Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Suara Siapa?


__ADS_3

"Mas?" Amartha memanggil suaminya, sedangkan air mata sudah memupuk di sudut matanya. Amartha mencoba menahan tangis yang hampir pecah.


"Ha-halo? Mas?" Amartha memanggil suaminya lagi. Amartha berpaling dari Vira, dia tidak ingin Vira mendengar percakapannya, namun tetap saja wanita itu dapat mendengar apa yang diucapkan Amartha.


"Aaaawhhh," seorang wanita memekik.


"Iya, Sayang..." ucap Satya dengan suara parau.


"Ka-kamu lagi dimana, Mas? kamu lagi sama siapa, Mas? hah?" Amartha mencecar Satya dengan pertanyaan. Bulir bening lolos dari kedua matanya.


"Aaaaaa," teriak seorang wanita.


"Kamu dimana, Mas? jawab!" Amartha berbisik dengan penuh penekanan.


"Nanti aku telfon lagi," ucap Satya yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Kenapa, Ta?" tanya Vira. Amartha segera menyeka air matanya.


"Nggak kenapa-napa, Vira..." ucap Amartha, menoleh memasang senyum palsunya.


"Kamu tau nggak? dari dulu kamu itu payah kalau dalam hal berbohong, tau nggak? kenapa?" tanya Vira yang mengusap punggung Amartha. Wanita hamil itu langsung menangis meraung. Vira belum pernah melihat Amartha menangis sampai sesenggukan seperti ini.


"Tenang dulu, Ta..." ucap Vira seraya memberikan beberapa lembar tissue pada Amartha. Wanita itu masih menangis, Vira jadi garuk-garuk kepala bingung harus berbuat apa.


Mendengar suara majikannya yang menangis, Bik Surti dan Sasa mengintip dari dapur, dan bertanya ada Vira ada apa dengan majikannya. Vira yang melihat Bik Surti yang memberikan kode pertanyaan seperti sedang bermain kuis tebak-tebakan itu pun menjawab bahwa mereka tidak perlu cemas, dia akan mengatasinya, tentunya dengan gerakan bibir tanpa suara dan gerakan tangan. Bik Surti dan Sasa saling pandang, mencoba menerka apa yang diucapkan teman majikannya itu.


Vira yang mengerti bahwa Bik Surti dan Sasa belum paham pun menggerakkan tangannya mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Bik Surti dan Sasa pun mengangguk dan kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.


"Udah, jangan nangis terus, kasihan dedeknya di dalem sini..." Vira mengelus lengan Amartha.


"Coba cerita, kamu denger apa tadi?" tanya Vira, Amartha memandang wanita dengan rambut sebahu itu dengan mata yang sembab.

__ADS_1


"Ta-tadi a-aku denger ada suara wanita waktu aku telfon mas Satya," jelas Amartha sambil sesenggukan.


"Suara wanita gimana?" tanya Vira yang masih belum jelas. Suara wanita yang bagaimana maksud Vira, bisa saja itu suara orang lewat pikir Vira.


"Suara wanita lagi jejeritan," ucap Amartha sambil menatap Vira.


"Aku takut kalau..." ucap Amartha menggantungkan ucapannya.


"Kalau suami kamu selingkuh?" potong Vira. Amartha mengangguk pelan, sambil sesekali menyeka air matanya.


"Sekarang aku tanya, suara wanita yabg kamu denger itu jeritnya keenakan atau kesakitan?" tanya Vira lagi, Amartha menggeleng pelan.


"Nggak tau," ucap Amartha, yang membuat Vira ngelus dada istighfar. Ternyata begini menghadapi emosi bumil yang up and down seenaknya sendiri.


"Lah masa kamu nggak bisa bedain jeritnya gimana? udah mblewer aja itu air mata." ucap Vira yang mencoba menenangkan sahabatnya.


"Gini, deh ... daripada penasaran, aku tanya yayang Firlan. Dia pasti tau suami kamu ada dimana. Udah kamu tenangin diri dulu," ucap Vira yang sudah meraih ponselnya yang ada di meja.


Vira menempelkan benda pipih itu di telinga kanannya. Namun sayangnya, panggilan itu tidak tersambung. Vira melihat layar ponselnya mengecek sinyal ponselnya.


