
Rosa sedang menggendong Evren dalam dekapannya. Sandra yang melihatnya pun ingin menggendong cucu nya juga. Alhasil Evren dioper pada Sandra dan sekarang wanita itu sedang mengajak cucunya bicara.
"Evren, Evren ... cantik," ucap Sandra. Abiseka yang baru saja datang pun menginginkan hal yang sama. Ingin merasakan menggendong cucu sendiri.
"Mam! papi juga pengen gendong cucu papi," kata Abiseka.
"Astaga, mami juga baru megang Evren dua menit ini," ucap Sandra.
"Gantian, Mam! Evren pasti juga ingin dekat dengan opa nya," ucap Abiseka.
Sedangkan Satya hanya bisa geleng-geleng kepala. Melihat anaknya dioper sana sini, semua ingin menggendong. Amartha hanya terkekeh melihat tingkah orangtua dan juga mertuanya.
Tak lama ponsel Amartha berdering. Amartha meminta suaminya untuk mengambilkan ponselnya yang ada di meja samping Satya.
Pria itu melihat siapa yang menghubungi istrinya. Ternyata itu panggilan video.
"Halo," Satya sengaja mengangkatnya dan membuat semua wajahnya yang terlihat di layar.
"Astaga! makhluk apa ini?" pekik wanita itu.
"Sembarangan aja nih monster kecil kalau ngomong!" gerutu Satya.
"Hahahahhaha, Eh, mbak Amartha mana? kok yang muncul makhluk tak kasat mata?"
"Ah eh ah eh, manggilnya yang bener napa!" ucap Satya kesal.
"Ya allah, tolong! yang baru jadi ayah sensi amat! Abang ... mbak Amartha mana? nanakan aku juga mana?" tanya wanita itu.
"Siapa, Mas?" tanya Amartha.
"Prisha. Nih...!" Satya memberikan ponsel pada istrinya.
"Halo, Sha!" Amartha melambaikan tangannya pada Prisha, adik iparnya.
"Selaaamat mbaaaakku taaaayang! gimana gimana? sakit aja apa sakit banget?" Prisha mencecar kakak iparnya dengan pertanyaan.
"Ya gitu lah, Sha! nanti juga kamu ngerasain gimana sakitnya ngeluarin bayi," ucap Amartha sambil tertawa melihat wajah Prisha.
"Nggak bisa bayangin! eh, aku pengen liat nanakan aku dong! mana dia? kok rame banget kayaknya disana? pasti ada mami, deh!" kata Prisha nyerocos.
"Iya, ada mami sama papi juga. Lagi pada gendong baby," jawab Amartha.
"Bentar," Amartha menjeda obrolannya dengan Prisha.
"Mas? Prisha pengen lihat Evren!" ucap Amartha pada Satya.
"Evren?" Prisha menautkan kedua alisnya.
"Namanya Evren, Sha. Ini sama mas Satya dulu, ya? aku mau ke toilet!" ucap Amartha yang menyerahkan ponselnya pada Satya.
"Udah kamu liat wajah abang aja yang ganteng ini!" kata Satya seraya bergeser mendekat pada papinya yang sedang menggendong bayi mungil itu.
"Dih! malesin banget! mana mana, Evren nta mana?" Prisha mulai heboh.
"Kasih salam dulu sama papa Rudy dan Mama Rosa!" ucap Satya pada Prisha. Satya mebgarahkan layar ponsel itu pada Rosa dan Rudy yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Prisha dengan suara nyaring.
"Waalaikumsalam," jawab Rosa.
"Waalaikumsalam," sambung Rudy.
"Nah, kalau ini bayi cantik ini hasil karya aku sama Amartha..." ucap Satya menunjukkan wajah bayinya yang kemudian tertidur dalam gendongan opa nya
"Evreeeennn! nanakan onti tantiiikkk..." kata Prisha menirukan suara anak kecil.
"Sha? kapan pulang? kalau cuma video call mana seru!" ucap Abiseka.
"Hahahah, iya Pap! lagi padat jadwal kuliah," jawab Prisha.
"Halah! padet padet apaan dia posting jalan mulu sama bule kok, Pap!" ujar Satya.
"Heh, mana ada! ngarang banget nih orang!" Prisha tak terima.
"Kuliah yang bener, Prisha! jangan banyak keluyuran!" seru Sandra. Layar kini mengarah pada wajah Sandra yang sedang menowel nowel pipi Evren.
"Iya, Mam! ih, nanakan aku lucu bingit! uh, pengen banget tium tium dia," ucap Prisha.
