
Fendy membawa Sinta ke pantai. Sebelumnya pria itu membelikan baju ganti karena ribet melihat Sinta memakai kebaya.
"Mau kemana sih?" ucap Sinta yang memakai dress berwarna putih dengan topi pantai.
"Katanya tau banget soal fashion? masa iya outfit kayak gini nggak kebaca mau kemana?" kata Fendy yang memakai celana pendek san kemeja pendek putih polos dengan kancing terbuka dan memakai kaos sebagai inner-nya.
"Pantai?" cicit Sinta.
"Aha!" ucap Fendy singkat.
"Ngapain bawa aku ke pantai? mau kelelepin aku disana apa gimana?" kata Sinta mode siaga pada Fendy.
"Astaga, pikiran kamu itu loh! mau nya sih keluar pulau yang terpencil, tapi kita belum halal jadi ntar malah jadi bahaya," Fendy menjentikkan jarinya di kening Sinta.
"Heh! ini kepala, isinya mahal. Nggak ada di market place!" ucap Sinta menunjuk tangan Fendy.
"Otak kamu baik-baik aja walaupun aku toyor sekalipun!" ujar Fendy.
"Duduk yang manis dan jangan banyak bicara! kepalaku puyeng denger kamu marah-marah mulu!" tegas Fendy.
Perlahan mobil Fendy memasuki kawasan pantai. Pria itu segera membuka seatbelt, namun tidak dengan Sinta. Wanita itu sepertinya tidak berniat untuk turun.
"Ayo turun!" ucap Fendy seraya melepaskan belitan seatbelt di tubuh Sinta.
"Aku nggak mau basah-basahan!" kata Sinta. Fendy mengernyit heran.
"Siapa juga yang mau ngajakin kamu basah-basahan? kita nggak bawa baju ganti," ucap Fendy.
"Udah cepet turun!" Fendy segera keluar dari mobil diikuti oleh Sinta.
Suasana pantai sangat sepi, sepertinya tidak ada yang mengunjungi tempat ini.
"Nggak usah takut!" kata Fendy, pria itu menarik Sinta untuk berjalan mengikutinya. Hari beranjak sore dan matahari mulai meredup.
Fendy mengajak Sinta menyusuri bibir pantai, lalu ia berhenti tiba-tiba. Sontak Sinta yang jalannya meleng pun kepentok tubuh Fendy yang ada di depannya.
"Astaga, bisa nggak sih ngasih tau dulu kalau mau berhenti mendadak?" ucap Sinta dongkol.
Fendy tak menjawab, pria itu malah berdiri sambil menatap matahari yang terlihat berwarna oranye.
"Tak sepantasnya kamu bersikap seperti itu pada kedua orangtuamu," kata Fendy, lalu iaenoleh pada Sinta yang memakai topi pantai yang super lebar.
"Aku nggak suka dibohongi," ucap Sinta.
__ADS_1
"Kamu tau? orangtuamu melakukan itu agar kamu berubah, agar kamu bisa lepas dari ambisi gilamu itu," ujar Fendy. Sinta terdiam, dia membuang muka.
"Sebilah pisau akan tajam jika dia terus diasah. Ya dan proses asah itu memang menyakitkan. Kita harus melewati rasa sakit itu, setelah itu batulah kita akan terbentuk menjadi orang yang lebih baik. Meninggalkan hal yang buruk yang membuat kita merugi," ujar Fendy.
"Kamu tau dan kamu diam saja," ucap Sinta.
"Astaga, bagaimana lagi aku harus menjelaskan pada si kepala batu?" gumam Fendy. Sinta menoleh saat mendengarbucapan Fendy yang mengatainya.
"Apa kamu bilang tadi? kepala batu?"
"Ya! kalau bukan kepala batu terus apa sebutan yang paling tepat untuk orang yang tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain? bahkan orangtuamu saja kamu lawan? lalu bagaimana aku harus bicara pada orang seperti itu? apa harus seorang Kenan yang mengatakan, baru kamu mau mendengarkan?" sindir Fendy.
"Jangan sebut nama itu," lirih Sinta, ia menghapus air mata yang menetes di pipinya.
"Refan memang dibawa ke luar negeri untuk pengobatannya, dan beruntung tuhan memberinya keajaiban. Harusnya itu yang kamu syukuri, kakakmu masih bisa selamat dari kecelakaan yang hampir mempertemukan dirinya dengan maut. Bukannya malah mempersoalkan hal seperti tadi," ucapan Fendy sangat menohok.
