
"Ih, apaan sih! pergi sana," usir Vira pada Firlan.
"Aku mau ngomong," ucap Firlan.
"Ngomong aja sama tembok!" jawab Vira.
Firlan masih memegangi pintu agar tetap terbuka, dan Vira pun dengan sekuat tenaga menutupnya, mereka seperti adu kekuatan.
"Kamu jangan kayak anak kecil, Vira!" kata Firlan ngegas.
"Ngaca dulu baru ngomong. Dah sana pergi," ucap Vira.
"Buka pintunya atau aku teriak biar semua orang tau kalau istriku lagi kabur-kaburan dari rumah, biar kamu dihujat sama orang disini," ucap Firlan mengancam.
"Emangnya mereka bisa gitu dikelabui? mana ada suami istri nggak punya buku nikah, nggak usah aneh-aneh, ya!" kata Vira tak mau kalah.
"Oke, kamu nggak mau dengan cara baik-baik. Jangan salahkan aku kalau jidatmu kepentok pintu," kata Firlan seraya mendorong kuat pintu, sehingga membuat bunyi nyaring antara pintu dan jidat Vira yang sudah pasti akan benjol pada waktunya.
"Aaawhhh!" pekik Vira, ia melepaskan pegangan pintu, ia terhuyung ke belakang sembari memegangi kepalanya yang untungnya tidak mengeluarkan cairan merah.
Firlan membuka pintu dan langsung menguncinya dari dalam. Lalu ia mengantongi kunci pintu dengan gantungan kucing pintar dari abad ke-21.
"Aku udah memperingatkan tapi kamu yang malah ngeyel," kata Firlan seraya nyelonong masuk dan memeriksa setiap sudut rumah. Ia mengetuk yang diyakininya pintu kamar.
"Nyonya! anda ada di dalam?" seru Firlan sambil mengetuk pintu.
"Dibilangin nggak ada nggak percayaan banget sih jadi orang," ucap Vira yang berdiri tak jauh dari Firlan.
"Kamu sembunyikan dimana nyonya Amartha?" Firlan membuka satu persatu dua kamar yang berdampingan itu.
"Sembunyikan? emang barang pake disembunyikan segala," ucap Vira sambil terus memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Sesaat kemudian sel-sel otaknya kembali tersambung, dan Vira baru menyadari sesuatu yang janggal.
"Eh, Amartha? maksudnya?" Vira menatap Firlan.
"Nyonya Amartha kabur dari rumah, aku yakin nyonya ada sama kamu. Karena kamu satu-satunya teman akrabnya di kota ini," jelas Firlan. Mendengar apa yang disampaikan Firlan, lantas Vira pun mengawang pada kejadian diterimanya boneka arwah.
"Apa dia kabur karena masih dikejar boneka arwah? tapi pergi kemana?" gumam Vira dalam hatinya.
Melihat ekspresi wajah Vira yang sepertinya mengetahui sesuatu yang tersembunyi, Firlan pun mempunyai ide untuk mengorek informasi dari mulut kekasihnya itu.
Vira masuk ke dalam kamarnya. Dan beberapa saat kemudian kembali sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya. Ia pun berniat menelepon Amartha.
__ADS_1
"Mau nelpon siapa?" tanya Firlan ketus.
"Ya Amartha lah!"
"Percuma!" kata Firlan seraya merebut ponsel Vira dan mematikan panggilan itu.
"Ih, main rebut aja sih!" Vira kembali merebut ponselnya.
"Kalau bisa ditelfon, nggak mungkin aku disuruh nyari sampai kesini. Dia ninggalin ponselnya di rumah," jelas Firlan menatap Vira tak berkedip.
"Bisa liat sendiri kan, Amartha nggak ada disini? jadi mending kamu pergi sekarang," kata Vira yang risih dengan tatapan Firlan. Pria itu berjalan maju, sedangkan Vira memundurkan badannya, sampai punggungnya menyentuh tembok.
"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Firlan yang hanya berjarak beberapa senti Vira.
"Nggak ada," kata Vira gugup.
"Lebih baik kamu katakan, apa yang kamu ketahui," ucap Firlan, kedua tangannya bertumpu pada tembok menghalangi Vira agar tidak kabur.
"Aku bilang aku nggak tau," kata Vira keukeuh. Firlan memajukan wajahnya, namun dengan refleks Vira berjongkok sehingga wajah Firlan nyosor tembok.
"Aaawh!" pekik Firlan, hidungnya yang kepentok tembok duluan. Wanita itu menerobos dari bawah dan segera menjauh dari Firlan. Dengan secepat kilat, Vira merogoh saku jas Firlan dan membuka pintu kontrakannya.
