
Selama seminggu ini, Firlan mengambil libur panjangnya. Selama itu pula Satya bekerja sendirian dengan setumpuk pekerjaan. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah mengiyakan syarat yang diajukan Firlan saat pria itu akan menyelesaikan masalah pembangunan gedung di luar kota, secara tidak langsung Firlan telah menyelamatkan dana perusahaan.
"Itu orang kapan baliknya, sih?" gerutu Satya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada sebuah chat masuk. Baru juga diomongin eh, Firlan mengiriminya sebuah kabar yang pasti membuat Satya ngenes. Asistennya itu mengatakan kalau cutinya diperpanjang sampai besok.
"Bukannya cepet ngantor, malah nambah cuti!" Satya meletakkan ponselnya demgan kasar di atas meja.
Ia meletakkan berkas di atas meja, pria itu menyandarkan punggungnya, dan memejamkan matanya sejenak. Dia merasakan ada orang lain yang saat ini sangat dekat dengannya. Perlahan ia membuka matanya, dan ia melihat sosok wanita cantik sedang menatapnya, lalu ia menyunggingkan senyum termanisnya.
"Amartha?" pekik Satya. Pria itu segera memperbaiki posisi duduknya.
"Ini aku lagi nggak mimpi kan, ya?" Satya nampaknya linglung, dia tidak bisa membedakan dunia mimpi dan dunia nyata. Pria itu nampak bingung melihat wanita yang kini terkekeh melihat tingkahnya. Karena sepertinya ia baru saja berada di sebuah padang rumput yang sangat luas. Lalu sekarang ia melihat dirinya berada di kantornya.
"Aku lagi mimpi nggak, sih?" ucap Satya lagi.
"Sini aku bantu," kata Amartha, dia berjalan mendekat pada suaminya. Ia memutar kursi Satya.
"Bantu apa?" tanya Satya bodoh.
"Cubit kamu," Amartha mencubit punggung tangan suaminya.
"Aaaaaaarwwwh!" pekik Satya.
"Sakit tau, Yank!" Satya mengibaskan tangannya.
"Abisnya, kayak orang bingung..." ucap Amartha terkekeh.
Satya menarik tangan Amartha, ia mendudukkan wanitanya di pangkuannya. Pria itu mengelus perut istrinya.
"Aku masuk kesini aja kamu nggak denger, saking pulesnya kamu tidur, nggak baik tidur sore-sore kayak gini tau!" Amartha mencubit pipi Satya gemas.
"Masa sih aku tidur? padahal tadi cuma meremin mata bentar," kata Satya.
"Nih, kalau nggak percaya..." Amartha menyodorkan ponselnya.
"Jam 5 sore?" pekik Satya saat melihat angka 17.00 pada layar benda pipih itu.
"Masa aku tidur sampai satu jam?" Satya masih tidak percaya.
"Iya, orang aku juga udah disini dari 40 menit yang lalu," jawab Amartha.
"Tumben nggak ngabarin mau kesini?" tanya Satya.
__ADS_1
"Habis kulineran sama Prisha, katanya 3 hari lagi dia mau balik ke Ausie, jadi dia mau puas-puasin makan makanan Indonesia, terus pas ngelewatin jalan yang mau ke kantir Mas, tiba-tiba aja pengen mampir," jelas Amartha.
"Lah, tuh monster kecil dimana? kok nggak ada?" tanya Satya.
"Dia lagi males ketemu sama kamu, jadi tadi dia minta langsung dianter pulang ke rumah sama Damian, setelah nganterin aku kesini," ujar Amartha.
"Kerjaan kamu banyak ya, Mas?" tanya Amartha.
"Iya, Sayang ... Firlan cuti soalnya, katanya sampai besok," ucap Satya.
"Terus rencana kita?" tanya Amartha.
"Rencana apa?" Satya balik bertanya.
"Ck! tau, ah..." bumil mode ngambek.
"Rencana apa, Yank?" tanya Satya diiringi tawa kecilnya.
"Tau, ah! nggak usah rese, deh..." Amartha cemberut.
"Ya ampun, cantiknya istriku kalau lagi cemberuut," Satya malah menoel dagu Amartha.
"Iya, iya jadi, Sayaaaaang ... mau si Firlan ngantor atau nggak, kita tetep berangkat. Mama sama papa pasti udah nungguin kita, nggak sabar anak perempuannya datang ke rumahnya," ucap Satya, senyum terukir di wajah Amartha.
