
"Halo?" Amartha menyapa orang diseberang telepon.
"Mas Kenan?" Amartha memanggil sang penelepon yang tak kunjung bersuara.
"Kamu dimana?" tanya Kenan dengan nada datarnya, tidak ada panggilan sayang seperti biasanya.
"Aku ... ehm," Amartha menggigit bibir bawahnya, bingung harus menjawab apa.
"Kamu dimana? aku di depan kosan kamu," ucap Kenan menanyakan keberadaan kekasihnya.
"Hah? eh, Mas nggak ngabarin aku kalau mau ke sini?" Amartha gugup menjawab pertanyaan Kenan
"Kamu belum jawab pertanyaanku, Amartha!" Kenan mulai meninggikan suaranya dia mengacak rambutnya frustasi.
"Aku..." belum juga sempat Amartha melanjutkan jawabannya, Satya langsung mengambil ponsel di tangan Amartha.
"Amartha ada dirumahku, nanti aku kasih tau alamatnya, sekarang aku mau sarapan, bye!" ucap Satya singkat dan jelas lalu menutup sambungan telepon itu. Amartha hanya mematung, bingung harus bagaimana jika Kenan sudah sampai disini. Satya mengetik sesuatu diponsel Amartha.
"Lanjutin makan ya? terus minum obatnya," ucap Satya yang mendudukkan Amartha kembali dan mengembalikan ponsel gadis itu.
"Iya," jawab Amartha
Mereka menyelesaikan sarapan versi berbagi di pagi hari itu. Satya tak lupa mengingatkan Amartha untuk minum obatnya. Tak selang beberapa lama, Kenan sampai di rumah rivalnya. Kenan memencet bel berkali-kali seakan tak sabar menunggu sang empunya rumah membukakan pintu. Baru saja Kenan akan memencet bel kembali pintu tiba-tiba terbuka.
"Brisik!" ucap Satya ketika pintu terbuka lebar. Kenan menatap Satya tajam.
Satya hanya memandang dengan tatapan mengejeknya melihat Kenan terbakar api cemburu. Satya mempersilakan Kenan masuk.
"Mana Amartha?" Kenan yang masih berdiri di depan pintu, tak mau basa-basi.
"Ada," Satya menjawab pertanyaan lelaki di depannya sembari menggeser tubuhnya ke samping menampakkan sosok gadis yang di cari oleh Kenan.
"Mas," Amartha menunduk tak mau melihat kilatan Amarah di wajah Kenan.
"Ayo pulang!" Kenan menarik tangan Amartha.
"Tunggu ... ada apa dengan jeans kamu?" Kenan kaget melihat Amartha mengenakan jeans yang sangat pendek memperlihatkan paha mulus gadis itu.
"Aku yang gunting, soalnya..." belum sempat Satya menjelaskan, Kenan sudah terlebih dulu nelayangkan pukulannya.
"Brengs*k!" Kenan memukul wajah Satya, pria itu terhuyung ke belakang tersungkur di ruang tamunya. Darah segar mengalir dari sudut bibir Satya. Satya tak melawan saat Kenan kembali memukul perutnya dan mencengkram kerah bajunya.
"Apa yang kamu lakuin, brengs*k!" Kenan berteriak dengan amarah yang memuncak.
Amartha yang melihat itu tak tinggal diam. Amartha mencoba menghentikan cengkraman Kenan.
__ADS_1
"Mas Kenan, lepasin! Mas Satya nggak salah!" ucap Amartha sambil terisak.
"Apa?! kamu bilang dia nggak salah?!" Kenan melepaskan pria itu.
Satya hanya tersenyum penuh arti. Walaupun dia memiliki ilmu bela diri, Satya memilih untuk tidak melawan setiap serangan dari Kenan. Satya tidak ingin Amartha melihatnya menjadi seseorang yang menakutkan.
"Iya, Mas..." jawab Amartha lirih.
"Kita pulang sekarang!" Kenan menarik tangan Amartha.
"Awh!" Amartha memekik kesakitan saat Kenan tiba-tiba menariknya, karena kakinya yang masih terasa sakit untuk berjalan
"Amartha!" Satya segera melepaskan tangan Kenan dari gadis itu.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Satya khawatir.
"Aku nggak apa-apa, Mas..." jawab Amartha dengan wajah masih menahan sakit.
"Maafin aku, Sayang..."
"Apanya yang sakit?" Kenan menangkup wajah Amartha dengan tangannya.
"Dia itu habis jatuh dari motor, makanya tuh jeans aku gunting, liat kakinya pada lecet gitu, dan Amartha sempet pingsan kemarin, makanya aku bawa ke sini," jelas Satya yang jengah melihat Kenan mendekap tubuh Amartha.
