
"Siang, Mam!" ucap Satya begitu masuk kevdalam butik, lalu berhambur mencium pipi sang mami, yang sudah sangat terlihat sangat dongkol karena Satya datang 1 jam lebih lama dari waktu yang telah ditentukan.
"Maaf, aku telat! ada meeting mendadak tadi," sambungnya, kemudian langsung duduk di samping calon istrinya.
"Maaf, Sayang! kamu pasti udah lama nunggu, ya?" Satya mencium pucuk kepala Amartha.
"Ehem," Sandra berdehem. Sontak membuat dua sejoli itu melihat ke arah Sandra.
"Keselek, Mam?" Satya bertanya dengan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Sementara Amartha tersenyum canggung.
"Iya mata mami nih yang keselek," sahut Sandra asal.
"Itu namanya kecolok, Mam!" jawaban Satya memancing gelak tawa keduanya. Amartha dibuat heran, pasalnya kedua orang itu bisa tertawa renyah hanya dengan banyolan sederhana.
Sandra tersenyum saat melihat Satya memperlakukan calon istrinya dengan sangat lembut. Sandra bernafas lega, akhirnya Satya mau melepaskan masa lajangnya.
"Mau di coba sekarang gaunnya?" tanya Dela yang menjadi perancang gaun pengantin untuk Amartha.
"Boleh deh, La..." sahut Sandra sambil mengangguk kecil pada Dela.
"Nona, silakan dicoba dulu gaunnya," ucap seorang pegawai butik, yang sudah menyiapkan dua buah gaun yang sudah ada di ruang ganti, Sandra ingin menantunya terlihat cantik di pesta yang akan digelar bulan depan. Amartha lalu bangkit dari duduknya dan mengikuti wanita tadi.
Amartha membelalakkan matanya saat melihat gaun pertama yang akan dia coba.
"Mbak, nggak salah nih gaunnya?" tanya Amartha mencoba memastikan.
"Tidak, Nona ... mari saya bantu," jawab pegawai butik yang bernama Laura.
"Eh, eh ... mau ngapain?" tanya Amartha saat wanita itu mendekat ke arahnya.
"Akan sangat sulit memakai gaun ini seorang diri, Nona..." jelas Laura, menunjuk gaun yang tergantung di sampingnya.
Akhirnya Amartha pun pasrah saja, membiarkan wanita itu membantunya untuk memakai gaun yang membuat Amartha mengigit bibirnya, saat melihat pantulan dirinya di depan cermin besar itu.
Amartha tampak sangat seksi dengan belahan dada yang sangat rendah. Amartha ragu untuk keluar, dia benar-benar sangat malu untuk menampakkan dirinya pada Satya dan Sandra.
"Gimana, nih..." gumamnya saat melihat gaun yang mengekspos tubuh bagian atasnya itu.
__ADS_1
"Mari, Nona..." ucap Laura seraya membuka tirai yang melingkar di ruang ganti itu.
Ketika tirai terbuka sempurna, spontan gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dia sungguh risih memakai baju yang mengekspos bagian yang sedang susah payah ia tutupi itu.
Sandra hanya terkekeh geli melihat apa yang dilakukan gadis itu. Sedangkan Satya, pria itu menatap Amartha tanpa berkedip sedikit pun dan dengan susah payah ia menelan salivanya.
"Jangan lupa napas!" Sandra menyenggol lengan Satya, yang membuat Satya menjadi salah tingkah.
"Gimana, bagus nggak pilihan mami, Sat?" Sandra menyenggol lagi lengan anaknya itu.
"Ba-bagus!" ucapnya gugup tanpa mengalihkan pandangannya dari Amartha. Amartha rasanya tak sanggup memandang Satya, dia melempar pandangan ke arah lain.
"Eh, eh, maksud aku nggak, Mam!" Satya meralat cepat ucapannya.
"Bagus atau nggak?" Sandra mengulangi lagi pertanyaannya.
"Nggak, nggak bagus! aku nggak suka!" Satya menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Tapi, mami suka, Sat!" Sandra tak mau kalah.
"Ya udah Mami aja yang pake," ucap Satya melirik sang mami sekilas, pria itu kemudian menghampiri Amartha.
"Ish, kamu ini!" gumam Sandra kesal.
"Aku tunggu disana," lanjut pria itu sebelum kembali ke tempat duduknya semula.
Amartha hanya mengangguk dan segera masuk ke ruang ganti lalu menutup tirai, Satya bernafas lega dan kembali duduk di samping Sandra. Dia tidak mau melihat Amartha dengan gaun yang terlalu terbuka, yang mengekspos kulit putih mulusnya yang nanti akan menjadi pusat perhatian orang lain.
