
"Diajarin sama siapa?" tanya Amartha yang wajahnya seketika berubah kesal.
"Fiona?" tuduhnya membuat Satya terkekeh melihat istrinya yang sedang terbakar api cemburu.
"Dih Fiona? bukan sama dia, tapi sama Prisha. Kamu tuh mikirnya Fiona mulu, dah! dulu Prisha pernah operasi amandel, waktu dia masih SMP. Nah, dia ngeles mulu tuh, nggak mau di operasi, pokoknya alesannya ini itu nggak jelas, karena tonsil semakin besar dan bikin dia susah makan, mau nggak mau tuh dia harus di operasi tapi ... ehem ada tapinya nih, dia mau di operasi dengan satu syarat..." Satya ngejelasin sambil tangannya dengan lihai mengeringkan rambut Amartha yang basah karena habis keramas.
"Apa syaratnya?" Amartha menautkan kedua alisnya.
"Kalau aku harus mau nyatokin rambut dia selama 2 minggu, ya udah ... daripada Mami ngamuk-ngamuk, aku iyain aja, dan jadilah aku 2 minggu jadi babu dia, emang adekku yang satu itu kelakuannya ajib banget," kata Satya sambil terkekeh, kalau ingat kejadian waktu itu.
"Ya nggak jauh beda sama kamu, Mas..." celetuk Amartha yang malah membuat Satya menghentikan aktivitasnya sejenak dan melihat sekilas wajah istrinya dari pantulan cermin.
"Nggak ah, aku mah kalem, Yank..." sahut Satya yang membuat Amartha memutar bola matanya jengah.
"Kalem kalo tidur," celetuk Amartha yang membuat Satya mendekatkan bibirnya ke telinga Amartha seraya berbisik.
"Jam segini jangan bahas masalah tidur, Yank ... nanti yang ada acara malam ini jadi gagal total," ucap Satya.
"Dasar aneh!" ucap Amartha
"Kan anehnya cuma sama kamu, Yank ... nah, sekarang udah selesai," ucapnya setelah dirasa rambut panjang istrinya sudah benar-benar kering, pria itu mencabut hair dryer yang tersambung ke colokan, lalu ia menarik sebuah kursi dan duduk dekat dengan istrinya yang kini mulai menyempurnakan wajahnya dengan sentuhan make up tipis, membuat Satya hampir tak berkedip karena melihat istrinya yang tengah mempercantik dirinya.
"Emang kita mau ngapain sih, Mas?" tanya Amartha penasaran.
"Ada lah pokoknya ... sekarang kamu pakai dress yang ada di dalam kotak itu," ucap Satya menunjuk sebuah kotak dengan dagunya.
__ADS_1
Amartha membuka kotak yang dimaksud Satya dan dan mengambil sebuah dress didalamnya. Amartha menjereng sebuah maxi dress one shoulder berwarna putih dengan belahan kaki sebatas lutut.
"Ya udah aku ganti dulu," ucap Amartha yang kemudian beranjak dari duduknya dan membawa dress ditangannya, hendak menuju kamar mandi.
"Ganti dimana? disini aja sih, Yank..." ucap Satya yang mengerutkan keningnya melihat Amartha ngibrit ke kamar mandi.
"Malu, Mas!" sahut sang istri dari dalam sana.
"Malu sama siapa?" Satya kembali bertanya.
"Sama kamu lah!" seru Amartha yang membuat Satya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah istrinya yang masih malu-malu meong, sedangkan dirinya malah bertingkah malu-maluin.
"Lagian aku kan suami kamu, Yank!" seru Satya yang membuat Amartha mencebikkan bibirnya, sambil memakai pakaiannya.
Setelah beberapa saat pintu pun terbuka menampilkan sosok Amartha yang sangat cantik dengan maxi dress yang sangat pas ditubuhnya, membuat Satya lupa caranya bernafas karena begitu terpukau dengan penampilan istrinya.
Ketika pintu terbuka menampilkan lampu-lampu kecil seperti lampion yang di letakkan berjejer kanan dan kiri membentuk sebuah jalanan atau gate sepanjang beberapa meter, yang berakhir pada sebuah meja yang sudah dihias dengan berapa lampion yang terpasang di pohon kecil tanpa daun.