"Nggak nyambung, padahal sinyalnya bagus disini," kata Vira mengernyit heran.


"Pulsa kamu sekarat kali," kata Amartha.


"Enak aja! dulu mah iya fakir pulsa, sekarang mah nggak ya! udah dapet jatah pulsa dar yayang," jawab Vira manyun. Dia mencoba menghubungi kekasihnya kembali. Namun, sekarang malah mbak provider yang mengatakan kalau nomor yang wanita itu tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar service area, dan memintanya untuk mencoba beberapa saat lagi.


"Nggak aktif," ucap Vira yang menjawab rasa penasaran Amartha yang tergambar jelas dari raut wajahnya.


"Sekarang kamu yang tenang dulu, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Kita tunggu sampai salah satu dari mereka menghubungi kita," ucap Vira bijak. Amartha mengangguk, Amartha lalu mengajak Vira ke taman belakang untuk mencari udara segar.


Sementara di tempat lain, Satya terbaring di sebuah ruang perawatan.

__ADS_1


"Aku tidak sakit, Lan!" ucap Satya lemas, dia berusaha menyibak selimutnya dan mencoba beringsut untuk bangun.


"Lebih baik anda beristirahat, Tuan..." ucap Firlan yang mencegah Satya untuk bangun.


"Aku sudah lebih baik," Satya bersikeras untuk bangun, ia ingin segera pergi dari rumah sakit.


"Anda istirahatlah dulu, bahkan jika saya menaruh telur diatas kening anda, saya yakin telur itu bisa matang." ucap sang asisten.


"Kalau aku masih disini, aku tidak bisa..." ucapan Satya terhenti saat rasa kepalanya terasa sangat nyeri, dia memegang kepalanya yang sakit. Apalagi mengingat sebuah proyek pembangunan gedung anak perusahaan yang mangkrak sedangkan dana yang dikeluarkan sudah sangat banyak.


"Sudahlah, Tuan. Masalah proyek pembangunan gedung itu biar saya yang menyelesaikan. Saya yakin, kita akan segera tau siapa dalang dibalik semua kekacauan ini," ucap Firlan. Satya yang tengah meninjau pembangunan gedung dengan biaya fantastis itu mendadak demam suhu tubuhnya bahkan mencabai 40 derajat. Karena takut terjadi sesuatu dengan bosnya, Firlan segera melarikan Satya ke rumah sakit terdekat.


Satya akhirnya terpejam, mungkin karena efek dari obat yang di suntikkan lewat selang infusnya. Beberapa hari ini pria itu hanya menghabiskan waktu kurang dari 3 jam untuk tidur. Membuat tubuhnya mendadak tumbang.


Firlan duduk menyandarkan punggungnya di sofa, ia merogoh ponselnya yang sengaja ia matikan. Tentu saja itu atas oerintah bosnya, karena beberapa saat yang lalu Amartha menghubunginya saat di IGD, dan Satya takut Amartha akan menanyakan keadaannya pada Firlan. Jadi, ia meminta Firlan untuk sementara waktu menonaktifkan ponselnya. Paling tidak sampai Satya mendapat penanganan.


Tak berapa lama ponselnya aktif kembali. Ada sebuah panggilan masuk.


"Alia? ngapain lagi?" gumam Firlan.


"Halo? ada apa, Alia?" tanya Firlan datar.


"Hali, Pak Firlan. Apakah besok tuan Satya ada waktu? Nona Alia ingin bertemu," ucap Alia.


"Kalau besok saya pastikan tuan Satya tidak bisa," jawab Firlan.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Alia.


"Saya tidak bisa menjelaskan alasannya," jawab Firlan yang tidak ingin asal bicara.


"Tolong, Pak Firlan! sudah seminggu ini tuan Satya selalu menolak bertemu dengan nona Ivanka, dan anda hanya memberi jawaban tidak bisa bertemu tanpa ada alasan yang jelas. Anda membuat saya dalam situasi yang sangat sulit, Pak!" ucap Alia yang sudah pasti akan kena semprot Ivanka.

__ADS_1


"Alia kita berada di posisi yang sama, saya hanya melaksanakan perintah," jawab Firlan.


...----------------...


__ADS_2