
Sementara bayi mungil itu sedang dibersihkan dan diperiksa kesehatannya oleh dokter spesialis anak, dokter Vallerie sekarang tinggal menjahit sesuatu yang sempat robek saat proses persalinan tadi.
Vira yang disuruh Satya untuk menemani Amatha pun akhirnya melihat keadaan sahabatnya yang terkulai lemas tak berdaya.
"Selamat ya, Ta? welcome di dunia per ibu-ibuan," ucap Vira seraya menggenggam tangan sahabatnya dan menepuknya perlahan.
Amartha terkekeh mendengar ucapan selamat dari mulut Vira.
"Makasih, Vira..." ucap Amartha lemas. Vira duduk di kursi samping ranjang Amartha.
.
.
Setelah mengadzani anaknya, Satya pun keluar dari ruangan untuk menghubungi orangtuanya. Ia duduk disamping Firlan.
"Mam?" ucap Satya saat panggilannya sudah tersambung pada mami Sandra.
"Assalamualaikuuuum," seru Sandra.
"Waalaikumsalam, Mam..." Satya terkekeh.
"Ada apa? tumben telfon mami? biasanya lupa,"
"Ih, Mami kok gitu sih, Mam! Satya bukannya lupa, tapi lagi banyak kerjaan. Maaf ya, Mam?" jelas Satya.
"Iya iya, ada apa telfon mami?"
"Satya cuma mau ngabarin, kalau anakku udah lahir, Mam..."
"Ma-maksudnya Amartha udah lahiran? yabg jelas kalau ngomong, Sat. Beneran Amartha udah lahiran?" tanya Sandra.
"Iya, Mam udah. Nih nanti Satya kirim foto dedek bayinya," jawab Satya.
"Sini sini papi mau ngomong sama Satya!" suara Abiseka terdengar semakin dekat.
"Pih! Papiiiiiih, cucu kita udah lahir, Piiiiiiiiih..." suara Sandra naik 1 oktaf. Satya menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Astaga, tuh kan. Mami heboh sendiri," gumam Satya.
"Sat? bener cucu papi udah lahir? yang bener kamu, Sat? dosa bohongin orangtua, kualat!" cecar Abiseka yang sepertinya merebut ponsel dari tangan istrinya.
"Beneran, Pap! masa bohongan?"
"Sini, Pih! mami mau ngomong sama si Sableng itu!" Sandra meminta kembali ponselnya.
__ADS_1
"Bocah sableng! kenapa baru ngabarin mami sekarang? aturan waktu Amartha mules-mules kamu segera telfon mami. Biar mami bisa mendapingi dia, kasihan orangtuanya kan di luar kota. Kamu itu kebangetan banget, masa nggak kepikiran buat telfon mami, hah? jarak rumah mami sama rumah kamu tuh nggak jauh, Satya! masa kamu nggak bisa nyuruh Damian atau Sasa buat ngasih tahu mami! eiiiiiits, tunggu tunggu, mami curiga kalau jangan-jangan kamu belum ngabarin mertua kamu," tuduh mami Sandra.
"Hehehhe, ya gimana? aku juga dikasih kabar Damian, Amartha kesini dibawa pasangan gesrek Firlan sama Vira. Aku panik, Mam! lagian kalau mami disini, yang ada mami ikut tereak, ikutan heboh. Yang ada ganggu konsentrasi dokternya,"
"Astaga, papi punya anak kok gini banget, sih!" keluh Sandra pada suaminya yang berada dekat dengan wanita itu.
"Panik, Mam..." Satya beralasan.
"Pokoknya cepat kabarin pak Rudy," titah Sandra.
"Iya, Mam nanti..."
"Nggak usah pakai nanti nanti, sekarang teleponnya!" Sandra tegas.
"Iya, Mamiiiii, tutup telfonnya dulu ya? assalamualaikum!" kata Satya seraya menutup panggilan teleponnya.
Firlan hanya bisa menahan senyumnya ketika menebak bosnya habis dimarahi oleh orangtuanya.
"Apa liat-liat...!" kata Satya menatap Firlan yang cengar-cengir menatap dirinya.
Satya segera menghubungi mertuanya yang berada di luar kota. Ia menjelaskan bahwa Amartha telah melahirkan seorang putri. Rudy dan Rosa senang bukan kepalang. Mereka langsung bersiap-siap untuk menengok anak dan cucunya yang masih berada di rumah sakit.
Tak lama, Vira keluar dari ruang rawat Amartha.
"Kok kamu udah keluar?" tanya Satya.
"Sudah sore, kalian sebaiknya pulang. Firlan tolong kamu antar Vira," perintah Satya pada Firlan.
