Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Susahnya Bicara Dengan Wanita


__ADS_3

"Yang pernah apa?" Vira menuntut sebuah jawaban pada seorang pria yang jelas lebih dewasa darinya. Vira menatap pria itu dalam dengan sejuta tanya yang ada di benaknya. Pria itu hanya tersenyum.


"Ihhh, yang pernah apa?" desak Vira.


"Yang pernah memberimu kembang gula, saat nggak sengaja kamu terjatuh saat main di panti. Beneran kamu nggak ingat?" tanya Ricko. Vira menggeleng pelan.


"Ah, kamu masing sangat kecil waktu itu, mungkin kamu nggak akan ingat," Ricko tertawa kecil.


"Maaf," lirih Vira.


"Ehm, maksudmu kita berdua anak panti asuhan dan aku bukan anak dari orangtuaku?" ucap Vira bergetar, wanita itu menatap Ricko dengan nanar. Air mata langsung jatuh membasahi pipinya


"Hey, kenapa kamu malah nangis? apa yang ada dipikiranmu itu? haissh susah sekali bicara dengan wanita," Ricko malah pusing dengan Vira yang malah menganggapnya anak panti asuhan sama seperti dirinya.


"Bahkan wajahmu itu sangat mirip dengan ibumu, mana mungkin kamu diambil dari panti asuhan?" ucap Ricko kemudian dia menghela nafas panjang.


"Jadi aku bukan?"


"Iya bukan, kecuali ayah dan ibumu mengambilmu dari panti asuhan lain, ya..." celetuk Ricko, Vira malah memukul lengan pria itu.


"Rese!"


"Dih, malah dipukul, bisa-bisa aku tuntut ini rumah sakit karena perawatnya semena-mena dengan pasien lemah seperti aku," ucap Ricko sambil mengelus lengannya sendiri.


"Becanda, ih!" lanjutnya lagi. Vira mengusap jejak air mata di pipinya.


"Tapi bagaimana kamu tau jika pak Jojo yang kamu maksud adalah Raharjo, papaku?" tanya Vira, Ricko hanya geleng-geleng kepala. Wanita ini benar-benar mempunyai rasa penasaran yang tinggi.

__ADS_1


"Apakah aku harus sedetail itu menjelaskannya sama kamu?" ujar Ricko.


"Ya, kalau kamu tidak keberatan," ucap Vira yang masih mengambil tissue untuk mengelap pipinya.


"Dulu waktu aku bertemu dengan sepasang suami istri yang sering datang ke panti, dia sering membagikan makanan setiap hari jumat, yang aku tau dia seorang penjual ayam goreng, karena dia selalu membawa ayam goreng yang sangat enak," ujar Ricko sambil tersenyum mengingat kejadian belasan tahun silam.


"Ya, aku melihat nama restoran di kotak tempat ayam goreng itu, lalu aku mencarinya ketika pulang sekolah," lanjut pria itu.


"Lalu?" Vira penasaran dengan cerita Ricko.


"Dulu dia sering membawamu ke panti saat membagi makanan untuk kami, tapi setelah beberapa waktu mereka hanya datang berdua, dan lambat laun bu Dewi dan pak Jojo tak pernah datang lagi untuk mengunjungi kami, anak-anak panti sangat merindukannya begitu pun dengan aku," tutur pria itu yang sedang menyelami masa lalu.


"Lalu?"


"Lalu, berbekal alamat ayam goreng di kotak nasi, aku mencoba ke restoran milik pak Jojo, tapi sayangnya restoran itu sudah tutup, entah beliau bangkrut atau memang berganti bisnis aku pun tidak tau, aku menyusuri setiap warung, restoran dan toko di daerah tersebut, namun tidak pernah menemukannya," ucap Ricko memandang gadis kecil yang kinintelah tumbuh dewasa.


"Maksudku, kenapa kamu maksudku Kakak, ehm ... kenapa Kakak mencari papa?" tanya Vira, Ricko memegang dagunya berpikir.


"Karena apa, ya?" Ricko melempar pandangannya pada wanita itu yang cantik dengan serag perawatnya.


"Apa?" Vira terus mendesak.


