Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Bukit Bintang


__ADS_3

Ponsel Amartha berdering, tertulis nama Kenan di layar ponsel milik gadis itu. Amartha meraih ponselnya yang terletak di meja disamping tempat tidurnya, lalu menekan tombol hijau.


"Halo," ucap Amartha.


"Assalamualaikum, Dek..." Kenan mengucap salam.


"Waalaikumsalam, Mas..." sahut Amartha yang masih memeluk gulingnya. Dia menjawab sambil memejamkan matanya, kantuk masih menguasainya saat ini.


"Dek, bangun ... sholat subuh," ucap Kenan lembut.


"Ehm ... iya, Mas!" Amartha mengerjapkan matanya.


"10 menit lagi aku sampai di kosan kamu, kamu keluar ya pakai baju olahraga,"


"Masih pagi, Mas."


"Justru itu masih pagi, enak buat olahraga. kamu sholat dulu, aku tunggu di depan!" ucap lelaki itu.


"Iya..."


Setelah panggilan itu tertutup Amartha segera mandi dan melaksanakan dua rakaatnya. Lalu, gadis itu memakai celana training hitam dan kaos lengan pendek berwarna abu- abu dan sepatu olahraga tentunya. Tak lupa dia menguncir rambutnya. Vira yang baru bangun mengerjapkan matanya berkali-kali. Mengumpulkan nyawa setelah semalaman terbang ke alam mimpi.


"Mau kemana?" tanya Vira sambil mengucek matanya.


"Mau olahraga!" sahut Amartha sambil mengulas lip gloss rasa cherry ke bibirnya.


"Olahraga? tumben!" Vira beranjak dari tidurnya dan meraih ponsel di atas spring bednya. Dia melirik jam di ponsel miliknya.


Masih subuh, cuy! Nggak biasanya tuh bocah mau olahraga? Mencurigakan...


"Ehm, Itu ... diajak mas Kenan!" sahut Amartha yang sudah menyelesaikan sapuan bedak tipis di pipinya.


"Eh, aku keluar ya Vira!" ucap Amartha dengan cepat lalu mengantongi ponsel dan menyambar sepatu dan kaos kaki.


Belum sempat Vira bertanya lebih jauh si gadis berambut panjang itu sudah berlari dan menutup pintu kamar dari luar.


Kamar dua gadis itu berada di lantai 2.


Amartha turun dengan menyangking kaos kaki dan sepatu olahraganya. Di kosan ini semua sepatu tidak boleh sembarangan naik, bisa kena semprot Ibu kos yang galaknya naudzubillah.


Tidak ada sandal atau sepatu yang boleh melewati batas rak sepatu. Itu yang kadang membuat sandal suka raib, entah siapa yang ngambil. Ada yang bagus main samber aja, dan itu yang bikin kesel. Makanya sepatu kets dan sepatu kuliah milik dua gadis itu, diselundupin ke kamar. Setelah di pakai, dilap dan dimasukkin ke kotak biar tidak ketahuan sama mbak Nita, Ibu kos yang masih melajang padahal umur sudah di penghujung kepala tiga.


"Ehem, mau kemana Amartha?" tanya mbak Nita saat melihat Amartha akan membuka pintu depan.


"Astaghfirllah! bikin kaget aja, Mbak! aku mau olahraga, Mbak!" ucap Amartha sambil mengusap dadanya.


"Oh, ya sudah!" ucap Ibu kos.


Hufffh, ngagetin aja tuh orang! mana mukanya jutek lagi.


Amartha membuka pintu dan melihat Kenan berdiri di samping mobilnya yang terparkir di depan kos Amartha. Amartha duduk di teras dan memakai kaos kaki dan sepatunya. Kenan yang melihat Amartha langsung menghampiri gadis cantik itu.


"Udah, Sayang?" tanya Kenan yang sukses membuat wajah gadis itu merah seperti tomat.


"Udah, Mas."


Kenan dan Amartha lalu berjalan menjauh dari kosan itu. Hawa dingin mulai terasa dan langit pun masih gelap. Amartha berulang kali menggesekkan kedua telapak tangannya mengusir rasa dingin yang menjalar di tubuhnya.

__ADS_1


"Dingin?" tanya Kenan.


"Iya, orang masih jam 5 pagi."


"Mau aku angetin?" tanya Kenan sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jaket hodienya.


"Jangan mesum, ini di jalanan!"


"Kamu tuh mikirnya apa sih?" sahut Kenan yang menjentikkan jari di dahi Amartha.


"Awwh!" pekik Amartha yang memandang tak suka ke arah Kenan.


"Sini, tangan kamu," ucap Kenan menghentikan langkahnya seraya meraih tangan Amartha.


Lelaki itu menggosok-gosokkan telapak tangannya dan telapak tangan Amartha. Amartha bisa merasakan tangannya yang terasa hangat, begitu juga pipinya.


Kenan kemudian melepaskan jaket hodie berwarna dongker miliknya dan menyuruh Amartha memakainya.


Amartha yang memang kedinginan, langsung menyambar jaket itu dan memakainya walaupun kegedean.


"Yuk," ajak Kenan yang dijawab anggukan oleh Amartha.


"Kita mau kemana sih, Mas?" tanya Amartha yang berjalan disisi kanan Kenan.


