
Keesokan harinya.
Sesuai janjinya pada si gadis kecil, Vira datang ke rumah Gia sekitar pukul jam 11 siang. Berbekal alamat yang diberikan Gusti padanya, ia pun dengan mudah menemukan rumah megah dengan design modern tropis.
Vira segera turun dari taksi online yang ditumpanginya. Ia memencet bel yang berada di tembok samping gerbang.
"Gini amat ya mau bertamu, KTP pake ditahan segala sama satpam depan kompleks," gerutu Vira.
"Maaf anda siapa, ya? dan ada keperluan apa?" tanya Satpam rumah itu lewat sebuah kotak yang bisa mengeluarkan suara di samping tombol bel.
"Saya Vira ... mau ketemu Gia," ucap Vira pada benda berbentuk kotak itu, dia melihat ada cctv j
"Oh, guru lesnya non Gia? oh ya, sebentar saya bukakan gerbangnya dulu," ucap Satpam itu.
"Gelo, di depan sana ada satpam di rumah ada satpam lagi, ck ck ck!" gumam Vira.
Tak lama gerbang berwarna hitam itu pun terbuka. Seorang pria mempersilakan Vira untuk masuk setelah mengkonfirmasi pada majikan kecilnya.
"Tanteeeeeeee!" seru Gia saat melihat Vira yang tengah menunggu di ruang tamu.
"Eh, Gia ... baru pulang sekolah?" tanya Vira pasalnya gadis cilik itu masih memakai seragam sekolahnya.
"Iya," jawab Gia manja. Dia duduk di samping Vira.
"Nona Gia, ganti baju dulu, Non..." kata pengasuh Gia.
"Nanti aja, aku masih mau sama tante Vira..." ucap Gia.
"Gia ... Gia ganti baju dulu, ya? tante nungguin kok disini, nggak kemana-mana. Mau ya ganti baju dulu sama, Mbak?" ucap Vira lembut.
"Iya, deh ... tapi tante janji jangan kemana-mana, ya? Gia nggak lama kok,"
"Iya, janji..." kata Vira.
Gia pun akhirnya pergi ke kamarnya untuk berganti baju. Vira membuka ponselnya, membalas chat dari Amartha yang memintanya untuk melukis dinding untuk kamar bayinya. Tanpa Vira sadari ada seseorang yang mengamatinya dari cctv yang terhubung ke ponsel orang itu. Dia mengamati gerak-gerik Vira dari kamera yang menyoroti ruang tamu.
Setelah beberapa saat, Gia turun dengan kaos dan celana pendek berbahan jeans. Gadis itu menggerai rambutnya. Ia nampak sangat setengah berlari menuruni anak tangga.
"Non! Non Giaa ... hati-hati, Non! jangan lari..." seru sang pengasuh.
__ADS_1
Vira menyimpan kembali ponsel ke dalam tas, ia segera bangkit dari duduknya saat Gia berlari kecil menghampirinya. Gadis itu sengaja menabrakan dirinya pada Vira, ia memeluk pinggang wanita itu.
"Hey, hati-hati gadis kecil..." kata Vira yang memeluk Gia dan mengusap rambut gadis itu. Sebenarnya ia sangat menyukai anak kecil, terlebih lagi dia memang menginginkan adik namun tak kunjung memilikinya.
"Tante, kita main disana..." Gia menarik tangan Vira agar mau mengikutinya. Gadis itu mengatakan pada pengasuhnya kalau dia ingin main berdua dengan Vira.
"Duh, maaf ya Nona..." ucap pengasuh Gia pada Vira.
"Nggak apa-apa, Mbak..." kata Vira sambil tersenyum.
Vira melewati ruang tengah yang di kelilingi oleh dinding yang terbuat dari kaca. Rumah ini sangat sejuk dengan banyaknya tumbuhan yang terlihat dari balik kaca. Gia mengajak Vira ke satu ruangan yang disana ada berbagai macam mainan, sepertinya spot ini di rancang agar Gia bisa menyatu dengan alam ada rolling door yang menjadi penyekat antara ruang khusus bermain Gia dengan taman belakang yang dipenuhi dengan rumput hijau dan tanaman-tanaman yang membuat segar mata.
