Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Penipu Hati


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Sudah banyak boneka arwah yang dikirim untuk Amartha dan berkali-kali pula Amartha membuangnya.


"Mang, kalau ada paketan atas nama saya nggak usah diterima, ya?" ucap Amartha yang menghampiri mang Tatang yang berada di pos depan setelah mobil Satya keluar dari rumah.


"Baik, Nyonya..." ucap Amartha. Namun, ketika ia akan berbalik ada sebuah pengendara motor yang langsung melemparkan sebuah amplop besar berwarna coklat tepat di muka mang Tatang.


"Yeuh, nggak ada sopan santunnya! main lempar aja. Masih untung cuma amplop!" seru mang Tatang memaki pengendara motor yang sudah kabur. Pria yang memakai seragam satpam itu pun menutup gerbang dan segera menguncinya.


"Ada apa, Mang?" tanya Amartha heran.


"Amplop, Nyonya..." jawab mang Tatang.


"Coba saya lihat, Mang..." ucap Amartha mengulurkan tangannya meminta map coklat yang dipegang mang Tatang.


"Silakan, Nyonya..." mang Tatang segera memberikan apa yang diminta oleh majikannya.


Amartha masuk ke dalam rumahnya sebelum membuka apa yang ada di dalam amplop itu.


Setelah berjalan cukup jauh, Amartha menjatuhkan dirinya di sofa di ruang keluarga.


"Sa, saya pengen jus alpukat. Tolong bikinin ya, Sa?" ucap Amartha pada pelayannya yang kebetulan sedang membersihkan karpet dengan vacum cleaner.


"Baik, Nyonya..." kata Sasa yang mematikan mesin penyedot debu itu dan segera pergi ke dapur.


Sembari menunggu, Amartha pun membuka isi amplop itu. Dan matanya berembun seketika, ia menyeka air mata yang jatuh melihat foto yang ada di genggamannya.


"Keterlaluan kamu, Mas! aku nggak nyangka kamu tega berbuat seperti ini..." ucap Amartha yang mememasukkan kembali foto-foto Satya dengan Ivanka ke dalam amplop coklat.


Beberapa foto diambil dengan baju yang berbeda, mereka sangat dekat bahkan terlalu dekat. Pantas saja pria itu pulang tak pernah membawa jasnya pulang, dia selalu bilang tertinggal di kantor atau di mobil. Ternyata, itu semua dilakukan semata-mata agar tidak ketahuan oleh Amartha.


"Jus alpukatnya, Nyonya..." ucap Sasa seraya meletakkan jus berwarna hijau itu diatas meja.


"Emh, mendadak saya udah nggak pengen. Buat kamu aja, Sa.." Amartha segera beranjak dan pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


Amartha berjalan menuju kamarnya dengan memegangi perutnya yang terasa kencang. Wanita itu membuka koper dan memasukkan beberapa baju ke dalamnya. Namun, sesaat dia berpikir lagi. Dia tidak mungkin pulang ke rumah orangtuanya di kampung. Mereka pasti mempertanyaan kedatangannya tanpa adanya Satya, ditambah lagi dia sedang hamil besar.


"Aaarghh!" pekik Amartha, ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, menangisi keadaannya saat ini. Suami yang ia percaya, mengapa dengan tega berbuat curang di belakangnya. Air matanya terus saja mengalir, dilihatnya map coklat itu. Rasa marah dan kecewa meledak di dalam relung hatinya.


"Apa yang kamu janjikan nyatanya nggak bisa kamu tepati, Mas!" Amartha menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Cairan bening saling berlomba untuk meluncur dan jaruh ke pipinya.


"Amartha, tenang ... kamu harus berpikir, kamu harus berpikir!" ucap Amartha disela tangisannya.


"Aku harus mencari tempat. Ya! aku nggak bisa main pergi tanpa tujuan yang jelas," ucap Amartha seraya memeluk perutnya sendiri.


Amartha tetap melanjutkan memasukkan baju-baju ke dalam tas jinjing, karena dia akan kesulitan jika membawa koper seorang diri. Wanita itu menyeka air matanya yang lagi-lagi meluncur tanpa permisi. Ia terus mengepak bajunya, dan menyembunyikan tas itu di salah satu sudut ruangan. Dan ia pun memasukkan amplop coklat itu ke dalam lemari pakaiannya, mungkin barang itu akan berguna suatu saat nanti. Paling tidak foto itu bisa ia lempar ke wajah suaminya, saat pria itu mencoba mengelak.


