Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Jangan Macem-macem


__ADS_3

Semalam Vira tak sengaja mengganti pengaturan ponselnya dengan mode senyap. Setelah ia pulang ke kosan ia mencoba untuk menghubungi Firlan, namun sayangnya pria itu tak menjawab panggilan teleponnya, mungkin sibuk, pikir Vira.


"Jangan ngelamun," ucap Dewi menyadarkan anaknya.


"Eh, Mama. Nggak ngelamun kok Vira cuma kangen sama papa,"


"Mama juga, kita doakan semoga besok semuanya lancar, dan papa bisa kuat,"


"Iya, Maa ... papa pasti..."


Malam itu Vira tidur berdampingan dengan Dewi. Dua wanita berbeda generasi itu terlelap dengan begitu mudahnya, hingga mentari menyapa mereka keesokan harinya.


Pagi- pagi sekali Vira sudah berangkat menuju rumah sakit. Hari ini dia masuk shift pagi, dan sekalian dia ingin menjenguk Raharjo, walaupun hanya dari balik kaca, kecil yang ada di pintu. Air matanya menetes kala Raharjo tersenyum padanya, pria tua itu memberi isyarat dengan gerakan tangannya, bahwa Vira tidak boleh menangis dan dia harus kuat.


Vira tertawa kecil sembari menangis, bukannya dia yang menyemangati Raharjo, tapi malah pria yang akan menjalani operasi itu yang malah memberinya semangat. Vira memutar tubuhnya, ia berdiri menyandar pada pintu ruang rawat Raharjo, wanita itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya, dan tetesan demi tetesan air mata saling berlomba untuk jatuh dan membasahi pipinya. Bahunya naik turun, Vira terus terisak membayangkan apa yang akan dijalani oleh Raharjo dalam beberapa jam dari sekarang.


"Aku nggak boleh cengeng! aku yakin semuanya akan lancar, tuhan pasti akan melindungi papa, pasti!" gumam Vira yang menguatkan dirinya sendiri.


Vira kembali berbalik, dia menggerakkaan tangannya memberikan isyarat jika dia harus kembali bertugas, dan dia akan kembali lagi nanti. Raharjo pun mengangguk dan tersenyum .


Vira segera menyeka air matanya, wanita itu memutar tubuhnya dan berjalan menuju counter perawat. Banyak pekerjaan yang sudah menantinya pagi ini.


Ponselnya bergetar dari dalam saku, Vira segera mengangkatnya.


"Halo," sapa Vira.


"Maaf semalam aku udah tidur, jadi nggak tau kalau kamu telfon,"


"Nggak apa-apa ... kamu masih di luar kota, Ay?" tanya Vira.


"Iya, masih. Kamu udah sarapan?" tanya Firlan yang udah kangen mendengar suara kekasihnya.


"Udah, Ay..." jawab Vira lembut.


"Hari ini shift apa?" tanya Firlan.


"Pagi, Ay ... bentar lagi paling keliling kamar, dokter mau visit..." jawab Vira.


"Dokternya cewek apa cowok? tua apa muda?" tanya Firlan dengan nada tidak suka. Vira menaikkan satu sudut bibirnya.


"Dokternya cowok ganteeeeeeng banget," kata Vira memanasi hati kangmas Firlan.

__ADS_1


"Kamu jangan macam-macam, Vira!" ucap Firlan dengan penuh penekanan.


"Aku hanya semacam kok, liatin dokter ganteng yang nggak suka marah-marah, lumayan dapet vitamin A pagi-pagi," sahut Vira santai, dia tersenyum untuk sesaat walaupun hatinya sedang gundah gulana merana.


"Ya udah, Ay ... aku mau lanjut kerja, nanti aku dilaporin gara-gara telfon-telfonan kelamaan," ujar Vira yang sudah dapat lirikan dari teman sejawatnya.


"Ya udah kalau gitu, inget jangan keganjenan!" ucap Firlan mengingatkan


"Iya iya, nggak..." kata Vira sebelum sambungan telepon itu terputus.


Wanita itu menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan, Vira mencoba menenangkan hatinya.


Di kediaman Satya.


Amartha masih berkutat dengan kompor dan wajan.


"Sudah, Nyonya ... biar bibik saja yang melanjutkan, Nyonya nggak boleh kecapean," ucap bik Surti yang mencoba mengambil alih wajan dan sutil dari tangan majikannya.


