Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Maju Kena, Mundur Apalagi!


__ADS_3

"Amartha?" pekik Satya saat melihat pintu terbuka dan menampilkan sosok istrinya berdiri diambang pintu. Satya yang tak sadar jika dia duduk sangat dekat dengan seorang wanita pun, memilih beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri. Satya jelas melihat raut wajah tidak suka dari istrinya. Ya wajar saja wanita mana yang tidak marah? Jika melihat suaminya ditempel ulet keket seperti itu.


"Ini pasti buat aku, ya?" tanya Satya saat melihat satu kantong plastik bening berisi box makanan. Namun Amartha tidak menggubris pertanyaan pria itu. Pandangannya lurus ke depan, menatap wanita yang memakai rok ketat hitam dan blouse berwarna jingga dengan rambut yang dicepol rapi, dan blazer yang menyampir di sofa.


Satya menautkan tangannya pada tangan istrinya, mereka berjalan mendekati wanita itu.


"Oh ya, kenalkan ini Amartha istri saya," ucap Satya memperkenalkan diri pada wanita yang kini menatap Amartha dengan lekat.


"Amartha," ucap Amartha seraya mengulurkan tangannya.


"Ivanka," wanita itu berdiri dan menyambut tangan Amartha sepersekian detik.


"Baiklah kalau begitu, saya rasa pertemuan kita hari ini sudah cukup. Mas Satya bisa atur lagi ehm maksud saya Pak Satya, anda bisa atur lagi kapan kita akan bertemu membahas project ini," ucap Ivanka yang sedang memanasi suasana yang awalnya sudah panas.


"Oke, nanti Firlan akan menghubungi asisten anda kapan kita akan membicarakan kerjasama ini," ucap Satya.


"Saya tunggu. Selamat siang," Ivanka mengambil blazernya dan tasnya, lalu melenggang pergi keluar dari ruangan itu.


"Duduk, Yank..." ucap Satya yang mengarahkan istrinya untuk duduk di sofa panjang. Amartha duduk tanpa berkata apapun, situasi saat ini tidak menguntungkan bagi Satya. Dimana wanita hanya diam dan tidak banyak bicara, maka saat itu dunia seorang suami sedang tidak baik-baik saja.


"Ehm, ini buat aku?" ucap Satya yang membuka isi sebuah kantong yang sedari tadi berpindah ke tangannya.


"Bukan," Amartha langsung mengambil kembali kantung itu yabg berisi makanan yang ia beli beberapa saat tadi.


"Terus buat siapa kalau bukan buat suami kamu yang ganteng ini?" kata Satya yang memegang dagunya sendiri, narsis.


"Makan bareng yuk?" ucap Satya sambil memegang tangan istrinya.


"Makan aja sendiri," Amartha menatap lurus ke depan padahal di depan tidak ada siapa-siapa. Wanita itu menaruh box makanan yang ada di dalam kantong itu dia atas meja.


"Makan berdua, kan lebih enak..." kata Satya mencoba merayu sang istri yang lagi ngambek. Padahal sebelum hamil, Amartha jarang sekali merajuk apalagi sampai ngambek begini.


"Dek? ibu kenapa? kok dateng-dateng malah marah-marah sama ayah? ayah jadi takut nih," Satya menunduk berbisik di perut istrinya, sambil mengusap lembut perut itu.


"Siapa tadi?" tanya Amartha dengan nada datar.

__ADS_1


"Ivanka, salah satu investor di perusahaan ini," jelas Satya yang mendapat lirikan tajam dari Amartha. Satya tidak mau menjelaskan secara rinci bahwa mereka pernah bertemu di masa lalu, buatnya itu tidak penting.


"Deket banget?" sindir Amartha.


"Deket gimana? nggak ah, biasa aja," kata Satya cari aman.


"Terus tadi itu apa? duduk dempet-dempetan kayak naik metromini?" ucap Amartha dengan memicingkan matanya.


"Aku nggak tau suwer deh, Yank. Beneran, orang aku lagi baca dokumennya, terus liat kamu udah di depan pintu, aku juga kan nggak tau hari ini kamu mau dateng," jelas Satya.


"Oh, kalau tau aku dateng, kalian mau cari waktu lain gitu ya buat ketemuan? terus itu blazer dia kenapa udah nyampir juga di sofa?" Amartha mencecar suaminya sambil melihat apakah ada bekas lipstik di baju atau di wajah Satya.


