Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Hati Gue Udah Dibawa Kenan!


__ADS_3

"Oke, jadi nggak mau makan? jangan salahin aku kalau-" Fendy tak main-main dengan perkataannya, ia berniat beranjak dari tempatnya untuk mencium sang wanita duduk berhadapan dengannya


"Iya iya, nih aku makan! suka banget ngancem orang!" Sinta segera memasukkan satu potong daging ke dalam mulut mungilnya. Matanya menatap tajam Fendy yang sedang meneguk minumannya.


"Gimana keadaan Refan?" tanya Fendy pada Sinta.


"Kenapa tanya-tanya?" sarkas Sinta, dia memasukkan satu potong daging lagi ke dalam mulutnya. Fendy sengaja mengajak Sinta keluar karena ia melihat tubuh Sinta yang semakin kurus, wanita itu dibebani pekerjaan yang belum pernah ia sentuh selama ini. Mengambil alih perusahaan sebesar itu bukan hal yang mudah.


"Emang nggak boleh nanyain kabar kakak ipar sendiri?" ucap Fendy enteng, Sinta rasanya sudah jengah karena Fendy yang selalu menganggapnya pacar bahkan calon istri.


"Nggak usah banyak tanya!" sarkas Sinta, setelah ia membasahi kerongkongannya dengan seteguk air.


"Kalau kita nikah, biar aku yang kerja kamu jangan, nggak baik kalau dua-duanya sibuk cari uang, sementara anak-anak cuma dijagain pengasuh, aku nggak mau kayak gitu," Fendy nyerocos seolah mereka pasangan yang sebentar lagi mendapat kata 'sah' dari penghulu dan para saksi.


"Apa? nikah? siapa juga yang mau nikah sama lo?" ucap Sinta yang menghentikan suapan dagingnya


"Ya kamulah Sayang, siapa lagi? kan pacarku cuma kamu," kata Fendy dengan menaik turunkan alisnya seraya menyeringai.


"Dih, gue mah ogah! dan kalaupun cowok di dunia ini tinggal lo doang, gue mending sendirian seumur hidup!" ucap Sinta menohok.


"Hussh, kalau ngomong di mampirin ke otak dulu napa? diaminin malaikat baru tau rasa!" kata Fendy mengingatkan.


"Dan coba deh, belajar jangan panggil 'lo' ke calon suami, kupingku gatel denger kamu ngomong gitu," Fendi mengusap telinganya.


"Suka-suka guelah, masih untung nggak gue panggil kuyang!" ucap Sinta nyolot.

__ADS_1


"Kamu bilang apa tadi? sayang? nggak salah denger, nih?" Fendy malah menatap Sinta kegirangan. Sinta kesal melihat orang yang didepannya salah tangkap atau emang ngeselin dari sananya


"Heh, kuyang bukan sayang! gue curiga kuping lo budek sebelah," Sinta nyolot lagi, sementara Fendy malah tertawa lepas. Pria itu senang jika bisa mancing emosi Sinta, itu sangat lucu menurutnya.


"Hahahahah, udah nggak usah ngomel-ngomel, ntar cepet keriput." kata Fendy, Sinta memutar bola matanya jengah dengan ucapan pria itu.


"Om Arya kapan balik, Sayang?" tanya Fendy menginterupsi suapan terakhir Sinta.


"Nggak tau," sahut Sinta ketus. Namun sesaat kemudian, Fendy melihat semburat kesedihan dimata wanita itu. Dia teringat tentang Refan yang hampir meregang nyawa, dan orangtuanya yang sibuk mengurus Refan di luar negeri. Refan yang saat ini masih bergantung pada alat medis, dan sekarang sekilas wajah Kenan terlintas dipikirannya. Dia disini sendirian tanpa ada orang disisinya.


"Kalau mau nangis, nangis aja nggak usah sok kuat, aku tau kamu kangen sama mereka," Fendy menggenggan Sinta. Wanita itu memalingkan wajahnya, air mata memupuk di sudut netranya. Dia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Aku ada buat kamu, Sin. Kalau kamu mau buka sedikit aja hati kamu buat aku, aku pasti bisa buat kamu bahagia, kamu nggak akan kesepian," ucap Fendy lembut, dia mengusap punggung tangan Sinta dengan ibu jarinya.


