Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kecelakaan


__ADS_3

"Aku udah maafin Mas Refan, tapi maaf ... kalau untuk kembali sama Mas Kenan kayaknya nggak mungkin, Mas ... lusa aku akan menikah dengan Mas Satya..." jelas Amartha pada Refan yang menatapnya dengan lekat.


"Yakin dengan keputusan lo itu? lo yakin cinta sama Satya?" Refan mencoba bertanya lebih mengenai perasaan Amartha terhadap Kenan.


"Menikah tanpa cinta bisa bikin lo menderita," lanjut pria itu berusaha agar Amartha mengubah keputusannya, setidaknya hanya itu yang bisa dilakukannya sekarang.


"Tapi menikah tanpa restu orangtua juga bisa bikin menderita, Mas..." jawab Amartha tersenyum miris.


"Kalau lo mau balikan lagi sama Kenan, gue janji gue akan urus Sinta ... gue akan bawa dia pergi dari kehidupan kalian, gue janji ... lo bisa pegang omongan gue," ucap Refan serius.


"Aku dan mas Kenan, kita udah pisah, Mas ... dan aku menikah dengan Mas Satya, karena aku cinta sama dia, sedangkan mas Kenan hanya jadi salah satu bagian dari masa lalu aku," kata Amartha yang saling meremas jari jemarinya.


"Please, Ta ... gue yakin lo masih sayang sama Kenan, gue yakin itu," kata pria yang masih saja mencoba menggoyahkan keyakinan Amartha


"Maaf Mas, kalau Mas Refan kesini disuruh Mas Kenan untuk bujuk aku supaya aku mau kembali sama dia, maaf aku nggak bisa ... dan kalaupun Sinta mau ngejar mas Kenan juga aku nggak peduli, aku sama dia udah bukan suami istri lagi, jadi siapapun bebas mendekati dia termasuk Sinta ... aku dan mas Kenan sudah berpisah itu artinya kami berdua sudah tidak berjodoh..." kata Amartha yang sudah membulatkan tekadnya untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama Satya.


"Nggak, Ta ... gue nggak disuruh sama sekali sama Kenan, beneran Ta ... gue kesini atas kemauan gue sendiri, gue merasa bersalah atas perpisahan kalian, dan Sinta memang tidak pernah bisa lepas dari obsesinya, setahun ini Kenan membantu kami mendampingi Sinta berobat tapi sepertinya itu tidak berpengaruh banyak, dan gue sadar permintaan kami waktu itu keterlaluan, gue orang pertama yang akan mendukung kalian berdua," ucap Refan bersungguh-sungguh, Amartha hanya tersenyum getir, sayangnya ucapan pria itu sama sekali tak berarti baginya.


"Maaf Mas, sayangnya aku nggak berminat," ucap Amartha yang membuang mukanya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Sayang? kamu lagi ngomong sama siapa, Sayang?" seru Rosa dari dalam. Wanita paruh baya itu berjalan ke ruang tamu, karena sepertinya ia mendengar suara Amartha yang sedang mengobrol dengan seseorang.


"Oh, ada tamu," kata Rosa saat melihat seorang pria duduk bersila di atas karpet yang ada di ruang tamu.


"Malam, Tante ... saya Refan kakaknya Sinta, Sinta temannya Amartha waktu SMA, Tante..." kata Refan yang langsung meraih tangan Rosa dan menyalaminya.

__ADS_1


"Oh, kakaknya Sinta ya? ehem kenapa nggak dibikinin minum, Sayang..." Rosa mencoba untuk bersikap ramah pada pria yang bertandang ke rumahnya malam itu, dia masih ingat Amartha pernah bercerita perihal bagaimana Sinta sangat terobsesi memiliki Kenan.


"Oh, ya lupa..." Amartha menepuk keningnya.


"Tante ke dalam dulu ya, mari Nak Refan..." kata Rosa yang kemudian masuk lagi ke dalam kamarnya.


"Maaf Mas aku permisi ke dalam, aku buatin minum dulu sebentar," ucap Amartha yang kemudian beranjak dari duduknya.


"Nggak usah Ta ... gue juga mau balik, udah malem juga," sergah Refan yang kemudian langsung berdiri.


