
Kenan terus melajukan mobilnya menuju sebuah kota besar di Jawa Tengah yang masih kental dengan adat istiadatnya. Sementara Amartha kini tertidur setelah lelah menangis sejak keberangkatan mereka tadi.
Kenan pun mulai merasakan lelah setelah menyetir kurang lebih 5 jam perjalanan, pria itu membelokkan mobilnya ke sebuah hotel bintang 5 di kota yang menjadi tujuan mereka.
"Sayang, bangun ... kita udah sampai," kata Kenan seraya mengusap lembut pipi sang istri.
"Ehmmm..." Amartha mulai membuka matanya perlahan, lalu membenarkan posisi duduknya.
"Kita dimana, Mas?" lanjut gadis dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Di depan hotel," sahut Kenan yang membuat Amartha mengerutkan keningnya, Kenan tersenyum melihat istrinya yang malah bingung dengan jawaban yang ia diberikan
"Ayo turun..." ucap Kenan yang membantu Amartha melepas sabuk pengamannya.
Kenan keluar dari mobil dan segera berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Amartha. Kenan mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri keluar dari mobil, Amartha masih mengenakan kebaya putihnya. Kenan segera mengambil koper Amartha, kemudian menggandeng tangan Amartha masuk ke lobby hotel.
Setelah mendapatkan kartu akses, Kenan menggandeng Amartha menuju kotak besi berwarna silver untuk menuju lantai 5.
Ting!
Pintu lift terbuka, Kenan melangkahkan kakinya keluar dari lift, berjalan menyusuri lorong dengan lantai full carpet berwarna coklat tua. Mereka berhenti di kamar 235. Kenan menggunakan kartu aksesnya untuk membuka pintu kamar.
Kenan mempersilakan Amartha masuk terlebih dahulu, ia mengikuti gadis itu lalu menutup pintu.
Amartha mengedarkan matanya melihat setiap sudut ruangan.
"Kamu suka?" tanya Kenan setelah meletakkan koper di samping ranjang king size di kamar itu. Amartha hanya mengangguk dengan ekspresi canggung. Amartha menundukkan kepalanya, malu menatap wajah pria yang menjadi kini menjadi suaminya.
"Kenapa?" Kenan menangkup wajah Amartha, mengarahkan istrinya untuk menatap wajahnya.
Amartha hanya menggelengkan kepalanya dengan mata yang kini mulai berkaca-kaca. Dia tidak tahu dengan perasaannya saat ini. Dibalik kebahagiaannya, ada banyak orang yang terluka.
__ADS_1
Andai aku menerima Satya, hanya aku dan Kenan yang menderita. Andai aku menerima Satya, mungkin keadaan kami tidak begini. Pria itu terlalu baik untuk disakiti.
Kenan membawa Amartha ke dalam pelukannya, dia tahu kejadian hari ini membuat Amartha terluka. Namun, dia pun tak bisa melepaskan gadis yang dicintainya untuk hidup dengan pria lain.
Kenan melonggarkan pelukannya, membuat jarak diantara keduanya. Mendudukkan Amartha di ranjang, gadis itu menunduk. Kenan yang berlutut di depan Amartha, hanya mampu menggenggam tangan istrinya. Pria itu memberi ruang untuk Amartha menuntaskan emosinya. Kenan mengerti Amartha masih menyimpan kecewa terhadap dirinya, terlebih lagi pertemuan terakhir mereka yang tidak sengaja namun memberikan dampak buruk bagi hubungan keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"SIALAN! BANGS*T!" teriak Damar, ketika mendapat telepon dari asistennya bahwa orang suruhan mereka gagal membawa Kenan. Bahkan, info yang membuat dadanya semakin sakit ketika mendengar kabar bahwa anaknya telah menikahi gadis bernama Amartha.
"Arghhhhh!" Damar memegangi dada sebelah kirinya sebelum dia terjatuh di ruang kerjanya.
Pria paruh baya itu ambruk, tergeletak tak sadarkan diri. Berliana yang mendengar ada suara benda jatuh dari arah ruang kerja suaminya pun segera mendatangi ruang kerja Damar. Perasaannya semakin tak karuan saat ia mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari sang empunya ruangan.
Berliana tidak diperbolehkan sembarangan masuk ke dalam ruangan itu tanpa seijin suaminya. Perempuan yang masih cantik di usianya yang sudah menginjak 50 tahun itu nekat membuka pintu. Matanya membulat saat melihat sang suami tergeletak tak berdaya, dengan beberapa dokumen yang jatuh berserakan.
