
"Vira, aku mau pergi sebentar, kamu malam ini mau menginap disini, atau?" tanya Ricko menggantung.
"Dia pulang ke kosan!" serobot Firlan.
"Ish, aku kan belum jawab!" Vira memukul lengan Firlan.
"Udah, diem!" Firlan membungkam mulut Vira dengan telapak tangannya.
"Ish, apaan sih! nyebelin kamu, Ay!" Vira menepis tangan Firlan. Mereka berdua malah ribut Sendiri.
"Eheeem..." Ricko berdehem, mereka menoleh ke arah pria yang sudah siap akan pergi.
"Nanti aku anter nih bocah kembali ke habitatnya aslinya," kata Firlan merangkul bahu Vira.
"Emangnya aku hewan, apa!" Vira melepas rangkulan Firlan, dia tidak enak dilihat oleh Ricko.
"Iya kan kamu ayam..." celetuk Firlan. Vira yang mendengar itu sangat kesal dan mencubit lengan kekasihnya itu.
"Aaaw, iya iya iya," kata Firlan mengaduh. Vira melepaskan cubitannya.
"Galak banget sekarang kamu, Vira!" Firlan mebgusap lengannya yang sakit dan panas bercampur jadi harmoni yang sama sekali tidak indah.
"Rasain," sarkas Vira.
"Besok dia shift pagi, jadi nggak mungkin juga dia nginep disini ... iya kan, Sayang?" kata Firlan sok dilembut-lembutin.
"Ini kamu tuh kenapa, sih?" Vira mengernyit heran dengan kelakuan Firlan beberapa hari ini. Ricko yang udah puyeng melihat kelakuan Firlan dan Vira.
"Ya udah, aku mau keluar dulu," ucap Ricko.
"Bukannya Kakak harus banyak istirahat?" Vira menahan Ricko dengan pertanyaannya.
"Tenang aja, aku cuma ketemu di cafe sekitar sini," kata Ricko.
"Ya udah aku duluan..." kata Ricko seraya mreangkah menuju pintu keluar.
Ricko pergi ke sebuah cafe untuk menemui seseorang meninggalkan Vira dan Firlan yang sebentar lagi akan pulang ke tempatnya masing-masing. Ricko sesekali tertawa kecil melihat tingkah aneh kedua orang yang katanya sudah dewasa itu.
"Mereka kalau ketemu bisa ribut mulu, kepala langsung nyut-nyutan kalau denger tuh orang pada debat nggak jelas. Udah pada gede tapi kelakuan kayak bocah SD! aku jadi ragu kalau mereka itu pacaran," Ricko berbicara sendiri sambil mengendarai mobil.
Tak lama ia berhenti di sebuah cafe tak jauh dari unit apartemennya.
Ricko perlahan keluar dari mobil kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe.
__ADS_1
Orang yang akan ia temui belum juga datang. Ia memilih untuk lebih dulu memesan minuman. Dia tidak bisa berlama-lama berdiam di rumah, karena bagaimanapun perusahaan yang baru dirintisnya beberapa tahun ini harus tetap berjalan.
Karena posisinya hanya anak angkat sudah pasti dia hanya mendapatkan apa yang diwasiatkan padanya, dan itu tidak begitu banyak. Namun, Ricko merasa beruntung karena dia sempat merasakan kehangatan sebuah keluarga. Mendiang ayah angkatnya memberinya sebuah perusahaan kecil yang sedari awal kepemilikannya sudah atas nama Ricko, sementara kekayaannya yang lain sudah menjadi perebutan antar keluarga.
Memang benar jika tentang harta, semua akan mengaku sebagai keluarga. Padahal semasa hidupnya, mendiang ayah angkat Ricko menikah dengan istrinya tidak disetujui otangtuanya bahkan ia sempat diusir dan dicoret dari nama keluarga besarnya. Namun dengan kegigihan ayah angkat Ricko, perlahan dia membangun bisnis dan semakin lama semakin pesat, bahkan kehidupannya berubah 180 derajat.
Dari mulai tinggal di kontrakan kecil, kemudian pindah ke rumah di kawasan elit. Mendiang ayah dan ibu angkat Ricko mengangkat Ricko sebagai anak semenjak mereka masih hidup sederhana. Maka dari itulah, Ricko sangat tau perjuangan ayahnya untuk mengubah kehidupan perekonomiannya.
Ricko miris jika mengingat akan saudara-saudara dari mendiang orangtuanya yang sibuk berebut harta padahal kuburan saudaranya masih basah. Ayahnya selalu berpesan sebelum meninggal, jika kita tak akan membawa harta sampai liang lahat. Jadi, jangan mendewakan uang atau harta benda. Hidup kita akan berarti jika kita berguna untuk orang lain.
