Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kemah Dadakan, Sengsara Bersama


__ADS_3

Amartha berbalik badan, berjalan dan langsung menutup pintu. Vira hanya bisa mematung di tempatnya. Namun, sesaat pintu kembali terbuka.


"Eh!" pekik Vira kaget saat badannya terhuyung ke depan karena tangannya ditarik oleh Amartha masuk ke dalam villa.


"Aku masih marah sama kamu," ucap Amartha yang berjalan meninggalkan Vira di ruang tamu.


Esih yang baru saja mengantarkan batagor dan cuanki ke rumah Akbar pun terheran karena melihat ada banyak mobil yang terparkir di depan Villa.


Esih pun berjalan mendekat, dan terlihat beberapa orang pria berjas berdiri di pelataran. Wanita itu menangkap dua sosok yang saling berdiri di depan pintu, mengetuk daun pintu berwarna coklat.


"Sayang, aku masuk, ya?" seru Satya.


"Amartha? kalau kamu nggak mau pulang sama suami kamu, kamu bisa pulang sama aku!" Kenan setengah berteriak.


"Sayang, aku masuk ke dalam, ya?" ucap Satya tak kalah kerasnya.


"Permisi, Tuan?" ucap Esih saat sudah berada di belakang kedua pria itu.


Satya maupun Kenan langsung memutar tubuhnya, melihat siapa yang ada di belakang mereka.


"Maaf, Tuan ingin bertemu dengan siapa?" tanya Esih.


"Amartha," jawab Satya.


"Saya Satya suaminya," lanjut Satya.


"Anda siapa?" tanya Kenan.


"Saya Esih, saya yang biasa bantu-bantu disini," jawab Esih.


"Tolong beritahu Amartha kalau saya ingin bertemu," serobot Satya, Kenan yang tadinya sudah ingin bicara mendadak mengatupkan bibirnya lagi, pria itu mendesis kesal.


"Sebentar, saya panggilkan dulu. Permisi," kata Esih. Satya dan Kenan pun langsung bergeser memberi wanita itu akses masuk.


Sembari menunggu Satya memilih untuk duduk di kursi yang ada di teras Villa, Kenan pun mengikuti apa yang dilakukan Satya. Karena lumayan pegal juga terlalu lama berdiri di depan pintu.


Sementara Esih yang baru saja masuk kaget dengan penampakan seorang wanita cantik dengan rambut pendek di atas bahu tersenyum ke arahnya.


"Saha ieu teh?" gumam Esih saat melihat Vira yang berdiri duduk di kursi di ruang tamu.


Vira pun bingung karena ditatap oleh seorang wanita.

__ADS_1


"Punten, Eneng tamunya Neng Tata?" tanya Esih.


"Tata? Amartha? hu'uh, iya saya temannya Amartha," jawab Vira seraya tersenyum.


"Kalau begitu saya buatkan teh dulu di belakang, Neng..." ucap Esih yang kemudian meninggalkan Vira sendirian di ruang tamu.


Vira menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, dia bingung bagaimana harus membujuk Amartha. Bagaimana bisa membujuk, orang dia aja ikut disebelin sama Amartha.


Esih mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum pergi ke dapur.


"Neng?" seru Esih.


"Masuk aja, Teh..." sahut Amartha dari dalam kamar.


Esih membuka pintu perlahan dan masuk menghampiri Amartha yang sedang duduk di tepi ranjangnya.


"Neng, di luar ada suami Eneng, terus ada laki-laki satu lagi saya nggak paham namanya siapa. Mau ketemu Eneng katanya," kata Esih.


"Saya nggak mau ketemu, Teh. Suruh mereka pulang, dan bilang nggak usah balik lagi kesini," ucap Amartha yang menahan tangisnya.


"Kalau perempuan yang ada di ruang tamu bagaimana, Neng?" tanya Esih.


"Dia teman saya namanya Vira. Tolong anterin dia ke kamar satunya, Teh. Dia pasti capek habis perjalanan jauh, siapin juga buat makan malam karena dia pasti kelaperan, dia makannya banyak jadi masak agak banyakan ya, Teh?" kata Amartha.


