Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Biar Steril


__ADS_3

"Tapi..." gumam Amartha ragu memandang benda yang ada di tangannya.


"Hufffh, ya udahlah mau gimana lagi, aku nggak mau rumah tanggaku dimasuki orang ketiga," ucapnya meyakinkan diri.


Satya masih di dalam kamar mandi, sepertinya dia masih berendam di dalam sana.


Amartha berulang kali melihat barang yang kini ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Chat yang dikirim oleh Ivanka benar-benar membuatnya resah, blingsatan kayak cacing di kasih garam beryodium.


Wanita yang sepertinya seumuran dengan suaminya itu benar-benar berpenampilan sangat menarik, dia takut dengan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Apalagi, wanita itu membahas soal pernikahan, apakah hubungan suaminya dengan perempuan itu lebih dari sekedar urusan pekerjaan? Apakah suami yang dia percaya bisa berbuat hal sekejam itu padanya? Sedangkan sebentar lagi buah hati mereka akan melihat dunia dalam beberapa bulan ke depan.


Sementara Amartha sibuk dengan pikiran buruknya terhadap suaminya, Satya sudah menyelesaikan ritual mandinya. Pria itu keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe. Pria itu berjalan dengan sembari menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.


Amartha yang melihat suaminya sudah keluar dari kamar mandi pun menyembunyikan benda yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Udah selesai?" tanya Amartha pada Satya yang berjalan mendekat ke arahnya. Amartha menjadi gugup.


"Udah Yank. Oh ya, udah aku siapin air hangat di bathtub," ucap Satya.


"Makasih," sahut Amartha yang langsung berjalan ke arah kamar mandi dan segera menutup pintu.


Wanita itu segera masuk dan segera menikmati air hangat yang kini merilekskan tubuhnya. Cukup lama ia berendam, sampai ia teringat akan benda yang ia bawa ke kamar mandi.


Amartha segera menyelesaikan mandinya, ia menyelipkan benda itu diantara tumpukan handuk di lemari penyimpanan handuk bersih.


"Nah, aman!" ucap Amartha.


Amartha tak lupa mengeringkan rambutnya dengam pengering rambut. Setelah selesai ia keluar dengan memakai bathrobe.


Suaminya sudah bersiap dengan sarung dan baju kokonya.


"Sebentar lagi maghrib. Kita berjamaah, ya?" ucap Satya.


"Iya," sahut Amartha singkat.


Kemudian mereka pun menjalankan ibadah bersama, tak lupa Amartha mencium punggung tangan suaminya setelah mereka selesai berdoa.


"Aku yakin itu akal-akalan wanita itu, nggak mungkin suamiku mau nikah lagi, aku yakin Mas Satya pria yang setia." gumam Amartha dalam hatinya.

__ADS_1


Satya segera meraih ponselnya untuk menghubungi maminya.


"Halo, Mam? Mam, Satya sama Amartha nggak bisa kesitu, soalnya Amartha kecapean banget. Oh gitu? ya udah, besok Amartha aku anterin kesitu sekalian berangkat ke kantor." ucap Satya di telepon.


Amartha tak begitu jelas mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Setelah melipat mukenanya, Amartha berjalan keluar dari kamar. Perutnya meronta ingin segera diisi.


Karena sudah tidak tahan, wanita itu mengambil susu yang ada di lemari pendingin, lalu menuangnya ke dalam mangkok putih.


Wanita itu kini beralih mengambil roti tawar tanpa pinggiran, dan segera menyelupkan roti ke dalam susu. Roti yang lembut bercampur dengan susu yang dingin membuat wanita itu ketagihan.


Satya yang melihat istrinya keluar dari kamar pun segera menyusulnya setelah dirinya berganti pakaian.


Pria itu geleng-geleng kepala saat melihat istrinya dengan enaknya duduk sambil makan roti yang direndam susu.


"Laper?" tanya Satya.


Amartha hanya mengangguk, dan menghabiskan makanannya seorang diri.


"Aku bikinin tempura mau nggak?" ucap Satya yang sudah menarik kursi dan duduk di samping istrinya.


"Aku pengen lamongan, pasti enak ayam panas dikasih sambel sama lalapan," ucap Amartha yang membayangkan enaknya makan dipinggir jalan.


