
Beberapa sahabat dan kerabat satu persatu meninggalkan kediaman Ganendra dengan membawa souvenir buket bunga yang terbuat dari uang. bukan ingin pamer tapi lebih tepatnya Sandra ingin cucunya kelak dapat mendapat rezeki yang berlimpah juga. Onti Prisha yang sedang mendapat tamu bulanannya, tidak bisa berlama-lama menyapa semua orang yang datang. Perutnya sedang tidak kondusif untuk saat ini, dia keluar pada saat prosesi adat dan foto-foto, setelah itu dia langsung ngibrit ke kamarnya.
Amartha dan Satya beranjak dari kursinya berbatengan dengan datangnya seorang wanita yang membuat Amartha gedeg bukan main. Siapa lagi kalau bukan Ivanka, yang katanya rekan kerja, investor, apalah itu yang jelas dimata Amartha wanita itu tak ubahnya wanita ular.
"Selamat, Pak … Oh, ya ini buat calon anak Pak Satya, semoga anda berkenan," ucap Ivanka menya-menye membuat Amartha ingin menabok mulut wanita itu. Ia mengelus perutnya seraya mengucap istighfar dalam batinnya, semoga setan itu segera enyah dari hadapannya.
Krik krik, Amartha dan Satya saling pandang. Pria itu mengendikkan bahunya, tanda ia tak tahu kenapa bisa Ivanka datang ke rumahnya. Ivanka yang menyadari bahwa dirinya telah memercikkan api prahara rumah tangga antara Satya dan istrinya pun mengangkat salah satu sudut bibirnya. dia masih anteng berdiri memandang kedua suami istri yang tak menyudahi aksi tatap menatapnya.
"Ehem," Ivanka berdehem, memecahkan keheningan diantara ketiganya.
"Maaf, saya terkejut mengapa anda bisa datang kemari karena acara ini hanya untuk keluarga dan kerabat dekat. kami tidak mengundang relasi atau rekan kerja," kata Satya datar.
"Oh, begitu … Tapi saya tau acara ini dari asisten anda, ngomong-ngomong kaki saya pegel," ucap Ivanka, dia duduk tanpa dipersilakan terlebih dahulu. Amartha menatap Ivanka dengan sorot mata yang tajam.
"Ada tamu, Sat?" tanya Abiseka tiba-tiba. Ayah dari Satya itu tiba- tiba muncul dari arah dalam.
"Siang, Om … Om masih ingat saya?" ucap Ivanka ramah, Ivanka segera berdiri.
"Saya Ivanka Barsha putri dari Adam Barsha," Ivanka mengulurkan tangannya pada Abiseka.
"Ah, pantas saja, saya tidak asing dengan wajahmu, terakhir bertemu kau masih sangat kecil, ayo mari silakan duduk," ucap Abiseka yang mempersilakan Ivanka untuk duduk. Namun Satya dan Amartha masih berdiri.
"Bagaimana kabar Adam? setahuku dia menetap di Swiss," tanya papi Satya, mata Ivanka sesekali melirik ke arah sepasang suami istri itu terutama Amartha.
"Beberapa tahun terakhir ini Papa lebih sering di Indonesia,Om … Dan perusahaan kami sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan Om," ucap Ivanka.
"Apakah itu benar, Sat?" tanya Abiseka pada anaknya.
"Nona Ivanka ini menjadi salah satu investor di perusahaan kita, Pap…" jawab Satya.
"Pak Satya juga sudah pernah bertemu papa. Om juga dapat salam dari papa, kapan waktu papa ingin bertemu," ucap Ivanka, saat itu juga Amartha muak melihat gelagat Ivanka, ia terus mengelus perutnya, sambil batinnya mengucap kata amit-amit, ogah banget anaknya mirip Ivanka baik secara fisik maupun kelakuan.
"Wah, kok kamu nggak bilang sama papi, Sat?" tanya Abiseka.
__ADS_1
"Lupa, Pap…" sahut Satya.
"Mas, perut aku kram, aku mau ke atas," ucap Amartha yang sudah pegal karena sedari tadi berdiri.
"Aku antar," kata Satya.
"Kebetulan papi ada disini, Satya mau ke atas, Amartha sepertinya kelelahan. Satya tinggal ya, Pap…" ucap Satya pada Abiseka.
