
"Mah? mama mau buka toko apa gimana? banyak banget nih sembako," ucap Amartha saat melihat ruang tamu nya dipenuhi barang-barang seperti beras, minyak, telur, susu, dan masih banyak lagi. Terlihat pelayan di rumahnya berikut Damian juga membantu Rosa untuk menata barang-barang itu.
"Mau dibagiin," ucap Rosa singkat.
"Loh, kamu emang udah sembuh? kok udah jalan kesini? mana Satya?" Rosa mencecar Amartha dengan pertanyaan.
"Lagi mandi," jawab Amartha.
"Aku bantu ya, Mah..." ucap Amartha, namun Rosa segera mencegah bumil itu.
"Nggak usah, kamu duduk aja di Sofa. Ini juga bentar lagi selese," ucap Rosa sambil mengecek bahan mentah lainnya yang masing-masing sudah dimasukkan ke dalam kardus.
"Banyak banget, buat siapa aja? ini mah kayak buat satu kampung," tanya Amartha karena kalau Amartha tidak salah hitung lebih dari 200 paket yang sudah tertata rapi. Belum lagi yang belum dimasukkan ke dalam kardus, dan beberapa barang datang lagi dari arah luar.
"Ini dari Satya, emang dia belum kasih tau kamu? mama juga taunya semalam, kok. Ada banyak barang yang masuk ke rumah. Satya bilang dia mau bagi-bagi paket sembako buat semua orang tanpa terkecuali, dia juga nyelipin uang di dalem paket ini. Mama nggak tau berapa tapi kayaknya 1 jutaan ada kali dalam satu amplop ini," ucap Rosa sambil memasukkan sebuah amplop ke dalam kardus yang sudah diisi berbagai macam kebutuhan pokok.
"Hah? nggak, dia belum cerita..." kata Amartha.
"Semalem aku mau cerita tapi kamu udah tidur, aku baru ngeliyep eh kamu udah mandi dan shalat duluan," ucap Satya yang tiba-tiba muncul.
"Ya orang kamu dibanguninnya susah banget, Mas!" ucap Amartha.
"Iya, soalnya aku baru tidur jam 4 pagi. Ini ngatur barang-barang yang dateng semalem," ucap Satya.
"Udah dateng lagi barangnya, Dam?" tanya Satya pada Damian yang sedang memasukkan beberapa barang ke dalam kardus.
"Belum, Tuan..." ucap Damian. Satya mengangguk paham.
"Jadi, aku ingin sedikit berbagi Yank dengan warga kampung disini," jelas Satya.
"Semalam aku ngerepotin orang rumah untuk masukin uang ke dalam amplop, dan bikin mama papa juga ikut kebangun gara-gara kita yang berisik padahal udah lewat dari jam 12 malem," ujar Satya.
"Masih banyak, Mah? mama istirahat aja, Mah ... biar aku yang lanjutin," ucap Satya.
"Oh, aku seneng kamu punya ide kayak gini, Mas! oh ya, papa dimana? kok daritadi aku nggak liat papa?" tanya Amartha.
"Papa lagi duduk diluar, ngecekin daftar orang-orang yang udah nerima paket," ucap Rosa.
Rosa segera bangkit dan duduk di samping Amartha. Dan Satya menggantikan posisi Rosa dudul di bawah dengan memasukkan uang yang terbungkus amplop putih ke dalam kardus.
"Oh jadi udah ada yang dibagi?" tanya Amartha.
__ADS_1
"Udah, udah banyak yang dianter ke rumah warga," kata Rosa.
"Syukurlah, pasti mereka seneng dapat paket ini," ucap Amartha.
"Mas, aku laper. Sarapan, yuk?" ajak Amartha pada Satya.
"Kamu duluan aja, Yank ... aku nyelesein ini dulu. Kalau udah selese aku nyusul ke dalem," kata Satya.
"Temenin ke dalem yuk, Mah? mama belum sarapan, kan?" tanya Amartha.
"Udah sama papa, tapi nggak apa-apa. Mama temenin kamu makan," jawab Rosa.
"Aku duluan ya, Mas?" ucap Amartha.
"Iya, Sayang..." kata Satya, mereka yang ada di ruangan itu pun tidak tahan melihat keuwuan suami istri itu.
