Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Wisuda


__ADS_3

"Halo, Amartha?" sapa Rosa.


"Ha-halo, Mah?" sahut Amartha gugup, ia tak tahu harus memulai dari mana.


"Ya, Sayang... tumben nelfon?" tanya Rosa heran.


"Sebenernya, Amartha... ehm..." Amartha menjeda kalimatnya sesaat.


"Ada apa, Sayang?" tanya Rosa penasaran.


"Emmm, besok Amartha wisuda, mama sama papa bisa dateng?" ucap Amartha dengan cepat.


"Apaaaaaaaaaaa?!" teriak Rosa.


"Ka-kamu bilang apa tadi? wisuda? bukannya-" lanjut Rosa


"Nanti Amartha jelasin besok, Amartha harap, mama bisa dateng, jam 1 siang Amartha tunggu di depan kos," jelas sang anak tunggal.


"Iya sayang, mama akan usahakan datang," ucap Rosa dengan sejuta tanya dalam benak.


"Terima kasih, Mah..." ucap Amartha yabg kemudian menutup sambungan telepon.


Amartha menghela nafasnya, rasanya ada seribu belati yang menusuk dadanya saat ini. Tak mau larut dalam perasaan bimbangnya, ia segera menghubungi Vira agar segera membukakan pintu untuknya.


.


.


"Pah..." Rosa menowel tubuh suaminya yang tengah terlelap.


"Emmm ... kenapa?" tabya Rudy dengan mata yang masih terpejam.


"Pah, bangun!" ucap Rosa meninggikan suaranya.


"Ngantuk," jawab Rudy singkat.


"Ih, cepetan bangun!" titah sang istri.


Mau tak mau Rudy pun segera duduk dengan bantal yang jadi sandaran punggungnya.


"Ada apa?" tanya Rudy heran.


"Amartha, Pah..." Rosa menghela nafasnya, ia bingung bagaimana menjelaskan pada suaminya.


"Amartha kenapa?" tanya Rudy dengan tak mengalihkan pandangannya dari wajah istrinya.

__ADS_1


"Besok, Amartha wisuda," ucap Rosa singkat.


"Mamah ini malam-malam kok bicara nglantur," ucap Rudy yang akan kembali ke posisi tidur, namun Rosa segera menghentikan niatan suaminya itu.


"Serius? lah bukannya dia di luar Jawa ikut suaminya? kok bisa sekarang wisuda?" ucap Rudy minta penjelasan.


"Besok dia akan menjelaskan, dia nunggu di kosannya jam 1 siang," jelas Rosa.


"Ya sudah, besok kita coba naik kereta yang jam 8 pagi," sahut Rudy walaupun banyak seribu tanya dalam pikirannya.


Rudy menyuruh Rosa istirahat, agar besok mereka tidak terlambat.


Sinar mentari menyelinap dibalik korden yang sedikit tersibak. Seorang pria dengan tubuh kekarnya, menggeliat di balik selimut. Tangannya meraba ponsel yang diletakkannya diatas nakas.


"Jam 7?" gumam sang pria ketika melihat jam di ponselnya menunjukkan hari telah pagi.


Pria itu adalah Satya Ganendra, seorang pria yang menanggalkan profesi dokternya karena terlibat suatu perjanjian konyol dengan orang yang dia sebut asisten laknat. Satya sekarang menjadi CEO di perusahaan sang papi yang sekarang sudah mulai jarang pergi ke perusahaan. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Sandra, dia ingin menebus semua waktu yang telah banyak lewatkan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.


Sebuah chat masuk di ponselnya dari Firlan, sesaat dia akan mengumpat, namun sebelum niat itu terlaksana, matanya membulat sempurna dan senyum kemudian terbit dari bibirnya. Firlan mengirimkan berita perihal Amartha yang hari ini akan wisuda.


"Akhirnya hari ini datang juga," gumam Satya.


Satya segera menelepon Firlan untuk memberi perintah selanjutnya.


"Kamu siapkan 100 buket bunga mawar putih, kirim ke kosan Amartha, dan jangan lupa karangan bunga untuk ucapan selamat, inget yang paling besar!" bukannya menjawab sapaan Firlan, Satya malah memberi Firlan sebuah perintah tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Jangan lupa, buatkan panggilan kerja untuk Amartha dan sahabatnya, Vira!" lanjut Satya yang membuat Firlan mendengus kesal. Anak bos nya ini suka memerintah sesuka hati.