"Buat apa kamu ngejar orang yang nggak cinta sama kamu? nggak semua yang kamu inginkan bisa kamu dapetin, karena kamu emang jodohnya sama aku, Sinta! dan kamu harus terima itu," ucapan Fendy membuat Sinta dengan segera menyeka air matanya dan menatap Fendy.


"Siapa yang lagi ngelucu? aku nggak lagi ngelawak, Sinta! aku serius," Fendy menatap Sinta serius bahkan duarius.


"Hati gue udah dibawa mas Kenan," lirih Sinta, menyebut nama Kenan hati Sinta berdenyut nyeri.


"Aku kebagian remahannya juga nggak apa-apa, Sin..." kata Fendy.


"Aku siap nadahinnya," lanjut pria itu. Sinta tersenyum tipis,


Sementara ditempat lain seorang wanita sedang menempelkan benda pipih di telinganya, jalan mondar-mandir sambil mulutnya komat-kamit mengomel pada asistennya, Alia.

__ADS_1


"Pokoknya saya nggak mau tahu, besok kamu harus bisa bikin janji dengan pak Satya. Bilang kalau saya mau ketemu di cafe tanpa asistennya," ucap Ivanka pada asistennya.


"Sepertinya sangat sulit, Nona..." jawab Alia sambil garuk-garuk kepala, bukan perkara kutu atau ketombe, tapi pusing menghadapi tingkah Ivanka dan segala omelannya yang bikin kuping panas


"Soalnya tadi siang saja, sangat sulit membujuk pak Satya untuk pindah meja, Nona..." kata Alia ragu-ragu, dan Ivanka sangat marah mendengar penjelasan Alia. Orangtuanya semakin mendesak dan ia harus bicara dengan Satya. Sebanyak itu lelaki di dunia, Ivanka malah meminta bantuan pria yang sudah menikah.


"Ya itu urusan kamu! pokoknya saya nggak mau tau, kamu pikir sendiri gimana caranya supaya Pak Satya mau nemuin saya di cafe dekat kantor, ngerti?" suara Ivanka melengking dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.


"Mengerti, Nona..." jawab Alia. Hanya itu yang mampu ia katakan saat ini. Dan Ivanka memutus sambungan telepon itu sepihak, sedangkan Alia menghembuskan nafasnya pelan.


Alia mencoba berpikir bagaimana caranya supaya keinginan bosnya itu bisa terpenuhi. Semakin berpikir kepalanya berdenyut nyeri, apalagi mendengar lengkingan suara Ivanka tadi.


Alia menghela nafasnya lagi, belum lagi waktu pulang udah kena semprot, eh sekarang kena jackpot. Berasa dapet promo buy one get one, deh! Wanita itu meletakkan kacamatnya, memijit pelipisnya yang terasa nyut-nyutan. Kepalanya yang terasa pusing mendapat sedikit pijitan dari tangannya sendiri membuatnya sedikit relaks, sambil berpikir dia terus memijit pelipisnya lagi dan lagi. Tapi bukannya mendapatkan ilham dan wangsit, Alia malah hampir ketiduran.


"Mampus! aku belum telfon Pak Firlan!" Alia terlonjak, saat mengingat belum menghubungi asisten Satya. Alia menepuk keningnya, sepertinya rasa lelah membuat otaknya bekerja lebih lambat.


"Dia yang jatuh cinta, aku juga yang ikutan repot!" keluh Alia, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


"Kalau aku telfon pak Firlan sekarang, sopan nggak yah kira-kira? ah, bodo amat lah! daripada besok denger bos jejeritan di ruangan, kayak orang kerasukan." Alia hanya memandang ponselnya, dia mengatur nafasnya.


Wanita itu segera mengambil kacamatanya dan mulai mengetik nama Firlan di kontaknya.


Alia menempelkan ponsel di telinga kanannya. Bodoh amat kalau dibilang tidak sopan atau semacamnya, Alia nekat menelepon Firlan yang juteknya ngalahin cabe setan.


"Halo, selamat malam Pak Firlan. Maaf, mengganggu malam-malam begini. Besok kita bisa ketemu di cafe? cafe di dekat kantor kami," tanpa babibu Alia langsung to the point. Matanya sudah ngantuk dan kepalanya bertambah pusing ditambah lagi dia belum makan malam, jadi koneksi antara otak dan mulut sedikit terganggu.

__ADS_1


"Maaf ini siapa, ya?" ucap pria diseberang sana, ia mengernyit heran.


...----------------...


__ADS_2