
"Kamu tau siapa dia?" Satya menarik lengan Amartha, untuk segera berdiri.
"Akan saya beritahu nanti, sekarang panggilkan direktur, katakan bahwa saya menunggu di ruang meeting sekarang juga!" titah Satya dengan pandangan menusuknya.
"Jangan Tuan," Handi memohon agar, masalah ini jangan sampai terdengar oleh direktur.
"Saya bilang cepat! dan jangan lupa bawa orang-orang yang telah menyebar berita ini," Satya sudah kehilangan kesabaran, Handi segera keluar ruangan untuk menghadap direktur, bisa-bisanya dia terhasut oleh mulut manis Dhea, yang mengusulkan pemecatan untuk Amartha. Dia bahkan lupa, kalau Firlan lah yang menyuruhnya untuk membuat surat panggilan kerja untuk Amartha, kenapa dia bisa sampai lupa hal sepenting itu.
"Mas?" Amartha memandang wajah Satya yang masih memandang lurus ke depan, tanpa berniat menolehnya. Airmata Amartha turun deras, dia takut Satya berpikiran buruk tentangnyanya.
"Mas, aku bisa jelaskan ini semua," ucap Amartha berusaha meyakinkan Satya.
"Hapus airmatamu, dan ikut aku sekarang" ucap Satya datar, lalu menarik Amartha ke dalam ruangan meeting.
Dia mendudukkan Amartha di kursi utama, Amartha tidak tahu apa yang dilakukan Satya, sementara pria itu berdiri disampingnya. Amartha sangat canggung berada di ruangan itu, bahkan duduk dikursi yang diperuntukkan untuk direktur rumah sakit.
Setelah menunggu beberapa saat, satu persatu orang-orang masuk ke dalam ruangan itu, mereka berjejer, tak satu pun yang berani untuk duduk. Dan disana terlihat Dhea dan Dara yang terkejut melihat Amartha, wajah kedua gadis mendadak pucat karena melihat raut wajah Satya yang seperti singa yang siap menerkam. Melihat ekspresi pria itu saja membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu diam seribu bahasa.
"Terima kasih kalian sudah berkumpul disini," ucap Satya dengan nada datarnya.
"Ayo berdiri, Sayang..." bisik Satya pada Amartha, dengan raut wajah yang 180 derajat sangat berbeda, pria itu tersenyum padanya. Amartha tak mengerti dengan sikap Satya, kemudian dia menuruti permintaan Satya untuk berdiri. Satu tangan Satya memeluk dirinya dari Samping.
"Perkenalkan Amartha Dina, calon istri dari Satya Ganendra sekaligus pemilik rumah sakit ini yang sebenarnya," Satya menatap tajam semua orang yang ada disana, sementara beberapa orang menunduk, tak sanggup melihat kilatan Amarah dari pria itu.
Sementara Dhea dan Dara benar-benar ketakutan, tamatlah riwayatnya, bisa saja dia kehilangan pekerjaannya gara-gara sebuah ide gila, dia berniat menyingkirkan Amartha, malah sekarang dia yang akan tersingkirkan. Jari jemari Dhea saling meremas satu sama lain, otaknya benar-benar buntu. Sedangkan Dara, dia benar-benar tidak percaya apa yang diterima oleh indra pendengarannya, Dara masih sulit mempercayai itu.
"Ti-tidak mungkin Tuan pasti sedang bercanda, bukankah Tuan pemilik rumah sakit ini?" ucap Handi terbata- bata, membuat Bastian sang direktur ingin memukul kepala managernya itu.
"Hah, apa yang tidak mungkin? AMARTHA DINA adalah pemilik rumah sakit ini, benar kan Sayang? kau sudah cukup bermain, Sayang? sekarang kau sudah tau kualitas manusia-manusia ini, bukan?" kata Satya.
"Bermain?" gumam Handi yang jelas didengar oleh Satya.
"Calon istriku, sengaja membuat yang kau bilang apa tadi? Skandal? hahahah, ya, dia sengaja melakukan itu, untuk menguji kalian semua, ternyata kalian manusia sampah! actingmu hari ini luar biasa sayang, bukankah sudah cukup 2 minggu ini kau bermain dengan mereka semua?" ucap Satya yang kemudian menatap mata indah calon istrinya.
"Maafkan semua kekacauan ini, Tuan ... Nona..." kata Bastian yang memangku jabatan direktur rumah sakit.
__ADS_1
"Oh ya, Bastian, singkirkan mereka semua!" perintah Satya pada Bastian, kemudian Satya melenggang pergi bersama dengan Amartha.
Baik, Tuan..." kata Bastian singkat.
"Tidak Tuan, sa-saya menyesal, saya minta maaf Tuan," Dhea spontan berucap, memohon agar perbuatannya bisa dimaafkan begitupun dengan Dara, wanita yang kebetulan ada didalam toilet dan secara diam-diam mengambil gambar serta merekam percakapan Amartha dan Kenan.
