Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Istriku dalam Bahaya!


__ADS_3

Tiba-tiba dia melihat seseorang yang mirip dengan orang yang dia kenal. Amartha mengikuti kemana orang itu pergi setelah membuang bunga ke tempat sampah yang besar, yang ada di satu ruang kecil tak jauh dari unitnya, yang memang sengaja sebagai tempat menaruh alat kebersihan dan tempat sampah besar.


Di tempat yang berbeda, Satya yang sedang meeting dengan beberapa investor pun merasakan ada hal yang mengganjal di hatinya. Entah mengapa semenjak meninggalkan istrinya di apartemen, hatinya begitu gelisah, bahkan bayangan istrinya yang tersenyum padanya selalu terngiang di pikirannya.


Firlan melihat bosnya terlihat sangat gelisah.


"Apa anda sedang tidak sehat, Tuan?" tanya Firlan setengah berbisik.


"Sepertinya begitu," jawab Satya yang menormalkan kembali raut wajahnya.


Firlan segera mengakhiri presentasinya, sepertinya para investor itu sangat puas dan berniat untuk menginvestasikan uang dalam jumlah yang sangat banyak, mengingat perusahaan dibawah naungan Ganendra Group semuanya melejit mengusai pangsa pasar.


Setelah meeting selesai, Satya langsung kembali ke ruangannya, ia mencoba menelepon istrinya. Namun panggilan itu tidak diangkat, beberapa kali Satya menghubungi istrinya namun wanita itu tak kunjung menjawab.


"Ada apa, Tuan? apa terjadi sesuatu?" tanya Firlan yang melihat Satya mondar-mandir wajah yang sangat khawatir.


"Amartha tidak mengangkat telfonku, tidak biasanya dia mengabaikan telfon dariku," jawab Satya yang berulangkali men-dial nomor Amartha yang semula aktif, mendadak nomor itu tak bisa dihubungi.


"Firlan, aku harus pulang sekarang, kita bisa melanjutkannya besok!"


Firlan yang biasanya ngajak ribut, melihat Satya yang sedang kacau tidak tega untuk membiarkan bosnya itu pulang sendirian. Dia tidak tahu, apa yang membuat Satya sangat gelisah hanya karena perkara telepon tidak diangkat.


Firlan memacu mobil milik Satya dengan kecepatan sedang, sementara Satya terus menghubungi ponsel dan telfon rumah, namun sayangnya tak juga mendapat sahutan, hanya suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.


Satya terus saja menghubungi nomor tersebut walaupun berulangkali suara operatorlah yang terdengar.

__ADS_1


Begitu sampai di apartemennya, dia langsung memasuki lift dengan langkah yang tergesa-gesa, ia menekan nomor sandi untuk membuka unitnya. Satya mengernyit heran karena suasa apartemen begitu sepi. Firlan pun mengikuti bosnya masuk ke dalam, namun matanya memicing saat melihat sebuah kartu ucapan yang tergeletak didepan pintu masuk.


"Kamu Wanitaku, Breath florist?" Firlan membaca tulisan yang ada di dalam kartu.


"Breath Florist?" gumam Firlan sambil ia mencari alamat toko bunga lewat search engine yang ada di ponselnya.


"Amartha? Sayang? Sayang, kamu dimana?" Satya terus saja memanggil nama istrinya, ia mencari ke semua sudut rumah, namun hasilnya nihil. Ia pun langsung menemui Firlan yang kebetulan baru masuk dan akan mencari keberadaan bosnya.


Satya langsung mengecek cctv yang ada di depan unitnya yang tersambung ke ponsel pintar miliknya. Mencari clue kemana perginya Amartha. Dia melihat istrinya menerima kiriman bunga, setelah itu dia berjalan menuju lift. Firlan menelepon Vira memastikan apakah Amartha ada bersama kekasihnya atau tidak, namun Vira menjawab bahwa dia sedang bertugas di rumah sakit.


"Nona sedang tidak bersama Vira," ucap Firlan setelah mematikan sambungan teleponnya dengan wanita yang kini sudah menjadi kekasihnya. Namun beberapa saat Firlan menerima sebuah chat di ponselnya, lalu raut wajah yang semula tegang kini berubah menjadi lebih tenang dan satu sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas.


