Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Merah Cabai


__ADS_3

Siang ini Fendy tidak datang ke kantor Sinta. Karena dia baru pergi dari sana mendekati jam 10 pagi. Sinta yang memanga belum makan siang perutnya mendadak keroncongan. Sinta sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya. Otaknya yang memang encer, tak sulit baginya untuk wisuda lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Uang membuat dirinya menjadi istimewa, dia tidak perlu bertatap muka saat konsultasi mengenai skripsinya. Dia hanya perlu melakukan itu secara video call dan mengirim semua tugasnya melalu e-mail.


Saat ini sebuah undangan wisuda ada di tangannya, namun sepertinya Sinta tak berniat untuk datang. Tak ada siapapun yang akan menyaksikan dirinya memakai jubah hitam dengan toga diatas kepala, sebagai lulusan terbaik. Sinta kembali fokus pada pekerjaannya, namun perutnya tak bisa diajak kompromi. Sudah lewat dari jam makan siang, bahkan hampir jam 3 sore.


"Biasanya aku nggak gampang lapar," ucap Sinta. Ia berusaha tetap fokus pada dokumen yang ada di meja, namun lambungnya terasa tidak nyaman.


"Baiklah, aku harus pergi untuk mengusir rasa lapar ini," gumam Sinta yang memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan segera menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja dekat papan nama miliknya.


Sinta keluar dari ruangannya, ia berjalan menuju lift. Di dalam kotak besi itu ia nampak berpikir akan membeli apa untuk makan siang yang sudah sangat terlambat itu.


"Kayaknya makanan chinesse food enak kali ya?" gumamnya. Sinta segera keluar saat pintu lift terbuka. Ia berjalan menuju parkiran mobil. Sinta membuka pintu dan meletakkan tas di kursi samping kemudi. Lalu ia pun pergi dari tempat itu mengendarai mobil miliknya.


"Tumben tuh orang nggak dateng ke kantor," Sinta sesaat teringat pada sosok Fendy.


"Tapi, bagus juga sih ... jadi nggak ganggu orang kerja," ucapnya lagi bermonolog dengan dirinya sendiri. Ia mengetukkan jarinya pada stir mobilnya. Matanya fokus ke jalan yang lumayan lengang.


"Nggak biasanya nggak dateng, damai kayak gini malah jadi aneh," ucapnya lagi.


"Makan sekalian belanja aja, deh..." ucap Sinta yang memutar arah mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar yang biasa ia kunjungi.


Sesampainya ditempat tujuannya, Sinta segera keluar dari mobil. Wanita yang memakai rok berwarna hitam dengan blazer berwarna abu-abu tua itu pun berjalan menuju sebuah restoran chinesse food. Namun ketika ia melihat toko yang menjual berbagai macam kemeja pria, mendadak ia berhenti sejenak. Lalu ia melangkah masuk toko itu.


"Silakan, Nona..." ucap seorang pramuniaga.


Sinta tak menjawab, ia hanya terseny sekilas sambil menelusuri deretan kemeja, ia melihat beberapa kemeja yang menarik perhatiannya. Namun ia menaruhnya kembali saat melihat deretan dasi. Jari jemari Sinta menyentuh sebuah kain panjang yang berwarna merah menyala. Wanita itu tak bisa menyembunyikan senyumnya saat mengambil dasi itu.


"Tolong bungkus ini dan juga..." kata Sinta memberikan dasi berwarna merah menyala itu sembari matanya menelisik dasi mana lagi yang akan ia beli.


"Dan juga yang ini," kata Sinta memberikan dasi berwarna biru tua, warna kesukaan Kenan. Lalu dengan cepat ia tersadar.


"Sory, bukan yang itu tapi yang ini..." Sinta menukarnya dengan dasi berwarna biru muda.


"Ada lagi, Nona?"


"Tidak ada, itu saja..." kata Sinta. Wanita itu segera berjalan ke kasir untuk membayar barang yang ia beli.


Sinta keluar dari toko itu dengan menepuk jidatnya berkali-kali.


"Nih otak udah mulai nggak bener!" ucap Sinta merutuki kebodohannya.

__ADS_1


"Tapi biarin aja, sekali-kali kerjain aja suruh pakai dasi ngejreng kayak gitu," kata Sinta tertawa kecil.


