Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Sesusah Itu Mengusir Mereka


__ADS_3

Akbar yang dipanggil namanya pun segera mendekat memasuki teras villa.


"Teh, kebetulan. Saya tadi dikasih bubur ayam sama kang Rahman," ucap Akbar. Esih pun sebenarnya tahu kalau Akbar memang sengaja membelikan bubur ayam itu untuk wanita yang menyewa villa-nya, Esih pun hanya bisa tertawa dalam batinnya saja melihat majikannya yang sedang kasmaran.


"Oh, terima kasih, Den..." kata Esih sambil menerima sebuah keresek berwarna putih yang berisi beberapa porsi bubur ayam.


Satya dan Kenan pun hanya tak bisa mencegah Akbar memberikan bungkusan itu pada pelayan yang bekerja di villa yang ditempati Amartha.


Akbar pun segera pergi dengan motor sportnya berniat mengecek kebun teh miliknya, meninggalkan kedua pria yang menatap kepergiannya dengan rasa tidak suka.


"Ehem, kalau begitu saya..." belum selesai Esih meneruskan ucapannya salah satu dari pria itu langsung menyerobot.


"Tunggu, saya mau numpang mandi," ucap Satya yang langsung menerobos masuk diikuti oleh Kenan.


"Hey, tunggu! aku dulu!" seru Kenan pada Satya.


Esih hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua pria yang selalu saja bertengkar.


Jadilah semua orang yang membutuhkan air menumpang mandi disitu, Amartha memijit kepalanya, pusing.


"Astaga, sepertinya mereka sengaja supaya aku nggak betah disini," kata Amartha yang melihat orang berlalu lalang.


"Nyonya, Vira dimana?" tanya Firlan.


"Lagi mainan game di kamar," jawab Amartha yang duduk di ruang tengah diapit oleh Kenan dan Satya.


Dia sudah mengusir dua orang itu namun gagal, mereka tak mau pergi. Firlan kembali ke luar, ia tak mungkin masuk ke dalam kamar itu. Ia menempelkan ponsel di telinganya, dan menyuruh orang yang sedang bersemedi di dalam kamar untuk segera keluar mengikutinya.


Sedangkan Esih datang membawa bubur ayam yang sudah dipindahkan ke dalam mangkok.


"Neng, ini ada bubur ayam dari Den Akbar..." ucap Esih sembari menaruh mangkok diatas meja.


"Makasih, Teh..." ucap Amartha seraya akan meraih mangkok namun tangan Satya lebih dulu meraihnya dan memberikannya bukan pada Amartha melainkan pada Kenan.


"Itu punyaku," Amartha berusaha meraih mangkok yang ada di tangan Kenan.

__ADS_1


"Bantu habiskan," ucap Satya, Kenan pun menaikkan satu sudut bibirnya.


"Baiklah, perutku kebetulan sudah sangat lapar," kata Kenan yang mengendus aroma kuah bubur ayam yang sepertinya sangat enak.


"Tunggulah disini, biar aku buatkan makanan yang lain," ucap Satya pada Amartha. Ia pun segera bangkit.


"Hey, aku memintamu untuk menghabiskannya, bukan makan disamping istriku!" ucap Satya pada Kenan yang malah asik makan bubur ayam.


"Temani aku masak di belakang. Kamu kira aku akan membiarkanmu untuk duduk berdua dengan Amartha," Satya menggerakkan kepalanya menunjuk dapur dengan dagunya.


"Ya ya ya," sahut Kenan.


"Suamimu ini selain sangat protective dia juga sangat menyebalkan!" ujar Kenan pada Amartha. Pria itu pun segera bangkit dan mengikuti kemana Satya pergi dengan membawa mangkok di tangannya.


"Kalian berdua sama saja," gumam Amartha sambil mematikan televisi.


Wanita itu pergi ke kamarnya, ia mengepak baju-bajunya. Vira sedang di luar bersama Firlan.


Amartha terlihat sangat kesulitan untuk sekedar membungkuk.


"Mas Kenan bisa sampai kesini apa karena dia tau aku mengambil uang di dalam kartu itu? kartu yang dia berikan waktu itu?" gumam Amartha, ia menutup tas setelah barang-barangnya dimasukkan ke dalam, tak terkecuali selimut yang dia beli sendiri.