"Lacak GPS di ponselnya," titah Satya yang kini duduk di sofa, beberapa kali membuang nafasnya kasar. Firlan kemudian menelepon seseorang untuk melacak keberadaan Amartha.


"Tuan, posisi Nona sekarang ada di dermaga," ucap Firlan memperlihatkan posisi terakhir Amartha.


"Saya tidak tau, Tuan," ucap Firlan mengendikkan bahunya yang membuat Satya menatap asistennya nyalang.


"Kita pergi sekarang!" perintah Satya.


Firlan memacu mobilnya dengan Satya yang biasanya duduk di belakang, kini duduk di kursi penumpang disamping kemudi.


"Kamu bisa nyetir nggak, sih?" tanya Satya yang sudah uring-uringan, ngalah-ngalahin orang mau lahiran.


"Ini saya sedang menyetir, Tuan..." ucap Firlan yang tetap memandang ke depan.

__ADS_1


Langit sudah berubah menjadi jingga, jadi wajar situasi jalanan sangat ramai. Semua orang sepertinya berebut untuk segera sampai di tujuannya, termasuk pria yang rambutnya sudah acak-acakan di sebelah Firlan itu.


"Aku bahkan tidak tau apa yang dilakukan istriku, sekarang sudah hampir gelap, dan dia ditempat seperti itu! dia tidak pernah pergi tanpa izin," ucap Satya yang sangat khawatir dengan keadaan istrinya.


"Anda lebih baik tenang dulu, Tuan ... karena kita bisa membahayakan nyawa kita atau orang lain yang sedang melintas," ucap Firlan seraya melirik ke arah bosnya, yang menatap sang asisten dengan tatapan tidak suka.


"Bisa saja nyawa istriku yang sedang dalam bahaya!" Satya meninggikan suaranya.


"Sini, biar saya yang bawa mobil ini! cepat minggir!" Satya menyuruh Firlan untuk menepikan mobilnya agar dia bisa menggantikan posisi pria yang sedang menginjak pedal gas.


"Ini saya sudah tambah kecepatan, Tuan! saya harap anda duduk dengan tenang, karena anda mengganggu konsentrasi saya menyetir," ucap Firlan yang kemudian menambah kecepatannya, namun tak mengurangi rasa gelisah yang dirasakan Satya.


"Kecuali jika anda ingin kita menabrak semua mobil yang ada di disana," ucap Firlan menunjuk mobil-mobil yang sedang melaju di depannya.


Satya benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya. Dia tidak akan tenang sebelum bertemu dengan Amartha dan memastikan keadaannya baik- baik saja.


"Apakah ada hubungannya dengan pengirim bunga itu? di rekaman cctv, Amartha masih menerima bunga itu, itu berarti selama ini dia masih menerima bunga-bunga itu?" gumam Satya dalam hatinya, kemudian ia memutar rekaman cctv beberapa hari yang lalu, dan benar kurir yang sama datang untuk mengirim bunga ke unitnya.


Satya mengerang frustasi, saat dia benar-benar telah lengah, beberapa kali dia mengumpat di dalam mobil. Satya yang merasa ada beberapa kejanggalan yang terjadi, sejak bulan madu di pulau Moyo sampai kiriman bunga dari seseorang yang belum diketahui pengirimnya, membuat dia takut jika keberadaan istrinya saat ini ada kaitannya dengan beberapa kejadian yang mereka alami.


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di dermaga sesuai titik yang sesuai dengan lokasi ponsel Amartha saat ini. Satya menelepon nomor istrinya kembali, sambungan berdering. Timbul secercah harapan pada hati Satya untuk segera menemukan istrinya.


Firlan menaruh jari telunjuknya didepan mulut, memberi kode bahwa Satya untuk tidak bersuara dan berjalan mendekati sebuah kapal pribadi berwarna putih.


Satya mendekati kapal itu dan mendengar suara ponsel istrinya berdering, ia masuk ke dalam kapal itu, dan...

__ADS_1


"Amarthaaaaa!" teriak Satya saat melihat satu sosok wanita.


...----------------...


__ADS_2