Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Jadian


__ADS_3

"Jadi, kita udah jadian, nih?" tanya Kenan sambil memainkan alis kirinya.


"Pikir aja sendiri," sahut Amartha.


"Ih, kok gitu? Amartha..." Kenan merengek seperti anak kecil.


"Apaan, sih..." sahut gadis itu.


"Aku cium kamu seka-"


"Iya, iya, kita udah jadian!" jawab Amartha cepat.


"Nah, gitu dong!" Kenan tersenyum senang. Sepertinya sudah punya jurus andalan yang bisa ia gunakan untuk menggoda Amartha.


Ac dalam mobil itu terasa dingin, namun entah kenapa Amartha justru merasakan panas, terutama di bagian pipinya. Kenan masih menatapnya dalam jarak dekat, lelaki itu sepertinya masih mengagumi wajah cantiknya.


Kemudian, Kenan duduk kembali ke posisi seharusnya. Dia menggenggam tangan Amartha kemudian menciumnya.


"Amartha, janji ya...kamu akan jaga cintaku dan jangan deket-deket sama pria sontoloyo itu," ucap Kenan sambil menatap wajah Amartha.


Sontoloyo? Nggak paham, deh.


"Hah?" Amartha mengerutkan keningnya mencoba mencerna perkataan Kenan.


"Sontoloyo yang suka sama kamu itu," jelas Kenan sambil menjentikkan ke dahi Amartha yang juga masih loading.


"Awww!" Amartha mendengus kesal.


"Ih, maksudnya mas Satya?" lanjut Amartha sambil mengusap dahinya.


"Iya, sontoloyo itu pokoknya, jangan deket-deket sama dia!" kata Kenan dengan tatapan serius.


"Hmm..." Amartha bingung harus menjawab apa. Pasalnya dia tidak terlalu suka berjanji.


"Aku nggak bisa janji, tapi aku akan mencoba untuk jaga jarak sama mas Satya," lanjut gadis itu seraya menatap manik milik Kenan.


Kenan yang mendengar ucapan gadisnya barusan menghadiahkan sebuah pelukan erat. Lelaki itu mencium pucuk kepala Amartha dan membisikkan kata terima kasih yang sukses membuat sengatan listrik menghampiri Amartha. Kenan melonggarkan pelukannya dan membelai lembut pipi Amartha. Wajahnya kian mendekat, berniat mendaratkan kembali kecupan. Sepertinya bibir gadis itu membuat candu baginya. Tetapi sebelum niat itu terwujud, si pemilik bibir segera menutup bibir Kenan dengan telapak tangannya dan mendorong bibir itu menjauh dari wajahnya.

__ADS_1


"Udah, ah!" ucap Amartha dengan tawa kecil. Semakin cantik saja wajah gadis itu.


"Hahaha, sekarang udah berani, ya?" kata Kenan sambil mencoba menggelitiki pinggang Amartha. Mereka berdua tertawa bahagia. Penantian cukup lama akhirnya terbayar sudah.


"Ehem, aku masuk ke kosan ya, Mas?" ucap Amartha.


"Iya, makasih udah jagain aku selama di rumah sakit." ucap Kenan disertai anggukan oleh gadis yang kini menjadi pacarnya.


"Mas, disini berapa hari lagi?" tanya Amartha. sambil menatap manik milik Kenan.


"Mungkin dua hari lagi, Sayang," jawab Kenan lembut.


Mendengar kata sayang yang meluncur dari bibir Kenan, membuat pipi Amartha bersemu merah. Bahkan, hanya dengan panggilan itu saja, membuat gelenyar aneh dalam dirinya. Ini pertama kalinya, Amartha sedekat itu dengan seorang lelaki.


"Aku masuk ke kosan ya, Mas!" ucap Amartha gugup. Dia segera membuka sabuk pengamannya dan dengan cepat keluar dari mobil.


Kenan hanya terkekeh melihat tingkah gadis itu. Saat Amartha sudah masuk ke dalam kosan bercat putih itu, Kenan segera melajukan mobilnya ke hotel yang berjarak sekitar 500 meter dari kosan Amartha.