"Heh, kalau hidungku kenapa-napa, kamu harus tanggung jawab!" seru Firlan.
"Oke, hari ini kamu boleh bungkam. Tapi besok aku pastikan, kamu akan mengatakan semuanya," ucap Firlan yang mengusap hidungnya yang merah.
"Sahabat macam apa yang membiarkan sahabatnya dalam bahaya! Terlebih lagi dia sedang mengandung, dan apapun bisa terjadi, jangan menyesal jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Dan aku jamin kamu akan menyesalinya!" ancam Firlan, Vira tertegun dengan ucapan pria itu.
"Bagaimana jika sesuatu terjadi dengan Amartha? bagaimana jika dia diikuti oleh arwah yang ada di dalam boneka?" Vira nampak berpikir, dia terus bermonolog dalam hatinya.
Firlan menarik satu sudut bibirnya, sepertinya caranya kali ini berhasil.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi," kata Firlan yang melangkah menuju pintu keluar.
"Tunggu!" seru Vira menghentikan langkah kaki Firlan. Pria itu memutar tubuhnya yang sejengkal lagi mencapai ambang pintu.
.
.
Satya baru kepikiran untuk pergi ke rumahnya.
__ADS_1
"Astaga, kenapa aku nggak kepikiran ke rumah mami?" Satya menoyor kepalanya sendiri.
"Aku yakin, Amartha pasti kalau ngambek pengennya nginep di rumah mami, kenapa juga baru kepikiran sekarang," ucap Satya.
Satya pun berputar arah dan melajukan mobilnya ke rumah kediaman Ganendra. Pria itu sudah tidak sabar untuk segera sampai. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya ia pun sampai di rumah orangtuanya.
Satya segera menghentikan laju mobilnya begitu sampai di tempat tujuannya. Pria itu segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Mam! Mamiii..." teriak Satya saat sudah membuka pintu.
"Maaaaammm!" pria itu berteriak kembali mencari keberadaan sang mami.
"Astaga, kenapa teriak-teriak, Sat? mami ada di dapur!" suara Sandra tak kalah kencengnya.
Satya lalu berlari kecil menuju dapur, menemui sang mami.
"Mam? Amartha mana, Mam?" tanya Satya saat sudah melihat sosok ibunya yang sedang membuat lemon tea.
"Amartha? lah kok tanya sama mami? ya di rumah kamu, lah! gimana, sih?" jawab Sandra, ia menaruh beberapa es batu ke dalam gelas.
"Amartha pasti disini, mami jangan bohong, deh!" Satya malah ngotot.
"Astagfirllah, ini bocah kesambet dimana, sih? Amartha nggak kesini. Ngapain mami bohong sama kamu? coba aja ditelfon ke nomornya," ucap Sandra memandang anaknya.
"Dia nggak bawa ponsel, dan aku nggak tau dia ada dimana!" kata Satya tambah panik saat mengetahui istrinya tidak ada di rumah Sandra.
"Kalian ribut? mami kan udah bilang! istri lagi hamil itu bawaannya sensitif, jangan kamu bikin kesel terus, kalau kayak gini siapa yang pusing? kamu kamu juga, kan?" Sandra malah mengomel.
"Ya udah, Satya nyari di tempat lain lagi. Assalamualaikum!" Satya langsung tangan ibunya dan pergi dari sana.
.
.
Saat ini Satya berputar-putar putar di dalam kota mencari Amartha. Dia menelepon orang untuk membuka cctv yang ada di dalam mall. Kebetulan Satya kenal dengan pemilik pusat perbelanjaan itu, jadi dengan mudah ia bisa mendapatkan akses untuk membuka rekaman kamera yang ada di lobby. Sementara dia menunggu kabar dari orang kepercayaannya maupun dari Firlan, Satya terus saja berkeliling dengan mobilnya.
"Kamu dimana sih, Sayang? aku harus cari kamu kemana lagi?" kata Satya yang begitu frustasi ditinggal oleh istrinya.
"Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan tau nggak?" Satya berbicara dirinya sendiri, penampilannya sungguh berantakan. Jas sudah teronggok di kursi belakang sedangkan kemejanya sudah ia gulung asal, dasi sudah hilang entah kemana.
Tak lama, ponselnya berdering. Ada nama seorang wanita disana.
__ADS_1
"Dia lagi," Satya hanya melirik sekilas ponselnya tanpa ada niatan untuk menjawabnya.