
Ivanka kesal karena Satya begitu saja meninggalkannya di lobby. Dia masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu melajukan kendaraannya menuju perusahaaannya.
Selama perjalanan, wanita itu terus saja menggerutu tentang sikap tidak bersahabat Satya. Dia berpikir bagaimana caranya agar Satya sendiri yang akan mencarinya. Satu sudut bibirnya terangkat saat mendapatkan sebuah ide.
"Kau tidak bisa bersikap seperti itu padaku, kau sudah melakukan kesalahan yang fatal, Satya!" gumam Ivanka, matanya tetap fokus pada jalan. Namun pikirannya malah mengarah pada satu pria yang tak mungkin ia raih.
"Seharusnya dulu aku mencarimu, sebelum kamu bertemu dengan perempuan itu. Apakah setiap pria itu sama? memberikan kebaikan hanya untuk mempermainkan hati seorang wanita?" Ivanka bermonolog dengan dirinya.
Tak selang berapa lama ponsel Ivanka berdering, menampilkan nama sang ayah, Adam Barsha.
"Ya, halo Pah?" sapa Ivanka saat telepon tersambung.
"Vanka? kamu dimana?" tanya Adam pada putrinyam
"Perjalanan ke kantor," sahut Ivanka.
"Cepatlah, papa sudah menunggu di ruanganmu," ucap Adam.
"Tunggulah sebentar lagi, Vanka akan segera sampai," kata Ivanka.
Ivanka segera memutus sambungan telepon itu. Dia membelokkan mobilnya ke sebuah gedung perkantoran. Vanka memilih untuk masuk sampai ke basement. Sejenak pikirannya teralihkan pada ayahnya. Tumben sekali Adam datang ke kantor, padahal jika ada yang penting tentu sudah dikatakan ayahnya itu tadi pagi saat sarapan bersama di meja makan.
"Biasanya juga kalau ada yang penting cukup telfon, nggak biasanya papa nungguin di ruangan," gumam Ivanka.
Wanita itu segera melepas sabuk pengaman, ia segera membuka pintu dan keluar dari mobil.
Sementara di tempat lain, Rosa dan Rudy pamit dari kediaman Ganendra.
"Mama pulang, ya?" ucap Rosa sembari memeluk anaknya.
"Iya, nanti aku sama mas Satya gantian ke rumah, kami akan menginap beberapa hari," ucap Amartha berat melepas pelukan sang ibu.
"Iya, kami tunggu. Jaga kesehatan, ya? terutama jaga pola pikir dan kontrol emosi," kata Rosa. Ia menjarak tubuhnya dengan putri semata wayangnya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Iya, Mah..." jawab Amartha.
"Hati-hati di jalan ya, Pah? kabari Amartha kalau Papa sudah sampai di rumah," Amartha memeluk Rudy, pria paruh baya itu mengelus rambut anaknya perlahan.
"Kamu juga hati-hati di rumah, jangan sampai terlalu lelah," ucap Rudy mengingatkan.
"Ya sudah, kami pergi dulu..." ucap pria itu lagi.
"Mari Bu Sandra, Pak Abi, Nak Prisha..." ucap Rudy.
__ADS_1
"Hati-hati Pak Rudy, Jeng Rosa..." seru Sandra.
Amartha melambaikan tangannya pada mobil yang membawa orangtuanya pergi menjauh dari kediaman Ganendra.
Mereka semua masuk kembalinke dalam rumah.
"Mam? Amartha dan Prisha mau pergi cari angin, nanti Amartha langsung pulang ke rumah. Sekalian Prisha mau nginep juga disana, nggak apa-apa kan?" ucap Amartha.
"Iya nggak apa-apa, hati-hati di jalan," kata Sandra.
"Pasti, Mam!" jawab Amartha.
"Prisha, kamu jangan ngrepotin Mbak kamu, ya?" ucap Sandra pada anak bungsunya.
"Jangan bikin emosi abang kamu ya, Sha?" celetuk Abiseka.
"Ih, Papiiii ... mana ada aku bikin emosi? yang ada abang yang bikin kepala Prisha cekot-cekot," seloroh Prisha.
"Amartha ke atas dulu mau ambil tas ya, Mam, Pap..." kata Amartha ia pun pergi menuju kamarnya.
"Aku juga," ucap Prisha yang ikutan ngibrit menyusul kakak iparnya.
Mereka pergi untuk menguras dompet Satya, Prisha pun yang tadinya hatinya cekit-cekit perlahan terobati, karena membayangkan tas yang sudah lama ia idam-idamkan akhirnya sebentar lagi bisa dibeli.
