
Setelah acara selesai, Vira dan Firlan pamit. Sedangkan Rudy dan Rosa menginap mengingat hari sudah sore dan mereka masih rindu dengan putri semata wayangnya, setidaknya mereka ingin lebih lama bersama putrinya.
"Mah, nginep disini beberapa hari, ya?" rengek Amartha yang duduk di tepi ranjang.
"Amartha kangen loh sama mama," ucapnya lagi sambil menggenggam tangan Rosa.
"Udah mau punya anak kok manja kayak gini?" Rosa menoel hidung anaknya, gemas.
"Cuma mama nih berarti yang dikangenin?" celetuk Rudy dengan menyipitkan matanya. Pria itu seakan tidak terima jika anaknya hanya rindu pada Rosa saja.
"Ya sama papa juga, kan mama sepaket sama papah," Amartha nyengir, Rudy mengusap pucuk kepala putrinya.
"Ya udah, Amartha keluar ya. Selamat istirahat," Amartha menepuk punggung tangan Rosa dan segera turun dari ranjang empuk itu. Amartha berjalan dan menutup pintu dari luar.
"Hah, anak itu sekarang sifatnya sudah berubah ya, Pah? jadi lebih ceria," Rosa melihat ke arah suaminya.
"Iya, Mah..." Rudy tersenyum, dan mengecup punggung tangan istrinya. Rudy sangat lega melihat Amartha dikelilingi orang yang sangat menyayanginya.
Amartha berjalan keluar dari arah kamar tamu menuju dapur.
"Huff, mana? yang katanya mau bikinin ibumilk shake, dek?" gumam Amartha sambil ngelus perutnya seakan berbicara dengan calon anaknya. Matanya memicing saat berada di dapur.
"Loh? Mas? ngapain?" Amartha menangkap satu sosok pria bertubuh tegap sedang berdiri di depan sebuah food processor.
"Nih, bikinin kamu milk shake, pake toping biskuit ini, kan? mau di kasih buat topping atau mau dicampur sekalian?" kata Satya seranya memutar tubuhnya, dan memperlihatkan kepingan biscuits berwarna hitam yang sudah dihaluskan.
"Campur aja ama susunya kayaknya lebih enak," Amartha duduk di depan meja saji yang ada di dapur.
"As you want, baby..." ucap Satya dengan suara yang dibuat menggoda. Amartha malah tertawa dengan tingkah konyol suaminya, bikin milk shake aja pake banyak gaya.
"Mas?" Amartha memanggil suaminya yang lagi memasukan beberapa susu UHT rasa vanilla yang sengaja sudah ia bekukan dari siang ke dalam food prosessor dan ia menaruh satu scoop biscuits.
"Ya?" sahut Satya yang mengurungkan niatnya menekan alat yang ada di hadapannya, dan malah melihat ke arah istrinya.
"Nggak jadi, deh..." Amartha mengurungkan niatnya.
"Loh kok nggak jadi? kenapa?" Satya mulai menekan food prosessor-nya, dan mata pisau mulai berputar menimbulkan suara mesin yang aduhai.
__ADS_1
"Bikin orang penasaran ajah," lanjut Satya.
"Ehm, aku kangen sama mama papa," ucap Amartha tiba-tiba.
"Kan ada di kamar, Sayang. Kamu tinggal samperin aja," Satya mulai mengambil gelas bening yang tinggi yang biasa digunakan untuk minum susu.
"Maksudku, aku pengen pulang ke rumah orangtuaku," jelas Amartha memandang Satya dengan penuh harap.
"Nanti ya? kerjaanku lagi banyak banget, nanti kalau udah slow kita ke sana dan nginep, tapi nggak sekarang, oke?" ucap Satya selembut mungkin agar istrinya mau mengerti, pria itu lanjut menuangkan milk shake ke dalam gelas.
"Iya deh, tapi ... kalau mama sama papa nginep di rumah kita boleh, nggak? aku kangen masakan mama, udah lama juga nggak ketemu..." ucap Amartha sambil jarinya membuat pola-pola tidak jelas di atas meja.
"Boleh, besok kita akan menempati rumah baru, nggak jauh dari sini kok, soalnya mami yang minta supaya bisa deket sama cucunya nanti," ucap Satya sambil mengambil ice cream rasa vanilla dengan scoop ice cream.