"Kamu sudah melewati proses itu, dan nyatanya kamu sekarang sudah berubah. Kamu bisa berdamai dengan masa lalu, dan kamu bisa tetap berprestasi di tengah himpitan rasa sakit itu. Kamu itu luar biasa, hanya saja kamu tak pernah menyadari itu..." kali ini Fendy suara Fendy melembut. Ia menggeser tubuhnya, menghadap wanita yang sudah mengeluarkan air matanya berkali-kali.
"Mungkin mereka salah, tapi satu hal yang perlu kamu tau. Mereka melakukan ini karena mereka menyayangimu, mereka memperhatikan setiap perubahanmu." ucap Fendy mengikis jarak diantara dirinya dan Sinta. Pria itu memeluk wanitanya begitu erat. Sementara Sinta menangis dalam pelukan pria menyebalkan yang selalu betada di sampingnya.
"Kamu sangat menyebalkan!" ucap Sinta.
"Kamu juga!" celetuk Fendy.
"Tapi kamu lebih menyebalkan," ujar Sinta.
"Apakah orangtuaku dan Kak akan memaafkan atas sikapku tadi?" tanya Sinta sambil menatap Fendy.
"Pasti!" jawab Fendy.
"Lebih baik kita pulang sekarang, karena matahari sudah hampir tenggelam.." lanjut pria itu.
Dan...
Cup.
Sinta mengecup pipi pria itu sebelum pergi menuju mobil. Pria itu menyentuh pipinya, ia tersenyum sebelum akhirnya berlari menyusul sang pujaan hati.
"Hey! tunggu!" seru Fendy.
Sedangkan di sebuah ruangan. Vira terduduk di ranjang pasien, melihat Ricko yang tengah melalukan vidio call dengan seseorang.
"Ehem, lagi dimana?" tanya seorang gadis.
__ADS_1
"Di rumah sakit," jawab Ricko yang duduk di sofa, tak jauh dari Vira.
"Emang siapa yang sakit?" tanya gadis itu.
"Adik aku," jawab Ricko.
Vira yang semula duduk kini merebahkan tubuhnya dan berbaring membelakangi pria yang sedang asik berbincang entah dengan siapa. Semua pergerakan Vira itu tak luput dari perhatian Ricko. Saat ini Vira lebih banyak diam, dia hanya menjawab seperlunya saja. Hal itu yang membuat Ricko berpikir jika perubahan sikap Vira ini ada hubungannya dengan ungkapan cintanya tempo hari.
"Halo? Om Rickoooo!" seru gadis itu, karena melihat Ricko menatap ke arah lain.
"Hey! jangan sekali-kali panggil aku dengan sebutan itu, atau aku jewer kupingmu gadis nakal!" ancam Ricko.
"Hahahah aku sama sekali nggak takut, wleeee!" kata gadis itu.
"Sudah malam, apa kamu nggak ngantuk?" tanya Ricko.
"Sebentar lagi,"
"Kamu sedang berada di luar?" tanya Ricko.
"Ya, begitulah..." jawab sang gadis
"Pulanglah, nggak baik perempuan pulang larut malam," ucap Ricko.
"Baiklah, setelah aku menghabiskan pancake ini," ucap gadis itu.
"Aku tutup, ya? bye!" lanjut gadis itu.
"Bye..." ucap Ricko seraya mengakhiri sambungan video call-nya.
Ricko memang sengaja menjawab panggilan itu di depan Vira. Ricko tak ingin membebani Vira dengan pernyataan cinta yang seharusnya sudah enyah sejak dulu.
Ricko memandangi Vira yang berbaring dengan posisi menyamping. Pria itu beranjak lalu mendekat dan mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Vira.
"Kamu ingin sesuatu?" tanya Ricko pada Vira.
"Nggak," sahut Vira.
"Mending Kak Ricko pulang aja, Kakak pasti capek..." lanjut Vira.
"Kalau aku pulang, yang nungguin kamu siapa?" tanya Ricko
"Aku bisa sendiri," sahut Vira tanpa menatap pria itu.
__ADS_1
"Aku akan pulang kalau Firlan udah dateng kesini," ucap Ricko.
...----------------...