
Amartha sudah tiba di kediaman Ganendra. Wanita itu sedang berbincang dengan mertuanya di ruang tamu bersama orang akan mengatur acara nujuh bulan.
"Kenalkan ini, Dena ... dia yang akan mengurus semua keperluan acara nujuh bulan kamu," kata Sandra sambil memperkenalkan seorang wanita tinggi semampai pada menantunya.
"Selamat siang, Nyonya Amartha ... perkenalkan saya Dena..." wanita itu mengulurkan tangan pada Amartha.
"Saya Amartha," sahut Amartha seraya menjabat tangan Dena.
"Memangnya acaranya kapan, Mam?" tanya Amartha pada mertuanya, dia bahkan lupa kalau ada acara adat nujuh bulan atau mitoni.
"Dua minggu lagi, Sayang..." jawab Sandra lembutm
"Amartha ngikut aja deh, Mam..." ucap Amartha sambil memandang wajah Sandra.
"Masa ngikut terus sih, Sayang? ini kan acara kamu,"
"Iya, tapi Amartha nggak ada bayangan, Mam ... acaranya mau seperti apa, lebih baik Mami aja yang ngatur, Mam..." kata Amartha yang memang tidak berpengalaman untuk mengatur sebuah acara.
"Minimal kamu pengen warna kebayanya apa, atau bunga apa yang kamu pengen untuk dekornya, atau kamu pengen pakai designernya siapa," ucap Sandra, Amartha hanya tersenyum.
"Ehm, kalau untuk kebaya, Amartha sih pengennya biru dongker aja, Mam..." usul Amartha, Sandra senang mendengar menantunya sudah mulai mengeluarkan pendapatnya.
"Pilihan warna yang bagus, Sayang..." Sandra memuji menantunya di depan Dena.
"Menantu saya ingin pakai kebaya biru dongker, dan tolong dekorasi semua bunga hidup, saya nggak terlalu suka bunga krisan, jadi pilihkan bunga yang lain," perintah Sandra pada Dena, wanita muda itu mencatat setiap permintaan dari client-nya ini.
"Baik, Nyonya..." jawab Dena.
"Saya minta nanti siapkan buket uang untuk souvenirnya," ujar Sandra.
"Pakai rupiah atau dollar, Nyonya?" tanya Dena, Amartha hanya menelan salivanya susah payah, jadi begini acaranya orang kalangan atas, souvenirnya sebuket bunga yaang dibentuk dari uang.
"Dollar dan rupiah bisa, kan?" tanya Sandra, wanita itu tersenyum.
"Bisa Nyonya..." jawab Dena.
"Gimana kamu setuju, Sayang?" tanya Sandra pada Amartha.
"Setuju, Mam..." jawab Amartha singkat.
"Karena undangan hanya kerabat dan teman dekat, jadi untuk catering saya mau konsep bufee, saya nggak mau standing party. Semua makanan tertata rapi di meja," ucap Sandra, Dena mengangguk.
"Baik, sesuai permintaan anda, Nyonya..." sahut Dena sambil tangannya mengetik di sebuah benda elektronik tipis berbentuk persegi.
"Ada yang mau di tambahkan nggak, Sayang?" tanya Sandra.
"Hem, kalau boleh ... Amartha pengen ada menu es cendol, Mam..." ucap Amartha malu-malu, entahlah dia ingin sekali ada menu es cendol di acara itu
__ADS_1
"Hahahahaha, aduh permintaan eksklusif dari calon cucuku, pengen es cendol," Sandra seraya mengusap perut menantunya.
"Baik, Nyonya sudah saya catat semuanya," kata Dena.
"Saya rasa untuk hari ini cukup, nanti kalau ada tambahan, akan saya kabari," ucap Sandra.
"Kalau begitu saya permisi, Nyonya..." kata Dena yang segera berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya yang disambut senyuman Sandra.
"Terima kasih, Mbak!" ucap Amartha, Deba segera undur duri dan pergi meninggalkan kediaman Ganendra
"Kita pindah ke ruang keluarga, yuk Sayang?" ajak Sandra pada menantunya. Wanita oaruh baya itu mencoba membantu Amartha untuk berdiri.
"Amartha tadi bawa soft cake pandan buat Mami," ucap Amartha sembari berjalan perlahan menuju ruang keluarga.
"Wah, pas banget tuh buat temen ngeteh," ucap Sandra antusias
"Duduk disini, Sayang..." Sandra mendudukkan menantunya di sofa super empuk.
"Kalau kaki kamu pegel, lurusin aja, nggak baik terlalu lama duduk," Sandra menyuruh Amartha rebahan.
"Nggak pegel kok, Mam..."