"Makasih, ya Mas?" kata Amartha tersenyum
"Sama-sama, Sayang..." Satya membalas senyuman istrinya.
"This is it ... milk shake with ice cream and biscuits ala chef Satya," ucap Satya dengan menirukan gaya seorang chef ternama sambil menaruh gelas yang berisi milk shake
"Cobain dong, Sayang..." Satya duduk di samping istrinya.Amaryha langsung meraih gelas itu, dia mencicipi ice cream vanilla sebelum mengaduknya.
"Pasti enak, karena aku kasih extra satu scoop cinta dan perhatian..." ucap Satya saat melihat istrinya meminum milk shake buatannya.
"Hmm, enak!" ucap Amartha menurunkan gelasnya.
"Blepotan," Satya mengecup bibir istrinya sekilas.
"Ih, Mas ... kebiasaan, nggak enak kalau diliat orang," Amartha celingak celinguk barangkali ada yang tiba-tiba nongol di dapur.
"Hehehehe, dihabisin ya?" Satya cuma bisa nyengir, lalu beranjak.
"Aku mau cuci ini dulu," ucap Satya seraya meraih alat-alat yang tadi di pergunakannya. Pria itu mulai menyalakan keran dan mencuci.
"Mas?" Amartha memanggil suaminya.
"Ya?" sahut Satya yang lagi sibuk nyuci.
__ADS_1
"Makasih..." ucap Amartha tersenyum, selama masa kehamilannya Satya selalu sabar menghadapinya.
"Kamu terlalu banyak mengucapkan kata itu hari ini, Sayang..." sahut Satya yang sudah selesai dengan cuci memcuci.
"Mas mau nyobain, nggak?" Amartha menawarkan minuman yang ada ditangannya.
"Aku udah kenyang, buat kamu aja, Sayang..." sahut Satya yang kemudian mendekat pada istrinya.
"Beneran? jangan nyesel loh," Amartha mengedipkan sebelah matanya.
"Udah bisa genit ya, sekarang?" Satya mencium pipi Amartha.
Amartha menghabiskan minumannya, kemudian bangkit berniat mencuci gelas yang telah dipakainya.
"Biar aku aja, Sayang..." Satya mengambil alij gelas yang ada di tangan istrinya lalu segera mencucinya.
"Mas? kamu sama Ivanka?" tanya Amartha menggantung.
"Hanya sebatas partner bisnis, nggak lebih." jawab Satya sembari mencuci gelas bekas minum istrinya.
"Yakin?" celetuk Amartha.
"Kamu ragu dengan cintaku yang membara ini buat kamu?" Satya menoleh dan menutup keran air. Ia menaruh gelas yang kini sudah bersih kembali.
"Jadul banget sih pake kata membara segala," Amartha mencibir perkataan suaminya yang terlalu jadul untuk diucapkan. Satya duduk di samping istrinya, dan membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Denger, Sayang ... aku nggak akan menghianati pernikahan kita, nggak akan. Kamu dan Satya junior ini adalah segalanya buat aku, aku nggak akan berbuat yang aneh-aneh. Kamu percaya kan sama aku? apapun yang terjadi dalam pernikahan kita, kamu harus yakin di hati aku cuma ada kamu, nggak ada yang lain..." ucap Satya seraya mengecup seluruh wajah istrinya. Kemudian mendekap istrinya kembali. Satya memang tahu jika Amartha tidak begitu suka dengan Ivanka bahkan sejak pertama kali mereka bertemu.
Mungkin saat itu insting seorang istri bekerja saat mengetahui sinyal-sinyal tidak baik dari seorang wanita yang seumuran dengan suaminya itu.
"Tapi, maaf aku nggak sengaja baca chat yang dikirim Ivanka di ponsel kamu, Mas..." lirih Amartha, dia bersembunyi di dada bidang suaminya. Wanita itu takut jika suaminya marah karena dia sempat membaca chat dari Ivanka.
"Chat apa?" Satya mengernyit heran, lalu ia menjarak tubuhnya dan istrinya itu. Menatap kedua mata Amartha lekat.
"Kalau dia ingin...." ucap Amartha menggantung.
...----------------...
__ADS_1