"Nanti kamu juga tau, Sayang."


Setelah 10 menit berjalan, Kenan menghentikan langkahnya di tempat penyewaan sepeda.


"Kamu bisa naik sepeda, kan?" tanya Kenan yang sedang memilih sepeda mana yang akan dia sewa.


"Enggak!" jawab Amartha lirih.


"Iya, masa bohongan? jawab Amartha kesal.


Kenan akhirnya memilih sepeda yang terdapat boncengan dibelakangnya. Setelah mengurus pendaftran, Kenan segera membawa sepeda yang didominasi warna merah dan hitam itu.


"Ayok, naik!"


"Mau kemana emangnya?" tanya Amartha.


"Udah, naik ajah! nanti kamu juga tau," ucap lelaki itu.


Amartha mendudukan dirinya pada besi berbentuk pipih yang menempel pada sepeda itu.


"Pegangan, ya!" titah Kenan.


Amartha berpegangan pada pinggang lelaki itu yang mengayuh dengan cepat. Tak lupa Kenan membeli dua botol air mineral di minimarket 24 jam sebelum melanjutkan kembali perjalanannya.


Kenan mengayuh lebih cepat lagi menjauh dari keramaian. Suasana memang masih pagi tapi banyak orang yang sudah lalu lalang di jalan itu. Amartha mengerutkan keningnya, dia belum juga tau kemana Kenan akan membawanya pagi buta begini. Pasalnya sekarang banyak jalanan menanjak disertai pohon-pohon yang menjulang tinggi yang mereka jumpai. Udara di pagi ini terasa semakin sejuk.


Deru nafas Kenan terdengar jelas di telinga gadis itu. bagaimana tidak? Jalanan yang mereka lalui sekarang bukan hanya menanjak tapi berkelak-kelok. Matahari mulai menampakkan sedikit sinarnya. Kini terlihat pemandangan yang sangat asri terpampang jelas di depan mata.


"Nah, sebentar lagi kita akan sampai!" seru Kenan.


Kenan mengayuhkan sepedanya agar cepat sampai ke atas bukit. Beberapa saat kemudian, Kenan menghentikan laju sepedanya dan mengajak Amartha turun.


Kini mereka berdiri diatas bukit, menanti matahari terbit.

__ADS_1


"Wah! sunrise!" teriak Amartha kegirangan melihat sinar matahari yang sangat indah diatas bukit itu.


"Kamu suka?" tanya Kenan.


"Iya, aku suka! cantik banget mataharinya!" ucap Amartha.


"Tapi buat aku lebih cantikan kamu, Sayang."


Amartha hanya tersenyum simpul dengan pipi yang memerah. Kenan tahu gadisnya saat ini tengah tersipu malu. Wajah gadis itu terlihat sangat cantik. Kenan pun menikmati panorama yang sangat indah di depan mata. Beberapa saat mereka menikmati cahaya mentari yang mulai menampakkan diri disertai udara pagi yang sejuk.


Amartha memejamkan matanya, menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Kemudian gadis itu membuka matanya kembali dan melayangkan senyuman kepada lelaki disampingnya. Mata keduanya beradu.


"Makasih ya, Mas?" ucap gadis itu.


"Iya, Sayang."


Kenan mengajak Amartha untuk duduk di hamparan rumput hijau. Kenan membuka satu botol air mineral dan menyodorkannya kepada Amartha.


"Minum dulu, kamu pasti capek," ucap Kenan.


"Kamu lebih capek, Mas!" jawab Amartha diiringi tawa kecil. Gadis itu menerima botol itu dan meneguknya.


Kenan membuka lagi satu botol air mineral untuknya, meneguknya hingga habis. Sementara Amartha terpaku melihat adegan itu. Setelah tandas, Kenan menutup kembali botol plastik itu.


"Kenapa?" Kenan mengerutkan keningnya melihat Amartha yang memandanginya.


"Hah?"


"Kenapa kamu liatin aku kayak gitu banget?" tanya Kenan penuh selidik.


"Eh, siapa juga yang liatin!" Amartha mengelak dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Hahaha, nggak ngaku!" goda Kenan sambil colak-colek bahu Amartha.


"Ish, nyebelin!" Amartha mendengus kesal.


"Hahaha..." Kenan tak mampu memahan tawanya. Ketampanannya seakan bertambah berkali- kali lipat saat lelaki itu tertawa.


"Udah ketawanya?" Amartha masih memasang muka kesalnya. Sedangkan Kenan mencoba menghentikan tawanya.


"Mas, ini sebenernya bukit apa, sih? kok aku baru tau ya ada tempat kayak gini disini?" tanya Amartha sambil memainkan botol minumannya.


"Ini namanya Bukit Bintang, disini kamu bisa liat sunrise dan kalau malam kamu bisa lihat hamparan bintang-bintang di langit,"


"Mas udah sering kesini?"


"Nggak, ini baru pertama kali. Aku tau ini dari temenku yang tinggal nggak jauh dari bukit ini," jelas Kenan.


"Kamu suka?" lanjut lelaki itu.


"Iya aku suka!"


Cup


Kenan mengecup singkat pipi gadis itu. Rona merah terpancar jelas di pipinya membuat Kenan semakin gemas.


"Kita pulang sekarang, yuk?" ajak Kenan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2