Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Nggak Usah Sok Direbutin!


__ADS_3

Namun, tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka.


"Fen, aku mau ngomong!" ucap seorang wanita.


"Kami sedang makan, lebih baik anda keluar dan kembali lagi setelah jam makan siang!" ucap Sinta tegas mendahului Fendy. Sinta sudah kenal wajah wanita yang disebut Fendy wanita kadal.


"Apa?" wanita itu menatap Sinta tidak suka.


"Anda punya masalah dengan pendengaran, ya? saya bilang, kami sedang makan. Silakan tunggu diluar, dan kembali setelah kami selesai makan!" ucap Sinta penuh penekanan. Ia tak bisa berpura-pura tidak mengenal wanita itu.


"Heh, nggak usah sok ngatur! emang kamu siapa, hah? aku ada perlu sama dia. Lebih baik kamu yang keluar!" kata wanita itu.


"Aku pacarnya, lebih tepatnya calon istrinya. Iya kan, Sayang?" ucap Sinta sambil melirik Fendy.


"Iya, Sayang!" jawab Fendy.


"Akhirnya dia mengakuiku sebagai pacar, ada gunanya juga si wanita kadal datang kemari," gumam Fendy dalam hatinya.


"Aku nggak peduli, tuh! yang jelas aku ada urusan sama dia," kata Ivanka menunjuk Fendy.


"Astaga wanita ini sungguh tidak tau malu!" gumam Sinta. Ia segera berdiri dan menghampiri wanita yang memaikai rok mini dan blazer berwarna gelap.


"Nona Ivanka Barsha, silakan anda keluar karena kami sedang menikmati makan siang bersama, anda mengerti?" ucap Sinta yang memegang handle pintu, mengusir wanita yang sedang berdiri menatapnya nyalang. Fendy perlahan berjalan dan bersandar pada meja kerjanya, ia melipat tangan di depan dada. Melihat dua wanita yang sedang adu mata.


"Lagipula dengan cara bicaramu itu, saya kira anda datang kemari bukan untuk membahas masalah pekerjaan, bukan?" sindir Sinta.


Namun Ivanka malah tak menghiraukan Sinta yang sudah bertanduk. Wanita itu mendekat pada Fendy dan membisikkan sesuatu pada pria itu.


"Sore ini kita ada janji dengan orangtuaku, datanglah ... dan aku akan memberi imbalan yang setimpal, berperanlah sampai aku bilang cukup," bisik Ivanka.


"Maaf, anda bisa mencari oranglain untuk menjadi pemeran pengganti," dengan sigap Fendy menjauhkan tubuh wanita itu dari dirinya.


"Kemarilah, Sayang!" Fendy memanggil kekasihnya. Ivanka menoleh ke belakang, ia melihat Sinta berjalan ke arah mereka.


"Sebentar lagi aku akan menikah, dan tidak mungkin disaat yang bersamaan aku menjalin hubungan dengan dua wanita sekaligus. Soal perjodohanmu dengan pria pilihan ayahmu, itu bukan urusanku," kata Fendy yang merengkuh pinggang Sinta.


"Tapi Ethan sudah bilang kalau kamu mau, jangan coba-coba mengingkari kesepakatan kita," kata Ivanka.


"Itu kan perjanjianmu dengan si setan itu," kata Fendy.


"Hey, Nona ... aku kira wajahmu tidak terlalu jelek untuk mendapatkan pria yang benar-benar mencintaimu, kenapa kamu suka sekali mengganggu hubungan oranglain?" kata Sinta.

__ADS_1


"Bukan urusanmu," kata Ivanka.


"Aku sudah mengeluarkan uang banyak, dan aku yakin kamu sudah mendapatkan bagianmu dari Ethan," Ivanka menarik dasi Fendy jarak wajahnya dan pria itu sangat dekat. Sinta sangat geram melihat tingkah Ivanka yang benar-benar di luar batas.


"Keluarlah, kamu sungguh membuatku muak!" seru Sinta, ia mendorong tubuh Ivanka, menjambak dan menyeretnya menjauh dari Fendy.


"Hey, singkirkan tangan kotormu itu!" teriak Ivanka.


"Baiklah akan aku lepaskan," ucap Sinta saat sudah mencapai pintu.


"Selamat siang, Nona!" ucap Sinta seraya mendorong Ivanka keluar dan membanting pintu dengan keras dan ia segera menguncinya.


"Dasar wanita siluman!" Sinta merapikan bajunya dan mengusap telapak tangannya seakan dia sudah memegang sesuatu yang kotor.


"Wow! garang juga ya pacarku," ujar Fendy tersenyum jahil.


