
4 bulan kemudian...
"Sial, kerjaan bukannya berkurang, malah nambah banyak! pantesan Kak Refan suka pulang telat, bisa gila kalau kayak gini caranya," Sinta menggerutu ditengah yumpulan dokumen-dokumen penting di mejanya.
Berhubung Refan masih menjalani oerawatan di singapur, jadilah Sinta yang menggantikan posisi kakaknya untuk sementara waktu.
Wanita itu kini sedang melepas kacamatanya dan memijit pangkal hidungnya.Tanpa mengetuk pintu seorang pria nyelonong masuk.
"Ehem!" deheman seorang pria membuyarkan lamunannya.
"Itu punya tangan bisa nggak sih digunaik buat ketok pintu dulu kalau mau masuk?" Sinta bicara ketus pada orang yang duduk dengan santainya di kursi menghadap dirinya.
"Kayak kamu biasa ngetok pintu aja," seloroh pria itu, membuat Sinta geram. Wanita itu kembali memakai kacamatanya dan mengambil satu dokumen untuk ia periksa.
"Nggak usah ngajarin kalau kamu aja nggak bisa ngelakuin," lanjut pria itu dengan senyum yang sangat menyebalkan.
"Kalau mau cari ribut mending keluar," Sinta mengusir pria itu dengan ketus.
"Siapa juga yang cari ribut, yang ada aku tuh cari kamu, Sayang!" kata pria itu yang melipat tangannya di dada, seraya menyunggingkan senyumannya.
"Udah deh Fen, nggak usah ganggu! lo tuh kayak nggak ada kerjaan aja!" Sinta melirik sekilas pria yang malah dengan nyamannya duduk di kursi dengan jari diketuk-ketukkan di meja.
"Nggak ada! apa gunanya asisten kalau aku harus lembur setiap hari?" jawaban Fendy membuatnya darah tinggi.
"Nggak kayak kamu. Mau-mau aja diperes otak sama tenaga, udah kayak sapi perah," ucap Fendy menohok.
"Diem atau aku sumpal mulut lo tu pake kertas ini!" Sinta menatap Fendy tajam.
"Nggak mau pakai kertas, pake bibir kamu aja, Sayang!" celetuk Fendy.
"Dih, ogah!" Sinta berdecak kesal.
"Dah sana pergi!" wanita itu mengusir seraya mengibaskan tangannya.
__ADS_1
"Nggak mau! maunya deket-deket kamu aja," Fendy beranjak dari duduknya, kemudian berjalan mendekati kursi kerja Sinta, kemudian memutar kursi itu sehingga menghadap dirinya.
"Tapi gue nggak mau!" jawab Sinta ketus.
"Bukan urusanku," ucap Fendy yang melepas kacamata baca Sinta, dan menaruhnya di saku jasnya.
"Kembaliin nggak?" Sinta mencoba merogoh kantong jas Fendy.
"Nggak!" tolak Fendi.
"Ini udah lewat jam makan siang. Ehm, makan siang, yuk? laper, nih!" lanjut pria itu.
"Heh! kalau makan ya tinggal makan sana, ngapain lapor ke gue? gue bukan nyokap lo!" Wanita itu menatap Fendy dengan tatapan tidak suka, ia menumpangkan satu kakinya diatas kakinya yang lain.
"Hiash, kamu makan cabe kriting berapa kali sehari sih, Sayang? ngamukan mulu, atau lagi dapet? sini aku elus-elus!" Fendy mengelus rambut Sinta namun wanita itu segera menepis tangan pria itu sebelum menyentuhnya.
"Atau mau aku peluk, kamu pasti butuh tatih tayang, kan?" ucap pria itu.
"Kalau pun butuh itu bukan sama lo," Sinta bersidekap melihat Fendy, pria itu lantas membungkukkan tubuhnya ke arah Sinta.
"Oh ya udah, lo juga jangan deketin gue terus, kan gue enek liat muka songong lo itu!" ucap Sinta seraya membuang muka.
Namun tangan Fendi menyentuh wajah wanita yang selalu melayangkan tatapan tidak suka padanya, Fendy mengarahkan wajah itu agar menatap matanya
"Wohoo! kalau kita kan beda, Sayang! kita kan emang pacaran, aku cemburu loh kamu masih suka sama cowok laen," ucap Fendi.