"Kamu kenapa, Sha?" Amartha menepuk pipi Prisha, gadis itu cengar-cengir sendirian.
Damian yang berada di kursi kemudi pun segera membelokkan mobil ke arah mall. Kedua wanita itu pun turun.
"Nggak kepagian nih kita, Sha?" tanya Amartha.
"Nggak lah, Mbak! ini juga udah jam 11 siang," jawab Prisha.
"Ini perlu banget gandengan kayak gini?" tanya Amartha.
"Kan aku harus menjaga amanahnya abang, jagain Mbak..." kata Prisha.
"Ada-ada aja kamu, Sha..." ucap Amartha.
Akhirnya mereka pun memasuki sebuah toko tas branded . Tas-tas mahal terpajang membuat mata Prisha berbinar. Amartha yang lelah duduk di kursi empuk sambil melihat Prisha yang asik memilih tas yang diinginkannya.
"Mbak, aku mau yang ini," kata Prisha sambil menunjukkan sebuah tas yang dibandrol dengan harga yang bisa bikin pusing kepala.
Amartha bangkit untuk membayar namun, tangannya dicekal Prisha.
__ADS_1
"Mbak kan belum milih," kata Prisha.
"Tasku udah banyak, Sha..." ucap Amartha, karena dia memang tidak terlalu hoby belanja. Dan tidak silau sengan barang-barang mahal.
"Tapi kan semalam abang bilang, aku disuruh nemenin mbak beli sepatu sama tas, kalau abang nanya gimana? nggak, nggak sekarang Mbak duduk, biar aku bantu pilihin," Prisha ngoceh kayak emak-emak arisan. Gadis itu mengarahkan kakak iparnya untuk duduk, dan secepat kilat matanya memilah tas yang cocok untuk Amartha.
"Tolong aku mau yang itu," ucap Prisha pada pelayan toko.
"Wah, pilihan anda sangat tepat, Nona ... tas ini edisi terbatas," ucap wanita itu.
"Mbak suka, nggak?" tanya Prisha.
"Suka," ucap Amartha.
Prisha memberikan tas itu pada pelayan toko m, Amartha kemudian beranjak untuk membayar dua tas yang sudah dipilih Prisha tadi. Setelah mereka berdua keluar dari toko itu, Prisha membawa Amartha ke toko sepatu.
"Aku nggak butuh sepatu, Sha..."
"Kan semalem abang bilang Mbak disuruh beli sepatu, udah turutin ajah ... lagian kalau aku jadi Mbak udah aku gasak terus itu kartu ajaib dari abang. Mbak kayaknya harus belajar dari aku sama mami, kita berdua paling jago ngabisin duitnya papi," kata Prisha cekikikan.
"Aku paling nggak bisa belanja, Sha ... aku beli barang sesuai kebutuhan aja," kata Amartha.
"Mbak kan udah jadi istri pengusaha terkenal, jadi nggak masalah kalau belanja ini itu demi menunjang penampilan Mbak, duit juga duit suami Mbak sendiri. Sebenernya, aku udah minta sama papi buat beli tas, tapi papi jawabannya tarsok tarsok mulu. Aku sih tau, papi lagi ngerem aku supaya nggak belanja terus, tapi gimana ya Mbak! belanja itu udah passion aku banget gitu loh," kata Prisha sambil memilih sepatu untuk Amartha.
Amartha tertawa kecil mendengar Prisha yang sedari tadi ngoceh terus. Buat Amartha lebih baik mendengar Prisha ngoceh terus daripada harus melihat gadis itu diam dan mengeluarkan banyak air mata.
"Mbak suka yang ini?" tanya Prisha yang menunjukkan sepatu dengan warna biru tua.
"Suka," kata Amartha.
"Atau mau yang ini?" tanya Prisha yang menunjukkan sepatu yang lainnya.
"Yang biru tua aja, Sha ... aku belum punya warna yang itu," ucap Amartha.
"Ukuran?" tanya Prisha.
"39," jawab Amartha.
"Mbak yang ini ukuran 39," ucap Prisha.
Amartha pun akhirnya membeli dua sepatu untuk dirinya dan Prisha, senyum pun menghiasi wajah gadis yang sedang patah hati. Mereka berdua keluar dari toko kedua dengan menenteng belanjaan yang lumayan bikin ribet.
"Sha, kita minum boba dulu, yuk..." kata Amartha.
__ADS_1
"Aku haus," lanjutnya.
...----------------...