Amartha menangis, dia rindu dengan Satya namun dia juga kesal dan kecewa diwaktu yang bersamaan. Amartha tak bisa mengerti apa yang dirasakannya saat ini. Dia begitu marah bahkan dengan Vira yang hanya menumpang di mobil suaminya.


Sementara Esih berjalan menuju dapur untuk merebus air. Ia membuatkan teh untuk tamu Amartha, Esih pun mengeluarkan kue kering yang tersimpan di toples berwarna bening.


Setelah teh sudah diseduh dan diberi gula secukupnya, Esih pun keluar membawa minuman dan kue diatas nampan.


"Silakan, Neng..." ucap Esih setelah menaruh secangkir teh dan toples di atas meja.


"Makasih, Mbak!" kata Vira.


"Panggil saja teh Esih, Neng..." ucap Esih.


"Oke, Teh..." ucap Vira sambil tersenyum ramah.


Sesaat kemudian Esih menepuk jidatnya, sepertinya dia melupakan sesuatu yang penting.


"Astagfirllah, saya lupa! sebentar ya, Neng ... saya mau ke depan dulu," ucap Esih yang langsung membuka pintu. Dan benar saja, langit yang sudah mulai gelap. Namun, dua pria tadi masih menunggu seseorang yang tak kunjung menemuinya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Neng tadi Amartha berpesan, lebih baik anda pulang dan tidak perlu datang lagi kesini," ucap Esih.


Satya dan Kenan pun langsung beranjak dari duduknya.


"Tolong katakan sama istri saya, kalau saya akan menunggu disini sampai dia mau menemui saya," kata Satya.


"Kamu pulang saja, biar Amartha aku yang membujuknya," ucap Kenan.


"Dia istriku, mana mungkin aku membiarkan dia satu atap denganmu," ucap Satya yang sudah bisa membaca rencana Kenan.


"Tapi dia tidak mau bertemu dengan kamu, Sat! mungkin jika kamu pulang, Amartha ingin menemuiku, orang yang tidak dia benci untuk saat ini," kata Kenan.


Sedangkan Esih pusing mendengar perdebatan kedua laki-laki yang seperti anak kecil itu.


.


.


Akhirnya mereka berdua menggelar sebuah tenda di depan villa. Yang repot tentu saja Firlan yang ikut sengsara harus berdiam di dalam tenda bersama bosnya.


Bukan hanya Satya yang menginap di dalam tenda, tapi Kenan juga melakukan hal yang sama. Petang tadi Satya menyuruh Firlan untuk membeli perlengkapan berkemah, sedangkan Kenan menyuruh para pengawalnya untuk membeli tenda beserta bahan makanan karena perutnya sudah sangat lapar.


"Bos? sampai kapan kita main kemah-kemahan begini? mana udara dingin, astaga tulangku seperti membeku," ucap Firlan seraya duduk di depan kompor elektrik yang sedang digunakan untuk merebus air.


"Saya nggak mungkin membiarkan dia berkeliaran disini," ucap Satya menunjuk Kenan dengan dagunya. Pria itu sedang menikmati ramen isntant dan melihat ke arah Satya dengan menaikkan satu alisnya. Kenan meniupkan udara dari mulutnya sebelum memasukkan mie ke dalam mulutnya dengan sumpit.


"Aish, menyebalkan sekali orang itu," gumam Satya.


"Lan? kamu masak air berapa abad? lama banget! apa kamu tidak lihat air itu sudah mendidih," ucap Satya seraya menunjuk sebuah ceret yang mengeluarkan asap putih.


"Sabar, sabar..." Firlan hanya bisa mengelus dadanya.


Firlan lalu menyeduh kopi ke dalam papper cup, tak lupa ia menambahkan creamer dan gula.


"Kopi anda, Tuan!" Firlan menyodorkan kopi panas pada Satya.


"Tolong ambilkan sesuatu yang bisa dimakan," ucap Satya ambigu.


"Rumput mau, Tuan?" tanya Firlan usil.


"Saya manusia bukan kambing, Firlan! tadi kan kamu sudah saya suruh beli makanan ringan, biskuit atau apapun yang penting makanan manusia," Satya ngegas. Firlan terkekeh, berhasil membuat bosnya kesal.

__ADS_1


Sementara, Amartha mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu.


...----------------...


__ADS_2