
"Ada yang Kakak butuhkan?" kata Vira masih terlihat canggung.
"Nggak, Vira ... makasih," jawab Ricko tersenyum, rasa sakit mulai terasa di bagian yang ada luka jahitan.
"Udah malem, lebih baik kamu istirahat," lanjut Ricko, dia tidak tega melihat Vira yang jelas sudah kelelahan.
"Besok aku shift siang jadi nggak masalah," kata Vira yang merasa tidak enak jika meninggalkan Ricko tanpa seorang pun menemaninya.
"Jangan meremehkan kesehatan," ujar pria itu yang melihat jelas kalau wanita yang di depannya ini sudah sangat lelah.
"Ya sudah kalau begitu, aku pulang ya? besok pagi aku kesini," ucap Vira menyerah.
"Ibu kamu?" Ricko bertanya, Vira yabg semula sudah berdiri malah duduk kembali.
"Ada di depan ruang perawatan papa," jawab Vira.
"Sayangi ibumu dan ayahmu melebihi apapun di dunia ini, Vira..." ucap Ricko memberi nasehat pada wanita cantik di depannya.
"Karena mereka sangat menyayangimu melebihi nyawa mereka sendiri," lanjut Ricko, Vira mengangguk.
"Aku tau itu, Kak..."
"Bahkan rasanya aku takut untuk menikah, aku takut jika orang yang masuk dalam hidupku itu tidak bisa mencintaiku seperti aku mencintainya, dan tidak bisa menyayangi kedua orang tuaku. Aku takut tersakiti dalam sebuah pernikahan," ucap Vira, Ricko yang mendengarnya pun terkejut, karena secara tidak langsung Vira tengah membicarakan kehidupan pribadinya.
"Tidak, jika kamu menemukan orang yang tepat," ucap Ricko, dia ingin mengubah pola pikir Vira yang keliru.
"Bagaimana caranya aku tau?" tanya Vira.
"Semuanya ada di hati kamu, Vira ... hati kamu yang bisa menilainm ketulusan pria yang akan mebjadi oendamping hidup kamu kelak, percayalah ... wanita sebaik kamu akan mendapatkan pria yang baik juga," ucap Ricko menenangkan hati Vira yang sempat gamang.
"Apa mungkin?" tanya Vira dengan kening berkerut.
"Semuanya mungkin," ujar Ricko.
"Cinta memberimu bahagia, dan juga luka ... cinta memberimu tawa sekaligus air mata, keduanya tak bisa dipisahkan," lanjut pria itu, Vira hanya menatap kedua manik Ricko yang berwarna cokelat.
"Jangan takut, dan jangan cepat memutuskan sesuatu," ucap Ricko yang menangkap semburat kesedihan di mata bening Vira.
"Kayaknya Kakak pengalaman banget soal pernikahan, atau Kakak udah pernah..." ucapan Vira terhenti
"Hampir menikah," kata Ricko cepat, Vira melongo.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Vira.
"Ya hampir menikah, aku dan dia berpisah karena keluarganya tau kalau aku hanya anak angkat, mereka bilang aku nggak sederajat dengan mereka," jelas Ricko mengingat masa lalunya. Pria itu mengangkat satu sudut bibirnya, tertawa kecil entah ia menertawakan apa.
"Itu sewaktu orangtua angkat Kakak masih hidup?" tanya Vira yang sudah penasaran dengan kisah hidup Rickonyang getir.
"Iya, mereka membatalkan pernikahan padahal undangan sudah tersebar luas, ayahku shock dan sakit parah setelah itu ayah meninggal dan ibu yang sangat mencintai ayah, merasa sangat kehilangan, dia pun menyusul pujaan hatinya," kata Ricko, ia menghapus air mata di sudut matanya. Vira jadi merasa bersalah karena bertanya sesuatu yang membuat Ricko sedih.
"Aku mengungkit masa lalu, maaf," ucap Vira lirih
"Aku sudah bersahabat sejak lama dengan yang namanya kepahitan hidup, sampai aku lupa bagaimana rasanya sakit, jadi tidak perlu merasa bersalah," ujar Ricko tersenyum pada Vira.
"Kakak bisa menganggap aku keluarga," kata Vira.