Sinta berjalan menuju sebuah restoran. Ia meletakkan tas dan belanjaannya di atas meja.


"Silakan Nona," ucap pramusaji menyodorkan sebuah buku menu.


Sinta memesan kwetiaw goreng daging sapi dan tropical juice. Ia juga memesan hakau dan lumpia isi ayam.


Tak lama pesanan pun datang, Sinta baru menyadari kalau dirinya memesan makanan begitu banyak.


"Kenapa juga pesan banyak kayak gini? makan satu porsi kwetiaw aja belum tentu habis," ucap Sinta.


Baru saja ia akan mengambil sumpit berwarna hitam itu, ponsel dalam tas Sinta berdering.


"Fendy? ngapain tuh orang rese nelpon jam segini?" kata Sinta.


"Ya?" sapa Sinta saat panggilan terhubung.


"Dimana? kok nggak ada di kantor?" tanya Fendy.


"Lagi mau makan,"


Sinta melambaikan tangannya untuk menambah pesanannya. Sambil menunggu Fendy ia pun menyantap hakau yang paling enak dimakan selagi hangat.


Tak lama Fendy datang, ia mendudukkan dirinya di kursi berhadapan dengam Sinta.


"Kok cepet banget?" tanya Sinta.


"Masa sih?" Fendy mengerutkan keningnya.


"Silakan," ucap pramusaji yang mengjidangkan kwetiaw goreng daging sapi di depan Fendy. Ia juga menaruh segelas lemon tea di meja itu sebelum pergi meninggalkan mereka.


"Tumben?" tanya Fendy.


"Apanya?"


"Tumben inget makan? udah bisa ngerasain laper sekarang?" ucap Fendy.


"Ya bisa lah," jawab Sinta ketus, pria di depannya hanya tersenyum mendengar jawaban menyebalkan Sinta.

__ADS_1


Fendy menghentikan suapan kwetiaw ke mulutnya saat menyadari ada satu bag kecil dari brand ternama.


"Beli apaan?" tanya Fendy.


"Uhukk!" Sinta mendadak tersedak saat melihat Fendy sudah mengeluarkan barang yang beberapa saat tadi dibelinya.


"Dasi?" tanya Fendy.


"Iya, udah tau pake nanya!" ucap Sinta yang mendadak gugup.


"Buat?" Fendy menaik turunkan alisnya. Namun keningnya berkerut saat ia melihat dasi berwarna merah cabai.


"Buat kamu!" kata Sinta diluar ekspektasi Fendy. Padahal tadi Fendy hanya berniat menggoda Sinta, dan tidak menyangka wanita itu sengaja membeli dasi untuknya.


"Tapi kok norak?" ucap Fendy spontan.


"Ya udah sini balikin kalau nggak mau!" kata Sinta yang akan merebut dasi merah dari tangan Fendy. Namun pria itu segera menjauhkan tangannya. Fendy mengeluarkan dasi satu lagi yang berwarna biru muda.


"Sini balikin!" kata Sinta menengadahkan tangannya.


"Barang yang sudah diberi tidak boleh diambil lagi," kata Fendy yang tersenyum.


"Ciye yang udah mulai ngasih dasi, aku yakin sebentar lagi kamu bakal ngasih hati," ucap Fendy.


"Dih, pede banget!" kata Sinta.


"Makasih, ya? walaupun norak tapi nanti aku pakai, kok!" kata Fendy.


"Hem," Sinta hanya berdehem menanggapi ocehan Fendy.


Mereka pun kembali melanjutkan makannya. Fendy terus saja tersenyum saat melihat Sinta mulai bisa menghabiskan satu porsi kwetiaw goreng. Sinta yang merasa diperhatikan merasa sedikit canggung, ia pun menyeruput jus yang terasa dingin di tenggorokan. Lalu ia mengelap mulutnya dengan tisu.


"Mau nambah lagi?" tanya Fendy.


"Nggak usah ngadi-ngadi, deh..." kata Sinta.


Fendy pun terkekeh melihat Sinta yang meliriknya tidak suka.


"Oh, ya ... aku liat ini di meja kamu," ucap Fendy seraya memberikan sebuah benda berbentuk persegi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2