Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Gimana, Bisa atau Nggak?


__ADS_3

"Kamu yakin?" tanya wanita yang sekarang masih memandang Sinta meminta jawaban.


"Iya," Sinta mengangguk mantap.


"Tante cuma mau bilang, motong rambut bukan solusi terbaik, Sinta..." ucap wanita yang masih cantik diusianya yang menginjak 40 tahun.


"Aku cuma pengen penampilan baru," ucap Sinta memandang wanita yang duduk di belakangnya dari pantulan cermin.


"Sinta yang tante Noni kenal itu suka sekali dengan rambut panjang hitam lurus, dan tiba-tiba sekarang pengen dipendekin," tante Noni mengambil satu bagian rambut Sinta sedangkan bagian rambut yang lain ia tekuk dengan penjepit rambut.


"Apa sih yang mengganggu pikiran kamu?" ucap tante Noni sambil menyisir rambut Sinta yang panjang.


"Masa lalu nggak akan terhapus walaupun kamu sudah memotong rambut kamu ini," lanjutnya, ia mulai mengambil satu bagian rambut dan ia jepit disela jarinya, ia memandang Sinta dengan menunjukkan rambut di tangan kirinya dan gunting di tangan kanannya.


"Setidaknya ini membantuku menjadi diriku yang baru," ucap Sinta.


"Apa boleh buat, baiklah jika kamu bersikeras. Tante akan buat kamu tetap cantik dengan rambut pendek," ucap tante Noni yang kemudian menggerakkan guntingnya.


Helaian demi helaian rambut jatuh ke lantai, Sinta menatap dirinya dari pantulan cermin, rambut panjang yang membuatnya terlihat feminim kini jatuh berserakan. Sebuah senyuman terbit dari bibir Sinta kala melihat penampilan barunya.


"Terima kasih, Tante..." ucap Sinta pada wanita yang kini membantunya melepas kain kep yang biasa dipakai saat potong rambut.


Setelah membayar, Sinta bergegas masuk ke dalam mobilnya. Matanya melirik pada kaca spion yang bertengger di bagian depan atas. Dia meniupkan angin membuabg rasa gugupnya. Tanpa berpikir lagi, wanita itu memacu mobilnya ke sebuah gedung perkantoran, di tengah jalan dia sempat mampir untuk pesan sebuah pizza dengan ukuran jumbo.


Tak butuh waktu lama, Sinta sampai di tempat tujuannya, ia segera turun dan menutup mobilnya. Sinta segera masuk dan melangkahkan kakinya menuju lift, jantungnya kian berdebar saat pintu lift tertutup dan membawanya naik ke lantai teratas.


"Salah, nih! ngapain kesini, coba? udah nggak waras nih aku," ia mencoba memencet tombol di kotak besi itu, ia berniat untuk turun lagi ke bawah. Namun sialnya, lift itu terus saja membawanya ke lantai paling atas.


Ketika pintu terbuka, ia melihat sosok pria yang terkejut melihat keberadaannya.


"Sinta?" pekik pria itu.


"Fe-ndy?" Sinta langsung memencet tombol tutup pintu, namun dengan cekatan pria itu langsung menekan tombol buka pintu dan langsung masuk ke dalam lift bersama dengan Sinta.


"Kamu?" Fendy terpaku pada penampilan baru Sinta.


"Kamu sengaja kesini?" tanya Fendy.


"Nggak, aku ... eehm, salah masuk kantor," jawab Sinta ngasal.

__ADS_1


"Masa sih? nggak percaya," celetuk Fendy.


"Sorry aku duluan," ucap Sinta saat pintu lift terbuka. Namun dengan sigap tangan Fendy mencekalnya.


"Kita naik lagi, ya?" ucap pria itu dan langsung menekan tombol ke lantai tujuannya.


"Nggak, aku mau turun!" kata Sinta yang berusaha menekan tombol lobby.


"Jangan bohong, bibir kamu dan mata kamu nggak sinkron, kalau mau bohong tuh dikompakin dulu antara mata dan hati kamu," celetuk Fendy.


"Kita naik lagi ke atas," lanjutnya.


Fendy langsung menggenggam erat tangan Sinta ia juga mengambil alih box pizza yang lumayan bikin repot.


"Tolong bukain," ucap Fendy pada sekretarisnya, ia menunjuk pintu dengan dagunya.