Firlan langsung melaksanakan perintah Satya. Kebetulan Satya telah membangun sebuah rumah sakit di kota J, sudah lama ia menantikan hari ini. Hari dimana Amartha menerima gelarnya sebagai seorang perawat. Selama satu tahun ini, Satya lah yang membayar semua keperluan biaya kuliah Amartha. Tentu saja Firlan yang direpotkan soal itu, dia harus berurusan dengan perempuan sengklek bernama Vira Anugrah.


Sementara di tempat lain, Amartha sedang menikmati sarapannya di kamar bersama sang sahabat, Vira. Mereka menikmati roti selai kacang dan tak lupa sekotak susu.


"Berangkat ke salon jam 11 an ya, Ta..." kata Vira, sambil membereskan bungkusan roti. Gadis itu sudah menyelesaikan sarapannya.


"Sebenernya aku males, Vir..." ucap Amartha, setelah menyeruput susu kotaknya.


"Inget, ini hari bersejarah kamu, kamu udah bekerja keras untuk sampai di titik ini, buat diri kamu secantik mungkin," ucap Vira.


"Makasih, ya ... atas semua bantuan kamu selama ini," kata Amartha yang memandang Vira dengan tatapan sendunya.


"Iya Jum ... udah jangan kebanyakan makasih, nanti aku bisa gumoh dengernya," ucap Vira sambil nyengir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sudah, selesai..." ucap seorang penata rias.

__ADS_1


"Makasih ya, Mbak..." ucap Amartha menyunggingkan senyumnya. Dengan sanggul modern dan riasan yang terkesan natural membuat wajah itu semakin cantik saja.


"Ganti kebayanya di kamar ujung sana ya, Dek..." ucap sang penata rias.


"Oke, makasih, Mbak..." ucap gadis itu singkat.


"Vir, udah selesai?" Amartha menyenggol Vira yang sudah cantik dengan kebaya berwarna maroon, matanya terpejam.


"Eeh, iiishhh ngagetin aja?!" ucap Vira dongkol.


"Maap, maap, ngantuk ya Vir..." kata Amartha merasa bersalah karena sudah mengagetkan Vira.


"Iya, nih Jum ... mataku rasanya kaya dilem pake alteko," ucap Vira yang kini menegakkan tubuhnya.


"Kamu tidur kemaleman nih pasti, aku denger kamu ngobrol di telpon sama laki-laki, emang semalem telpon-telponan sama siapa sih, Vir?" cerocos Amartha tanpa titik koma.


"Emmm, bu-bukan siapa-siapa kok! cuma temen SMA, udah kamu cepetan ganti ini dah jam 12 loh!" ucap Vira mebgalihkan perhatian Amartha, agar gadis itu tak bertanya macam-macam padanya.


"Ya udah, kamu tunggu bentar ya," ucap Amartha lalu melenggang ke arah kamar ganti meninggalkan Vira.


"Iya," jawab Vira singkat. Setelah Amartha pergi menjauh dari dirinya, Vira menghela nafasnya.


Setelah 10 menit mengganti pakaiannya dengan kebaya yang juga berwarna maroon, Amartha keluar dari ruang ganti membawa pakaiannya dan memasukkannya ke dalam papper bag berwarna coklat.


"Udah?" tanya Vira.


"Yuk..." ajak Amartha yang kini sudah membawa papper bag milik Vira.


Selesai membayar jasa rias, kedua gadis itu berjalan keluar ke parkiran. Vira mencangkolkan, salah satu paper bag di stang motor.


"Aku aja yang nyetir," ucap Amartha menawarkan diri.


Amartha memberikan satu papperbag, untuk Vira bawa. Amartha mulai menghidupkan motornya dan, Vira mulai duduk menyamping, berpegangan pada pinggang ramping Amartha. Dan sepertinya lumayan ribet, naik motor dengan pakai kebaya.


Kedua gadis itu sesekali tertawa saat, angin menerpa wajah mereka dan membuat mereka khawatir dengan bulu mata yang tidak anti badai, yang menyempurnakan riasan mereka. Amartha telah melupakan kesedihannya, dia tidak ada waktu untuk bersedih, karena kehadiran Vira membuatnya kembali bersemangat untuk melanjutkan pendidikan.


Tak terasa, Amartha dan Vira telah sampai di depan kosannya. Vira turun dari motor dan saling melempar pandangan pada Amartha.


Vira hanya menggeleng, namun Amartha menyipitkan matanya pada sahabatnya itu. Pandangan Amartha kembali terpaku pada satu karangan bunga ucapan selamat yang sangat besar, nangkring di depan kosannya.


Ketika kau mencintainya dan kau hanya mendapatkan hujan, maka cintailah aku sebagai pelangimu...💖


S.G.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2