"Tidak! Nyonyaa sa-saya, ah, maaafkan saya..." ucap Handi, seraya memohon pada Satya dan Amartha ketika keduanya lewat didepannya. Namun Satya tetap membawa Amartha keluar dari ruangan itu. Amartha mengambil tasnya di loker karyawan dan berganti pakaian terlebih dahulu, sedangkan Satya berdiri menunggu didepan pintu. Setelah selesai, mereka berdua pun meninggalkan rumah sakit itu.
Selama diperjalanan Satya tak bicara sepatah katapun, membuat Amartha semakin takut. Amartha tahu sekarang keadaan hati Satya tidak sedang baik-baik saja. Begitu sampai di rumah orangtua Satya, pria itu langsung menaiki tangga menuju kamarnya, Amartha pun mengikuti kemana pria itu pergi. Dia ingin segera menyelesaikan kesalahpahaman ini.
"Mas..." Amartha memanggil Satya yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Satya tak menghiraukan panggialn Amartha, dia malah melepas jas dan dasinya.
"Mas Satya..." Amartha kembali memanggil Satya, sedangkan pria itu melepaskan sepatunya dan melenggang menuju toilet.
Amartha gelisah berdiri di depan pintu toilet. Setelah beberapa saat, pintu pun terbuka Satya berjalan melewatinya begitu saja.
"Mas, kamu kenapa diemin aku kayak gini, Mas..." Air mata sudah lolos dari kedua mata Amartha.
"Diamlah," ucap Satya lirih sambil duduk di sofa, dengan wajah yang sudah terlihat segar.
"Diamlah Amartha," pria itu mengulangi perkataannya
"Aku nggak bisa diam, Mas! kalau kamu bersikap seperti ini, aku takut kehilangan kamu, Mas ... aku bisa jelaskan semuanya," kata Amartha yang mendudukkan dirinya disamping Satya yang sedang memijit pangkal hidungnya.
"Mas Kenan memang datang, dia memintaku untuk rujuk, tapi percaya sama aku Mas ... aku sama sekali nggak berniat buat rujuk sama dia, dia sudah jadi bagian masa lalu aku Mas, aku ... aku..." tanpa diminta Amartha mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa?"
"Aku maunya sama kamu, Mas ... aku ..." Amartha menggantung ucapannya
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, lebih baik kamu keluar, aku ingin sendiri," ucap Satya lirih
"AKU CINTA SAMA KAMU, MAS SATYA!" seru Amartha yang sudah sangat tidak tahan dengan sikap dingin Satya.
"Aku cinta sama kamu, Mas! dan aku nggak mau kehilangan kamu, aku nggak pernah menghianati kamu, nggak pernah," lanjutnya.
__ADS_1
"Iya Sayang, aku tahu kok, iya ..
udah jangan nangis, lagian aku nggak mungkin termakan berita sampah kayak gitu, Yank..." Satya membawa Amartha ke dalam pelukannya.
"Terus? kenapa sikap kamu dingin sama aku? kamu bikin aku takut, Mas..." ucap Amartha diiringi tangisnya yang pecah saat itu, membuat kemeja Satya basah karena airmata bercampur ingus. Pria itu malah terkekeh melihat Amartha yang secara lantang menyatakan cinta padanya.
"Hahahah, iya, iya aku minta maaf..." ucap Satya seraya mengelus pucuk kepala Amartha, sedangkan wanita itu malah memukul dadanya berulang-ulang.
"Kamu jahat, Mas ...huhuhuhuh" Amartha semakin tak kuasa menahan tangisnya.
"Udah ah, jangan nangis, aku percaya kok sama kamu, kamu wanita baik-baik, buat dapetin kamu aja susah banget masa iya aku mau lepasin gitu aja? nggak yank ... aku nggak sebego itu," Satya mengambil beberapa lembar tisu yang ada didekatnya dan menghapus jejak-jejak airmata wanita yang tak mau melepaskan diri darinya. Satya menjarak keduanya dan menatap Amartha serius.
"Tapi tentang rumah sakit itu, kamu memang pemiliknya, Sayang..." lanjut pria itu.
"Tapi aku, aku tidak pernah menandatangi apapun," Amartha menatap Satya bingung.
"Kamu yakin?" Satya malah balik bertanya.
"Bagaimana bisa kamu,"
"Bisa, semuanya sudah aku atur setahun yang lalu, itu berkat bantuan sahabat konyolmu, Vira..." jelas Satya yang membuat Amartha loading lagi.
"Tapi,"
"Sudahlah yank, nggak usah diinget-inget lagi, intinya rumah sakit itu milik kamu, terserah kamu mau kamu apakan rumah sakit itu," kata Satya sambil mengusap lembut pipi Amartha.
"Mas..." Amartha menggigit bibir bawahnya.
"Ya?"
"Aku mau kita percepat pernikahan kita," ucap wanita itu.
...----------------...
aku double up loh hari ini, semoga kalian suka alurnya ya, walaupun masih mutar muter aja...
__ADS_1