
Setelah mengerahkan semua keahlian memasaknya, Satya pun akhirnya bisa menyediakan beef tepanyaki yang sudah pasti enak di lidah. Sedangkan Esih sedang pergi ke pasar membeli sayuran segar untuk dimasak nanti siang.
"Wih, pinter masak juga," ujar Kenan sembari bertepuk tangannya pelan sambil manggut-manggut.
"Ya iyalah! sudah jelas suami idaman, cari uang bisa masak juga bisa," Satya memuji diri sendiri.
"Oke, oke. Kamu masak beef tepanyaki-nya cuma satu porsi? lalu aku makan apa?" tanya Kenan.
"Itu bubur satu mangkok belum cukup? astaga, rakus juga ya ternyata," kata Satya ketus.
"Astaga, lalu aku disini nungguin cuma buat nontonin kamu masak? cih, berasa celebrity chef banget, ya?" Kenan berdecih dan meneguk air putih yang ada di hadapannya. Satu mangkok bubur ayam sudah meluncur ke perutnya, tapi melihat masakan Satya mendadak dia pengen nyomot juga.
Sementara Satya membuat sandwhich untuk menyumpal mulut Kenan agar tidak berisik, Vira dan Firlan pergi mencari sarapan.
Setelah bergulat dengan peralatan dapur, Satya pun membawa makanannya ke ruang tengah dan berniat mengajak Amartha untuk makan.
Namun, pria itu sungguh terkejut saat mendapati Amartha menutup pintu kamarnya dan ada tas baju yang tergeletak di lantai di samping kakinya. Sementara wanita itu mencangkolkan tas yang lain di bahunya.
Satya segera menaruh masakannya di atas meja, dan segera menghampiri istrinya.
"Kamu mau kemana, Yank?" Satya memegang kedua bahu Amartha. Wanita itu segera menepisnya.
"Nggak usah sentuh aku. Aku nggak suka," kata Amartha membuang muka sementara tangannya menahan perutnya yang sedang kontraksi.
"Perut kamu sakit, hah?" Satya yang cemas langsung menyentuh perut Amartha. Namun Amartha lagi-lagi menepisnya.
Kenan yang membawa satu piring sandwhich dan satu gelas air putih hangat pun langsung menaruh apa yang ada di tangannya di atas meja.
"Kamu kenapa, Ta? kamu mau lahiran?" Kenan memberondong Amartha dengan pertanyaan, ia tak kalah khawatir apalagi saat melihat satu tas yang ada di depan pintu.
Amartha hanya diam tak menjawab pertanyaan kedua pria itu, dia malah mlengos duduk di sofa sambil merasakan nyeri yang hilang timbul.
__ADS_1
Satya dan Kenan langsung menghampiri wanita itu.
"Apanya yang sakit biar aku bantu," ucap Satya yang duduk di samping Amartha sedangkan Kenan berdiri tak jauh dari Satya dan Amartha.
Amartha malah menggeleng dan tersenyum mengejek. Satya bisa melihat ekspresi kecewa dari wajah istrinya.
"Hati aku yang sakit dan itu karena kamu," kata Amartha penuh penekanan, air mata keluar tanpa permisi.
Kenan yang tahu dia berada di situasi yang kurang tepat pun segera menyingkir. Dia harus memberikan waktu suami istri itu untuk duduk berdua.
Kenan keluar untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Adakalanya kita harus mengalahkan ego, meski dalam hatinya ia masing menyayangi dan menginginkan wanita itu. Dia pernah di posisi Satya, dan yang ia sesalkan Amartha kembali merasakan kecewa karena kehadiran wanita lain dalam pernikahannya.
Di dalam Villa, Satya tak tahu harus mulai dari mana. Seakan kata per kata saling berebut untuk keluar, dan memperjelas semuanya.
"Aku tau aku udah buat kamu kecewa, kamu boleh maki aku marah sama aku tapi please kamu pikirin anak kita di dalam sini," ucap Satya. Amartha tertawa mendengar ucapan suaminya. Sedangkan Satya menepuk jidatnya karena salah berucap.
