Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Menghabiskan Uangmu


__ADS_3

"Halo? Yank? masih di rumah mami?" tanta Satya saat pnaggikan sudah terhubung dengan iatrinya


"Nggak, Mas. Aku lagi di mall," ucap Amartha melihat Sandra sekilas..


"Sendirian?" Satya bertanya lagi.


"Nggak, Mas! nggak sendirian tapi sama mami," ralat Amartha cepat.


"Ada apa, Sat? mami sama Amartha lagi ngeborong tas, kan kata kamu Amartha nggak boleh irit-irit! jadi ini mami kasih tau caranya supaya dia bisa ngabisin duit kamu, baik kan mami, Sat?" Sandra mulai nyerocos.


"I-iya baik, baaaaiiiiikkk banget!" kata Satya, Sandra tertawa. Sandra memberikan ponsel pada Amartha.


"Halo? Mas?" sapa Amartha ia sedikit menjauh dari sang mami yang sudah kembali pada mode nunjuk-nunjuk tas yang ingin dia beli.


"Eh iya, Sayang..." kata Satya kaget.


"Maaf, aku nggak niat beli tas, tapi mami yang..." Amartha menggantung ucapannya


"Nggak apa-apa, Yank ... lagian kamu kan nggak pernah beli barang-barang, dan aku juga udah lama nggak beliin apa-apa buat Mami," jelas Satya, membuat Amartha sedikit lega.


"Ya udah, kalau gitu aku mau bayar dulu ya, Mas?" Amartha sudah di kode mami Sandra.


"Iya, Sayang ... beli apapun yang kamu mau," ucap Satya tersenyum


"Bye..." kata Amartha sebelum pangggilan terhubung itu sudah mati


Satya menghela nafas panjang dan itu tak luput dari perhatian asistennya yang terlihat menahan tawanya.


"Kesambet atau kesurupan kamu, Lan?" ucap Satya kesal, pria itu melihat Firlan yang sedang menahan tawanya.


"Tidak dua-duanya, Tuan!" kata Firlan, berusaha menetralkan tawanya, namun sepertinya Satya sedang menginginkan sesuatu.


"Lan, pesankan bakmi jawa, aku lapar!" kata Satya tiba-tiba, Firlan mengernyit heran.


"Bukannya tadi ada kiriman paket dari nona Ivanka? kenapa dikasih ke Maura semuanya?" tanya Firlan, Satya memang tidak mau menerima paket dari seseorang yang jelas menyukainya.


"Jangan banyak protes, Lan! perut saya sudah sangat lapar," sarkas Satya.


"Sama ice lychee tea ya, Lan! kamu beli juga kalau kamu lapar," lanjut Satya.

__ADS_1


"Karena berantem sama pacar juga butuh tenaga, Lan!" Satya menyindir Firlan yang sepertinya akan ada peperangan dengan kekasihnya.


"Ada lagi, Tuan?" tanya Firlan mencoba untuk tidak peduli dengan ucapan Satya.


"Tidak, cepatlah lambungku sudah ingin cepat diisi," kata Satya tidak sabaran, ia sudah lapar.


Firlan pun memesan makanan yang diinginkan bosnya lewat telepon. Pekerjaan yang tiada habisnya membuat mereka melewatkan makan siangnya. Tak sampai setengah jam, kurir yang mengantarkan makanan pesanan Firlan sudah sampai di lobby. Firlan segera turun untuk membayar pesanannya.


"Pak, Firlan?" tanya orang yang memakai berwarna hijau saat Firlan mendekat.


"Iya benar..." sahut Firlan.


"Ini, Pak pesanannya," pria itu menyerahkan dua box makanan salam sebuah keresek berwarna bening.


"Ini uangnya, terima kasih, Pak..." Firlan menyerahkan sejumlah uang.


"Maaf, uangnya terlalu banyak," ucap ptia itu gugup saat ditangannya ada beberapa uang lembaran seratus ribuan.


"Tidak apa-apa itu untuk Bapak," jawab Firlan sopan.


"Barakallah, Pak Firlan ... terima kasih banyak," ucap kurir itu senang dan ia langsung menundukkan kepalanya sebelum pergi.


Ketika Firlan sudah menerima pesanan makanannya, dan hendak berjalan ke arah lift. Pria itu menangkap sosok yang sudah pasti tidak ingin ditemui Satya.