Satya kembali menyandarkan punggungnya yang sepertinya sudah sangat lelah, ia menumpangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya, seraya melipat tangannya di depan dada. Sesekali melihat arloji yang berada di tangan kirinya. Perutnya sudah sangat lapar
Tak berapa lama, Amartha keluar dengan memakai sebuah gaun V neck, bagian depan dan belakang tertutup aman, namun ketika Satya melihat ke bagian bawah, masya Allah belahan di bagian kaki nggak kira-kira tingginya, yang otomatis menampilkan paha mulus calon istrinya. Satya lantas melirik ke arah Sandra, wanita itu mengangkat bahunya cuek.
Satya memijit pangkal hidungnya, kenapa dua gaun yang dipesan maminya tidak ada yang beres. Sekarang Satya yang jadi uring-uringan, sementara Amartha hanya berdiri seperti patung, melihat perdebatan antara Satya dan Sandra.
Satya segera menghampiri Amartha lalu, ia menyuruh Amartha mencoba gaun yang lain lagi, yang lebih beradab. Amartha hanya menurut saja.
"Mbak, tolong bawakan gaun yang lebih tertutup," perintah Satya pada Laura, pegawai butik yang membantu Amartha memakai baju pengantinnya.
"Bagusan juga tadi, Sat!" ucap Sandra tanpa rasa berdosa.
__ADS_1
"Udah deh, Mam!" kata Satya kesal, yang kemudian mendudukkan dirinya kembali.
Sandra tertawa geli karena telah berhasil mengerjai anaknya, padahal sebenarnya bukan gaun itu yang ia pesan.
"Sudah, San ... jangan ngerjain Satya terus, kasian mukanya udah bete kayak gitu," ucap Dela pada Sandra.
"Ya udah, Van ... tolong ambilkan gaun yang sebenarnya aku pesan," kata Sandra yang membuat Satya memicingkan matanya. Curiga, maminya akan berbuat yang aneh-aneh lagi.
"Apa liat-liat?" ucap Sandra pura-pura ketus pada Satya, yang menatapnya tajam.
Akhirnya Dela pun mengambilkan satu gaun pengantin yang simple dengan taburan berlian dan swarowski membuat gaun itu tampak mewah, sebuah gaun putih berekor panjang dengan brukat transparan dibagian tangan dengan motif bunga. memperlihatkan lekuk tubuh sang pengantin wanita. Satya terpesona melihat tubuh ramping Amartha yang dibalut gaun yang sangat indah itu. Amartha bernafas lega, akhirnya gaun yang dipakainya ini tidak banyak mengekspose kulit mulusnya.
"Cantik!" satu kata meluncur dari bibir Satya, Amartha yang mendengar itu pun tersipu malu.
Satya pun segera beranjak dari duduknya dan mencoba jas yang akan dia pakai di hari bahagianya.
Akhirnya, setelah selesai mencoba gaun pengantin, Satya membawa Amartha untuk makan siang, sedangkan Sandra sudah ada janji dengan Dela. Mereka akan pergi ke suatu tempat, kebetulan Dela dan Sandra sudah bersahabat baik sejak mereka duduk di bangku kuliah.
"Besok, kita akan foto preweding," ucap Satya tiba-tiba, sambil fokus menyetir
"Oh iya, aku lupa! Mas bisa nggak kalau Firlan-" pekik Amartha, belum sempat ia menyelesaikan perkataannya Satya sudah memotong ucapannya.
"Ehm, Firlan lagi ... Firlan terus!" Satya ngambek.
"Ih, Mas bukan gitu..." Amartha bingung harus bagaimana menjelaskan pada Satya.
"Kita lagi berdua, kamu masih aja nyebut nama cowok lain di depan aku," Satya berbicara dengan hanya melirik dengan ekor matanya.
"Nggak jelas kamu, Mas! dengerin aku dulu, sih!" Amartha kesal dengan Satya yang cemburunya kebangetan.
"Iya iya aku dengerin..." ucap Satya cepat.
"Bisa nggak Firlan jemput Vira? kasian nanti dia kesini sendirian, aku takut kalau dia nanti nyasar," jelas Amartha.
"Oh, buat jemput Vira ... oke, apapun buat kamu, Sayang," ucap Satya lembut.
"Cih, gombal!" Amartha berdecih mendengar ucapan pria yang sebentar lagi menjadi suaminya.
"Tapi kamu suka, kan?" Satya menaik turunkan alisnya, menggoda sang wanita.
__ADS_1
"Dih, kumat!" ucap Amartha yang tak bisa lagi menyembunyikan senyum dari bibirnya.
...----------------...