"Kalau begitu kami pamit, Tuan..." ucap Firlan. Pria itu undur diri dari bosnya sedangkan Vira berjalan di belakang Firlan.
Vira sengaja memperlambat jalannya, sebenarnya ia tak ingin pulang bersama pria itu.
Vira memikirkan cara supaya tidak perlu pulang bersama pria itu. Firlan dengan sengaja berhenti, membuat Vira yang tak konsentrasi menabrak punggung Firlan.
"Aawh!" pekik Vira.
"Kalau jalan bisa nggak, nggak pake ngelamun?" kata Firlan.
Namun Vira tak menjawab, wanita itu melanjutkan langkahnya begitu saja. Vira mengambil kesempatan untuk berjalan beberapa langkah meninggalkan Firlan.
Akhirnya, Sandra dan Abiseka datang. Satya sedang duduk membungkuk di depan sebuah ruangan sambil menyangga keningnya dengan tangannya.
"Sat?" ucap Abiseka menyentuh pundak anaknya.
"Papi?" pekik Satya. Pria itu langsung menoleh dan segera bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Selamat, akhirnya kamu menjadi seorang ayah!" Abiseka memeluk anaknya, ia meneouk punggung Satya beberapa kali.
"Terima kasih, Pap!" kara Satya sambil menjarak tubuh mereka.
"Selamat, Sat! tanggung jawabmu bertambah satu lagi, membimbing istri dan mendidik anakmu. Menyayangi dan mencintai dia dengan sepenuh hati. Lihat betapa istrimu berjuang atas hidup dan matinya untuk membawa anakmu melihat duni, jangan sakiti dia. Jangan pernah, karena kamu tak akan pernah bisa membayangkan rasa sakit yang telah dilaluinya," kata Sandra seraya memeluk anaknya dengan erat.
"Iya terima kasih, Mam. Doakan semoga Satya bisa menjadi suami yang baik untuk Amartha dan ayah yang baik untuk putri kecil kami," kata Satya.
"Kenapa kamu di luar?" Sandra melepaskan pelukannya.
"Amartha sedang tidur, mungkin karena kelelahan setelah mengeluarkan tenaga ekstra. Sedangkan anakku ada di box bayi. Sedang dihangatkan," ucap Satya.
"Mami masuk aja, Mam!" ucap Satya seraya membukakan sebuah pintu untuk Sandra.
"Papi mau ikut Mami?" tanya Sandra.
"Sat, papi mau lihat cucu papi dulu, ya?" kata Abiseka.
"Iya, Pap!"
Abiseka dan Sandra melangkah masuk ke sebuah ruangan. Beberapa perawat menunduk hormat saat melihat siapa yang datang.
"Dimana cucu saya?" tanya Sandra.
"Ada disana, Nyonya. Mari saya antar," ucap salah satu perawat.
Sandra mengikuti perawat itu berjalan ke sebuah ruangan bayi khusus yang ada di ruangan itu. Tidak ada bayi lain, hanya ada bayi milik Amartha. Karena memang ruangan ini dirancang untuk sang pemilik rumah sakit.
"Lihat, Pap? cantik sekali cucu kita, Pap! hidungnya mirip sama Satya ya, Pap?" ucap Sabdra setengah berbisik melihat bayi yang ada di dalam box tembus pandang.
"Iya, Mam! cantik sekali cucuku, aku yakin dia akan menjadi wanita yang hebat," ucap Abiseka. Mereka berdua memandang bayi perempuan dengan wajah imut dengan kulit putih kemerahan.
"Sekarang kita lihat keadaan Amartha, Pih..." ucap yang juga ingin melihat keadaan menantunya.
Sandra dan Abiseka perlahan meninggalkan ruangan bayi yang bersebelahan dengan ruang persalinan Amartha. Sepasang suami istri itu mendekat pada tempat tidur Amartha, wanita itu nampak sangat pucat. Matanya terpejam, ia masih tertidur setelah beberapa jam melawan rasa sakit dan mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk melahirkan buah cintanya ke dunia.
"Amartha masih tidur, dia pasti sangat kelelahan," kata Sandra lirih. Ia tak mau menantunya terganggu. Karema ia paham betul bagaimana rasanya diposisi itu.
"Sebaiknya kita keluar, biarkan Amartha istirahat," ucap Abiseka pada Sandra.
Setelah memastikan menantu dan cucunya dalam keadaan yang baik, orangtua Satya pun akhirnya memilih keluar dengan langkah yang hati-hati. Mereka kembali menemui Satya.
"Sat?" panggil Sandra.
"Eh, Mam! udah liat? gimana? cantik kan cucu mami?" tanya Satya.
__ADS_1
"Ets, dia juga cucu papi, bukan cuma cucu mami! jangan salah kamu, Sat!" serobot Abiseka.
...----------------...