Amartha mengambil ponselnya, ia pun segera mentransfer sejumlah uang ke rekening Akbar. Waktu itu Amartha akan membayar biaya sewa villa ini diawal, namun Akbar menolak. Pria itu mengatakan kalau pembayarannya bisa dilakukan diakhir saja.


"Kalau mereka yang tidak mau pergi, maka aku yang akan pergi," kata Amartha. Ia mengambil kardigannya, namun ketika akan beranjak dari ranjangnya perutnya terasa sangat sakit.


.


.


Sementara di tempat lain. Ivanka sangat kesal karena Satya tak bisa dihubungi dari kemarin.


"Aaarghhh! dia kemana, sih?" gerutu Ivanka yang membanting ponselnya diatas ranjang.


"Sabar Vanka, sabar ... jangan sampai dia ilfeel dan membatalkan semuanya. Ini mimpiku. Aku dan dia akan segera bersatu, dan itu harus terjadi bagaimanapun caranya," gumam Ivanka seraya memoles wajahnya.

__ADS_1


"Sudah aku duga, penolakannya hanya diawal dan sekarang dia sendiri yang datang padaku memintaku untuk bersamanya," Ivanka tertawa sambil melihat pantulan dirinya yang masih memakai handuk kimono.


"Aku harus mempersiapkan diriku agar aku nggak mengecewakan dia, aku yakin aku lebih baik dari istrinya yang sedang hamil itu," kata Ivanka yang berdiri dan memperhatikan tubuhnya.


"Ah, sepertinya aku harus diet. Pipiku terlihat sedikit chubby. Aku nggak mau gaun pengantinku terasa sempit karena berat badan yang naik," Ivanka nampak risau dengan penampilannya. Ia ingin tampil sempurna di hari bahagianya.


Ivanka segera bersiap, ia tak akan pergi ke kantor hari ini. Tapi dia akan pergi ke sebuah klinik kecantikan untuk melakukan perawatan tubuh.


Ivanka begitu bersemangat, ia menggerai rambutnya yang sengaja ia buat ikal di bagian bawahnya.


Wanita itu ke ruang makan menemui orangtuanya yang mungkin sedang sarapan.


"Pah, Mah..." sapa Ivanka seraya mencium pipi Adam dan Elena secara bergantian.


"Kenapa kamu pakai baju santai? apa kamu tidak pergi ke kantor, Vanka?" tanya Adam.


"Beberapa hari lagi aku akan menikah, jadi aku nggak mungkin masuk kantor, Pah! lagipula ada Alia, aku bisa mengerjakan semuanya dari rumah," ucap Ivanka yang hanya duduk tanpa menyentuh roti bakar kesukaannya. Dia hanya mengambil sebuah apel dan mengigitnya.


"Kamu hanya akam makan itu?" tanya Elena pada anaknya.


"Aku sedang diet, Mah! dan aku nggak mau terlihat gendut di hari pernikahanku. Bukankah ini yang kalian inginkan? aku menikah dan memberikan kalian seorang menantu yang tampan dan mapan?" ucap Ivanka.


"Tampan dan mapan itu relatif, Vanka. Yang terpenting bisa membahagiakan kamu dan bisa melindungimu, terutama ketika kami sudah tidak ada di dunia ini," ucap Elena.


"C'mon, jangan bicarakan tentang kematian, karena itu nggak akan terjadi," ucap Ivanka.


"Kata mas Satya dia sudah mengurus semuanya. Sebenarnya aku ingin ada acara pertunangan tapi karena papa yang ingin pernikahan ini supaya dilaksanakan secepatnya, jadi apa boleh buat? Vanka menurut saja," kata Ivanka


Elena memandang wajah Adam, pria tua itu hanya mengedipkan matanya. Seakan ia tahu apa yang sedang dipikirkan Elena.


"Baiklah, Vanka sudah selesai. Vanka berangkat dulu," ucap Ivanka yang meninggalkan setengah apelnya diatas piring.


Ivanka pun pergi keluar, meninggalkan sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi.


"Pah?" Elena memanggil suaminya yang masih santai menikmati sarapannya.

__ADS_1


"Biarkan saja," ucap Adam.


...----------------...


__ADS_2