagi melambangkan anak laki-laki. Ia mengambil dengan mata tertutup. Tanpa membuang banyak waktu, Satya mengambil satu buah cengkir yang bergambar dewi yang artinya kemungkinan anak yang dikandung Amartha adalah anak perempuan.


"Wah, perempuan..." seru Sandra,


"Perempuan, Pap!" ucap Sandra pada suaminya.


"Kan Mami memang sudah tau dari hasil USG kalau calon cucu kita perempuan?" celetuk Abiseka, yang langsung dapat sorotan laser dari Sandra.


Satya membelah cengkir tersebut, yang dipercaya akan membukakan jalan lahir untuk sang jabang bayi.


Amartha yang sudah berganti pakaian dan sudah mengeringkan kembali rambutnya, melangkahkan kakinya kembali menuju tempat diadakannya acara. Sudah ada 7 pakaian yang terbuat masing-masing terbuat dari kain yang berbeda yang harus dia coba. Acara ditutup dengan berjualan dawet dan rujak. Dan tak lupa Sandra mentiapkan tumpemg super besar untuk dipotong Satya dan Amartha.


"Wah selamat, ya? perempuan nih dedeknya," ucapan selamat muncul dari bibir Vira.


"Emang cewek, Vir ... tapi bisa kebetulan gitu, ya? padahal mata mas Satya ditutup kain," kata Amartha.


"Ta, ini dari aku dan mas pacar," ucap Vira sambil melirik Firlan.


"Maaf aku nggak bisa kasih kamu barang yang mewah, tapi aku bikin ini pakai begadang dan segenap jiwa," lanjut Vira seraya memberikan sebuah kotak dengan diikat sebuah pita berwarna merah jambu.


"Wohoo, kaos kaki rajutan? ada bandana dan sweater juga, uhhhh to twiiit banget sih kamu, Yem!" ucap Amartha saat melihat isi dalam kotak yang diberikan Vira.


"Makasih ya, Yem? makasih ya, Kak Firlan..." ucap Amartha.

__ADS_1


"Sama-sama," ucap Firlan yang menghindar dari tatapan Vira, pasalnya semalam dia sangat kesal dengam Firlan yang membuatnya menunggu selama 2 jam di rumah sakit, alih-alih ingin menjemput pacar pulang kerja, nyatanya pria itu ketiduran di unitnya.l


"Makan yang banyak, nggak usah malu-malu," bisik Amartha.


"Aku tinggal dulu ya," kata Amartha meninggalkan Vira dan Firlan yang terlihat sedang tidak akur.


Saat Amartha berjalan di samping meja Sinta, wanita itu berdiri san menghentikan langkah Amartha. Satya yang baru menyadari kehadiran Sinta pun segera berjalan ke arah istrinya.


"Ta...? kayaknya aku nggak bisa lama-lama, aku dan Fendy harus pergi, kita ada janji..." ucap Sinta yang melepaskan cekalan tangannya pada Amartha.


"Yah, padahal aku masih pengen ngobrol sama kamu, loh..." ujar Amartha.


"Kita masih banyak waktu untuk ketemu," ujar Sinta.


"Ehem," Satya berdehem, ia mengapit tubuh istrinya.


"Ya udah ya, aku pamit," ucap Sinta yang menghindar dari tatapan Satya dan labgsung menggandeng tangan Fendy.


"Yuk," Sinta menarik pria itu untuk mengikutinya keluar.


"Dia dateng?" tanya Satya pada Amartha.


"Aku takut dia akan..." ucapan Satya menggantung.


"Nggak akan!"


"Karena aku dan dia sudah melupakan masa lalu, dan kita sedang memperbaiki hubungan yang sempat renggang," ujar Amartha, ia kesal karena sikap tidak bersahabat Satya pada Sinta.


"Maaf, aku nggak tau," ucap Satya.


"Kamu mau maafin aku, kan?" tanya Satya.


"Tapi Mas harus ubah sikap Mas pada Sinta," ucap Amartha memberi syarat.


"Iya, Sayang..." jawab Satya lembut.


Sementara di dalam mobil, Sinta terus saja diam.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Fendy melihat raut wajah Sinta yang murung. Wanita itu hanya menghela nafasnya, melihat keluar jendela


"Sinta?" Fendy memanggil Sinta dengan lembut.


"Hey, kok muka ditekuk kayak martabak?" tanya Fendy, namun Sinta tak bergeming.


Untuk yang kesekuan kalinya wanita itu menghela nafasnya. Fendy mengerti jika Sinta membutuhkan waktu untuk sendiri. Tapi sedetik pun dia tidak akan membiarkan Sinta larut dalam kesedihannya.


"Sin? kamu tau nggak kenapa kucing ada yang gondrong?" tanya Fendy memecah keheningan.


"Karena nggak sempat cukuran, hahahaa..." Fendy tertawa sementara Sinta madih diem-diem bae kayak orang lagi sariawan.


"Wow garing sekali, ya?" ucap Fendy


"Sin, kemarin aku lihat ada orang nyebrang di zebra cross, aku tengak tengok nggak nemu zebranya nemunya cuma garisnya doang! kan kesel, ya?" Fendy ngoceh sendiri.


"Sin? kalau makan mie ayam kan biasanya pakai sumpit, ya? kamu tau nggak filosofi dari sumpit? sumpit itu dipakai harus berdampingan, dan sama tinggi atau sama panjang. Nggak cukup berdampingan atau bersama, sumpit bisa digunakan untuk mengambil sesuatu jika digerak atau bergerak secara bersama. Kita bisa seperti sumpit itu, Sin! bersama, selaras, saling mendukung dan membentuk sebuah harmoni yang sangat indah," ujar Fendy.


Sinta menoleh pada pria yang sibuk memainkan stirnya membelah jalan raya.


"Berdua akan lebih baik, lebih kuat menghadapi segala yang terjadi dalam hidup," ucap Fendy bijak.


"Jangan memasakkan makan dengan satu batang kayu, jika kamu bisa mendapatkan satunya lagi, menggabungnya untuk memudahkan meraih tujuan hidup," kata Fendy.


Tak menyangka Fendy bisa berkata bijak seperti itu.


"Kamu benar, tidak ada manusia yang bisa hidup dan berdiri tanpa bantuan orang lain. Kita hidup saling berdampingan, saling membutuhkan satu sama lain. Kita tidak boleh terlalu kaku benar, kan?" ucap Sinta. Fendy tersenyum, perlahan ia bisa merubah sifat egois Sinta.


"Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk melupakan masa lalu apa lagi kamu pernah bersitegang dengan orang yang sekarang nenjadi suaminya," ucap Fendy, Sinta tersenyum kecut


"Aku tahu..." ucap Sinta.


"Dia datang takut kalau istrinya bakal aku jahatin," ucap Sinta.


"Dia bener karena ingin melindungi istrinya dan kamu juga nggak salah kalau kamu mendekati Amartha dan menghapus dosa kamu yang pernah lakukan di masa terdahulu sebelum masehi," ucap Fendy, Sinta tersenyum mendengar kalimat terakhir dari Fendy.


"Nah, gitu dong senyum, jadi adem liatnya," ucap Fendy, Sinta membuang muka dengan wajah yang merah merona.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2