"Kamu bilang aku nggak mikirin anak ini? anak yang aku jaga dan coba lindungi dengan seluruh kekuatanku? kamu bilang aku nggak mikirin dia, Mas? lucu banget kamu asli, aku pergi kesini karena aku peduli dan nggak mau terjadi sesuatu yang buruk dengan anak ini," kata Amartha penuh emosi. Tangisnya oecah begitu saja.
"Gimana? apanya yang nggak sesuai? jelas-jelas kamu biarin dia pegang tangan kamu, lendotan di lengan kamu. Sampai disini mana yang nggak jelas?" Amartha menunjuk-nunjuk lengan yang digelayutin Ivanka dalam foto.
"Oh, atau kalian sudah..." Amartha menggantung ucapannya.
"Nggak, astagfirllah! nggak suwer deh, Yank! nggak ada kayak gitu, Yank!" serobot Satya, dia menggeleng dan menggenggam tangan Amartha dengan erat.
"Oh, udah nggak sabar ya kan pengen berdua, dan aku nggak akn bisa pisah dari kamu karena aku lagi hamil. Licik juga ternyata kamu, Mas?" Amartha berusaha melepaskan genggaman tangan Amartha.
"Licik dan serakah lebih tepatnya," sambung Amartha.
"Dengerin aku, dengerin baik-baik. Aku cuma cinta sama kamu, dan nggak akan ada yang bisa mengubah itu. Aku dan Ivanka nggak akan pernah menikah. Nggak akan pernah dan aku bisa jamin itu, aku minta maaf udah bikin kamu salah paham dan sakit hati," ucap Satya, pria itu mengatakan sesuatu yang membuat Amartha tak percaya.
"Terserah kalau kamu nggak percaya, tapi aku akan buktikan itu. Ini demi kita, aku memiliki buktinya dalam recorder hitam. Tapi entahlah benda itu hilang tanpa jejak, disitu ada bukti percakapanku dengan seseorang," jelas Satya.
__ADS_1
Amartha lantas teringat dengan sebuah benda kecil yang ditemukan bik Surti di jas suaminya. Ia merogoh saku tas miliknya, dan menunjukkannya di depan Satya.
"Apakah benda ini yang kamu maksud, Mas?" tanya Amartha, sedangkan Satya membulatkan matanya saat melihat benda yang selama ini dia cari.
"Dimana kamu menemukannya?" tanya Satya seraya mengambil benda itu dari tangan istrinya.
.
.
Hari menjelang siang, Ivanka masih melakukan perawatan. Dia tidur tengkurap dan merasakan pijatan yang membuat dangat rileks, apalagi tercium aroma therapy yang sangat menenangkan.
Dalam otaknya sudah membayangkan jika dirinya akan bersanding dengam pujaan hatinya di depan keluarga dan para tamu undangan. Meskipun acara ini termasuk acara yang privat, tapi wanita itu ingin tampil secantik mungkin dan membuat semua orang terpukau dengan penampilannya.
Ketika ia sedang merasakan pijatan di kakinya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ivanka berdecak kesal saat mengetahui siapa yang meneleponnya saat ini.
"Ada apa, Alia? apa kamu tidak tahu kalau saya sedang tidak bisa ke kantor? kirim lewat email apa saja yang ingin kamu laporkan dan tidak perlu menggangguku seperti ini, mengerti?" ucap Ivanka yang nyerocos dan tak memberi Alia untuk bicara.
"Baiklah, Nona ... semuanya akan saya kirim lewat email," kata Alia.
"Ya, lakukan saja," kata Ivanka.
"Kamu sangat menggangguku, Alia. Jangan menghubungiku kalau bukan sesuatu yang mendesak, paham?" tanya Ivanka. Memastika jika asisten berkacamatanya itu bisa memahani apa yang harus dia lakukan.
"Kapan dia bisa bekerja dengan lebih baik?" gerutu Ivanka.
"Masage nya sudah selesai, Nona..." kata therapis wanita.
"Oke," sahut Ivanka seraya beranjak untuk melakukan perawatan selanjutnya.
...----------------...
__ADS_1