"Maafin aku, aku nggak tau..." ucap Kenan seraya mencium pucuk kepala Amartha. Satya melihatnya jengah. Amartha melepaskan pelukan Kenan, karena dia merasa tidak enak dilihat oleh Satya. Kenan sebenarnya marah kenapa Amartha tidak memberitahunya perihal kecelakaan yang menimpa gadis itu. Tapi lebih baik dia tidak bertanya, karena Amartha akan membencinya.
"Aku minta maaf, iya aku salah..." kata Kenan.
Satya melipat tangannya di depan dada, hanya memandang kedua sejoli itu. Dia lebih memilih no comment dan mencari aman, karena dia tidak ingin Amartha berpikiran buruk tentangnya.
Menurutnya ini adalah kemajuan yang sangat bagus untuk mendapatkan hati gadis itu, walaupun Satya tahu ada hubungan spesial antara Kenan dan Amartha. Namun baginya itu bukan suatu halangan yang berarti, karena sebelum janur kuning melengkung apapun bisa terjadi.
"Ta?" Kenan memanggil Amartha dengan lembut.
"Mas Satya, aku minta maaf udah bikin kekacauan disini, aku pamit pulang," ucap Amartha yang diiringi senyuman oleh Satya. Gadis itu berjalan keluar dengan kaki yang pincang menahan nyeri.
"Biar aku anter ya, Ta..." kata Kenan yang berjalan mengikuti Amartha.
Mau tak mau Amartha menuruti Kenan, karena dengan kondisi seperti ini dia tidak mungkin naik angkot. Kenan membukakan pintu mobil untuk Amartha, dan gadis itu masuk ke dalam mobil grey metalic milik Kenan. Kenan berjalan memutar ke arah kanan mobilnya, masuk dan duduk dibelakang kemudi. Ia menyalakan mesin dan menancapkan gasnya keluar dari halaman rumah Satya.
Satya mengusap darah yang ada disudut bibirnya, dan tersenyum penuh arti. Satya menutup pintu rumahnya dan berjalan menuju kamarnya.
...----------------...
"Ta, jangan diem aja, Sayang..." kata Kenan sambil tangan kirinya menggenggam tangan gadis yang duduk di kursi penumpang.
__ADS_1
"Sayang, aku beneran nyesel sayang, aku minta maaf..." ucap Kenan lagi, sambil sesekali melihat wajah Amartha. Gadis itu hanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
Kenan kemudian menepikan mobilnya di tempat yang lumayan sepi.
"Kok berhenti?" tanya Amartha dengan nada datarnya.
"Aku minta maaf...aku salah udah pukul dia, karena aku marah liat jeans kamu robek kayak gini, mana paha kamu kemana-mana jadinya? aku kira kalau dia udah berbuat yang enggak-enggak sama kamu, Ta..."
"Tapi kamu belum denger penjelasan dia," ucap Amartha yang sedikit gelisah, risih dengan celana yang dia pakai saat ini. Karena dengan posisi duduk seperti ini, paha putihnya terekspos dengan sangat jelas.
"Iya, aku minta maaf, ya? kamu mau maafin aku, kan?" Kenan menggenggam tangan kekasihnya.
"Mungkin," jawab Amartha singkat.
"Kok mungkin, sih? aku janji nggak akan kayak gitu lagi," Kenan menatap Amartha dengan sendu.
"Nggak usah pake janji," Amartha menjawabnya asal.
"Dan satu hal lagi, aku nggak suka kamu posesif kayak gini, aku nggak nyaman!" Amartha menatap tajam kekasihnya.
"Iya, Sayang, aku ga posesif lagi, udahan ya marahnya," Kenan membujuk Amartha agar tidak marah lagi kepadanya.
"Hmm," Amartha hanya menjawab dengan deheman.
"Makasih ya, Sayang,"
Cup
Kenan sekilas mencium kening Amartha dan kembali menggenggam tangan gadis cantik itu.
"Terus kaki kamu gimana? sakit banget, ya?" Kenan mencoba mencairkan suasana.
"Hmm" Amartha berdehem kembali.
"Kok masih gitu sih jawabnya, sayaaaang..."
"Iya masih sakit, udah cepetan aku mau pulang!" ucap Amartha.
"Kamu nggak kangen apa sama aku?" Kenan bertanya dengan menatap intens pujaan hatinya.
"Iya," jawab gadis cantik itu dengan lirih.
"Aku juga kangen banget sama kamu," jawab Kenan yang semakin mendekatkan wajahnya ke arah Amartha. Kenan mencium bibir Amartha dengan lembut, Amartha tak bisa menolaknya. Kenan melepaskan pagutannya dan menatap kekasihnya yang kini tertunduk malu. Kenan menangkup wajah Amartha mengarahkan gadis itu agar menatapnya.
"Aku cinta sama kamu," ucap Kenan.
__ADS_1
...----------------...