"Nona Ivanka," gumam Fendy, ia langsung menatap wanita itu yang datang dengan asistennya, Alia.


"Pak Satya ada di ruangannya?" tanya Ivanka dengan lembut, ia basa-basi yang basi sekali.


"Tuan Satya baru saja keluar, bertemu dengan client penting," ucap Firlan berbohong.


"Benarkah?" tanya Ivanka mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang ada di tangan Firlan.


"Lalu, kamu pesan makanan ini untuk siapa? kenapa ada dua?" tanya Ivanka dengan tatapan curiga


"Buat saya, Nona ... saya memang kalau makan dua porsi," Firlan berbohong lagi, Firlan bisa melihat ketertarikan Ivanka terhadap Satya.


"Bukankah anda sedang sakit, Nona?" Firlan balik bertanya, Ivanka terperanjat dengan pertanyaan yang dilontarkan Firlan.


"Baiklah kalau begitu, sampaikan pada bos kamu, kalau besok saya ingin bertemu," Ivanka memilih untuk pergi m.

__ADS_1


"Baik, Nona ... nanti akan saya sampaikan," kata Firlan, pria itu menyembunyikan senyumnya.


"Ayo pergi, Alia..."


Akhirnya Ivanka pergi meninggalkan Firlan yang langsung mengelus dadanya lega.


"Untuuung, dia percaya," guman Firlan saat melihat kepergian Ivanka yang pasti sangat keaal karena gagal bertemu dengan Satya.


Sebelum Firlan menaiki lift, pria itu mendatangi receotionist, dia mengatakan untuk tidak memberi kartu akses kepada siapapun. Semua tamu yang akan naik ke atas, harus seizin dari asisten atau sekretaris Satya.


Firlan segera naik ke atas untuk memberikan pesanan, Satya. Pria itu mengetuk pintu dari luar.


"Masuk!" seru Satya, pemimpin perusahaan itu sedang menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Ini pesannya, Tuan..." kata Firlan seraya menaruh pesanan Satya di atas meja.


"Cepat juga ya?" puji Satya, dan perutnya memang sudah tidak sabar ingin menggiling sesuatu. Satya mulai mengeluarkan box dalam plastik, ia juga mengambil sumpit yang masih terbungkus. Firlan mengambilkan minuman untuk ia taruh di depan bosnya.


"Makanlah, saya hanya mampu makan satu porsi," ucap Satya. Firlan duduk bersebrangan dengan bosnya, lalu ia pun mengambil satu box bagiannya.


"Tadi, saya bertemu dengan Nona Ivanka di lobby," ucap Firlan tiba-tiba. Satya menatap Firlan penuh tanya.


"Saya bilang kalau anda baru saja pergi bertemu dengan client penting," lanjutnya. Satya tersenyum.


"Bagus! saya memang tidak ingin bertemu dengan wanita itu," sahut Satya.


"Saya juga mengatakan di receptionist untuk selalu konfirmasi terlebih dahulu jika ada tamu yang ingin bertemu dengan anda, Tuan..." ujar Firlan. Satya mengangkat ibu jarinya ke arah Firlan setelah ia menyuapkan bakmi ke mulutnya.


Satya berpikir akan sangat sulit menghindari Ivanka karena dia salah satu investor terbesar di perusahaannya.


Sementara di tempat yang pas untuk menghabiskan uang, Amartha dan Sandra sedang berada di toko sepatu. Amartha duduk bersebelahan dengan belanjaannya memborong tas branded yang ia tak tahu akan ia gunakan untuk pergi kemana sedangkan ia jarang pergi ke luar.


"Mami semangat banget kalau urusan belanja," gumam Amartha sambil terkekeh melihat mertuanya sedang mencoba sepatu yang sudah dipastikan harganya bikin sakit mata.


"Kamu sudah pilih, Sayang?" tanya Sandra. Amartha menggeleng, sedari tadi dia hanya duduk melihat mertuanya mencoba beberapa sepatu.


"Atau mau Mami yang pilihkan? mami juga tau selera anak muda seperti kamu," ucap Sabdra, mereka berdua tertawa. Orang-orang tidak akan menyangka jika wanita berbeda usia itu adalah anak dan menantu, mereka lebih terlihat seperti anak dan ibu kandung.


Tiba-tiba ada seseorang mendekati Sandra.

__ADS_1


"Jeng Sandra?" ucap wanita paruh baya itu


...----------------...


__ADS_2