"Lo mending pergi dan tuker tambah otak lo sana!" Sinta menyingkirkan tangan Fendy.
"Deuh calon istri kalau kurang belaian gini nih, merong-merong terus," seloroh Fendy, Sinta memutar bola matanya jengah dengan sikap pria itu.
"Minggir, nggak?" Sinta menyuruh Fendy untuk menyingkir dari hadapannya, wanita itu hendak beranjak dari duduknya.
"Nggak mau, sebelum kamu mau kita makan siang diluar!" ucap Fendy yang langsung menarik tangan Sinta keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Anda mau kemana, Nona?" seru sekretaris yang melihat Sinta berjalan dengan susah payah karena ditarik oleh seorang pria.
"Makan siang dengan calon suaminya! rescedule semua meeting dia hari ini," seru Fendy dengan suara yang lantang, sementara Sinta yang mendengar itu sangat geram.
"Lepas, nggak?" Sinta berusaha melepaskan tautan tangannya dengan pria sedeng itu.
"Atau gue teriak?" ancam Sinta, namun Fendy malah tertawa mendengar itu.
"Teriak aja, aku malah seneng!" kata Fendy yang terus saja menggenggam tangan wanita yang selaku menghindarinya.
"Masuk!" ucap Fendy saat mereka sudah berada di mobil hitam milik pria itu. Mau tidak mau Sinta menuruti Febdy, karena dia memakai high heels dan rok ketat sehingga membuat geraknya terbatas.
"Oh ya, besok-besok lagi jangan pake rok mini kayak gitu lagi. Aku nggak suka!" kata Fendy setelah duduk di bangku kemudinya. Sinta malah buang muka dan tidak menanggapi.
Sementara di waktu yang sama namun berbeda tempat, seorang wanita berjalan ke sebuah gedung pencakar langit. Wanita itu mengenakan dress di bawah lutut berwana soft pink yang membuatnya terlihat manis dengan rambut yang dijepit setengah bagian ke belakang dan membiarkan rambut panjangnya menjuntai menutupi punggungnya. Dia nampak membawa sesuatu di tangannya. Entahlah siang ini mendadak ia ingin sekali bertemu dengan suami tercinta.
Bahkan ia rasanya tak sabar jika harus menunggu jam pulang kantor. Seharian ini sang suami tak mengabarinya, membuatnya tak bisa menahan keinginan ubtuk bertemu. Baru juga berpisah beberapa jam, rasanya sudah sangat rindu. Wanita itu terkekeh sendiri, mungkin efek hormon kehamilan pikirnya.
Wanita itu menaiki lift tanpa perlu akses khusus. Setelah beberapa saat pintu lift pun terbuka, dengan perut yang sudah semakin membuncit, wanita itu berjalan dengan perlahan.
"Selamat siang, Nyonya." sapa Maura sopan pada istri bosnya.
"Hai maura, ini makan siang buat kamu. Oh ya buat Pak Firlan juga ada, tolong kamu nanti kasih ke dia, ya?" wanita itu menyerahkan kantong yang berisi makanan yang ia beli di sebuah restoran di dekat kantor suaminya.
"Terima kasih, Nyonya. Jadi merepotkan." kata Maura merasa tidak enak hati. Dia sering sekali mendapat jatah siang mendadak dari istri bosnya itu.
"Nggak perlu sungkan," Wanita itu segera berjalan meninggalkan Maura yang masih berdiri di tempat.
"Maaf Nyonya, Tuan sedang ada-" ucap Maura menggantung, wanita itu hanya melihat sekretaris suaminya dengan mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa?" tanya istri dari pimpinan perusahaan itu. Belum juga Maura menjawab, wanita muda itu sudah bicara lagi. Membuat sekretaris suaminya itu kicep.
"Suami saya ada didalam, kan?" wanita itu kembali memastikan bahwa suaminya ada di dalam ruangannya. Maura hanya manggut-manggut. Namun sesaat dia akan bicara, wanita itu sudah membuka pintu ruangan suaminya.
__ADS_1
"Mas?" matanya menangkap sosok suaminya sedang duduk di sofa dengan seorang wanita dengan pakaian yang sangat menggoda iman dan imin.
...----------------...