"Udah, nurut aja sama orangtua, kasian calon cucu Mami di dalem, sini..." Sandra tetap menyuruh Amartha meluruskan badannya di sofa, Sandra memberi beberapa bantal agar memberi kenyamanan di punggu dan pinggang menantunya.
"Amartha ambilin kuenya ya, Mam..." Amartha berusaha beranjak dari posisinya.
"Miraaaaa..." seru Sandra memanggil pelayan di rumahnya.
"Iya, Nyonya?" sahut Mira saat sudah sampai di hadapan majikannya.
"Tolong ambilkan soft cake pandan yang tadi menantu saya bawa, sekalian buatkan minuman untuk saya dan Amartha..." perintah Sandra yang langsung diangguki Mira.
"Baik, tunggu sebentar, Nyonya..." ucap Mira yang langsung ke dapur untuk membuatkan teh hangat.
"Nanti sore, mau nggak temenin Mami belanja?" tanya Sandra.
"Boleh, Mam..." sahut Amartha lembut.
"Sableng nggak akan ngomel kan kalau kamu pergi ke mall?"
"Nggak, Mam ... Mas Satya malah seneng kalau aku ada kegiatan menghabiskan uang, katanya aku terlalu irit, Mam!" jelas Amartha, Sandra malah tertawa mendengar ucapan menantunya itu.
"Habisin aja duitnya si Sableng, Sayang ... atau mau Mami bantu?" usul Sandra.
"Hahahahah, boleh tuh Mam!" sahut Amartha. Mereka berdua tertawa membayangkan wajah Satya.
Beberapa saat kemudian Mira datang membawa dua cangkir teh hangat dan beberapa potong kue rasa pandan.
__ADS_1
Di lain tempat, Firlan sudah tiba di perusahaan Ganendra group setelah melakukan perjalanan selama berjam-jam, dan selama itu pula ia tidak dapat menghubungi kekasihnya. Namun, Firlan berpikir kalau Vira sedang bekerja dan tidak dapat menerima panggilan teleponnya. Pria itu tidak tahu jika calon mertuanya sedang berada di meja operasi.
"Selamat Siang, Tuan..." sapa Firlan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Siang, Lan..." sahut Satya yang kemudian menaruh lembaran kertas diatas meja dan beranjak ke arah sofa, tangannya mempersilakan Firlan untuk duduk.
"Saya kira kamu masih beberapa hari lagi disana, apa semuanya sudah beres?" tanya Satya setelah mendudukkan dirinya di seberang Firlan.
"Sudah beres, Tuan..." jawab Firlan mantap, dia telah bekerja keras untuk menyelesaikan masalah itu.
"Terima kasih, Lan..." ucap Satya tulus.
"Sesuai permintaan kamu, saya akan memberikan cuti panjang, pergilah berlibur. Saya sudah bilang ke Maura untuk menyiapkan tiket liburan ke Paris," kata Satya yang sangat mengapresiasi kerja keras Firlan.
"Terima kasih, Tuan..." jawab Firlan dengan nada tak bersemangat.
Baru saja Satya akan bertanya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, menginterupsi pembicaraan antara asisten dan pimpinan perusahaan itu.
"Ya, masuk..." seru Satya. Kemudian munculah sosok Maura dari balik pintu dan melangkahkan kakinya mendekat dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Maaf, Tuan ... ada kiriman paket makanan," kata Maura dengan meletakkan sebuah papper bag yang berisi beberapa box makanan di atas meja.
"Dari siapa?" tanya Satya
"Dari nona Ivanka," jawab Maura.
"Buat kamu dan Firlan saja," Satya menunjuk papper bag itu.
"Buat kamu saja Maura, saya tidak lapar," ucap Firlan cepat.
"Baiklah, saya permisi, Tuan..." Maura mengambil kembali papper bag yang baru saja ia letakkan diatas meja.
"Kenapa? tumben nolak makanan?" tanya Satya pada Firlan.
"Takut kalau nona Ivanka ternyata penganut cinta ditolak dukun bertindak," sahut Firlan.
"Maksudnya?"
"Aiih, dia kan naksir anda, Tuan ... ya kali aja dia naruh sesuatu di dalam makanan, yang bikin anda tiba-tiba klepek-klepek sama nona Ivanka,"
"Hubungannya dengan kamu?"
"Ya barangkali kalau saya yang makan, nanti saya yang naksir nona Ivanka, kan bisa kacau Tuan..." ucap Firlan.
"Ada-ada aja kamu, Lan ... di jaman modern seperti ini kamu masih percaya hal begituan," kata Satya mencibir ucapan Firlan.
"Saya tidak percaya, saya hanya waspada, Tuan..." jawab Firlan.
__ADS_1
...----------------...