Lamunan Ricko buyar saat seorang gadis duduk di hadapannya.
"Akak? Mas? Abang? Om uy..." ucap gadis itu.
"Loh, kamu?" pekik Ricko, setelah melihat seorang gadis imut yang ditemuinya di supermarket.
"Kok kamu ada disini?" tanya Ricko.
"Alhamdulillah udah sadar," ucap gadis itu.
"Sadar dari lamunannya maksudnya," cicit gadis itu.
"Kamu tadi bilang apa?" tanya Ricko.
"Nggak apa-apa," ucapnya sambil menyembunyikan segaris senyuman.
"Emang nggak boleh, ya? di depan nggak ada tulisan soalnya, kalau cewek cantik nggak boleh masuk," celetuk gadis itu menunjuk arah pintu masuk.
"Bukan itu maksud aku," Ricko tertawa kecil.
"Untung aku kesini lo, kalau nggak Om bisa kesambet tuyul glowing, loh!" kata gadis itu.
"Apa tadi? tuyul glowing?" Ricko terkekeh dengan ucapan sang gadis.
"Eeh, si Om nggak percaya,"
"Apa tadi kamu bilang, Om?" tanya Ricko, ia mengerutkan keningnya.
"Eh, salah ya?" gadis itu menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Emang aku setua itu?" tanya Ricko.
"Nggak kok, nggak! ya abisnya dari tadi kan aku panggil lengkap Akak, Mas , Abang ... tapi pas aku panggil Om, malah baru konek ... ya aku kira emang suka dipanggil Om, gitu..." jelas gadis itu.
__ADS_1
"Betewe, dari tadi udah ngalor ngidul sampe tuyul disebut tapi kita belum kenalan loh," kata gadis itu yang blak-blakan, sungguh gadis yang unik menurut Ricko.
"Jericko, panggil aja, Ricko..." Ricko menyalami tangan gadis itu.
"Prisha, biasa dipanggil cantik atau Sayang..." ucap Prisha, Ricko tertawa.
"Okey, nama yang sangat bagus," puji Ricko.
Mereka melepaskan tautan tangan mereka setelah merasakan kehadiran seseorang.
"Hai, Tuan Jerry ... maaf membuat anda menunggu lama," ucap seorang pria.
"Selamat malam, Tuan Ringgo..." ucap Ricko berdiri menyalami orang yang sedari tadi ia tunggu. Prisha pun ikut berdiri berhadapan dengan kedua orang yang sedang berjabat tangan.
"Nona ini kekasih, anda?" tanya Ringgo pada Ricko. Ricko hanya tersenyum.
"Kalau begitu, saya permisi,"
"Tidak perlu sungkan, Nona ... anda bisa duduk disini bersama kami,"
"Mungkin lain kali, karena kebetulan saya, ehem saya sudah janjian dengan teman saya, itu teman saya duduk disana. Permisi..."
Prisha berjalan meninggalkan meja Ricko, dengan pipi yang terasa panas. Kemudian ia duduk di meja yang sedari tadi ia tunjuk.
"Loh, kamu siapa?" pekik seorang wanita yang kaget karena kaget tiba-tiba ada orang yang duduk di hadapannya.
"Huuuussssh, ngomongnya jangan kenceng-kenceng..." bisik Prisha.
"Maaf, saya numpang duduk sebentar, itu disana pacar saya lagi ketemuan sama cewek lain, jadi saya harus duduk disini supaya bisa ngawasin mereka," ucap Prisha hati-hati.
"Mana?"
"Udah, jangan diliatin! nanti dia curiga, nanti pengintaian aku bisa kacau," kata Prisha.
"Wah, Mbak pasti lagi ngerjain saya, yah? ini pasti acara reality show yang suka ngerjain orang itu, kan?" ucap wanita itu.
"Ngaku deh, pasti ada kamera disekitar sini," ucap wanita itu sambil celingukan mencari keberadaan kamera.
"Hah, kamera?" Prisha gagal paham.
"Suruh temennya matiin dulu kameranya, aku mau tancap dulu, aku nggak mau ya keliatan burik di kamera," ucap wanita itu sambil mengambil bedak dari tasnya.
"Mbak, mbak! diulang lagi dong adegan tadi. Aku udah siap, nih! kamera mana kamera?" ucap wanita itu lagi.
__ADS_1
"Yassalaaam, ternyata ada orang yang lebih aneh dari aku gaes!" gumam Prisha seraya menepuk jidatnya.
...----------------...