"Istirahatlah, kamu pasti lelah," ucap Abiseka.
Satya mengajak Amartha pergi meninggalkan Ivanka dan Abiseka, pria itu mengajak istrinya untuk masuk ke dalam. Sesampainya di kamar Amartha diam saja tak mau bicara padanya.
Sementara di tempat lain, Fendy membelokkan mobilnya di sebuah resto. Baru saja Fendy akan melepaskan seat belt-nya, tiba-tiba Sinta bersuara.
"Kenapa?" tanya Sinta.
"Kenapa apanya? kenapa ke resto ini maksudnya?" Fendy melempar pertanyaan pada Sinta.
"Ya karena udah laper banget!" lanjutnya.
"Ya terus apaan?" tanya Fendy bingung, ia menoleh pada Sinta.
"Kenapa kamu kembali masuk dalam kehidupanku yang rumit ini?" tanya Sinta yang membuat Fendy sedikit terkejut.
"Haishh, karena apa ya?" Fendy mengetukkan jari di dagunya, mencoba berpikir.
"Yang memang harusnya begitu kan?" kata pria itu.
"Itu bukan jawaban," Sinta kesal dengan apa yang diucapkan Fendy, Sinta hanya penasaran mengapa pria itu tiba-tiba muncul kembali di kehidupannya, setelah sekian lama menghilang dari peradaban dunia.
"Ya terus jawaban seperti apa yang kamu inginkan?" Fendy menghela nafasnya.
"Yang jelas aku nggak suka aja pacarku malah ngejar-ngejar cowok lain, bagaimanapun kita masih pacaran bahkan sampai detik ini, kita tidak pernah mengatakan putus," kata Fendy.
__ADS_1
"Kita nggak pacaran beneran, harus berapa kali aku mengulang kata-kata itu?" kata Sinta ketus lagi. Fendy geleng-geleng kepala, dalam waktu sekejap Sinta kembali pada mode garangnya
"Itu kan kata kamu, aku tidak pernah pura-pura dengan perasaanku, dari dulu sampai sekarang," kata Fendy.
"Lagipula kamu sudah lama menghilang, lalu nggak ada angin nggak ada hujan kamu muncul ketika aku akan…" ucapan Sinta terpotong oleh perkataan Fendy.
"Udah ya, jangan bahas cowok lain, hati aku langsung cekit-cekit kayak ditusuk peniti tau, nggak?" Fendy mengusap dadanya.
"Udah, ah laper nih. Kita lanjut ngobrolnya di dalem ajah," kata Fendy memegangi perutnya, Sinta segera melepas seat belt yang membelit tubuhnya.
Tanpa sengaja ia melihat seseorang yang sangat familiar untuknya.
"Kak Refan?" pekik Sinta. ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sinta langsung membuka pintu mobil, wanita itu lantas berlari mengejar pria yang baru saja melintas di depan mobil Fendy. Sinta terus saja melihat ke sekeliling, mencari orang tersebut dan memastikan penglihatannya tidak salah.
"Hhhhh, hhh.." nafas Sinta nan saat ia berhenti mengejar pria itu, Sinta menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.
"Nggak mungkin aku salah lihat, itu beneran kak Refan, bukannyabdia ada di singapur? atau itu hanya orang yang kebetulan mirip dengan kakak?" Amartha bermonolog dalam dirinya.
Fendy yang melihat Sinta langsung berlari pun segera mengejar wanita yang telah ia klaim sebagai kekasihnya.
"Ada apa, Sin?" tanya Fendy, ia menegakkan tubuh Sinta. ia menangkup wajah Sinta.
"Kamu liat apa tadi? aku kaget loh kamu main kabur aja kayak gitu," ucap Fendy lagi.
Sinta memegang tangan Fendy yang masing nemplok wajahnya.
"Aku lihat kak Refan, aku lihat dia, tadi dia ada disini…" ucap Sinta.
"Mana mungkin? Refan kan sedang ada di singapur, masa iya kamu lihat dia disini? kamu terlalu lelah, kamu butuh istirahat," kata Fendy, Sinta menggeleng.
"Kamu nggak percaya? beneran aku liat tadi," tegas Sinta.
__ADS_1
...----------------...