"Kamu suka?"
"Makasih, Mas ...ini cantik banget, Mas!"
"Setelah mereka duduk, para pelayan mulai menghidangkan makanan, mulai dari appetizer, maincouse sampai desert, dan segelas mocktail, dan yang membuat tambah special, candle light dinner ini diiringi alunan musik biola yang semakin membangun suasana romantis.
Namun, tanpa sadar mata Satya menangkap satu sosok yang sedang memperhatikan mereka dari jauh. Ya, mungkin pria itu yang dimaksud istrinya, dia memakai topi berwarna hitam, membuat Satya tidak begitu jelas melihat wajah orang tersebut.
__ADS_1
Namun Satya langsung mengalihkan pandangannya, dia tidak mau orang itu curiga dan tidak mau Amartha merasa ketakutan karena dugaannya benar. Dia tidak boleh gegabah, ada seseorang yang ingin bermain-main dengannya. Satya segera mengirimi Firlan sebuah pesan, ia ingin pengawalan yang ketat selama liburan di pulau Moyo, dan meminta para pengawal berpura-pura sebagai wisatawan yang sedang berlibur.
Setelah menikmati hidangan yang tersaji diatas meja, Satya yang semula ingin mengajak Amartha berjalan menyusuri pantai akhirnya mengurungkan niatnya, ia memilih untuk duduk didepan tendanya, melepas kemeja yang ia pakai untuk dipakaikan ke tubuh istrinya, mereka duduk di atas pasir menikmati ombak yang saling bergelung kemudian terhempas di tepi pantai, sembari matanya terus mengawasi keadaan sekitar.
"Makasih ya, Mas ... kamu yang sengklek ini ternyata memberi warna baru di hidup aku," ucap Amartha seraya menatap suaminya.
"Dih, kebiasaan kamu, Yank ... niat muji apa nggak sih?" Satya mencebikkan bibirnya namun Amartha malah tertawa.
"Dih malah ketawa," Satya mencubit gemas pipi Amartha, yang membuat gadis itu menggosok-gosokkan pipinya dengan tangannya pura-pura kesakitan.
"Awh, sadis banget kamu, Mas ... maennya cubit," kata Amartha.
"Kamu tau nggak, Yank?" ucap Satya memandang ke arah pantai.
"Enggak!" celetuk Amartha yang membuat Satya menoleh padanya.
"Ish, dasar! hem, kamu tau nggak? selama serahun aku lihat kamu berjuang untuk hidup, bener-bener bikin hati aku sakit, Yank ... aku heran, kamu kayak nggak ada capeknya, aku hanya yakin jika kamu dapat kekuatan itu dari tuhan, dan sekarang aku akan menggantikan masa-masa sulitmu itu dengan beribu- ribu kebahagiaan, aku sayang sama kamu, Ta ... aku nggak mau lagi ngeliat kamu menderita," ucap Satya yang kini memandang wajah istrinya dan tangan mereka berdua saling bertautan
"Aku cuma menjalaninya semampu aku, Mas ... dan beruntungnya aku punya sahabat seperti Vira. Jadi aku nggak ada waktu untuk bersedih atau menyesali semua yang terjadi dalam kehidupan aku, aku hanya yakin dengan pertolongan Allah ... dan terbukti, setiap aku mau bayar uang semester udah ada yang bayarin, hahaha ... tapi aneh banget sih! ya sebelum aku tau itu semua perbuatan kamu, Mas." ucap Amartha sambil terkekeh mengingat masa lalu.
"Hehehe, gitu, ya?" jawab Satya dengan santainya.
"Kamu benar, selalu ada pertolongan tuhan, bahkan disaat kita sedang dalam situasi terburuk sekalipun," ucap Satya sembari tersenyum.
"Tapi kenapa? Mas waktu itu diam-diam bayarin uang kuliah aku?" Amartha meminta sebuah penjelasan.
__ADS_1
"Karena aku sayang sama kamu, dan aku nggak mungkin tinggal diam melihat kamu berada dalam kesulitan," jawab Satya yang membuat mata istrinya mengeluarkan cairan beningnya.
...----------------...