
Matahari menyelinap dari balik tirai, seorang wanita mulai mengerjapkan matanya, mengumpulkan sedikit demi sedikit kesadaran. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Awwhhh ... pusing!" lirih wanita itu dengan suara paraunya.
Sesaat kemudian wanita itu terlonjak kaget saat mendapati ada tangan melingkar diperutnya.
Dia mulai panik, nafasnya mulai tak beraturan, dia tidak tahu siapa orang yang sedang memeluknya seperti guling. Dengan segenap keberanian, wanita itu mulai memindahkan tangan pria itu, dan beringsut turun dari ranjang.
Dia menghela nafas lega saat mendapati dirinya masih berpakaian utuh, sama seperti pakaian yang ia pakai saat ke club, itu artinya tidak terjadi apapun semalam.
"Sin? kamu sudah bangun?" sebuah suara mengangetkan dirinya.
Seketika Sinta menoleh ke arah belakangnya, dan matanya membelalak saat yang ia lihat adalah Fendy, mantan kekasih sewaktu SMA, oke ralat lebih tepatnya pacar sewaan, pacar bohongan dan sejenisnya lah.
"Fendy?" Sinta memekik, ia tidak percaya dengan sosok yang ditangkap oleh indra penglihatannya saat ini.
Mata Sinta membulat sempurna saat dia melihat banyak bekas lipstik di wajah dan b*bir Fendy, ia segera mengusap bibirnya memastikan lipstik itu sama atau tidak dengan miliknya. Dan sialnya, warna lipstik itu sama dengan warna bibirnya saat ini.
"Kenapa?" tanya Pria itu yang bingung dengan sikap Sinta yang tiba-tiba berdiri. Pria yang bernama Fendi itu menyingkap selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Pria itu mengenakan celana pendek dan kaos santai.
"Jangan mendekat," kata Sinta.
"Kamu kenapa, Sin?" pria itu tak mengerti dengan sikap Sinta saat ini.
"Tetap ditempatmu, ja-jangan mendekat," ucap wanita itu yang sedikit mundur kebelakang.
"Hey, kamu kenapa, hah?" tanya Fendy mengerutkan keningnya
"Wajahmu," lirih Sinta, yang masih bisa didengar oleh Fendy.
"Kenapa dengan wajahku?" Fendy menyentuh wajahnya, tidak ada yang berdarah, semalam sepertinya tidak ada pukulan yang mengenai wajahnya. Untuk memastikannya, dia beringsut dari ranjang empuknya dan berdiri.
"Stop," seru Sinta, namun tak dihiraukan oleh Fendy.
"Kamu aneh-aneh aja, Sin!" ucap pria itu saat melewati tubuh Sinta.
__ADS_1
Pria itu melenggang ke kamar mandi dan tak lupa menutup pintunya.
"Oh, jadi kamu terkejut karena ini?" seru Fendy dari dalam kamar mandi, sedangkan Sinta masih terpaku ditempatnya.
"Ini kamu yang bikin, Sin ... masa kamu nggak inget?" ucap pria itu lagi
"Nggak mungkin!" gumam Sinta meyakinkan dirinya, bahwa dia tidak mungkin melakukan itu, merasa tidak mendapat tanggapan dari Sinta, Fendy pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar.
"Kamu nggak inget malam panjang yang kita lalui semalem?" bisik pria itu ketika melewati Sinta.
"Ngaco!"
"Dih, kok ngaco, Sih?" ucap Fendy seraya duduk sofa single di sudut kamarnya.
"Kamu bahkan maksa aku buat ngelakuin lebih dari itu, Sin ... masih nggak inget juga? tangan kamu udah kemana-mana, nggak mau diem, huufffh ... aku lagi ganti baju di kamar mandi aja, kamu udah blingsatan di tempat tidur, makanya aku peluk kamu, biar kamu nggak ngelakuin yang aneh-aneh, ya walaupun sebagai lelaki aku tersiksa dengan semua kelakuanmu itu, tapi tenang aja aku bukan tipe pria yang sukan mencari kesempatan dan kesempitan, kok!" jelas pria itu panjang lebar.
"Kenapa aku bisa sama kamu? bukannya semalem, Mas Kenan yang-" Sinta tak jadi melanjutkan ucapannya, sesaat dia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam, dia sekilas mengingat ada pria yang menolongnya.