"Jangan-jangan dari siang kamu belum makan, Mas?" Amartha menatap Satya menuntut jawaban. Pria itu hanya tersenyum dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membuat huruf V.
"Kenapa sampai nggak makan? tadi siang mau aku anterin makanan katanya lagi mau meeting. Tau gitu kan aku kesini bawa makanan tadi," Amartha mengomel.
"Iya, selesai meeting sibuk dengan berkas-berkas ini, sampai nggak inget kalau aku belum makan siang," ujar Satya.
"Kita pulang, yuk? udah sore, dan Mas harus ngisi perut secepatnya," Amartha perlahan turun dari pangkuan Satya.
"Kita cari drive thru aja, bentar aku cuci muka dulu," Satya bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju toilet.
Pria itu membasuh wajahnya, mengusir sedikit kantuk yang tersisa. Kemudian dia melangkah keluar dari toilet, namun tak menemukan sosok Amartha. Satya memegangi kepalanya, dia seperti terhisap ke dimensi lain.
Tiba-tiba Satya terbangun dengan keringat membanjiri keningnya. Nafasnya memburu, ia telah mengalami mimpi bertingkat, bisa juga disebut mimpi dalam mimpi. Satya masih terpejam, ia mencoba mengatur nafasnya. Ternyata dia tengah tertidur dengan posisi kepala menyandar pada sandaran sofa di ruangannya.
"Kamu! kenapa kamu ada disini?" tanya Satya saat menyadari kehadiran seseorang.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya seorang wanita yang duduk di hadapannya.
"Tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu, Ivanka!" ucap Satya melihat wanita itu nyalang.
__ADS_1
"Baiklah, apakah kau baik-baik saja?" tanya Ivanka cemas.
Satya memukul meja yang terbuat dari kaca, ia memastikan bahwa saat ini dia sudah terbangun dari mimpinya. Ivanka terperanjat kaget, karena tiba-tiba pria itu mengangkat tangannya ke udara lalu menghempaskannya begitu saja dan tentu saja itu membuatnya terluka.
"Ini nyata, ini bukan mimpi..." lirih Satya saat melihat darah mengalir dari tangannya. Ivanka menutup mulutnya. Ivanka berusaha mendekat.
"Tetap ditempatmu!" kata Satya.
"Tapi kamu terluka," ucap Ivanka.
Satya mungkin terlalu banyak pikiran hingga ia mengalami mimpi bertingkat, apalagi meeting tadi pagi menghasilkan sesuatu yang tidak bagus. Ivanka menarik semua investasinya di perusahaan yang dipimpin Satya putra dari Abiseka.
"Aku..." ucapan Ivanka terhenti.
"Keluarlah, saya rasa tidak sopan jika anda masuk ruangan ini tanpa izin," ucap Satya menohok.
"Paling tidak saya bisa,"
"Tidak perlu, saya seorang dokter dan saya bisa mengurus hal seperti ini," ucap Satya.
Sebagai investor di perusahaan itu Ivanka memiliki kartu akses tersendiri untuk bisa menggunakan lift. Sehingga dia bisa tiba-tiba muncul di hadapan Satya.
Ivanka tidak juga beranjak, dia berharap Satya akan memohon agar Ivanka tetap menaruh uangnya di perusahaan itu. Namun Satya malah berpikir lain, ini adalah kesempatannya agar terhindar dari wanita itu.
"Keluarlah," ucap Satya.
"Kau mengusirku?"
"Ya," sahut Satya.
Terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar, dan satu sosok wanita masuk melihat Satya dan Ivanka secara bergantian.
"Sayang?" pekik Satya.
"Mas?" Amartha terpaku pada meja yang sudah hancur dan cairan merah yang membasahi lantai. Amartha segera melepas scraft yang kebetulan ia gunakan untuk mengikat rambutnya yang panjang. Dia segera berjalan ke arah suaminya.
"Berhenti, aku takut ada serpihan kaca yang akan melukai kakimu," ucap Satya.
"Aku memakai sepatu, diamlah ... biarkan aku membalut luka ini, sebelum kita ke rumah sakit," ucap Amartha yang sudah cemas bukan main, fokusnya bukan lagi pada sosok Ivanka melainkan pada suaminya.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1