"Ya udah, Prisha mau siap-siap. Ada kelas sebentar lagi. Dadaaaah semuaaaa!" ucap Prisha seraya melambaikan tangannya pada layar.
.
.
Menjelang makan siang, Rudy dan Rosa pamit untuk istirahat di rumah Satya dan Amartha. Sedangkan Sandra juga pamit karena ia akan ikut suaminya ke kantor. Hari ini Abiseka ingin mengumumkan kelahiran cucu pertamanya sekaligus memberikan para karyawan bonus, agar semua orang bisa merasakan suka cita yang sekarang ia rasakan.
"Wah, sekarang milikku sudah berpindah menjadi milik Evren!" kata Satya seraya memeluk istrinya dari belakang.
Amartha yang melahirkan dengan normal, sudah bisa berjalan walaupun belum begitu leluasa.
"Apaan sih kamu, Mas! bikin malu aja," kata Amartha yang berdiri di depan box bayinya.
"Malu kenapa coba? oh ya, apa jahitannya masih sakit, hem?" tanya Satya.
"Bukan sakit, tapi kurang nyaman aja," kata Amartha.
"Seperti sedang memakai celana yang super sempit..." lanjut Amartha.
"Lihat cantik sekali, dia sangat mirip denganmu..." kata Satya.
Ketika ia sedang bermesraan dengan istrinya, terdengar suara pintu yang diketuk.
Satya melepaskan pelukannya dan melangkah menuju pintu. Sedangkan Amartha kembali merebahkan dirinya ke atas ranjang dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut berwarna putih.
Satya membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
"Aku, aku..." ucap seorang wanita.
"Kami ingin menjenguk Amartha," seorang pria melanjutkan ucapan wanitanya yang terputus.
"Silakan," ucap Satya, ia menggeser tubuhnya dan mempersilakan mereka untuk masuk.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap sang pria yang menggandeng tangan wanitanya.
"Hai, Amartha..." sapa pria itu.
"Selamat, ya?" lanjut pria itu sembari mengajak wanitanya untuk mendekat ke sisi ranjang Amartha. Begitu juga Satya yang berdiri di seberang kedua pasangan itu.
"Sinta? kak Fendy?" pekik Amartha.
"Kalian?" Amartha memicingkan matanya kala melihat tangan Sinta dan Fendy saling bertautan.
Sinta kemudian melepaskan genggaman tangan itu. Ia mendekat pada sahabatnya.
"Selamat, ya?" Sinta memeluk Amartha sekilas.
"Ini dari aku dan Fendy," ucap Sinta seraya menyerahkan sebuah paper bag kecil yang di dalamnya ada sebuah kotak.
"Aku buka, ya?" ucap Amartha. Sinta pun mengangguk.
Amartha mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya.
"Perhiasan?" cicit Amartha yabg melihat satu set perhiasan untuk anak kecil.
"Apakah ini nggak terlalu berlebihan?" tanya Amartha yang melihat kilauan dari liontin pada kalung berwarna putih.
"Aku nggak begitu ngerti baju bayi dan sejenisnya. Jadi aku hanya bisa memberikan ini, dan semoga putrimu suka," ucap Sinta.
"Terima kasih, Sinta. Kak Fendy..." ucap Amartha yang menutup kembali kotak itu.
"Sebenarnya aku menghubungimu untuk memberikan undangan pernikahan kami," ucap Sinta.
"Kalian? menikah? wah, selamat ya? selamat! kapan itu?" tanya Amartha.
"Minggu depan," jawab Fendy.
Terlihat wajah Amartha yang bimbang, karena tidak mungkin ia menghadiri pesta pernikahan Sinta sementara dirinya masih menjalani masa nifas.
"Aku ngerti, kok! nggak usah sedih gitu. Kamu kan habis melahirkan, aku minta doanya aja supaya semuanya berjalan lancar," kata Sinta.
"Iya, maaf ya? mungkin aku nggak bisa datang,. Ah, aku jadi merasa nggam enak!" ucap Amartha.
"It's okay, Amartha!" ucap Fendy seraya tersenyum. Satya yang melihat Fendy tersenyum manis pada istrinya pun mendadak tenggorokannya kering.
"Ehemmm!" Satya berdehem.
"Dasar cemburuan!" gumam Fendy dalam hati.
"Ta? aku pengen lihat bayi kamu, boleh?" tanya Sinta.
"Tentu boleh! itu, dia ada di baby box itu," Amartha menunjuk tempat Evren tidur.
Sinta mendekat dengan canggung. Ia melihat bayi mungil sedang tidur sangat nyenyak.
"Hai, cantik..." ucap Sinta.
...----------------...
__ADS_1