"Semalam ada yang nolongin aku, iya ... aarrrhhh kenapa aku nggak bisa inget, sih! bego, bego, bego!" gumamnya yang membuat Fendy memicingkan matanya.
"Jadi, kamu yang nyelametin aku?" ucap Sinta ragu.
"Tapi muka kamu nggak ada bekas berantem-berantemnya, atau jangan-jangan kamu sekongkolan sama orang-orang itu, ya kan? ngaku deh!" bukannya mengucapkan terima kasih, Sinta malah menuduh Fendy bersekongkol dengan pria-pria yang dibuatnya terkapar.
"Dih, itu mulut sadis banget! bukannya terima kasih malah nuduh sembarang, tau gitu aku tinggalin kamu disana, biar kamu jadi makanan mereka," kata Fendy yang melipat tangannya didepan dada.
Pria itu lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kamar, ia melangkahkan kakinya menuju pantry.
Sinta merasa Fendy marah dengan ucapannya barusan, lalu ia pun segera mengikuti Fendy yang tengah menyeduh kopi. Sepertinya sikapnya sudah sangat keterlaluan. Sinta mengikuti kemana pria itu berjalan. Tercium aroma kopi yang memenuhi ruangan, Fendy membawa secangkir kopi yang masih mengeluarkan asap putihnya.
"Ehm, Fen..." Sinta lalu berdiri disamping Fendy.
"gue, ehm maksudnya, aku..." belum juga Sinta menyelesaikan ucapannya, Fendy langsung memotong ucapan Sinta.
"Pintu disebelah sana, kalau mau pulang taksi didepan banyak," ucap pria itu datar.
__ADS_1
"Fen..." lirih Sinta yang masih berdiri pria yang sedang menyesap kopinya, tanpa menatapnya sedikitpun.
"Apa lagi?" kata pria itu yang baru saja meletakkan cangkirnya.
"Maaf..." ucap Sinta yang membuat Fendy menatap wanita yang sedang meremas jari jemarinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, aku hari ini mau ke bandung, mungkin pulangnya malem," kata Satya yang kemudian menarik kursi didepan calon istrinya. Sementara Amartha mulai menyendokkan nasi goreng diatas piring milik pria yang sudah rapi dengan setelan jasnya.
"Pulang malem atau nggk juga nggak ngaruh deh, Bang! iya kan, Mbak? kan abang pulangnya ke apartemen bukan kesini, kata mami abang nggak boleh nginep di rumah selagi mami belum pulang!" Prisha nyerocos membuat Satya dongkol.
"Astagfirllah, monster kecil nyamber aja! abang heran, mami bisa ngelahirin anak modelan kamu, Sha!" sarkas Satya saat mendengar ucapan dari adik semata wayangnya itu.
"Aku juga heran kenapa mami punya anak macam abang!" Prisha tak mau kalah.
"Dasar bocah tengik!" Satya mendengus kesal mendengar adiknya yang sudah bisa membalas perkataannya.
"Dih, marah-marah mulu, ntar cepet tua! mbak kenapa mau sih, pacaran sama tuh orang? mumpung belom nikah, cari yang laen aja, Mbak ... daripada Mbak tersiksa batinnya tiap hari," celetuk Prisha yang otomatis mendapat pelototan dari Satya, mulut adiknya itu ingin dia sumpal dengan sandal.
"Ishhh, Dasar kutu badak!" Satya meledek adiknya.
"Stop! mending kalian berantemnya dalam hati aja gimana? nasi gorengnya keburu dingin, nggak enak..." Amartha mencoba menengahi perdebatan dua kakak beradik itu.
"Lagian kamu tuh udah dewasa, Mas ... nggak malu sama umur?" lanjut wanita itu.
"Dih, aku kan calon suami kamu, Yank ... kok kamu malah belain dia, sih?" Satya mencebikkan bibirnya, membuat Amartha menepuk jidatnya.
"Baru juga calon," Prisha tiba-tiba nyeletuk
"Prishaaaaaa!!!!" teriak Satya, membuat Prisha menutup telinganya.
...----------------...
hari ke 4 yes,,, aku crazy up... sehari lbih dari 2000 kata, kriting gaaaeeeessss ngebul jg nih otak
__ADS_1