Tak lama Amartha datang membawa piring yang berisi makanan ke ruang tamu. Sesangkan Rosa membantu membawakan botol minuman dan toples berisi keripik tempe.
"Loh, kok makannya dibawa kesini?" tanya Satya.
"Masa aku makan sendirian sedangkan kamu kelaperan?" ucap Amartha yang perlahan duduk lesehan di samping suaminya.
"Hati-hati, Sayang..." ucap Satya.
"Mama mau lihat papa dulu di depan," lanjut wanita paruh baya itu.
"Makan bareng, ya?" ucap Amartha seraua menyendokkan nasi berserta lauk dan mulai menyuapkan suapan pertama untuk suaminya.
Satya segera membuka mulutnya dan menerima suapan itu.
"Kamu juga makan," ucap Satya yang melakukan hal yang sama pada istrinya.
"Ya Allah, jiwa jombloku meronta-ronta, Mbaaak!" ucap Nuri meremas tangan Ida.
"Makanya cari pasangan, itu mas Damian masih jomblo juga, sok atuh dideketin katanya kamu suka?" celetuk Ida.
"Ya Allah, Mbak Idaaaaa! jangan dijeplakin juga, runtuh sudah harga dirikuu.." ucap Nuri yang membekap mulut Ida agar tak banyak bicara.
Sementara Amartha dan Satya tak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Damian merah menahan malu.
"Dam? udah dikasih kode, tuh!" seloroh Satya.
__ADS_1
"Sa-saya ke depan dulu, Tuan ... permisi," ucap Damian yang dengan segera beranjak dari tempat duduknya. Namun baru berjalan dua langkah, Satya memanggilnya lagi.
"Dam?" seru Satya.
"Ya, Tuan..." sahut Damian seraya berbalik.
"Tuh kecap mau buat makan sate apa gimana?" Satya menunjuk tangan Damian yang menggenggam botol kecap.
"Astaga! kenapa botolnya ngikut saya!" kata Damian seraya meletakkan botol kecap yang lumayan besar itu ke dalam kardus.
"P-permisi, Tuan..." ucap Damian gugup dan segera pergi.
Dan mereka yang ada di ruangan itu pun tertawa melihat tingkah Damian. Amartha dan Satya pun melanjutkan sarapannya, mereka saling menyuapi sampai makanan itu habis.
"Minum dulu, Mas..." ucap Amartha menyodorkan botol minum pada Satya.
"Makasih," ucap Satya sambil mengedipkan satu matanya pada istrinya. Sedangkan Nuri menarik-narik baju Ida melihat romantisnya anak majikan mereka.
"Astaga Nuri!" kata Ida pada Nuri, ia melepaskan tangan Nuri dari bajunya.
"Begini nih kalau menjomblo kelamaan..." celetuk Ida.
"Ya ampun Mbak Ida, kau bongkar semua aibku..." ucap Nuri.
"Kalian ini ada-ada saja," kata Amartha, ia tak bisa menahan tawanya. Satya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar para wanita yang tengah berbincang itu.
Daripada mendengarkan ocehan Amartha dengan para pelayan yang sudah selesai memasukkan barang ke dalam kardus, Satya pun memilih melanjutkan lagi memasukkan amplop ke dalam paketan yang akan diberikan pada para warga sekitar. Setelah semua selesai Satya mengajak Amartha ke teras depan.
"Ke depan, yuk?" ajak Satya.
"Nggak mau ah, mau duduk di taman belakang aja, liat yang seger-seger..." ucap Amartha.
mb
Keduanya melangkah menuju taman belakang, tanah yang cukup luas yang menampilkan kebun mini milik Rosa yang tertata rapi dan juga ada tanah lapang yang ditumbuhi rumput.
"Tanahnya luas banget ya, Mas? ini rencananya buat apa sih?"
"Nggak tau, Yank ... ini permintaan mama soalnya, dia pengen ada tanah lapang yang cuma ditumbuhi rumput ... aku menyuruh orang yang khusus menangani ini," jelas Satya.
"Kalau bikin tenda disini enak kali ya, Mas?" ucap Amartha saat duduk di kursi taman.
__ADS_1
"Boleh, nanti malam kita pasang tenda," ucap Satya.
...----------------...