Sepanjang hari Amartha hanya berdiam diri di kamar. Ia mencoba mencari tempat yang mungkin bisa ia tinggali, tak ada kenalan lain di kota ini selain Vira dan teman di tempat ia bekerja dulu.


Lalu wanita itu teringat satu nama yang mungkin akan membantunya disaat seperti sekarang.


"Sinta," gumam Amartha.


"Ah, nggak nggak! aku nggak mau, dan aku nggak bisa..." Amartha menggelengkan kepalanya.


Hari masih siang, Amartha meminta Damian untuk mengantarnya ke ATM, ia mengambil sejumlah uang untuk berjaga-jaga.


"Aku pinjam uangmu. Aku akan kembalikan setelah aku kembali bekerja," ucap Amartha saat menarik uang dari kartu yang diberikan Kenan. Setelah melihat kertas struk, matanya terbelalak. Karena ia tak pernah menyangka jumlahnya akan sebanyak itu.


Amartha segera keluar dari ruangan sempit itu, dan segera kembali sebelum suaminya pulang.


Amartha segera pergi ke kamar mandi, ia mencoba menyegarkan dirinya. Dia harus menghilangkan jejak sembab di matanya.


"Ibu janji, ibu akan kuat buat kamu. Kita akan pergi secepatnya, karena ibu tidak akan bisa terus berpura-pura dan memasang topeng bodoh di depan ayahmu," ucap Amartha seraya mengelus perutnya. Ia memandang pantulan dirinya di depan cermin di meja riasnya. Saat ia sedang menyisir rambutnya yang panjang, pintu kamar terbuka.


Dan munculah sosok suami yang membuat hatinya sangat sakit.


"Hai, Sayang! udah mandi?" Satya mendekat, mencoba mencium kening Amartha, namun dengan refleks wanita itu menggerakkan kepalanya, menghindar.


"Jas kamu kemana lagi, Mas?" tanya Amartha. Wanita itu mengoles sedikit pemerah bibir. Ia melihat suaminya dari pantulan cermin.

__ADS_1


"Oh, tadi udah dibawa bik Surti. Ketemu di bawah," jawab Satya.


"Oh," sahut Amartha.


"Ya udah, aku mandi dulu ya , Sayang..." ucap Satya.


Amartha hanya menjawab dengan deheman. Setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi, ia segera turun ke bawah. Mengecek jas yang katanya sudah dibawa bik Surti.


"Bik Surti?" seru Amartha, memanggil pelayannya istri dari mang Tatang.


"Iya, Nyonya..."


"Bik, jas mas Satya tadi mana, ya? ada yang ketinggalan di saku katanya," Amartha berbohong


"Tadi bibik sudah cek tidak ada yang tertinggal di saku, Nyonya..." ucap bik Surti.


"Oh, begitu ya..."


"Tapi beberapa hari yang lalu ada, Nyonya! bibik lupa terus mau ngasihkan. Sebentar bibik ambilkan," ucap bik Surti.


Amartha pun memilih duduk di kursi meja makan, menunggu bik Surti mengambilkan barang yang Amartha pun tidak tahu barang apa itu. Tadi dia hanya beralasan supaya bik Surti mau mengambilkan jas yang dipakai Satya sepulang dari kantor.


Tak lama bik Surti datang membawa jas berwarna biru terang dan satu benda kecil berwarna hitam.


"Ini jasnya dan ini barang yang saya maksud, Nyonya..." kata bik Surti menyerahkan kedua barang itu pada majikannya.


Amartha pura-pura mengecek saku, sambil hidungnya mendengus jas yang ada di tangannya. Namun, tak ada bau parfum selain bau parfum yang biasa dipakai suaminya.


"Iya nggak ada. Ya udah Bik, ini taruh lagi aja ke keranjang belakang," ucap Amartha sembari memberikan jas milik suaminya.


"Baik, Nyonya..." ucap bik Surti yang labgsung pergi ke belakang.


Amartha memperhatikan benda yang ada di tangannya.


"Ini apa, ya?" gumam Amartha.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2