"Nggak usah sok direbutin, yah!" sarkas Sinta.


Sementara Ivanka keluar dengan wajah yang merah padam. Ia berjalan cepat menuju lift, beberapa pegawai melihatnya aneh, karena rambut yang acak-acakan.


"Dasar wanita sialan!" sumpah serapah keluar dari mulut Ivanka, kulit kepalanya terasa sangat sakit, mungkin wanita itu telah membuat beberapa helai rambutnya tercabut.


"Sialan kamu, Ethan! kamu bilang dia menyetujui perjanjian ini," umpat Ivanka saat sudah duduk di kursi kemudinya.


Ivanka berusaha menghubungi Ethan, namun pria itu tak menjawab bahkan saat Ivanka menghubunginya untuk yang kedua kalinya, nomor Ethan malah tidak aktif.


"Sialan! beraninya dia menipuku!" Ivanka memukul stir mobilnya.


"Bagaimanapun caranya aku nggak akan sudi menikah dengan Carlo, pria licik itu!" ucap Ivanka, ia masih teringat wajah pria yang sempat dijodohkan dengannya. Adam, mendesak agar Ivanka cepat menikah karena ia berpikir kalau dirinya semakin tua. Dia ingin sekali melihat Ivanka, putri satu-satunya menikah dan memiliki keturunan.


"Aku hanya menyukai seseorang, aku hanya menginginkan dia," Ivanka bermonolog dengan dirinya.


Sedangkan di rumah Gusti.


"Vira," ucap Gusti yang baru saja datang, duduk di sofa berhadapan dengan wanita cantik dengan rambut sebahu itu.


"Ya?" sahut Vira.


"Sepertinya aku harus pulang," lanjut Vira.


"Kenapa terburu-buru?" tanya Gusti.

__ADS_1


"Bahkan kamu belum menyentuh minumanmu sama sekali," kata Gusti.


"Apakah aku harus memanggilmu dengan sebutan kakak atau bapak?" tanya Vira polos.


"Sesukamu saja," jawab Gusti.


"Aku kira kita seumuran, makanya aku hanya sebut nama,"


"Memang kelihatannya begitu, ya? berarti aku awet muda, ya?" kata Gusti sambil tertawa kecil.


"Kita tidak terpaut jauh, aku memang menikah diusia muda, jadi penglihatanmu memang tidak salah, Vira..." ucap Gusti.


"Astaga, kenapa aku jadi kaku begini, ya?" lanjut pria itu.


"Iya, bener kayak kanebo kering!" celetuk Vira.


"Hahahahah, ada-ada aja kamu, Vira..." pria itu menyesap minumannya begitu pun dengan Vira.


"Maaf, putriku merepotkanmu ... tapi aku baru melihat dia sedekat ini dengan orang lain yang baru dikenalnya," kata Gusti.


"Sama sekali nggak repot, kok ... lagian kan aku emang lagi free, jadi nggak masalah..." kata Vira.


"Aku liat kamu bisa melukis, ya? maksudku, kamu bisa membuat karya seni," ujar Gusti.


"Aku masih amatiran, aku cuma pakai insting..." kata Vira.


"Gia juga sama, aku pernah mendatangkan guru lukis tapi hanya bertahan seminggu," ungkap Gusti.


"Kenapa?"


"Entahlah, katanya kurang asik..." ujar pria itu sambil tertawa kecil.


Sementara di tempat lain. Amartha sedang melihat beberapa barang yang telah dikirim ke rumahnya. Satya memberinya sebuah katalog, dan Amartha hanya perlu menunjuk barang yang diinginkannya.


Amartha memilih warna yang netral. Beberapa barang yang dipesannya dominasi warna putih, seperti ranjang bayi dan lemari untuk menyimpan baju-baju bayi. Karena usia kandungannya sudah mendekati 8 bulan, Amartha sudah diperbolehkan untuk membeli perlengkapan bayi. Awalnya ada perdebatan mengenai urusab beli membeli barang, ya biasalah perkara pamali. Ayah Amartha bilang lebih baik membeli baju dan lainnya pada saat Amartha memang sudah akan melahirkan.


"Coba aja kalau mas Satya nggak jago merayu papa, yang ada aku lagi mules-mules mau ngeluarin bayi, eh yang lain malah riweuh karena bajunya belum dibeli," Amartha terkekeh saat membayangkan seandainya kejadian itu sampai terjadi.


"Halo bumil cantik, dicariin kemana-mana juga. Eh, taunya ada disini..." ucap seorang seraya memeluk Amartha dari belakang.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2