"Karena apa cepat katakan!" ucap Vira tak sabaran.


"Ck! kenapa kamu ingin sekali mengetahuinya, gadis kecil?" tanya Ricko sambil berdecak.


"Karena Kakak mencari papa ku, jelas aku ingin tau..." jawab Vira yang sudah penasaran akut.

__ADS_1


"Karena satu hal kebaikannya melekat erat dalam ingatanku," jawab Ricko singkat, Vira malah bingung. Melihat ekspresi wajah Vira yang bingung, Ricko melanjutkan ucapannya.


"Aku melihat keteduhan di matanya, membuatku selalu ingat, jika suatu saat hidupku akan berguna untuk orang lain. Dan satu hal lagi, kalau orang lain berbuat baik atau menyumbangkan sesuatu pada kami pasti mereka minta didoakan. Katanya doa anak yatim piatu itu mustajab. Tapi tidak dengan pak Jojo, dia tidak meminta doa dari kami, dia hanya bilang dia ingin makan bersama kami, itu yang membuat kami merasakan kasih sayangnya yang tulus, dia menghadiahkan kami sebuah dongeng ketika kami menyelesaikan makanan kami yang sangat enak itu," jelas Ricko, Vira malah terisak.


Dia berpikir dia anak yang durhaka, orang lain menganggap orangtuanya bak malaikat, sedangkan dirinya menganggap orangtuanya itu menelantarkannya tanpa tahu kesulitan apa yang dialami Raharjo dan Dewi. Vira menutup wajahnya, dia menangis mendengar apa yang dikatakan pria yang kini semakin bingung melihat wanita menangis.


"Hey, kenapa? apa aku salah bicara?" gumam Ricko.


"Suster Vira, apakah aku salah bicara. Aku minta maaf, aku mohon jangan menangis," ucap Ricko yang beringsut, dia akan menepuk pundak Vira namun sesaat Vira mendongak, Ricko mengurungkan niatnya untuk menyentuh wanita itu. Vira mengambil lagi beberapa helai tissue dan mengelap wajahnya.


"Nggak, nggak sama sekali," ucap Vira disertai isakan.


"Lanjutkanlah, lanjutkan cerita Kakak..." ucap Vira lagi


"Hey, aku ini seperti nenek-nenek yang sedang membacakan dongeng untuk cucunya," celetuk Ricko mencoba mencairkan suasana, namun Vira tetap Vira yang akan kekeuh bertanya sampai dia merasa puas.


"Lalu, darimana Kakak tau kalau papa membutuhkan donor ginjal?" tanya Vira. Sedangkan Vira sebagai anaknya pun mengetahuinya sangat terlambat, dia tidak tahu perjuangan Raharjo dan Dewi selama ini. Jika Raharjo tidak dirawat di rumah sakit ini, mungkin sampai kapanpun dia tidak akan tahu tentang penyakit Raharjo sebenarnya.


"Itu berkat kuasa tuhan. Kamu percaya? apa yang kita tanam itu yang kita tuai, bertahun-tahun dia menebar kebaikan, dan saatnya tuhan membalas semua yang sudah ia lakukan dengan mempertemukan aku dengan pak Jojo disaat dia membutuhkan seorang pendonor ginjal," ucap Ricko kemudian ia tersenyum pada Vira, gadis kecil yang dulu ia rindukan.


"Aku bertemu pak Jojo di depan rumah sakit, aku tidak sengaja melihatnya pingsan di depan rumah sakit. Saat itu aku yang sedang ingin menjenguk seorang teman, melihat orang yang selama ini aku cari ada di depan mata dalam keadaan pingsan pun segera menolongnya dan aku pun terkejut saat aku mengetahui bahwa pak Jojo sakit parah," ucapnya sendu mengingat pertemuannya beberapa hari yang lalu dengan pak Jojo.


"Aku mencari tau semuanya. Awalnya dia menolak bantuanku, namun atas kegigihanku akhirnya beliau pun mau menerima satu ginjal dariku, dan yang membuatku lega saat dokter menyatakan bahwa tes yang kami lakukan cocok," ucap Ricko.


"Apakah Kakak tau apa resikonya hidup dengan satu ginjal?" tanya Vira.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2