"Silakan, Tuan..." ucap wanita itu.


"Thanks," ucap Fendy, ia menari Sinta masuk dan menutup pintu dengan kakinya.


Fendy melepaskan tangan Sinta setelah sampai di depan sofa panjang.


Sinta pun akhirnya duduk mengikuti sang pemilik ruangan. Mata Fendy berbinar saat melihat isi di dalam kotak berbentuk persegi itu.


Fendy menoleh pada Sinta, ia mengelus kepala wanita yang sudah kehilangan rambut panjangnya.


"Cantik, makasih ya?" ucap Fendy.


"Pengennya aku liatin kamu terus, tapi yang itu juga udah manggil pengen dimakan, gimana dong?" lanjutnya.


"Mau makan aja banyak cingcong!" kata Sinta yang sebenernya males dengan kelakuan Fendy yang absurd.


"Kamu tunggu disini," ucap Fendy yang beranjak dari duduknya.


Fendy mengisi gelas dengan air, kemudian ia mengambil sebuah spray untuk diseprotkan di tangannya dan tangan Sinta.


"Kita makan bareng, ya?" kata Fendy saat sudah selesai membersihkan tangannya dan tangan Sinta. Ia menyapu tangan wanita itu dengan tissue.


Baru kali ini Sinta diperlakukan lembut seperti itu, dulu ia sangat mendambakan Kenan bisa berlaku manis padanya. Namun, ternyata pria itu untuk sekedar memandang wajahnya pun malas, apalagi harus bersikap baik pada wanita yang menjadi batu kerikil dalam pernikahannya.

__ADS_1


Ketika Fendy akan menyuapkan sepotong pizza ke mulutnya, Sinta segera menghentikannya.


"Kenapa?"


"Kamu alergi nggak makan makanan ini? alergi keju atau turunannya?" cecar Sinta.


"Ciyeee yang udah perhatiaaan, yes! sedikit lagi naik level jadi sayang," ucap Fendy seraya menggenggam udara.


"Nggak usah kepedean, deh!" Sinta memalingkan wajahnya, malu.


"Ciyeee yang lagi maluuu," Fendy terus saja menggodanya.


"Diem deh, Kuyang!" kata Sinta.


"Kuyang sama Sayang bedanya dua huruf aja loh, awas jangan salah sebut," ucap Fendy.


"Bisa diem, nggak?" Sinta berdecak kesal, tidak tahu harus menaruh mukanya dimana, mungkin di bawah meja?


"Aku nggak ada alergi sama makanan ini, beneran deh ... nggak bohong! jadi sekarang kamu makan, ya?" Fendy mengarahkan sepotong pizza ke mulut Sinta.


"Aku bisa makan sendiri," ucap Sinta yang akan mengambil pizza dari tangan Fendy, namun pria itu menjauhkan tangannya, dan sesaat kemudian mendekatkan makanan yang menjadi favorit sejuta umat itu.


"Ya udah kalau gitu, kamu aja yang suapin aku. Karena mendadak aku nggak bisa makan sendiri," celetuk Fendy yang memberikan potongan pizza dengan topping mushroom dan daging serta keju mozarella ke tangan Sinta. Sinta mau tak mau menuruti apa yang diinginkan Fendy.


"Aiihh, nyusahin!" ucap Sinta yang kemudian menyuapkan makanan itu pada Fendy. Pria itu membuka mulutnya lebar, bahagia mendapatkan suapan pertamanya dari orang yang diakuinya pacar.


"Bisa nggak temenin aku ke acara nujuh bulannya Amartha?" tanya Sinta, Fendy yang sedang makan pun terkejut dengan permintaan Sinta.


"Uhukk!" Fendy terbatuk, ia meraih gelas dan meminum isinya.


"Gimana, gimana?" tanya Fendy, ia ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.


"Apa tadi? kamu bilang apa?" tanya Fendy, dadanya bergemuruh dan ia tak percaya dengan apa yang meluncur dari bibir Sinta.


"Aku mau minta tolong ditemenin ke acaranya Amartha, aku nggak mau bengong sendirian disana," ucap Sinta dengan meletakkan rasa malu yang sudah sampai ubun-ubun.


"Gimana, bisa atau nggak?" tanya Sinta lagi.


"Bisa!" jawab Fendy dengan senyum yang merekah.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2