"Astagaaa, mana aku tau kenapa dia lepas blazernya. Lagian aku sama dia cuma sebatas hubungan kerja kok, nggak lebih. Aku kan cintanya sama kamu, Yank..." Satya menusuk-nusukkan telunjuknya di pipi istrinya.


"Tapi aku seneng loh kamu cemburu," sambung Satya menggenggam kembali tangan Amartha.


"Nggak juga, siapa juga yang cemburu," Amartha berkilah.


"Uuuu tayank..." Satya mencoba melucu tapi malah dijawab ketus.


"Nggak lucu!"


"Masih nggak lucu, ya?" Satya mencebikkan bibirnya.


"Dek, tolongin ayah dong, ibu kalau cemburu nyeremin," Satya mengelus perut istrinya, dan mendaratkan beberapa kecupan disana.


"Dih, siapa juga yang cemburu!" gumam Amartha. Satya pasrah dengan nasibnya saat ini. Perut lapar plus dicueki sang istri.


Seseorang mengetuk pintu dari luar. Lalu munculah sosok asisten gesrek Satya.


"Nyonya, terima kasih makan siangnya," ucap Firlan sambil membawa satu box kwetiau yang belum di buka. Namun, sepertinya sedang ada perang dingin antara bosnya dengan istrinya, terbukti dengan wajah masam Amartha yang membuat Firlan mematung sesaat.


"Ehm, Saya datang disaat tidak tepat ya sepertinya, hem ... kalau begitu saya permisi," Firlan memilih ngibrit.


"Kak Firlan! ini aku tambahin, biar kaka kenyang," Amartha menunjuk satu kantong plastik yang ada diatas meja. Firlan yang dipanggil segera mendekat.

__ADS_1


"Hem, itu si bos makan apa kalau ini buat saya?" Firlan meraih makanan yang diberikan Amartha. Pria itu melirik bosnya yang tidak terima makanannya di berikan pada orang lain.


"Makan ati." lirih Amartha.


"Kok dikasih buat dia sih Yank?" Satya melihat istrinya lalu melirik asistennya yang senyam-senyu melihat penderitaannya. Beberapa bulan ini dia sudah direpotkan dengan ngidamnya bos sableng, hari ini seakan hari kemenangannya melihat pria yang suka memerintah itu tidak berkutik di depan istrinya yang lagi ngambek.


Firlan pikir mungkin ada hubungannya dengan Ivanka yang tadi keluar dengan wajah masamnya. Firlan mencoba menahan tawanya. karena lirikan tajam Satya mengarah padanya.


"Itu kan punya aku, Yank..." ucap Satya melihat makananya sudqh ditangan sang asisten.


"Kalau begitu, saya keluar. Ehm, dan terima kasih makan siangnya," Firlan langsung memutar tubuhnya dan menutup pintu dari luar.


"Huuufffh, selameeeet," gumam Firlan sesaat setelah pintu tertutup sempurna.


"Ada apa, Pak" tanya Maura yang melihat Firlan mengelus dadanya.


"Nggak ada apa-apa, saya ke ruangan saya dulu." ucap Firlan yang langsung berjalan ke arah ruangannya.


"Yank laperrr," Satya mengelus perutnya yang memang sudah meronta ingin diisi.


"Bukannya Mas udah kenyang?" sindir Amartha, yang merujuk arti kenyang versi lain.


"Kenyang apaan ya Allah?" Satya hampir frustasi menghadapi badmood istrinya.


"Kamu nggak kasian aku sekarang lagi kelaperan? merana dalam keruyukan," ucap Satya memelas.


"Ya udah, makan diluar." Amartha bangkit dari duduknya meninggalkan Satya yang masih duduk di sofa.


"Ayok cepetan!" Amartha melihat ke belakang suaminya masih duduk tanpa berkedip.


"Iya iya iya, kita makan diluar," ucap Satya yang segera bangkit dan secepat kilat meraih ponsel yang ada di saku celananya, dan mengjubungi seseorang.


"Tunggu bentar," ucap Satya lembut dengan satu tangannya memegang tangan Amartha agar tidak pergi duluan.


"Lan! saya mau keluar, kalau ada yang nyari, bilang saya lagi makan siang," ucap Satya di telepon. Pria itu lantas memutuskan panggilan itu secara sepihak.

__ADS_1


"Emang siapa yang nyari?" ucap Amartha penuh selidik.


...----------------...


__ADS_2