"Tapi aku maunya itu." ucap Amartha merengut.


"Ya udah, kita cari sekarang." Satya memilih untuk menuruti keinginan istrinya, daripada nanti ngambek berabe urusannya.


Satya menekan pedal gasnya membelah jalan raya, sambil melihat-lihat restoran yang menyajikan ayam goreng lamongan sebagai menu utamanya. Satya pun ingat kata-kata maminya.


"Sat? kalau istri lagi ngidam dan pengen sesuatu itu harus kamu turutin. Mami nggak mau ya nanti cucu mami ileran cuma gara-gara ngidamnya nggak keturutan!" begitulah petuah dari sang mami. Satya hanya bisa pasrah dengan apa yang harus di lakukannya.


Satya juga berpikir bahwa Amartha sudah pasti susah payah dalam menjalani masa-masa kehamilannya. Walaupun yang krna morning sick justru Satya, namun tak bisa dipungkiri membawa beban dalam perut selama berbulan-bulan tanpa bisa ditangguhkan meski hanya semenit saja, membuat Satya sebisa mungkin menuruti apa yang menjadi keinginan istrinya.


Namun terkadang ia juga merindukan saat-saat Amartha memperhatikan dirinya, namun sekali lagi pria itu tak mau egois. Sekarang istrinya sedang hamil dan itu bukan perkara yang mudah, tubuhnya sedang menjadi tempat berkembangnya calon anak mereka. Pasti banyak ketidaknyamanan yang Amartha rasakan, walaupun istrinya itu jarang sekali mengeluh.


"Mas yang disana aja," ucap Amartha sambil menunjuk sebuah warung tenda.


"Harus disana?" tanya Satya hati-hati.

__ADS_1


"Iya, aku maunya disana, baunya aja udah kecium sampe kesini," ucap Amartha sambil mengendus-endus bau yang dibilang enak.


"Perasaan nggak bau apa-apa," gumam Satya.


"Mas bilang apa?" Amartha menoleh ke arah suaminya mengintimidasi.


"Nggak, aku cuma bilang mau parkir dimana ya?" jawab Satya ngarang.


"Ya di depan warung tenda itu lah. Ayo cepetan parkir!" ucap Amartha tidak sabaran.


"Ya Allah si dedek utun, begini amat ngerubah sifat ibunya. Perasaan dulu nggak gini-gini amat," gumam Satya.


"Jadi Mas, nggak mau makan disitu?" Amartha melirik suaminya.


"Eh, nggak, nggak! mau kok, bentar ini lagi parkir dulu," ucap Satya cepat, ternyata Amartha dengar apa yang baru saja ia ucapkan. Wanita itu kini menekuk wajahnya, membuat Satya menelan salivanya dengan susah payah.


"Udah yuk, turun..." Satya membuka sabuk pengaman yang membelit tubuhnya dan beralih membukakan sabuk pengaman pada istrinya.


Satya segera membuka pintu dan keluar dari mobil, tak lupa ia membantu istrinya untuk turun.


"Bang, pesen ayam goreng dua, minumnya es jeruk dua. sambelnya banyakin, ya?" ucap Amartha pada sang penjual yang sudah berada berdiri di samping Satya.


Tak lama pesanan mereka pun datang. Pria itu mengambil tissue untuk mengelap gelas yang berisi es jeruk. Lalu dia berjalan ke mobilnya untuk mengambil sedotan stainless yang selalu ia simpan di mobil. Pria itu mengganti sedotan plastik dengan sedotan stainless yang ia bawa.


"Biar steril, nggak kepegang tangan abang-abangnya, dan ngurangin sampah plastik." ucap Satya seakan menjawab dari tatapan bingung Amartha.


"Ish nggak enak kalau kedengeran sama yang jual, ih..."


"Lagian sedotan tadi juga Mas buang, sama aja nambahin sampah plastik," ucap Amartha.


Satya melambaikan tangannya pada penjual lamongan tersebut, ia meminta diambilkan dua air mineral botolan, ia membukanya dan membasuh tangannya.


"Itu kenapa air mineral buat cuci tangan?" tanya Amartha heran.


"Biar steril." sahut Satya yang membuat Amartha melongo.


"Kamu mau makan sendiri atau aku suapin?" lanjut pria itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2