"Tinggal dikit lagi kok, Bik ... lagian masak nasi goreng kayak gini mah nggak capek," jawab Amartha.


"Udah, nih ... udah jadi," lanjutnya.


"Sudah sudah, Nyonya ... biar bibik aja yang angkat," kata bik Surti.


Wanita yang tengah hamil itu menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Mas? sarapannya udah siap," ucap Amartha setelah menutup pintu dari dalam, ia melihat suaminya sedang memasang memasang dasi.


Amartha mendekati suaminya dan merapikan jas yang dikenakan pria itu.


"Mami tadi telfon, katanya mami minta kamu buat ke rumah," ucap Satya sambil melingkarkan tangan di pinggang istrinya.


"Hari ini?" tanya Amartha.


"Iya kalau kamu nggak capek, Yank..." ucap Satya, salah satu tangannya membelai lembut punggung Amartha.


"Aku juga kangen sama Mami, nanti sekalian deh aku bawain cake kesukaan mami,"


"Boleh tuh, pasti mami seneng, kayaknya mami mau ngomongin soal acara si dedek..." ujar Satya, Amartha mengangguk paham.


"Kalau ada yang kamu nggak setuju atau kurang suka, sampein aja ke aku ... nanti aku yang ngomong sama mami," ucap Satya menatap kedua manik istrinya.

__ADS_1


"Yank? kok kamu nggak pernah pakai kartu yang aku kasih? kenapa?" tanya Satya heran.


"Aku nggak suka ya kamu terlalu irit, aku kerja banting tulang belulang buat kamu loh, Yank..." ucap Satya menoel hidung Amartha


"Iya, suamikuuuu..." kata Amartha yang balik menoel hidung Satya.


"Sebentar, Yah? aku ganti baju dulu,"


Satya melepaskan tangannya dari pinggang Amartha, pria itu dengan cepat meraup bibir istrinya kemudian melepaakan wanita itu pergi ke ruang ganti dengan wajah yang bersemu merah, Satya terkekeh melihat tingkah Amartha masih malu-malu tapi mau.


Tak lama Amartha keluar dari ruang ganti, ia nampak cantik dengan dress tanpa lengan yang semakin membuatnya menarik dengan perut yang membulat sempurna.


Mereka berdua turun dan menikmati sarapan bersama, Satya segera menyesap teh hangatnya.


"Aku berangkat, yah? kabari kalau udah sampai di rumah mami, atau mau ikut aku ke kantor dulu?" tanya Satya bertubi-tubi.


"Nggak ah, aku nanti ke rumah mami dianter Damian aj," tolak Amartha.


"Ya udah, ayah berangkat dulu, yaaah?" bisik Satya yang berbisik pada calon anaknya, lalu ia mengecup perut istringa itu.


"Aku berangkat ya, Sayang..." kata Satya seraya mengecup kening Amartha


Pria itu berjalan ke arah mobilnya yang sudah berada di pelatan rumah. Sedangkan Amartha naik ke atas lagi. Mengambil cluch yang berwarna rsenada dengan warna dress yang ia pakai.


Ketika Amarha tanpa sadar merogoh cluch milinya, ia menemukan sebuah kartu yang diberiksan oleh mantan suami. Amartha pun segera memasukkannya ke dalam cluch miliknya.


"Sepertinya aku harus segera pergi ke rumah mami..." ucap Amartha ketika ponselnya berdering menampilkan nama Sandra.


"Halo," sapa Amartha.


"Jam berapa mau ke rumah mami, Sayang?" tanya Sandra seberang telepon.


"Sebentar lagi, Mam ... ini mau kesana, lagi siap-siap..." jawab Amartha.


"Mami tunggu ya, Sayang..." ucap Sandra sebelum panggilannya terputus


Amartha segera menaruh ponsel ke dalam cluchnya. Wanita itu segera turun bersama.


"Pak, nanti mampir dulu ke toko kue," perintah Amartha yang langsung dijawab anggukan dari Damian.


Setelah sekian lama berkendara, akhirnya Amartha sampai juga di toko langganan mami Sandra. Wanita itu masuk ke dalam, dan matanya menangkap seorang sedang berdiri di depan etalase kue....

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2