"Masih ada waktu untuk membatalkan semuanya, Ta ... please lo pikirin baik-baik," lanjut pria itu yang tak mendapat jawaban dari Amartha.


"Gue pamit, Ta..." kata Refan yang kemudian melangkahkan kakinya menuju mobilnya.


"Oke, hati-hati, Mas..." ucap Amartha yang diangguki oleh Refan.


Refan memacu kembali mobilnya untuk kembali ke kota J, selama di perjalanan pikiran Refan melayang. Persahabatannya dengan Kenan rusak sejak perjodohan antara Sinta dan Kenan. Pria yang sedang memacu mobilnya di jalan tol itu, berniat untuk menelepon Kenan, dia berniat untuk mengatakan bahwa ia sudah mencoba membujuk Amartha, mungkin jika Kenan datang ke rumah Amartha dan bicara dari hati ke hati dengan wanita itu, ia akan membatalkan pernikahannya. Beberapa kali Refan mencoba menelepon Kenan, tapi temannya itu tak kunjung menjawab panggilannya, namun Refan terus saja mendial nomor Kenan.


"Please angkat, Ken..." gumam Refan, akhirnya di panggilan yang ke sepuluh, Kenan mengangkat telfon darinya.


"Halo," sapa Refan di seberang telepon.


"Halo, Ken ... Ken," ucap Refan, yang pabggilanbya sudah terhubung, tapi tak kunjung ada sahutan dari si penerima.


"Omongan gue kayaknya udah cukup jelas, oh ya, tolong jangan telfon lagi, ganggu tau nggak!" ucap Kenan ketus.

__ADS_1


"Dengerin gue sebentar aja, Ken ... gue mohon, jangan tutup telfonnya, setelah ini gue janji, gue nggak bakal telfon lo lagi, tapi please lo dengerin gue dulu," ucap Refan memohon pada pria yang saat ini sedang duduk dibawah dengan bersandar pada kaki ranjang.


"Apa lagi?" Kenan sudah muak mendengar suara Refan, yang dia butuhkan saat ini hanya menyendiri, merenung setiap kejadian yang terjadi dalam hidupnya.


"Gue, gue udah ketemu sama Amartha, gue udah mencoba minta maaf sama dia, Ken ... gue tahu gue disini yang salah, gue nggak akan menyangkal itu,"


"Gue nggak ada waktu untuk-"


"Jangan tutup dulu, Ken ... dengerin gue ... sebentar aja dengerin gue ... gue nyesel banget, udah nyakitin kalian berdua, gue nyesel banget Ken ... asal lo tau lo tau selamanya lo akan jadi sahabat gue Ken, hari ini gue dateng ke rumah Amartha, gue memohon dia untuk membatalkan pernikahannya dengan Satya, gue akan bawa Sinta jauh dari kehidupan kalian, gue janji gue bakal bawa pergi adek gue," Refan terus saja bicara, namun Kenan hanya menarik satu sudut bibirnya.


"Terlambat, semuanya udah terlambat," kata Kenan dingin


"Nggak, nggak ada yang terlambat, lo masih punya waktu, kejar dia Ken ... kejar cinta lo itu Ken, maafin gue-"


BRUUKKKKKKK


Suara hantaman terdengar begitu keras memekakkan telinga.


"Aaaaaaaakkkkkkkhhhhhhh!"


Entah karena tak fokus menyetir, Refan tak sadar menginjak pedal gasnya terlalu dalam. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan ditambah lagi ia mengemudi sambil menelepon, tiba-tiba ia melihat ada mobil hitam di depannya dengan jarak yang sangat dekat refleks ia membanting stir ke kiri untuk menghindari mobil itu, namun naas mobil yang dikendarainya malah menabrak pembatas jalan tol dengan sangat keras, membuat tubuh Refan itu juga terdorong ke depan, pria itu tak sadarkan diri dengan wajah yang berlumuran darah.


Kenan yang mendengar suara itu mendadak membelalakkan matanya seraya berteriak.


"Ha-halo! Re-Refaaaaan? lo kenapa, Fan? j-jawab gue, Fan!" teriak Kenan, ia panik saat Refan tak juga menjawab.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


hari ini 4 Bab gaes.... mata udh ga kuat bgitu jg dg jempol sayaaahhh...


__ADS_2