"Nah, ini tempat main Gia ... semua mainan ini, papi yang beli..." kata Gia menunjukkan berbagai macam mainan miliknya.
Ada berbagai macam alat lukis yang sangat lengkap.
"Gia suka melukis?" tanya Vira mengikuti Gia yang duduk di depan kanvas putih.
"Iya, suka ... apalagi kalau Gia ingat mami," ucap Gia.
Vira berjongkok, sambil mengusap lembut kepala gadis kecil itu. Pasti berat hidup tanpa sosok ibu di sampingnya, meskipun Vira yakin Gusti memberi kasih sayang yang berlimpah untuk gadis itu.
"Memangnya kalau Gia lagi kangen sama mami, Gia suka melukis apa?" tanya Vira.
"Kenapa langit malam, Sayang?" tanya Vira. Namun Gia tak menjawab ada kesenduan di mata anak itu.
"Tante bisa melukis?" tanya Gia, ia mengurungkan niatnya untuk menyapukan warna di atas kanvas.
"Ehem, sedikit..." ucap Vira yang tersenyum membuat kedua matanya menyipit.
"Kalau gitu, lukis Gia ya, Tante..." kata Gia seraya beranjak dari duduknya. Tempat duduk yang kecil, yang khusus dibuat untuk anak kecil seperti Gia.
Vira pun akhirnya menuruti keinginan Gia untuk melukiskan wajahnya. Gadis itu memilih duduk di sofa dan bergaya seperti seorang model. Vira terkekeh melihat betapa lucunya gadis itu.
Vira begitu fokus dengan kuas dan kanvasnya, ia menyapukan kuas yang diberi warna pada benda berwarna putih yang ada di hadapannya. Sesekali ia melihat wajah cantik gadis mungil itu yang tersenyum manis padanya. Sampai ia tak sadar jika ada seseorang yang berdiri di belakangnya.
"Wah mirip sekali dengan putriku," ucap seorang pria mengagetkan Vira.
"Astaga, Gusti! hampir saja jantungku melompat keluar!" pekik Vira.
__ADS_1
"Sssst! nanti dia bangun," ucap pria itu menunjuk sang nona kecil yang tertidur diatas sofa. Sontak Vira menutup mulutnya, dia mengelap tangannya dengan tisu basah dan segera menghampiri Gia yang sudah tertidur pulas.
"Biar aku pindahkan dia ke kamarnya," kata Gusti seraya mengangkat tubuh kecil putrinya.
"Kalau gitu, aku permisi pulang..." ucap Vira.
"Tunggulah sebentar lagi," kata Gusti..
Sementara di kantor Fendy.
Sinta sedang membuka bento yang dia beli sebelum datang ke kantor pria yang sedang menatapnya dengan penuh.
"Awas iler netes!" ucap Sinta sambil membuka satu makanan yang dibawanya.
"Tau aja lagi mengagumi salah satu keajaiban dunia," ucap Fendy.
"Keajaiban dunia dari hongkong?"
"Dari India, Sin-taj mahal..." celetuk Fendy.
"Taj Mahal nggak ada 'Sin' nya. Aku curiga, jangan-jangan kamu nggak lulus SD!"
"Aku mau egg roll-nya, dong!" tunjuk Fendy.
"Nih, ambil sendiri!" Sinta memberikan sepasang sumpit pada pria itu.
"Cuapin dong, Tayang!" rengek Fendy.
"Geli tau nggak, ngomong sok diimut-imutin gitu!"
"Ya ampuuun, sama pacar mbok ya yang halus gitu loh, yang lembut penuh kasih sayang dan cinta..." kata Fendy, dengan gerakan tak terduga, Sinta menjejalkan satu egg roll ke dalam mulut Fendy.
"Nggak usah kebanyakan drama!" ucap Sinta yang menjejalkan satu egg roll lagi ke dalam mulut pria yang kini dengan susah payah mengunyah makanannya.
"Seret, Sin!" ucap Fendy seraya menunjuk ocha dingin dengan tangannya.
"Astaga, udah kayak pengasuh bayi gorilla," gerutu Sinta. Ia mengambilkan minuman untuk orang yang membuat dia benci dan juga cinta diwaktu yang bersamaan.
Namun, tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka.
__ADS_1
"Fen, aku mau ngomong!" ucap seorang wanita.
...----------------...