
"Kok bau melati, Bang?" tanya Prisha.
"Nggak ada, jangan ngarang!" ucap Satya.
"Ya Allah, Mbak ... punya suami kok galak bener," Prisha nyinyirin abangnya.
"Mungkin efek kelaperan, Sha..." jawab Amartha.
"Itu mah bukan efek kelaperan tapi kesetanan," celetuk Prisha, Amartha hanya menahan tawanya
"Ini kita mau kemana, sih?" tanya Prisha.
"Yang jelas ke tempat yang bisa bikin kenyang," jawab Satya.
"Kok jauh banget, mau ke restoran cepat saji?" tanya Prisha lagi.
"Berisik, Mon! lagian biasanya juga kamu pergi sendiri sama temen-temen kamu," ucap Satya yang kini memutar stirnya ke arah kiri.
"Ya nggak kenapa-napa pengen ngikut aja, emang nggak boleh?" tanya Prisha.
"Kalau aku sih nggak boleh, kamu ganggu soalnya ... tapi karena istriku yang cantik ini yang ngajak, ya udah apa boleh buat..." ucap Satya seraya melirik ke arah istrinya.
Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya Satya menghentikan mobilnya di sebuah kedai lamongan. Warung tenda namun terlihat sangat bersih dan tertata rapi.
"Ini tempatnya?" tanya Amartha.
"Iya, sini aku bantu..." jawab Satya seraya membuka seat belt istrinya.
"Kita makan pecel lele?" tanya Prisha.
"Bukan! tapi spagetti..." celetuk Satya.
"Itu tulisan segede gaban masih nanya aja," lanjut Satya.
"Ya kirain kan kita mau makan di resto gitu, tau gini kan aku cukup pake kaos sama jeans..." gerutu Prisha.
Satya segera berjalan memutar, membuka pintu mobil untuk istrinya.
"Hati-hati, Sayang..." ucap Satya seraya membantu istrinya untuk turun dari mobil.
"Makasih, Mas..."
Mereka bertiga masuk ke dalam warung tenda yang terlalu modern jika dibandingkan dengan warung tenda pinggir jalan lainnya. Dari mulai semua barang-barang yang ada di warung itu semua bukan barang-barang yang lumrah di dapat di pasar. Timbul kecurigaan di hati Amartha.
"Pesan apa, Yank?" tanya Satya pada Amartha yang masih melihat daftar menu.
"Lele sama ayam," ucap Amartha.
"Kalau kamu, Mon?" tanya Satya.
__ADS_1
"Bebek goreng, nasinya dua porsi," jawab Prisha.
"Elah itu lagi cacingan apa gimana sih kamu, Mon?" seloroh Satya.
"Oh, ya aku tambah es jeruk..." ucap Amartha.
"Aku juga mau es jeruk!" kata Prisha.
"Sambelnya yang banyak!" lanjut Prisha.
Satya menyebutkan pesanannya pada salah seorang pelayan yang menghampiri meja mereka.
"Ini yang punya nggak tekor apa, ya?" tiba-tiba Amartha bersuara, sambil melihat suasana warung.
"Kenapa, Yank?" tanya Satya, ia menautkan kedua alis tebalnya.
"Semua barangnya bukan kaleng-kaleng, modal gede nih warung," kata Amartha.
"Sendok aja di bungkusin begini, nih nggak ada dimana-mana juga warung pecel lele ada sendok yang kayak gini," ucap Amartha yang menunjuk sebuah sendok beserta grapu serta tissue yang terbungkus dalam plastik.
"Ya yang punya pengen higienis..." jawab Satya yang memainkan tissue di tangannya
"Kayak kamu," celetuk Amartha, Satya hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Aku nggak pernah makan di pinggir jalan jadi aku nggak bisa komentar," kata Prisha.
Tak berapa lama pesanan mereka pun datang, aroma gurihnyanya ayam, bebek dan lele sudah mengundang rasa lapar di perut ketiganya.
"Punya kamu, Mon!" ucap Satya yang menggeser bebek goreng ke arah Prisha.
"Thanks," ucap Prisha seraya membuka bungkus sedotan lalu menyeruput es jeruk yang terasa segar di tenggorokan.
"Aku cuci tangan dulu," kata Amartha yang dususul Prisha dan tinggalah Satya yang jaga meja. Setelah kedua wanita itu kembali barulah Satya pergi untuk mencuci tangannya di wastafel yang terletak tak jauh dari tempatnya.
"Kalian makan pakai tangan?" tanya Prisha. Dia nanya tapi pikirannya mengawang entah kemana.