"Ayah!" teriak Berliana histeris, ia lantas segera berlari meraih tubuh Damar.
Sedangkan Sinta sedang mengamuk di kamarnya, berita pernikahannya dengan Kenan sudah tersebar luas. Sedangkan baru saja dia mendapat kabar bahwa ayah Kenan, Damar Brawijaya terkena serangan jantung saat mengetahui bahwa anaknya telah menikahi gadis yang tidak disetujuinya. Dan sekarang Damar sedang di rawat di rumah sakit. Sinta membanting semua benda yang ada di meja riasnya, dia terus berteriak histeris.
"Amartha! Amartha! aku membencimu!" teriak Sinta sembari melempar vas bunga ke arah kaca di meja riasnya.
"TAK BISAKAH KAU TETAP MENJADI GADIS BAYANGAN SEPERTI BIASANYA?! DASAR GADIS, SIALAN!" Sinta kembali berteriak, ia kini menangis sambil terduduk di lantai.
"Arrrrrgh!" tak hentinya gadis itu berteriak, matanya menyiratkan dendam pada seseorang yang sama sekali tidak bersalah dalam hal ini.
"Sin ... Sinta? buka pintunya, Sin ... ini kak Refan!" Refan terus mengetuk pintu kamar Sinta yang terkunci.
"Pergi!" ucap Sinta yang sedang menangis, duduk sambil memeluk lututnya.
"Sin, buka pintunya! kakak mau bicara!" Refan masih saja berusaha membujuk adiknya agar mau membuka pintu. Beberapa kali Refan memanggil adiknya, namun tak ada sahutan dari dalam.
__ADS_1
"Bik, tolong ambilkan kunci duplikat kamar ini!" kata Refan pada bik Sumi.
"Iya Den, sebentar..." jawab bik Sumi yang tak kalah paniknya dengan Refan.
Tak berapa lama bik Sumi datang dengan membawa kunci duplikat, Refan segera meraih kunci itu dan langsung membuka pintu kamar adiknya. Pria itu berlari ke arah Sinta yang sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di kaki Sinta yang mungkin tak sengaja menginjak pecahan kaca. Refan meraih tubuh adiknya dan langsung membawa Sinta ke rumah sakit ubtuk mendapatkan pertolongan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
Amartha belum bicara dengan Kenan sampai saat ini. Sekarang dia berada di dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya dengan guyuran air hangat yang berasal dari shower. Perlakuan Rudy pada Amartha sejak kecil, tak sadar telah membentuk gadis itu menjadi sosok yang tertutup. Gadis itu bahkan tidak tahu apa yang dia inginkan dalam hidup ini, dia hanya menjalaninya sesuai perintah sang ayah. Apa yang boleh dan yang tidak telah ditentukan oleh sang ayah, membuat Amartha semakin kehilangan jati dirinya.
Sudah satu jam, Amartha di dalam kamar mandi dan masih terdengar suara gemericik air, menandakan gadis itu belum menyelesaikan aktivitasnya di dalam sana. Kenan yang menyadari itu, langsung bangkit dari duduknya dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang? kamu masih belum selesai?" tanya Kenan dari luar pintu.
"Amartha?" Kenan kembali memanggil istrinya. Namun tak ada jawaban sama sekali, hanya terdengar suara air dari shower. Kenan berjalan bolak-balik di depan kamar mandi, menimbang dia harus masuk atau tidak.
"Amartha?" untuk yang kesekian kalinya Kenan mengetuk pintu, dengan terpaksa Kenan mencoba memutar handle pintu, dan ternyata tidak terkunci. Dia melihat Amartha pingsan di bawah guyuran shower dengan masih memakai kebayanya. Kenan yang melihat itu sontak mematikan air dan mengambil handuk.
Kenan mau tak mau, melepas kebaya yang menempel di tubuh istrinya, menyisakan bagian yang sangat privacy. Pria itu lalu menggendong Amartha, merebahkan tubuh sang istri diatas ranjang, dia menyelimuti tubuh Amartha dengan selimut, setelah ia melepaskan semua yang menempel di tubuh Amartha, lantas Kenan memaikaikan baju ganti pada istrinya, tentunya dari balik selimut tanpa melihat secara langsung.
Maaf Amartha, aku harus membukanya tanpa seijinmu...
Maaf mungkin pernikahan ini tidak sepenuhnya membuatmu bahagia...
Maafkan aku yang egois, menyeretmu dalam kehidupanku yang sangat rumit ini.
...----------------...
__ADS_1