"Tentu adik kecil, pulanglah ... istirahat, lihat matamu itu sudah sangat lelah," ucap Ricko yang memaksa Vira untuk pulang, ia tidak mau Vira sampai sakit
"Baiklah, Kakak juga istirahat, aku pulang besok aku akan kembali..." Vira segera beranjak.
"Hati-hati di jalan," ucap Ricko yang melihat punggung Vira bergerak kian menjauh.
Vira keluar dari ruang perawatan Ricko dan berjalan menemui Dewi yang tengah berdiri melihat Raharjo dari balik kaca pintu.
Vira menepuk pundak Dewi perlahan.
"Tapi mama masih kangen sama papa," ucap Dewi, dia menangis lagi, rasanya air matanya sangat banyak hingga terus menetes kala melihat Raharjo terbaring lemah diatas tempat tidur.
"Papa juga butuh istirahat, kita pulang dulu, besok kita kesini lagi, Ma..." Vira masih membujuk Dewi untuk mengikutinya.
Vira pun akhirnya berhasil membujuk Dewi untuk ikut pulang bersamanya. Kini mereka sudah sampai di kosan Vira,namun mendadak wanita itu merasa lapar, dan dia ijin untuk keluar untuk membeli makanan.
"Vira keluar sebentar ya, Ma..." Vira menyambar jaketnya, ia merasakan dingin malam ini, ia memeluk dirinya sendiri.
"Mama pengen apa? biar aku beliin," tanya Vira lembut, Dewi menggeleng.
"Mama nggak laoer, buat kamu aja Vira," kata Dewi yabg menolak untuk makan.
"Ya sudah, Vira pergi dulu," ucap Vira pada mamanya yang mulai berbaring.
"Hati-hati, Vira..." ucap mama Vira.
"Iya, assalamualaikum..." ucap Vira.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," sahut Dewi.
Vira baru saja keluar dari kosan, namun sesaat ada yang menarik tangannya hingga tubuhnya tak sengaja menabrak dada bidang seseorang. Matanya membulat sempurna saat melihat kekasihnya ada di depan matanya.
"Mau kemana?" tanya Firlan dingin.
"Mau cari makan," jawab Vira, ia melihat sesuatu yang aneh pada Firlan.
"Lepasin, Ay ... sakit," Firlan mencekal tangan Vira, wanita itu merasa sakit.
"Ay, sakit!" pekik Vira saat tangan Firlan memegang tangan Vira dengan kuat.
"Ikut aku," Firlan menarik paksa lengan Vira, wanita itu tak bisa melawan tenaganya tak sebandirng dengan pria itu.
"Masuk!" Firlan membuka pintu dan memasukkan Vira ke dalamnya.
"Kamu kenapa sih, Ay?" tanya Vira dengan tatapan menyelidik.
"Kamu yang kenapa!" seru Firlan yang langsung menancapkan gasnya.
Pria itu terlihat sangat dingin, Vira merasa sangat takut saat mobil Firlan kebut-kebutan di jalanan, wajah Vira sampai pucat. Dia takut dengan apa yang dilakukan Firlan, pria itu menyetir dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa kamu nggak angkat teleponku?" tanya Firlan.
"Telfon yang mana? kan pagi udah..." jawab Vira.
"Kenapa kamu matikan ponselmu? kenapa? supaya nggak ada yang bisa ganggu kamu?" tanya Firlan dengan tatapan tajamnya.
"Kamu ngomong apaan sih, Ay..." Vira tak mengerti dengan arah pembicaraan Firlan, ia masih tidak mengerti apa yang membuat Firlan semarah itu.
"Ay kamu bisa pelanin mobilnya? aku takut," ucap Vira yang sudah pucat pasi.
"Bisa," sahut Firlan yang langsung memperlambat laju mobilnya. Vura bernafas lega akhirnya Firlan menyetir dengan kecepatan normal.
"Apa yang mau kamu jelasin?" tanya Firlan, Vira mengernyit heran.
"Penjelasan apa yang kamu inginkan?" tanya wanita itu yang kini mengelap keringat di dahinya dengan tisu yang ada di dalam mobil.
"Apa yang kamu sembunyiin dari aku?" tanya Firlan.
"Sembunyiin?" gumam Vira, ia menatap Firlan lagi. Sesaat dia teringat kata-kata Ricko.
__ADS_1
"Aku nggak ngerti," kata Vira.
...----------------...