"Ya iyalah masa pakai kaki? nggak sopan," celetuk Satya sambil mencuil daging ayam lalu mencoleknya pada sambel. Prisha sedari tadi bingung apa yang harus ia lakukan. Akhirnya ia membuka sendok dan garpu yang masih terbungkus. Otaknya sedang blank.
"Sha? kamu nggak bisa makan nasi pakai tangan?" tanya Amartha setelah menelan makanannya.
"Bisa," kata Prisha irit.
"Oh, iya yah? kan tadi aku udah cuci tangan, aihh kenapa malah buka sendok," ucap Prisha.
"Ya iyalah susah lah itu makan bebek pake sendok!" kata Satya.
"Mon, liat sini! ini berapa, Mon?" tanya Satya mengangkat telunjuk dan jari tengahnya membuat huruf V.
"Lima!" jawab Prisha ngasal.
__ADS_1
"Fix udah mensle otak kamu, Mon!" Satya geleng-geleng kelapa, eh kepala.
Amartha tampak sangat menikmati makananya, begitu juga dengan Prisha yang terlalu doyan dan makan seperti orang yang tidak makan selama seminggu. Satya yang menyuapkan suapan terakhir ke mulutnya pun akhirnya tidak tahan untuk tidak mengomentari adiknya.
"Mon, eling Mon! makan pelan-pelan," ucap Satya.
"Bang pesenin ayam goreng satu lagi, dong!" kata Prisha yang mengangkat satu jari telunjuknya.
"Kamu lagi kesurupan apa gimana, sih? perasaan kamu tuh paling nggak bisa makan banyak, kamu lagi kenapa?" tanya Satya, Amartha hanya menoleh pada Prisha yang kebetulan duduk di sampingnya.
"Nggak apa-apa," ucap Prisha yang menyeruput es jeruknya, dia mengusap mulutnya dengan tisu lalu lanjut menyuwir daging bebek goreng yang tinggal sedikit.
"Liat abang, Sha..." ucap Satya tiba-tiba.
"Kamu lagi kenapa? kamu kepala kamu kebentur apa tadi pagi?" tanya Satya. Prisha hanya menggeleng, Satya melihat adiknya menunduk menyembunyikan wajahnya sementara mulutnya terus saja makan.
Satya menghela nafasnya, ia melihat ke arah istrinya. Amartha mengendikkan bahunya, ia juga tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada adik iparnya itu.
"Ya udah ... abang pesenin ayam satu lagi," ucap Satya, ia segera bangkit untuk mencuci tangannya. Kemudian ia memesan satu ayam goreng dan satu es jeruk buat ngademin kepala Prisha.
Setelah memesan menu tambahan, Satya kembali duduk di kursinya semula.
"Bener kata Mas. Makanan disini enak banget, aku jadi pengen bungkus," ucap Amartha.
"Boleh, nanti aku pesen lagi..." ucap Satya tersenyum sambil matanya melirik pada adiknya.
Tak lama pesanan kedua pun datang, Satya menaruh ayam goreng beserta sambal dan lalapannya di depan Prisha.
"Mon, ayamnya ... awas kepatok!" celetuk Satya.
"Apaan, sih? nggak lucu tau! mana ada ayam goreng bisa matok?" sahut Prisha.
"Mas, aku mau cuci tangan dulu," ucap Amartha seraya bangkit dari duduknya.
"Iya, mau aku anter?" tanya Satya hendak berdiri, Amartha menggelengkan kepalanya. Satya pun akhirnya duduk kembali dan hanya melihat istrinya pergi menjauh.
"Mas!" seru Satya memanggil seorang pelayan. Kemudian ia menyebutkan pesanannya untuk dibawa pulang.
Selesai membasuh tangannya dengan air, Amartha kembali duduk di kursi berhadapan dengan suaminya. Sementara Prisha masih memamah biak makanannya. Sesekali mulutnya menyedot air jeruk yang dingin.
"Mon..." panggil Satya, Amartha melotot padanya.
"Prisha..." Satya meralat panggilannya.
"Prisha? cerita sama abang, sebenarnya kamu kenapa? walaupun abang bukan pendengar yang baik, tapi seenggaknya kamu nggak pendam semuanya sendiri," ucap Satya. Amartha mengelus punggung Prisha.
"Pacarku mutusin akuuuuuuuuuuu!" seru Prisha. Amartha dan Satya mengelus dadanya kaget karena tiba-tiba gadis itu bersuara.
...----------------...
__ADS_1