Setelah sampai di area parkir basement hotel A, Kenan keluar dari mobil dengan membawa satu koper dan tas kecil. Lelaki tampan itu berjalan menuju receptionist. Kenan memesan satu kamar untuk dirinya. Setelah mendapatkan kartu akses akhirnya dia berjalan menuju kamar 405.


Klik


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Diwaktu yang bersamaan, ada seorang gadis yang sedang berbaring di atas ranjang. Dia berulang kali menepuk atau lebih tepatnya, menampar pipinya sendiri. Bukan tanpa alasan, dia hanya ingin memastikan bahwa dia sedang bermimpi atau tidak. Sekarang lengannya menjadi sasasaran berikutnya. Dia mencubit lengannya.


"Awwh! sakit!" pekik Amartha.


Berarti aku nggak lagi mimpi. Semua ini nyata!


Vira yang sedang nonton film di leptopnya, merasa terganggu dengan tingkah Amartha yang sedari tadi uring-uringan nggak jelas.


Kemarin Vira pergi seorang diri dan dia menyewa beberapa DVD di tempat penyewaan langganan mereka berdua. Memang kebiasaan dua gadis itu, setiap hari jumat mereka akan pergi ke rental DVD dan memilih beberapa film yang akan mereka tonton di hari sabtu seperti sekarang ini.


Pada saat itu, belum ada aplikasi menonton film di ponsel. Untuk menonton film, kalau bukan di bioskop berarti di leptop dengan berbekal DVD hasil menyewa tadi. Vira memejamkan matanya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan mengeluarkannya perlahan. Vira masih mencoba tak menghiraukan Amartha yang kaya orang kesambet. Tapi semakin lama, kesabarannya semakin menipis.


Arghhhh! kutu kupret ini kenapa lagi, coba?

__ADS_1


Vira menyabarkan diri sendiri, gadis itu menarik nafasnya lagi dan menghembuskannya perlahan serta mencoba fokus kembali ke layar leptopnya. Tapi, suara dari mulut Amartha dan suara tepak-tepok pipi semakin mengganggu konsentrasi Vira.


Bener-bener Amartha bikin darah tinggi!


BUG!


"Berisik, ah!" Vira melempar bantal donut ke muka Amartha dengan wajah betenya.


"Awh! jahatnya Vira!" pekik Amartha yang hidung mancungnya terkena hantaman bantal donut milik Vira.


"Ih, kamu kenapa sih, Vir!" ucap Amartha ngegas. Gadis itu memposisikan duduknya menghadap Vira yang berada di sebrang tempat tidurnya.


"Kamu tuh yang berisiknya nggak karuan! nggak konsen ini nonton filmnya!" seru Vira sambil menatap tak suka.


"Lama-lama aku panggilin ustad, nih!" lanjut Vira.


"Buat?" tanya Amartha yang sedang mengusap-usap hidungnya.


"Buat ngeruqyah kamu, lah!" sahut Vira dengan wajah yang semakin bete karena sahabatnya itu yang luar biasa loadingnya.


Gadis itu kemudian meng-klik tombol pause, dan memilih untuk meladeni pertanyaan bodoh Amartha. Vira yang sedari tadi tengkurap, sekarang beralih posisi menjadi duduk.


"Sembarangan kalo ngomong! emangnya aku kesambet?" gerutu Amartha.


"Ya kali kesambet! orang itu muka udah merah dari tadi ditampar sendiri," jawab Vira sambil menunjuk wajah dan tangan Amartha yang merah.


"Nggak cukup muka, itu tangan pake dicubit segala! kayaknya kamu emang kesambet, deh!" lanjut gadis berambut sebahu itu.


BUG!


Giliran bantal donut melayang dan mengenai kepala Vira.


"Awh! enak! lagi dooooong..." ledek Vira.


"Lagii dooong, Ta!"ucap Vira lagi.


"Bodo amat!" sahut Amartha yang sejurus kemudian memilih berbaring dan menarik selimutnya. Lebih baik dia tidur siang.

__ADS_1


"Hahaha!" Vira hanya tertawa melihat Amartha yang bete. Vira pun melanjutkan acara nontonnya yang sempat tertunda.


...----------------...


__ADS_2